GUMIHO

GUMIHO
5.~target~


__ADS_3

Ace POV


Selesai melakukan diskusi bersama mereka, aku mulai berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamarku. Aku memasuki kamarku dan menutup pintuku. Kemudian aku mulai berjalan kearah ranjang kamar ku dengan langkah gontai. Aku menitikkan air mataku secara perlahan.


-maafin aku, karena aku, kalian jadi susah- batinku.


Aku menghapus air mataku dan langsung menegakkan badanku. Aku menghela nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar. aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamarku. Aku memejamkan mataku untuk menenangkan pikiranku.


Tiba-tiba seseorang membuka pintuku kasar dan berlari ke arahku sambil berteriak. Sontak aku langsung membuka mataku dan menatap orang yang membuka pintuku dengan kasar. Aku mengernyitkan dahi dan berdecak kesal.


"Aceeeee!" Teriaknya sambil berlari ke arahku.


"Apa?! Ya Tuhan kaget tau!" Jawabku kesal.


"Mata lu kenapa Ace? Lu abis nangis?" Tanya Hana curiga.


"Haha! G-gak mungkin lahh!" Kataku terbata-bata.


"Lu inget berapa lama kita tinggal serumah? Gua paham betul lu kayak gimana Ace! Jujur sama gua. Lu kenapa?" Tanya Hana lagi.


"Ada saatnya kalian bakal tau kok." Ace berkata pelan.


"Dan saat kalian tau kalian pasti membenci gua." Tambah ku dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Hana POV


Aku mendengar apa yang Ace katakan walaupun sangat pelan. Aku mengernyitkan dahi ku bingung dengan ucapannya. Apa maksudnya dengan kata 'kami akan membencinya'? Apa yang dia sembunyikan dari kami? Sebesar apa rahasianya, sampai dia benar-benar tidak mau menceritakannya.


"Kenapa kesini?" Tanyanya menyadarkan lamunanku. "Gak ahh, ga jadi. Males ngomong." Jawabku lemas. Benar, rasanya udah ngga mood lagi buat ngomongin kak Lucas. Entahlah, hari ini rasanya suasana rumah lebih serius dari biasanya. Aku pun berjalan keluar kamar Ace, lalu menutup pintu kamarnya berharap dia mendapat waktu untuk lebih tenang.


Ya, Ace memang terlihat sangat lelah. Dia terlihat menyembunyikan sesuatu yang besar. Apa yang dia sembunyikan sebenarnya?


.


.


.


.


.


.


.


.


🥀🥀🥀


Author POV


Tujuh pria tampan tengah meneguk segelas kopi di teras rumah mereka, lebih tepatnya rumah yang biasa mereka buat untuk tempat mereka berkumpul. Raut muka mereka menunjukkan kekesalan.


"Gara-gara lo Mark, kita kena imbasnya." Kata Yangyang mengawali pembicaraan.


"Kok gua sih?" Bantah Mark.


"Ya siapa lagi?" Kata Taeyong menjawab ucapan mark. "Cuma lu tang mukul tuh cupu habis-habisan." Tambah Jaehyun.


"Ya itu salah mereka sendiri dong!" Jawab Mark tak mau kalah.


"Iyaaa, siapa suruh mau celakain geng gebetannya Mark." Kata Lucas sambil melirik nakal ke arah Mark yang dijawab oleh tatapan tajamnya.


"Ya gimanapun jangan main tangan lah!" Kata Yuta.


"Bener kata Yuta. Gara-gara masalah ini kita jadi di panggil BK!" Kata Taeyong sedikit sebal.


"Ngga cuma dimarahi, kita jadi kena hukuman. Mana hukumannya aneh lagi!" Winwin mengacak rambutnya dengan kasar.


"Tapi kan bagus juga. Bukannya kita memang sempet mau cari tau soal ini?" Kata Jaehyun mengingatkan.


"Benar juga ya." Kata Lucas dan Yangyang bersamaan.


"Yang menjadi masalah adalah kita tidak tau siapa lima gadis itu." Kata Mark memijit-mijit kepalanya.


"Bukankah mereka adalah geng gebetan Mark?" Kata Yuta sambil melihat anggota lainnya.


"Tidak mungkin! Tadi kita melihat mereka di kantin, kan! Bukan mereka!" Bantah Mark.

__ADS_1


"Benar! Mark percayalah! Mereka selalu berlima, dan baru kali ini mereka datang ke kantin saat jam makan siang, itu pun saat 10 atau 15 menit setelah istirahat!" Seru Taeyong.


"Kalau begitu mereka adalah target pertama kita." Tegas Winwin.


Mark masih tidak yakin dengan ini. Ia merasa sangat tidak mungkin bahwa Ace adalah orang yang guru-guru mereka maksud.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kringgg! kringgg!! kringgg!!!


Jam istirahat berbunyi Via pun segera mengajak teman-temannya untuk segera memperkuat Hallucinatory glass. Terlebih dahulu mereka membangunkan Hana yang sedang tertidur pulas di kelas.


Disisi lain tujuh pria tengah menunggu para gadis-gadis itu keluar dari kelasnya dan mengikuti mereka. Tak selang berapa lama mereka melihat lima gadis yang mereka tunggu keluar. Dengan segera mereka mengikuti gadis-gadis itu.


"Kenapa mereka berpencar?" Lucas bertanya-tanya.


