GUMIHO

GUMIHO
4 ~Dia ingat?!~


__ADS_3

Ace POV


Aku diam mematung mencoba mencerna apa yang telah Mark katakan. Apa maksudnya dengan 'celaka'?. Dan tiba-tiba seseorang menarik tanganku hingga aku berbalik ke arahnya. Aku terkejut ketika mengetahui apa yang telah aku lihat.


Mark berdiri di depanku dan menatapku tajam. Aku sedikit takut. Dan ketakutan ku semakin besar ketika ia dengan sengaja mendekatkan dirinya kepadaku. Dia mendekatkan wajahnya dan Ia mendekatkan bibirnya pada


Telingaku.


"Ikut aku." Katanya pelan namun tegas. Mark langsung menarik tangan kiri ku tanpa menunggu jawabanku. Aku tidak bisa berkata apa apa. Aku hanya mengikuti langkah demi langkahnya.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Viaa melihat kearah Mark yang tengah menarik tangan Ace dengan wajah tak enak. Via ingin menahan kepergian mereka namun Aurora menahan pergerakan Via dengan cepat.


"Biarin mereka berdua dulu. Mungkin aja ada yang penting." Kata Aurora menenangkan Via.


"Udah balik aja ke kelas kuy." Saran Marcella kepada yang lain.


Mereka kembali ke kelas dan menuju ke bangku mereka masing masing. Marcella menggunakan waktunya untuk mempelajari pelajaran yang akan ia jalani selesai istirahat. Hana memainkan game di HPnya. Aurora sedang menulis sesuatu entah apa itu di suatu buku. Sedangkan Via masih bertengkar dengan pikirannya.


Via mengetuk-ngetukkan bolpoin di kepalanya supaya pikirannya menjadi jernih. Namun hasilnya nihil. Ia masih saja memikirkan kejadian saat di kantin, saat Mark menarik tangan temannya itu. Ia merasa sedikit sebal saat ini.


Ia pun memutuskan untuk duduk diam sambil membuka bukunya dan belajar seperti apa yang Marcella lakukan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Back to Ace POV


Mark menaiki tangga hingga mencapai tangga terakhir. Dia membuka pintu yang berada tepat di depannya lalu dia masuk.


Dia menarikku sedikit kasar untuk ikut mengikutinya. Cengkeramannya membuat tangan kiri ku sedikit merah. Aku memegang pelan tanganku yang memerah.


Dia menarik tanganku supaya berhenti memegangi tangan kiri ku, tanda ia ingin aku melihat ke arahnya. Aku pun melihat ke arahnya dengan sedikit takut.


Aku menunduk supaya dia tidak melihat raut takutku. Namun sia-sia, setiap aku menunduk dia selalu mengangkat daguku dengan tangannya.


Dengan terpaksa aku memberanikan diri untuk menegakkan kepalaku, tetapi aku masih belum bisa menatap matanya.


"Tatap aku." katanya. Aku masih tidak berani menatap matanya.


"Tatap aku!" Aku tersentak, akhirnya dengan sekuat tenaga aku pun mencoba untuk menatapnya.


Dimana tatapanmu yang lembut itu? Batinku.


Mark terus melangkah dan membuat aku terus mundur. Hingga akhirnya aku tidak dapat memundurkan langkahku lagi, karena saat ini aku benar-benar menempel pada dinding rooftop. Aku masih setia menatap wajahnya.


-Uhh, aku merindukan wajah ini.- batinku


Mark melangkahkan kakinya lagi. Jarak kami tidak terlalu dekat.


Sesaat ia menatapku dengan tatapan meneliti.


"Apa aku mengenal mu atau sebaliknya?" Tanya Mark membuat sedikit sayatan di hatiku entah mengapa.


Aku merasa akan ada sesuatu yang keluar dari kelopak mataku mengingat masa lalu yang telah terukir indah di hatiku, lalu dihancurkan begitu saja.


Aku kemudian menengadahkan kepalaku ke atas supaya air mataku kembali masuk. "A-apa? Hahaha! T-tidak mungkin! Aku b-bahkan baru melihat k-kakak kemarin. Saat k-kak Lucas salah orang! Haha." Sangkal ku.


Tiba-tiba setitik air mulai keluar dari air mataku. Aku langsung menghapusnya dengan cepat supaya dia tidak melihatnya.


Dia menatapku dengan raut wajah yang sulit untuk aku terjemahkan.


"Lalu mengapa kamu menangis?" Tanya Mark lagi.


"Ohh! Ah yaa! Itu karena a-aku debu d-di sini sangat banyak, dan beberapa masuk ke mataku." kataku asal.


"Kau tau kau seperti orang yang dulu aku kenal." Dia berjalan ke arah sampingku dan ikut menempelkan punggungnya pada dinding. Kali ini entah mengapa dia tidak terlihat semenyeramkan tadi.


"Jujur, aku sangat merindukannya. Dan, yahhh, saat dia berbohong, dia selalu mengatakan kebohongannya dengan terbata-bata. Sangat sama sepertimu. Dia selalu menyelipkan tawaan kecil di tengah kalimat kebohongannya." Ujar Mark mengambil nafas.

