GURU ES KU

GURU ES KU
MULAI DEKAT KEMBALI


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, jam sekolah pun berakhir, ntah apa yang Dinda lakukan, Hingga mengata kan kepada sahabat-sahabat nya untuk pulang duluan dan jangan menunggu nya, Karena di ada urusan yang penting.


Karena sahabat-sahabat Dinda tau, kalau Dinda tidak suka kalau sahabat-sahabat nya kepo, jika dia ingin, Dinda akan mencerita kan semua nya sendiri tanpa paksaan dari siapa pun...


Tanpa bertanya kepada Dinda, sahabat-sahabat Dinda langsung pulang duluan tanpa bertanya.


Dinda mengata kan kepada sang mama, untuk menunggu di luar parkiran, Karena Dinda ada urusanam sekolah yang tidak bisa di Tunda...


Dinda berjalan santai melewati lorong sekolah yang sudah sepi dengan berani, tanpa beroikir apa pun, karena masih lingkungan sekolah.


Saat Dinda berjakan santai, satu panggilan membuat Dinda menoleh ke belakang dsn Dinda cukup kaget walau tetap dengan muka sanati nya.


"Gue boleh ngomong sama loh gak," ucap suara laki-laki itu lalu mendekat ke arah Dinda.


Dinda tetap berdiri di sana tanpa menjawab pertanyaan laki-laki yang di kenali Dinda, yang menganggu ketenangan hidup nya beberapa hari ini.


"Dinn gue beneran suka sama kamu, plisss... kasih aku kesempatan, gue akan jadiin kamu primadona di sekolah kita dan di kenali oleh semua siswa dan siswi beserta semua staf guru di sekolah, bahwa pilihan gue gadis kyak kamu" ucap nya membuat Dinda yang mendengar nya ingin Muntah saat itu juga..


Namun tetap Dinda tahan dan masih berdiri di sana tanpa ekspresi apa pun.


"Din, gue juga yakin, kamu juga suka aku, dan pasti nya mau kan jadi cewek aku, belum ada yang menolak gue Din, beneran deh" ucap sang laki-laki itu menatap mata Dinda yang cantik dan menawan itu.


"Din gue pengen cium kamu sekarang," ucap Pria itu dengan PeDe dan berani, seakan Dinda sudah pasti suka dan tidak mungkin menolak Dia.


Mungkin Dinda Gondok dengan sikap seorang laki-laki yang bernama Aldo itu.


Saat hampir mendekati wajah Dinda.


"Pakkkkkk...!!!" membuat seorang Aldo langsung melotot dan marah...


"Gila lohhh ya, berani banget loh nampar gue, dasar cewek gak bermutu, masih untung gue suka sama cewek kayak loe" ucap Aldo menampak kan sikap Asli nya, Saat Dinda menampar nya dengan cukup keras.


Aldo berniat menampar balik Dinda, namun tangan nya tertahan oleh seseorang.


Aldo yang emosi langsung membentak orang yang menganggu nya.


"Siapa loe berani ganggu gue, Haaaahh..." ucap Aldo sambi menoleh ke arah seorang tersebut.


Membuat Aldo menganga dengan muka yang memucat dan terdiam seketika.


"Ma.. ma'af Pak, ma'agmf kan saya pak, saya khilaf tadi," ucap Aldo terbata-bata melihat ekspresi sang guru kaku dan tidak berperasaan itu. menangkap basa seorang Aldo berbuat tidak pantas di ruang lingkup sekolah.


Pak Gibran seorang Guru yang paling di takuti di sekolah itu, tidak hanya tegas tapi juga sanagt berani menghukum siapa pun yang melakukan kesalahan, tidak pandang bulu, siapa pun Dia hadapi, Dan jangan lupa seorang pak Gibran punya ilmu belah diri yang tinggi, dan hanya di di guna kan Saat genting, dan juga hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nya.


"Besok temui saya di kantor dan bawa kedua orang tua mu ke sekolah sebelum jam delapan pagi, sudah ada di sekolah" ucap pak Gibran tidak berbasa-basi.


"Iya pak, tapi saya benar-Benar khilaf pak" sambung nya lagi sambil membela diri.


Cctv besok yang akan menjadi bukti apa yang kamu lakukan terhadap teman sekolah mu, apa lagi dia seorang Siswi" ucap pak Gibran menatap Dinda yang masih beta bersiri di sana.


"Silakan pulang" ucap pak Gibran, membebas kan seorang Aldo untuk hari ini, namun tidak untuk besok..


Yang membuat Aldo dan pak Gibran menoleh secara bersamaan.


"Saya yang di leceh kan di sini, sebelum saya memberi anda ijin untuk keluar dari sekolah ini, jangan harap bisa kembali ke rumah anda dengan aman" ucap Dinda yang sangat geram.


"Din, ma'af kan gue Din, plisss, mohon Din" Ucap Aldo memohon dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Namun tidak ada balasan dari Dinda, dang langsung mengambil HP milik nya lalu menelpon seseorang,


Ayah, Dinda ada masalah di sekolah tolong papa ke sini bersama polisi" ucap Dinda Dingin lalu menutup telpon Itu...