"Oke, aku ikuti dia (Via), Taeyong dia (Marcella), Mark dan Yangyang dia (Aurora), Lukas dan Winwin dia (Ace), lalu Yuta dia (Hana)." Tegas Jaehyun.


Mereka mengangguk dan segera berpencar. Mereka benar-benar mengikuti dengan seksama.


Lucas dan Winwin terus mengikuti Ace tanpa mengalihkan pandangan mereka dari gadis itu. Kemudian Ace berbelok dan mereka mengikutinya, namun yang mereka dapati hanyalah kekosongan. Merasa kehilangan jejak mereka pun segera mencari anggota lainnya.


"Kami kehilangan jejak mereka" kata Winwin pada anggota lain.


"Sama kami juga, waktu anak itu berbelok kami sudah kehilangan jejak anak itu!" Kata Mark.


"Benar. saat aku mengikutinya, aku melihat dia masih ada. Namun kemudian dia berjalan ke arah pohon. Tapi kemudian aku berjalan ke pohon itu untuk mencarinya, tapi nihil." Kata Taeyong.


Karena merasa putus asa, merekapun langsung saja pergi ke kantin untuk menyantap makan siang mereka.


.


.


.


.


.


.


Hana POV


Saat berjalan menuju belakang sekolah, aku mendengar ada suara langkah kaki. Memang semenjak keluar dari kelas aku sudah merasa ada yang mengikuti kami. Aku pun memberi tahu teman-temanku melalui telepati.


Aku merasa semakin yakin saat aku mendengar ada sesuatu terinjak agak jauh dibelakang ku. Aku pun segera berbelok dan membuat diriku menjadi tidak terlihat. Aku langsung saja berjalan sedikit lebih jauh lalu mulai memperkuat Hallucinatory glass.


Setelah selesai, aku segera beranjak menuju lapangan basket. Kami pun berkumpul dan sedikit berbincang disana.


"Siapa mereka?" Via berdecak sambil menyilangkan tangannya.


"Aku gugup, jadi aku ga sempat lihat wajahnya" kata Hana.


"Mulai sekarang kita harus hati-hati. Apa harus kita teleportasi saja?" Kata Aurora yang diangguki oleh lainnya kecuali Marcella.


"Jangan, itu malah membuat mereka curiga. Kita tidak menampakkan diri ditempat dimana tadi kita tidak menampakkan diri. Dengan begitu mereka akan berpikir bahwa ada jalan rahasia atau sebagainya." Jelas Marcella pada yang lain.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Author POV


"Apa kalian sudah tau dimana mereka?" Tanya Bu Tya pada tujuh muridnya itu.


"Belum Bu. Saat kami mengikuti mereka, kami kehilangan jejak." Jawab Yangyang sopan.


"Jika selama tujuh hari kalian masih belum bisa memecahkan ini maka kalian akan saya kasih hukuman membersihkan setiap kelas yang ada disekolah ini selama tujuh hari juga." Jawab Bu Tya.


"Iya Bu, saya boleh tanya ngga Bu?" Kata Lucas seenaknya dan mendapat senggolan dari Yuta.


"Tanya apa?" Jawab Bu Tya.


"Kenapa harus banget kami cari tau tentang mereka?" Dengan cepat Lucas mendapat jitakan keras dari Taeyong.


Bu Tya menggeleng heran dengan kelakuan murid-muridnya itu. Lalu ia menjawab pertanyaan Lucas "banyak guru mencurigai mereka. Ada yang khawatir jika mereka pengedar narkoba, ada juga yang merasa bahwa mereka bukanlah manusia. Pasalnya ada saksi berkata bahwa mata mereka berubah dengan tiba-tiba saat mereka berkelahi dengan teman kalian. Banyak orang takut bahwa mereka adalah vampir seperti difilm film gituu." Ucap Bu Tya sambil memegang tangannya menandakan bahwa saat itu bulu kuduk nya sudah berdiri.


"Pffttt! Bwahahahahaha. Guys sekarang tahun berapa sih?" Ejek Lucas yang akhirnya mendapatkan jitakan dari Bu Tya. "Aakhh, sakit, Bu!" Jerit Lucas.


"Udah kalian balik aja ke kelas kalian. Besok kembali lagi kesini. Saya harap kalian sudah mendapatkan informasi." Kata Bu Tya. Mereka pun membungkukkan badan mereka hingga membentuk sudut 45 derajat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


Mark POV


Sudah tujuh hari ini aku dan Yangyang mengikuti Aurora. Namun nihil dia selalu menghilang di tempat yang sama. Aku berpikir sejenak, sempat terlintas pikiran bahwa adakah pintu rahasia di dinding tempat ia berbelok.


Aku mencoba mengecek tiap inci tembok apakah ada tombol atau mungkin suatu tanda. Namun nihil, aku tidak menemukan apapun.


.


.


.


Sesampai di ruang BK seperti biasa Bu Tya menanyakan kabar lima gadis itu. Ya, sampai pada akhir kesempatan ini kami belum bisa memecahkan masalah ini.


Sebagai gantinya kami dihukum untuk membersihkan setiap ruangan sekolah selama tujuh hari. Untung banyak anak perempuan di sekolah yang dengan suka rela membantu kami selama tujuh hari kedepan.


.


.


.


.


.


.


.


.


-The Cunning Princess-


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2