
14:30 di Ruang Kepala Sekolah
*Ceklek
Suara pintu terbuka...
Dilihatnya seseorang duduk di kursi kerja kepala sekolah dan tengah memegang ponsel "Kukira anda tidak datang, Tuan Muda." Kata Kei Yamada, kepala sekolah saat ini.
"Bagaimana mungkin aku mengabaikan bawahanku yang sedang bekerja!?" Kata Fuyuki sambil menutup pintu lalu berjalan mendekati Kei.
"Ada apa memanggilku?"
"Duduklah terlebih dahulu." Kei berdiri dan mempersilahkan Fuyuki duduk di sofa yang disediakan di ruangan tersebut.
Kemudian Fuyuki duduk dan mengecek ponselnya.
"Maaf aku mengabaikan panggilan tadi karena ada sedikit masalah di jalan."
Kei menuju ruangan dibelakang kantornya yang bisa disebut dapur sambil membawa gelas disimpan dilemarinya "Mau minum apa? Teh atau Kopi?"
"Air mineral saja."
"Yakin?"
"Iya."
Akhirnya Kei menyuguhkan Fuyuki segelas air di meja depan dia duduk, sementara ia meletakkan secangkir kopi kemudian menyeduhnya.
*Sruput "Hmm... Harus kumulai darimana ya...?"
"Un!?"
Lalu Kei meletakkan secangkir kopi yang telah diseduhnya.
Fuyuki mengambil gelas yang berisi air itu dan meminumnya seteguk demi seteguk kemudian Kei berkata "Tuan muda, jadilah ketua OSIS."
Sontak perkataan Kei membuat Fuyuki terkejut dan jadi tersedak saat meminumnya...
Seketika membuat Fuyuki batuk dan menumpahkan sejumlah air yang ada dalam gelas tersebut
*Uhuk uhuk uhuk
*Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk
*Uhuk uhuk
"Eh, a-apa kau baik-baik saja?" Kei mengambil sekotak tisu yang tersedia di meja kepala sekolah dan menaruh didekatnya kemudian menarik selembar tisu dan mengelap air yang tumpah di meja depan Fuyuki.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Maaf, jika perkataanku tadi mungkin mengejutkanmu."
"Aku menolak." Lagi-lagi Fuyuki mendapatkan permintaan yang merepotkan.
"Apa!!!!!!!!!!!!!?" Kei berteriak kencang sambil membelalakkan mata.
"Pelankan suaramu." Fuyuki menyudahi minum dan meletakkan gelas itu di meja depannya. Kemudian berdiri dan berkata "Terima kasih suguhannya" lalu melangkah menjauhi sofa.
"Tunggu dulu! (Kei berteriak ke arah Fuyuki) Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu."
"Huh!?"
Seketika Fuyuki menghentikan langkah kakinya dan berbalik menuju sofa
(entah kenapa aku merasakan hal yang aneh – dalam hati Fuyuki)
Fuyuki kembali duduk di tempatnya tadi.
"Ada kejadian sebelum aku menjadi kepala sekolah." Yamada-san berterus terang.
"Kejadian?" Fuyuki Heran
"Ya, ini diketahui oleh ketua Osis sebelumnya."
"...."
Kei kembali melanjutkan ceritanya...
"Kejadian ini sebelum acara kelulusan kemarin, Kaito Hirazawa menghilang tanpa jejak di gedung belakang sekolah."
"Tanpa jejak ya, terdengar familiar..." Fuyuki jadi teringat kasus ayahnya yang mati diruang tertutup tanpa noda.
"Sore itu, Akita Hongo murid 3-A yang merupakan ketua Osis ingin menemui kepala sekolah untuk membicarakan susunan acara kelulusan."
*Ilustrasi waktu itu:
"Sensei, Yamada-sensei!" Teriak Akita dari kejauhan memanggil Yamada yang waktu itu menjadi wali kelas 3-A, Guru Bahasa.
"Ada apa Hongo?"
"Sensei, saya mau minta sarannya tolong." Akita menyerahkan susunan acara yang dikemas sedetail mungkin, dan juga pidato kelulusan Akita sebagai ketua Osis kepada kepala sekolah dan seluruh murid. Kei diminta untuk mengoreksi tata bahasanya.
Lalu Kei mengajak Akita ke ruang guru, karena Kei ini wali kelasnya, ia juga mengajarkan Akita menjaga sikap yang sopan untuk bertemu kepala sekolah secara langsung.