__ADS_1


"Lalu tiba-tiba ia meninggalkanku tanpa mengatakan selamat tinggal padaku. Aku merindukan tawanya, senyumnya, caranya berbohong. Aku, sangat merindukannya. " Lanjut Mark sedih.


Raut wajahnya memberikan kesan sedih juga kecewa yang mendalam.


Melihat Mark yang seperti ini membuat air mataku benar-benar mengalir dan tidak bisa ku hentikan. Aku menggigit bibirku agar tangis ku tidak terdengar.


"Dia sangat mirip dengan mu. Bahkan senyumnya sama persis sepertimu. Aku kira kamu adalah dia, orang yang selalu aku cari. Padahal, aku sudah merasa yakin bahwa kamulah orangnya. Tapi apakah mungkin kamu berbohong? Mengapa kamu terbata-bata dan terlihat menyembunyikan sesuatu? Apakah kamu sungguh-sungguh tidak pernah mengenaliku?" Lanjutnya lagi. Aku sudah tidak tahan, aku menutupi seluruh wajahku dengan tanganku sendiri.


Mark POV


Karena merasa tidak ada jawaban, Aku pun melihat ke arah lawan bicara ku. Aku sangat terkejut dengan apa yang telah aku lihat. Aku melihat gadis yang aku kira adalah 'teman' masa kecil ku itu tengah menutup matanya dengan kedua tangannya.


Dan yang mengejutkan adalah aku melihat tangannya sudah dibasahi dengan air yang aku tebak itu adalah air matanya. Aku langsung memposisikan tubuh ku menjadi berhadapan dengannya.


Aku memegang pundaknya lalu menuntunnya menuju dadaku. Ya benar, aku memeluknya. Ia masih menutup wajahnya dalam pelukanku. Aku hanya ingin menenangkannya saja.


Emm, namun mengapa jantungku berdetak semakin kencang?


Aku pun melepaskan pelukanku pelan supaya ia tidak terkejut dan juga supaya ia tidak bisa mendengar detak jantungku yang sangat keras itu.


Aku dengan perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya. Setelah aku berhasil membuka tangannya aku pun mulai membelai rambut tipisnya itu.


"Kenapa menangis hmm?" Tanyaku dengan lembut. Dia menjawab ku dengan gelengan.


"Aku tau, aku benar-benar tau kamu. Grace Ace." Kataku pelan tapi pasti. Gadis itu langsung menatap mataku.


"Benar bukan?" Kataku. Dia hanya menunduk. Sekali lagi aku menegakkan kepalanya kali ini dengan tanganku menghimpit pipinya.


"Benar?" Tanyaku lagi. Tapi dia malah mulai menangis lagi.


"Hei,hei,hei. Baiklah mari kita hentikan percakapan ini dan kembali ke kelas, sebentar lagi bell." Kataku sambil menarik tangannya lembut.


"Bagaimana kakak masih bisa mengingatku?" Tanya gadis itu membuat aku sangat yakin dengan pemikiran ku sekarang.


"Bagaimana bisa aku melupakanmu? Gadis yang selalu aku cari di taman hanya kamu. Dan gadis yang meninggalkanku dan membuat luka mendalam hanya kamu. Tidak mungkin aku bisa lupa." Kataku sedikit memberikan sindiran.


Aku menatap wajahnya untuk melihat reaksi wajahnya saat aku memberikan sindiran halus. Dan yang sekarang aku lihat adalah wajah yang seakan ingin meluapkan emosinya. Dia sangat lucu saat dia marah.


"Jangan menyindirku!" Katanya sedikit marah. Hal itu membuatku tertawa tanpa henti.


Setelah puas menertawainya aku kembali menatapnya yang masih menatapku dengan jengkel.


"Iya, iya, maafkan aku." Kataku sambil mengacak-acak rambutnya.


"Tapi kak, aku boleh tanya sekali lagi?" Tanyanya polos.


"Tentu saja boleh! Haha" jawabku sambil tertawa.


"Emm, maksud kakak tadi bilang 'orang yang kamu bela itu orang yang ingin mencelakakanku' itu apa?" Tanyanya lagi dengan wajah ingin tau.


"Mereka bilang mereka dimintai membantu Bianca untuk menculik kalian berlima, dengan alasan karena Hana telah merebut Lucas darinya. Dasar cewek aneh." Kataku mengatai Bianca.


Kami menuruni tangga, lalu setelah sampai di lantai kedua Ace menyuruhku untuk kembali ke kelas.


Awalnya aku memaksa untuk mengantarnya sampai di depan kelas, namun dia berkata bahwa dia tidak ingin merepotkan ku. Aku pun mengalah untuk tidak mengantarnya kembali ke kelasnya. Aku pun melambaikan tanganku dan diangguki olehnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author POV


Ace berjalan menuju kelasnya sambil bersenandung kecil. Sesampainya di kelas ia langsung dihampiri oleh teman-temannya.


