Guru Killer Suamiku

Guru Killer Suamiku
Rencana Yang Gagal.


__ADS_3

Aurora menoleh, matanya yang tadinya sayu sekarang melebar sempurna ketika melihat Alby Ilham Baratama tengah berbincang dengan guru sambil berjalan kearah kelasnya.


Shit! Jangan bilang kalau pria ini yang akan menggantikan Ibu Indri—wali kelas mereka.


Tidak, yang benar saja?!


____________________________________________


GURU KILLER SUAMIKU | Episode 2 - Rencana Yang Gagal.



...*****...


Tebakan Aurora ternyata memang benar. Sedetik setelah Alby selesai berbincang dengan guru pengajar lain, Bel sekolah berbunyi. Alby masuk kedalam kelas. Matanya memindai satu persatu muridnya sebelum mengunci tatapannya kepada seorang gadis yang memutar bola matanya malas.


"Selamat pagi". Suara berat sedikit serak itu mampu membuat para siswi menjerit tertahan. Bahkan Aurora dapat mendengar Camela yang berujar pelan kalau rahimnya sekarang sedang panas.


Dih, jijik!


"Pagi pak!!". Semua murid membalas dengan semangat tentu saja tidak dengan Aurora yang memilih membaringkan kepala cantiknya diatas meja—siap untuk tidur.


Alby tersenyum kecil lalu melipat lengan kemeja putihnya keatas mempertontonkan lengan kekarnya yang nampak kuat.


"Cih. Dasar tukang tebar pesona". Aurora mencibir dengan bibir yang terangkat keatas.


"Perkenalkan saya Alby Ilham Baratama, saya yang akan menggantikan Ibu Indri sebagai wali kelas kalian. Untuk kedepannya, mohon kerja samanya". Ujar Alby tegas, semua murid menyahut tanda mengerti. Lalu Alby mulai membuka buku absen dan memanggil nama muridnya satu persatu.


Alby mengernyit ketika menemukan banyaknya absen yang tertera di nama Aurora, Alby menatap gadis itu yang sekarang sudah tertidur di atas mejanya. Alby menghela nafasnya pelan.


"Aurora Bagaskara".


Camela mencubit paha Aurora membuat gadis itu terpekik sakit, "Apaan sih lo? Cari mati?!". Teriak Aurora marah. Camela menyibak rambutnya lalu mengarahkan tatapannya kepada Alby, Aurora langsung menatap Alby datar yang langsung dibalas oleh pria itu tak kalah datar.


"Setelah pelajaran selesai, datang keruangan saya". Ujar Alby tegas dengan sorot mata tajam menghujam Aurora.

__ADS_1


Aurora memutar bola matanya malas, lalu menguap, "Kalau saya gak mau bapak mau apa?".


"Aurora..."


"Saya gak—"


"Tanpa bantahan!".


Aurora berdecak malas lalu kembali tidur di mejanya membuat Alby menghela nafas lelah. Aurora malas meladeni pria satu ini.


Jika saja Aurora adalah orang lain, mungkin Alby sudah mengusirnya dari kelas.


...***...


"Mau kemana lo?". Tanya Camela yang melihat Aurora sudah beranjak seraya menggandeng tasnya di punggung bersiap untuk pergi keluar dari kelas.


"Mau bolos. Kenapa? Mau lo laporin ke anak Osis?". Sahut Aurora datar, gadis itu menggaruk lehernya yang gatal. Sifat acuh dan cuek yang di miliki oleh gadis itu membuat Camela kesal sendiri.


"Bukannya lo disuruh ke ruangan pak Alby?".


"Ya terus, gue harus datang gitu? Dih males banget, kayak gak ada kerjaan aja, lagian gue sibuk". Sahut Aurora.


"Sibuk napas!". Gadis itu melenggang pergi menghiraukan teriakan kesal Camela yang hanya di balas salam jari tengah oleh gadis itu.


Benar-benar ya...


...***...


Aurora sampai di belakang gedung sekolah, ini adalah tempat yang biasanya di pakai oleh gadis itu untuk membolos karena terdapat tangga yang di sandarkan di tembok—tingginya seperti tembok pesantren. Tapi Aurora berterima kasih kepada orang bodoh yang menaruh tangga disitu.


Aurora bersiap untuk memanjat tangga sebelum teriakan nyaring dari salah satu guru yang sangat dikenalnya terdengar membuat kupingnya berdengung sesaat.


Aurora mempercepat lajunya untuk menaiki anak tangga tapi sebuah tangan besar langsung memegang pergelangan kakinya membuat Aurora menoleh kebawah.


"Sialan Vander lepasin anjing!". Teriak Aurora berusaha menggerakan kakinya untuk melepas cekalan tangan Vander.

__ADS_1


"Gak! Hari ini lo udah janji traktir gue makanan di kantin, masa lo mau bolos gitu aja, janji tetaplah janji". Ujar Vander tenang tidak peduli dengan Aurora yang terus meraung, menyembut segala macam nama hewan, bahkan nyaris kaki gadis itu menendang wajah tampannya.


"Kapan-kapan Sialan, sekarang lepas! Emang lo se-miskin itu sampai-sampai janji sekecil itu masih di tagih!". Pekik Aurora melihat buk Darwin mendekat—menyuruh Vander untuk menurunkannya paksa.


"Hilih ******, palingan lo bohong lagi, gue gak bakal lepasin lo hari ini!".


"Vander lo—"


"Ada apa ini?".


Semua orang menoleh menatap seorang pria yang terlihat berdiri tegap di samping dinding. Aurora membeku menatap mata Alby yang seakan menyimpan emosi tersirat di dalamnya. Alby memutus tatapannya kepada Aurora lalu beralih kepada pergelangan kaki Aurora yang di pegang seorang laki-laki yang sialnya membuat darah Alby mendidih.


Shit! Gadis itu hanya memakai rok pendek dengan seorang laki-laki dibawahnya.


Ibu Darwin datang mendekati Alby, "Ini lho pak, Aurora murid paling bandel, tadi dia ketahuan sama saya mau bolos lagi untungnya ada Vander yang nahan".


Aurora memutar bola matanya malas lalu menatap Vander dengan tajam.


"Segera turun dan datang ke ruangan saya Aurora Bagaskara". Ujar Alby penuh penekanan.


Aurora mendengus, mendelik tajam kearah Vander seakan mengatakan...


Mati lo abis ini Vander Fucking Allexander.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUED.


Sebelum itu, jangan lupa tekan Like :3


Jangan ragu untuk memberikan saran atau kritikan, Itall selalu terbuka untuk menerimanya selama itu masih dalam batas yang wajar (^o^)


Jika ada kesalahan dalam penulisan beritahukan di kolom komentar ~💮


HOPE YOU LIKE IT!✨

__ADS_1


Salam manis,


Crystall Rabella✨.


__ADS_2