Akita Hongo selama ini tidak memiliki orang tua, ia jarang punya teman dan sering dibully ketika kelas 1 SMA. Akita tinggal dikontrakan yang tidak jauh dari sekolahnya dan juga bekerja paruh waktu. Uang yang ia kumpulkan selama ini untuk kebutuhan kepala sekolahnya. Ketika wali kelas saat itu Hana Hirazawa yang merupakan anak kepala sekolah, tahu bahwa Akita adalah anak yang malang, dia meminta kepala sekolah untuk memberikan bantuan kepada Akita. Kepala sekolah rela membiayai Akita, tetapi prestasi Akita tidak boleh turun dari rangking 10 besar. Akhirnya Hana membimbingnya sebagai guru khusus Akita. Beberapa bulan kemudian, Hana pindah ke Tokyo karena ikut suaminya untuk perlajanan bisnis dan Hana meminta Kei menggantikan posisinya sebagai pembimbing Akita karena dia teman dekatnya.
Setelah berjalan selama setahun, Kei dan Akita begitu dekat, seperti ayah dan anak. Prestasi Akita benar-benar meningkat dan tak lama kemudian Kei mengajukannya sebagai ketua Osis. Kepala sekolah pun menyetujuinya dan terus menitipkan Akita kepada Kei. Namun, selama ini Akita belum pernah bertemu langsung dengan kepala sekolah. Ia meminta saran ke Yamada untuk menemui kepala sekolah secara langsung dan berterima kasih atas bantuannya selama ini.
Kepala Sekolah saat itu sulit ditemui karena ia seorang peneliti yang tidak selalu ada di sekolah.
Kemudian, Akita menyiapkan diri untuk bertemu kepala sekolah.
Sepulang sekolah, Akita membawa sejumlah perlengkapan susunan acara, beserta pidato dan kado untuk kepala sekolah. Ia menuju ruang kepala sekolah. Namun, yang ia tidak menemukan kepala sekolah sama sekali.
Akita segera menelepon Kei
"Sensei, benarkah beliau ada disini?"
"Ya, beliau bilang ada diruangannya."
"Tapi disini tak ada siapapun."
"Eh! (suara terkejut Yamada dalam telepon) Kamu sudah mengetuknya sebelum masuk, tidak?"
"Sudah."
__ADS_1
Gawat, berarti barusan bukan kepala sekolah yang ada di ruangan itu – pikirnya Kei.
"Hongo, datanglah ke ruanganku secepatnya" Pinta Kei sambil bergegas menyiapkan sejumlah perlengkapan ala detektif.
Lalu Akita benar-benar datang ke ruangan Kei.
"Ada apa sensei?"
"Kepala sekolah telah dijebak."
"Apa!!!!?" Akita terkejut seakan-akan tidak percaya akan hal ini
"Kau tahu kan, beliau itu-"
"Tunggu dulu, kenapa sensei bisa tahu kalau dia dijebak?"
"Dari cara membuka pintu."
"Aku sudah mengajarkan padamu mengetuknya selama 3 kali kan."
"Benar juga, setelah diketuk bell dimejanya berbunyi dan terdengar dari luar pintu."
"Iya benar, itu adalah sensor. Tapi sensor itu mati saat mengenaimu. Berarti kepala sekolah sekarang pergi bersama orang lain."
"Jadi itu kode khusus untuk menemui sensei?"
"Iya aku sudah memintanya dia bersedia bertemu. Jujur saja beliau peneliti hebat, dan hari ini harusnya kamu bertemu dengannya karena aku sudah bilang dengannya."
"Lalu dimana kepala sekolah sekarang?"
"Mungkin belum jauh dari sini, lihatlah sensornya belum hilang." Sambil memperlihatkan sensor seperti chip yang diletakkan di seragam Akita, Kei segera melacak keberadaannya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Kita akan mencarinya."
Karena penemu chip sensor itu adalah Kaito Hirazawa itu sendiri dan mempercayakan Kei untuk membimbing Akita.
Lalu Akita dan Kei menyusuri seluruh sekolah hingga sore dan matahari mulai terbenam. Akita kebetulan melihatnya dibelakang gedung sekolah dan mengikutinya sendirian.
"Apa yang dilakukan kepala sekolah disini?" Akita bertanya-tanya seolah-olah ini adalah hal yang aneh karena dibelakang sekolah tak ada apa-apa.
Sementara Kei memastikan Akita benar-benar menemukan kepala sekolah dengan memantau radar chip di alat pendeteksinya.
"Kali ini Akita benar-benar menemuinya...."