"Habis dari mana?" Tanya Via datar.


"Dari rooftop." Jawab Ace pada Via.


"Emang kak Mark tadi ngapain aja? Ini ngga?" Tanya Hana dengan wajah mesumnya.


Ace melemparkan sebuah buku tepat di wajah Hana. Hana yang diberi serangan tiba-tiba pun kesal dan langsung menuju ke bangkunya dengan umpatan-umpatan yang ia lontarkan.


"Gimana? Tadi kak Mark ngapain lu?" Tanya Aurora.


"Ngga ngapa-ngapain kok, tenang aja." Jawab Ace yang diangguki oleh yang lain.


"Aceeee! Ihhh anjayyy, gua denger denger lu tadi di culik ama si trouble makerr yaa?! Ihh njirrr, lu gapapa? Ga ada yang lecett?" Tanya Chenle yang langsung membuat semua anggota kelas langsung berlarian ke arah Ace hanya sekedar mengecek keadaannya.


"Aduh, kok bisa di culik atuh?! Lu gapape kan njay?!" Tanya Haechan tidak bisa santai.


"Mana yang lecet Ace?!" Tanya Jeno.


"Ga mungkin kalo ga ada yang lecet! Harus dipastikan nihhh." Lanjut Jaemin.


"Ihhh berlebihan banget sih kalian. Aku gapapa kok. Ga ada yang lecet. Beneran deh." Jawab Ace sambil membuat mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. mereka bernapas lega mendengar jawaban Ace.


"Beruntung banget lo bisa diculik sama salah satu dari tujuh manusia ganteng itu!" Ujar salah satu siswi membuat siswi yang lain mengangguk setuju.

__ADS_1


"Udah deh! Sana kalian!" Usir Ace.


🥀🥀🥀


Sesampainya di rumah lima gadis ini berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan sesuatu.


"Apa perlu kita melakukan serangan balik?" Tanya Via menahan emosi.


"Setiap hari mereka terus menyerang sekolah. Kita bahkan tidak tau apa alasan mereka menyerang!" Tambahnya.


"Jangan dulu, jika kita menyerang balik maka urusannya akan lebih panjang. Kita tunggu sampa waktunya tepat. Aurora, coba kamu lihat apa yang bakal terjadi." Kata Marcella.


"Dalam waktu dekat ini mereka akan menyerang." Kata Aurora sambil memfokuskan pikirannya.


"hallucinatory glass di sekolah kita bocor." Lanjutnya.


"Itu tidak mungkin, kita tidak mungkin seceroboh itu. Selama ini kita tidak pernah gagal dalam memperkuat hallucinatory glass." Bantah Hana tidak yakin.


"Tapi itu terjadi." Kata Aurora meyakinkan.


"Lalu apa yang membuat itu bocor?" Ucap Via.


"Kekuatan kita terlalu lemah. Ada satu atau beberapa dari kita tidak terlalu kuat untuk memperkuat hallucinatory glass. Penyerangan! Setelah berhasil menerobos mereka menyerang kita! Mereka akan menyerang kita, namun bukan fisik." Jelas Aurora.


"Bukan fisik? Lalu apa?" Tanya Via, Marcella, dan Hana serempak. Aurora menggelengkan kepalanya tanda tak tau.


"Masalah mengapa mereka menyerang kita.. aku sudah tau itu. Dendam dua dari mereka tidak akan terbalas semudah itu. Mereka akan terus menyerang sampai dendamnya terbalaskan." Kata Ace.


"Dendam? Dendam apa lagi??" Tanya Marcella sebal.


"Baik, bagaimanapun kita jaga dulu Hallucinatory glass jika penyerangan terjadi kita jaga semua kelas. Pakai telinga kamu dengan baik, Ace. Kamu yang paling baik dalam pendengaran!" Lanjut Marcella.


"So, guy's tentang Kak Lucas-" kata Hana.


"Okay sampai sini aja, kita harus mulai jaga-jaga." Potong Aurora membuat Hana sebal.


Mereka pergi meninggalkan Hana yang tengah mengumpat-umpat.


"Kenapa kak Lucas?" Disaat yang lain berhamburan ke kamar Via masih duduk dengan manis menemani Hana. Mengerti ada orang yang masih mau mendengarkan curhatannya itu pun dia langsung senang.


"Soal kak Lucas, kayaknya gua beneran jatuh hati deh." Kata Hana dengan pipi yang merona.


"Lo udah dapet nomernya kan? Coba chat aja. Pepet terus, jangan sampe renggang!" Kata Via menyarankan.


"Tapi kalau dia ga mau sama gua gimana?" Tanyanya lagi.


"Tanya sama Aurora buat liat masa depan lo lah! Ato tanya sama Ace, sapa tau Ace isa baca pikiran kak Lucas." Jawab Via santai yang diangguki semangat oleh Hana.


Hana pun berlari menaiki tangga menuju kamar Aurora dan Ace.


Via hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hana yang aneh itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


- dear diary, mengapa harus dia yang kamu pilih?- princess.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like yaaa


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2