"Dinnn gue mohon, jangan lakuin itu, gue mohon Din, sang Aldo yang sombong dan kepedean itu langsung Ciut dan berlutut di kaki Dinda..


Tidak ada balasan apa pun, Dinda hanya menggeser kan kaki nya yang ingin di sembah oleh Aldo...


"Dinda Apa harus dengan polisi" ucap Pak Gibran menatap serius kepada Dinda.


Lalu Dinda menoleh ke arah Pak Gibran, Pak gimana rasa nya jika bapak ounya saudara perempuan yang ingin di cium paksa oleh laki-laki yang tidak punya etika dan niat baik seperti dia, apa harus diam dan mengiklas kan saja" jawab Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa..???, Ciummm??" Tanya singkat pak Gibran dan menoleh ganas ke arah Aldo yang masih terduduk di bawah, berniat berlutut meminta ma'af kepada Dinda itu...


"Jadi tadi tidak hanya ingin memukul nya tapi kamu juga ingin meleceh kan Dinda" tanya sang guru yang marah dan semakin marah kepada Aldo...


"Ma'af pak saya beneran Khilaf"sekarang hanya kata ma'af dan ma'af yang keluar dari mulut seorang Aldo yang sombong tadi..


Aldo terus meminta ma'af namun tak berselang lama, suara mobil polisi beneran tiba di sekolah itu dsn langsung masuk ke arah Parkiran, lalu mencari keberadaan Dinda.


sang mama yang cukup kaget, Ayah Dinda membawa polisi, kini mengikuti arah sang papa Dinda membawa polisi tersebut..


Kini semua tiba di tempat kejadian, dengan Aldo yang ketakutan dan terus memohon kepada Dinda.


"Selesai kan masalah anda di kantor polisi" ucap Dinda kepada Aldo, dan Aldo pun langsung mengikuti beberapa polisi bawaan Ayah nya, dan tidak melawan sedikit pun


mama dsn ayah Dinda pun cukup bingung dengan sikap sang anak yang menangkap teman sekolah nya, tanpa berpikir resiko nya..


"Nak, kenapa, apa yang terjadi," tanya sang ayah kepada Dinda..


Dia ingin meleceh kan ku di sekolah dan ingin memukul ku, untung saja Pak Gibran datang membantu ku, kalau tidak, muka cantik nan rupawan ini, hilang seketika oleh sikap laki-laki tadi. maka nya laki-laki tidak boleh di kasih hati berlebihan, melunjak jadi nya" ucap Dinda lalu menarik tangan sang mama...


"Ma'af pak sebelum nya, saya mau berterima kasih sudah menolong Putri saaya" ucap sang ayah Dinda melihat ke arah Gibran yang tinggi dan tampan itu..


"Kamu sangat tampan, apa anda benar-benar seorang guru, atau ada oekerjaan lain di luar sekolah.??" tanya ayah Dinda kepo..


"Hemmm... iya pak saya juga sudsh sewajar nya mencega hal seperti itu terjadi di lingkungan sekolah, tapi saya sedikit berpikir tentang nasib murid laki-Laki tadi yang sudah di bawa ke kantor polisi.... untuk pekerjaan lain saya tidak punya pak, hanya guru saja dan saya tinggal pun di dekat rumah Bapak " jawab Pak Gibran...


"Oyah, kenapa idak pernah lihat ya guru Dinda ada di sana, kenapa juga tidak pernah bertamu ke rumah" ucap ramah ayah Dinda yang tak subgkan menawar kan sang guru tampan itu untuk datang ke rumah mereka.


"Saya baru Pindah juga pak, nanti kalau ada waktu senggang saya akan bertamu ke rumah bapak" ucap sang guru.


Ayah Dinda dan guru tampan nya melanjut kan penjalanan untuk pulang, karena merasa searah dan bertetangga, merek punya banyak topik oembicaraan untuk di bahas sepanjang jalan menuju parkiran


"Oyah pak, untuk urusan murid bapak yang sudah di kantor polisi, nanti saya suruh orang saya mengurus nya dan agar tidak jadi maslah di sekolah dan juga membahas tentang itu bersama Dinda Nanti nya." ucap Ayah Dinda..


"Iya pak, apapun konsekwensi nya, semua keputusan ada pada bapak dan Dinda" jawab Pak Gibran yang hampir mendekati arah parkiran..


"Saya lihat kamu masih sanagat mudah dan tampan, kira-kira Guru Dinda ini berumur berapa, Apa sudah menikah" Tanya kepo ayah Dinda.


Sang guru sedikit merasa risih atas pertanyaan itu dan menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Saya masih berumur Dua enam pak, belum menikah,... mari pak saya duluannn" jawab sang guru.


"Iya pak..iya pak... saya juga mau pulang, dan ayah Dinda pun menuju mobil pribadi nya, dengan Dinda dan sang istri pulang duluan...


"Calon menantu idaman" gumam Ayah Dinda saat sudah di dalam mobil dan mobil sang guru anak nya sudah melaji di depan...