Tetapi yang Akita lakukan malah menuju Kei "Eh!?" Sial Akita, harusnya menemuinya langsung bukan malah kemari – pikir Kei.
"A-ki-ta!" Kei menaikkan alisnya dengan nada marah karena usahanya untuk mempertemukan dia dengan kepala sekolah jadi sia-sia.
"Tolong jangan marah dulu, sensei. Aku menemuimu karena kepala sekolah tampaknya aneh." Akita kebingungan ingin menjelaskannya.
"Kok bisa aneh?"
"Beliau ada di gedung belakang sekolah kan, lalu..." Akita merasa merinding ketika menemui kepala sekolah di belakang gedung sekolah.
"Lalu apa?"
"Aku memanggilnya, tetapi tidak ada respon sama sekali. beliau terlihat seperti berjalan sendiri. Aku tak berani menyentuhnya. Dan ketika aku berbalik arah, menjauh dan akan menemui Yamada-sensei, beliau sudah tidak ada."
"Benar sensei. Lihat, radarnya hilang."
"Oh benar juga."
****
Sejak kejadian itu, kepala sekolah susah dihubungi dan kabarnya tak pernah pulang ke rumah. Lalu, Hana yang mendengar beliau hilang, menuju ke SMA Osaka. Tetapi ketika menuju ke SMA, Hana mengalami kecelakaan yang parah dan menyebabkan koma. Beberapa hari kemudian, tidak ada yang berani mendekat ke ruang kepala sekolah. Lalu jabatan kepala sekolah kosong, wakil kepala sekolah harus menjadi kepala sekolah saat ini. Wakil kepala sekolah Nobuko Shiragami menolak dan takut akan hal seperti itu terjadi pada dirinya. Akhirnya seluruh guru menunjuk Kei yang merupakan teman dekat keluarga Hirazawa, menjadi kepala sekolah. Tak lama kemudian, Akita jatuh sakit hingga kelulusan dan pidato itu digantikan oleh Kisaki Kuroda, wakil ketua Osis.
Kabarnya sampai sekarang Akita belum sembuh dari sakitnya.
****
"Singkatnya seperti itulah kejadiannya. Aku pikir, kejadian-kejadian aneh itu disebabkan oleh kekuatan spiritual. Karena itu, aku meminta tuan muda menjadi ketua Osis karena pengguna kekuatan spiritual yang kemungkinan tahu hal ini." dugaan Kei saat ini.
"Daripada energi spiritual, bagiku mirip seperti sihir."
"Sihir?"
"Ya. Sihir adalah ilmu hitam dan bisa mempengaruhi seseorang tanpa bekas." Jelas Fuyuki
"Oh jadi begitu."
"Tapi ada ciri khas tersendiri dari masing-masing sihir ini."
Yamada yang tidak paham memikirkan perkataan Fuyuki. Tetap tidak paham meski ia mencoba memahami.
"Maksudnya Tuan Muda?"
"Resonansi sihir yang dapat menyebabkan semua itu."
Resonansi merupakan peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran dari benda lain disekitarnya yang mempunyai frekuensi yang sama dengan benda tersebut. Resonansi tidak bisa dipisahkan dari getaran dan bunyi, karena dari getaran tersebut resonansi akan menghasilkan suara.
Proses terjadinya resonansi ialah saat sistem mampu menyimpan dan mudah mentransfer energi antara dua atau lebih mode penyimpanan yang berbeda.
"Pada kasus ini, kepala sekolah terkena sihir resonansi dan sihir tersebut diaktifkan oleh Akita saat masuk ke ruangan kepala sekolah, Kaito Hirazawa."
Fuyuki menambahkan penjelasan resonansi sihir, sementara Kei hanya menyimak penjelasannya. Karena fuyuki tahu kalau Kei tidak paham dengan penjelasan tersebut, Fuyuki membuat ilustrasi.
Ilustrasi pertama: Kei menelepon Kaito. Kei mentransfer sinyal dari sebuah penyimpanan berupa ponsel dan Kaito menerimanya (Kaito masih diruangan). Suara yang dihasilkan Kei hanya getaran dari sambungan telepon yang diterima secara langsung oleh Kaito dan tidak beresonansi dalam ruangan tersebut.
Ilustrasi Kedua: Akita yang dilengkapi chip sensor dari Kei mengetuk pintu kepala sekolah kemudian Akita membukanya dan beliau tidak ada di dalam ruangan. Secara tak sadar getaran dari ketukan yang Akita hasilkan merupakan resonansi berupa suara ketukan yang dapat didengar oleh kepala sekolah dan orang lain yang ada didekatnya (Sebelum chip pada Akita dipasang, seseorang telah memasang sihir pada pintu ruangan kepala sekolah sehingga sensor pada chip Akita tidak berfungsi).
Ilustrasi Ketiga: Akita membuka pintu dan kepala sekolah tidak ada diruangannya. Kemungkinan besar antara Akita atau kepala sekolah, salah satunya telah dipindahkan pada dimensi yang berbeda sehingga tidak dapat melihat satu sama lain. Lalu, Akita yang menelepon Kei dari ruangan tersebut adalah Akita yang sudah berada di dimensi lain, bisa jadi yang kembali itu hanya suara Akita yang satu-satunya Kei dengar.
Ilustrasi Keempat: Ketika Akita kembali, kode chip sensor Kaito dan Kei berubah menjadi Kaito dan Akita. Maka dari itu Kei hanya bisa mencari chip sensor Kaito melalui Akita, sementara sebagian diri Akita yang berada di dimensi lain menuntun Akita di dunia ini dan mempertemukannya dengan Kaito. Akhirnya chip mereka aktif saat berdekatan. Tetapi, suara Akita dari dunia ini tidak dapat menjangkau Kaito yang tubuhnya sudah beresonansi di dimensi lain. Ketika suara Akita menjauh, maka Kaito menghilang karena satu-satunya yang Kaito dengar hanyalah ketukan Akita sebelum masuk ke ruangan kepala sekolah.
"Jadi dimana Akita yang asli dan Kaito yang asli saat ini?" Fuyuki melontarkan pertanyaan yang sulit pada Kei.
"Mana kutahu!? (Kata Kei sambil menggelengkan kepalanya) Tapi, aku yakin Akita yang saat ini adalah Akita asli."
"Bukan."
"Eh-!? (Kei Terkejut) Lalu bagaimana dengan Hana-chan?" Ia menambahkan pertanyaan pada Fuyuki.
Fuyuki menghela nafas, dan kembali melanjutkan bicaranya. "Hana yang kembali adalah penyihir itu."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?"
"Beberapa struktur Leweis dipakai bersama-sama untuk menjelaskan struktur molekul. Tapi struktur tersebut tidak tetap, melainkan ada sebuah isolasi antara ikatan rangkap dengan elektron saling berbolak-balik, makanya disebut resonansi. Hana-sensei memiliki ikatan darah dengan Kaito-sensei dan molekul keduanya terisolasi menjadi struktur Leweis kemudian sihir dengan struktur Leweis tersebut dipasang pada pintu ruangan kepala sekolah sehingga menghasilkan bentuk peralihan dari struktur resonan yang disebut hibrida resonan."
"Jadi Hana yang saat ini adalah... Hana yang sudah menjadi penyihir."
"Terlepas dari kecelakaannya Hana atau tidak, pada dasarnya Hana akan koma juga. Saat diaktifkan, elektron elevansi itu akan diangkut ke otak dengan mengabaikan elektron yang tidak berpasangan. Karena di saat Kaito-sensei dan Akita Hongo beresonansi bukanlah isomer atau dirinya yang asli dan satu-satunya yang asli adalah molekul yang bersangkutan."
Jelas Fuyuki sambil mengaikat sihir dengan teori resonansi dalam pelajaran Fisika
Kei bertanya-tanya "sejak kapan Hana belajar sihir?" dalam dirinya Kei ingin menguak Hana. Pikiran itu terbaca oleh Fuyuki.
"Yamada-san pasti bertanya-tanya sejak kapan Hana mempelajari sihir?"
"Bagaimana kau tahu isi pikiranku?"
"Aku hanya menebaknya. Melalui resonansi tubuhmu."
"Kamu bisa sihir juga?"
"Tidak. Sihir dan Spiritual umumnya berbeda. Sihir dapat mengendalikan apapun objek yang berada dalam jangkauannya, sementara spiritual hanya bisa dikendalikan melalui potensi diri sendiri. Hana yang asli bukanlah penyihir tetapi Hana yang saat ini adalah penyihir. Hana yang asli telah dirasuki oleh penyihir."
"Buruk sekali."
"Ya. Sihir dikenal juga sebagai ilmu hitam, yang sebagian orang jiwanya diserahkan kepada Iblis. Bahkan orang yang bukan Atheis sekalipun bisa mempelajarinya meski tidak dengan kontak langsung. Kemungkinan besar, kegiatan yang dilakukan Kaito-sensei ada yang berhubungan dengan semua ini dan membuat Hana jadi penyihir."