__ADS_1


Mobil melaju hampir berbarengan, karena mereka membawa mobil dengan cukup sanati, namun tidak ada obrolan atau pun acara buka kaca mobil untuk mengobrol di jalan raya, hanya saling membuntuti, dsn tidak berniat saling salip mobil..


Kini beberapa menit dsn mereka sampai di rumah masing-masing.


Ayah Dinda tanpa berpikir langaung memanggil sang guru dan mendekat ke arah sang guru.


"Ayok sekarang ke rumah, makan dulu, pasti belum makan kan, kan belum punya istri" ucap Ayah Dinda bercanda sambil tertawa...


"Tidak usah pak, trimaksih tawaran nya mari pak" ucap sang guru. masuk ke rumah nya...


Ayah Dinda yang gagal pun, tidak putus asa, dia masuk ke dalam rumah, lalu mencari mbok Darmi.


Mbok...!!!" panggil sang tuan besar, membuat mbok Darmi berlari ke arah sang tuan besar..


"Sisi kan beberapa macam makanan dan nasi serta buah, suru Dinda antar makan itu ke rumah sebelah ya" ucap sang tuan besar yang berlalu tanpa menunggu jawaban dari mbok darmi.


"Iya tuan" jawab mbok Darmi dengan orang yang tak lagi di tempat nya..


Dinda yang sudah mengganti pakian nya langsung turun, karena mendengar sang Ayah memanggil mbok Darmi dengan cukup keras, Dinda kira mbok Darmi di marahi oleh ayah nya..


"Mbokk...Ada apa?, Ayah marah sama mbok" tanya Dinda yang melihat ekspresi mbok Darmi yang biasa saja, dan tidak terlihat takut...


"Gak kok non, tadi tuan besar suruh menyisih kan beberapa makanan dan nasi dan juga buah, kata nya suruh non yang antar ke rumah tetangga sebelah, yang guru non itu loh.." ucap Mbok Darmi agak berbisik.


"Emang udah di siapain makanan nya??" tanya Dinda bersemangat...


"Belum sih non, kan baru di omongin sama tuan, tunggu ya non mbok siapain dulu" ucao mbik Darmi berlalu ke dapur untuk menyiap kan semua nya, dan Dinda menunggu di ruang makan...


Beberapa menit...


"Ini non, Mbok Darmi memberi sebuah rantang kecil kepada Dinda, lakj Dinda dengan senyum kebar menganbil rantang itu, lalu langsung oergi ke rumah sang guru...


"Tingtong...tingtong..tingtong.." bel rumah sang guru berbunyi, yang tanda nya ada tamu yang datang, Tanpa pikir panjang sang guru membukak kan pintu dengan keadaan memakai handuk saja, karena habis mandi....


"Yaa...???" ucap sang guru menatap orang yang datang dan Dinda oun menatap ke arah sang guru yang tidak memakai baju, karne terlihat segar dan habis mandi itu..


"Uhukkkk..." Dinda terbatuk-batuk menyaksi kan ituq dan membalik kan badan nya.


"Ma'af" ucap sang guru yang berlalu mengabil baju yang sudah ada di dekat sofa di ruang tamu itu lalu memakai nya.


Dinda berusaha keras menelan saliva nya wlau sekarang dia membuang muka, namun hal yang di lakukan Dinda tidak luput dari pandangan sang guru tampan itu.


"Ada apa din" ucap sang guru dengan muka memerah karena sedikit malu dengan sikap nya yang teledor dan di lihat Oleh Dinda.


"I..ini pak, ada makanan untuk bapak" ucap Dinda yang masih tidsk menoleh kepada sang guru..


"Oyah, oke masuk dulu Din, gak papa kok bapak udah pake baju". Dinda pun masuk ke rumah itu pertama kali, dan melihat setiap sudut rumah itu..,


Din tolong tuangin deh makanna nya, biar baoak langsung bisa makan nanti nya, makasih ya udah repot-repot anatar kan bapak makanan" ucap sang guru..


"Iya pak, gak repot kok, piring nya mana pak??" tanya Dinda..


Namun sang guru tak lagi terlihat, dan Dinda mencari sendiri dapur di rumah itu, dan akhir nya ketemu... namun Dinda tak cukup Tinggi untuk menggapai beberpa piring dsn mangkok untuk makanan nya, berjinjit oun masih saja tidsk sampai..


"Ya ampun, kenapa tarok di atas genteng gini sih piring nya, susah niih" ucap Dinda kesal dengan rak oiring guru nya yang tinggi...


"Happ... satu tangan besar seorang pria, menbantu dinda mengambil piring itu dan jarak mereka cukup Dekat...

__ADS_1


Melihat itu Dinda cukup gugup dan berusaha untuk menghindar, namun saat membalik kan tubuh nya, sang guru berada di belakang dan mereka saling berhadapan, mereka salaing tatap dengan pandangan mata yang sulit di arti kan...


"Ehemm" ucap Dinda membuyar kan pandangan mereka lalu Dinda keluar dari kungkungan tubuh besar nan tinggi sang guru...


__ADS_2