"Lalu kenapa Hongo harus menderita?"
"Hongo adalah intermedietnya."
"Aku tidak begitu paham. Jadi selama ini Akita menjadi penghubung Hana dan kepala sekolah, begitu?"
"Kurang lebih seperti itu."
****
Waktu sudah mulai petang, sekolah akan ditutup 30 menit lagi.
"Tuan muda, terima kasih telah bersedia datang kemari." Kei membungkuk kepada Fuyuki
"Ya, tak masalah." Fuyuki membalas hanya dengan jawaban singkat.
"Yamada-san, kalau di sekolah panggil saja nama asliku. Ini kan tempat umum dan identitas kita dirahasiakan. Aku ini muridmu saat ini."
"Baiklah."
Kemudian Fuyuki pergi dari ruangannya.
Sepertinya Kei melupakan sesuatu...
Kei mencoba mengingat-ingat apa yang akan dilakukannya kepada bosnya. Kei membereskan gelas yang ada dimeja kemudian ia mengingatnya.
Dilihatnya Fuyuki yang melangkah masih tak jauh dari ruangannya.
"Anu, Fuyuki Matsuda! (teriak Kei) Bagaimana permintaanku?"
Fuyuki berhenti sejenak dan menoleh ke arah Kei "Saya akan mempertimbangkannya."
Lalu Fuyuki melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkannya.
Dalam hati Kei berkata "Terima kasih."
Kei merasa tertolong, kini Kei memiliki senyum bahagia di raut wajahnya. Ia yakin misteri yang ada dalam kehidupannya akan segera berakhir dan bisa berakhir dengan menolong Akita.
Tetapi, disisi lain...
Fuyuki kembali memikirkan kasus ayahnya. Sementara Madara menunggunya di depan pintu masuk sekolah.
"Oi!" Sapa Madara
"Kau masih ada disini?" Fuyuki menoleh ke arah Madara menyapanya
"Aku menunggumu."
Fuyuki menghela nafas. Fuyuki tampak lelah memikirkan posisi sulit yang ia dapatkan baru-baru ini. Fuyuki dan Madara saling pandang dan Madara berharap Fuyuki memikirkannya dengan sungguh-sungguh.
"Madarame, aku tidak ingat tentang apa yang kita bicarakan dulu." Fuyuki benar-benar tidak mengingatnya.
"Ya tidak apa-apa." Madara memalingkan pandangannya dari Fuyuki dan menunduk dengan muka sedih.
Melihat Madara yang tengah tertunduk sedih seperti itu, Fuyuki merasa prihatin. Pasti ada hal berat yang dilalui Madara sama seperti apa yang Fuyuki rasakan saat ini. Dalam hati Fuyuki berkata "Haruskah aku mengabaikannya?" Sebenarnya Fuyuki ingin menolongnya, namun ada hal tabu yang tidak bisa dilakukan dalam dirinya.
Fuyuki memejamkan mata dan kembali memikirkannya dengan matang, untuk apa ia berada disini?
Jawabannya hanya untuk menjalankan wasiat.
Namun Fuyuki berpikir ada hal yang harus ia lakukan dalam menjalankan wasiat itu. Fuyuki juga bukan orang yang mengabaikan orang lain, selama dirinya merasa mampu pasti ia akan menolongnya tanpa meminta balasan orang lain.
Fuyuki bergumam... "Tidak ada alasan untuk menolong orang lain."
"Huh?" Madara sempat mendengarkan gumam Fuyuki.
"Madarame, ikut aku!" Ajak Fuyuki sambil mengulurkan tangannya.
"Kemana?" Madara Heran
"Ayolah, Mungkin aku bisa membantumu." Fuyuki tersenyum tipis.
Senyum Madara yang hilang tadi kembali meski tak tahu apa yang akan Fuyuki rencanakan. "Baiklah." Selama itu bisa dibilang membantu, Madara akan mengikutinya kemanapun.
Madara percaya pada Fuyuki yang sejak saat itu (sejak meninggalkan kuil) bahwa dia dapat membantunya.
"Fuyuki Matsuda." Madara tiba-tiba mengucapkan nama Fuyuki.
"Eh iya? Ada apa?" Fuyuki heran dengan Madara yang tiba-tiba memanggil namanya.
"Tidak, tidak ada apa-apa (Madara menggelengkan kepala). Aku hanya berkata."
"Aneh!"
Benar,
tidak ada alasan...
Tidak ada alasan untuk menolong orang lain.
__ADS_1