Guru Killer Suamiku

Guru Killer Suamiku
Aurora Mabuk.


__ADS_3

"Bukan urusan bapak!". Ucap Aurora datar—menghempaskan kasar tangan Alby lalu keluar dari ruangan itu dengan pintu yang di tutup dengan keras membuat suara bedebum yang nyaring.


Alby menghela nafasnya lelah. Sampai kapan Aurora akan seperti ini. Alby mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencari nama Aurora dalam kontak lalu mengirimkan pesan padanya.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alby?


Kenapa tiba-tiba pria itu begitu peduli dengan Aurora?


____________________________________________


GURU KILLER SUAMIKU | Episode 4 - Aurora Mabuk.



...*****...


Aurora berhenti di sebuah Cafe yang ramai pengunjung dan terkenal di kalangan anak muda. Gadis itu turun dari motornya—melepas helmya lalu berjalan masuk kedalam Cafe. Aurora langsung di sambut oleh suara tawa dan obrolan yang memenuhi setiap sudut ruangan.


"Yo~ Ara disini!". Aurora menoleh—mendapati segerombolan laki-laki muda yang duduk melingkar di sebuah meja kecil. Ia tersenyum kecil lalu berjalan mendekat. Bau asap rokok segera menyambut indra penciumannya. Gadis itu duduk di salah satu kursi kosong—memanggil pelayan dan memesan minuman.


Aurora mengeluarkan ponselnya dari saku celana, membaca pesan Alby yang mampu membuat dahi cantik Aurora mengkerut.


ATM Berjalan.


"Setelah pulang sekolah, langsung ke rumah!"


Aurora mendengus, tidak peduli. Toh untuk apa dia menunggu sampai pulang sekolah kalau dia sendiri sudah pulang duluan, oppss...


"Tumben lo gak datang bareng Vander?". Sahut Andra seraya menghisap rokoknya membiarkan asapnya mengambang di udara. Mereka semua masih memakai baju sekolah termasuk Aurora. Bisa dipastikan kalau Aurora termasuk di dalam kelompok anak nakal seperti mereka.


"Dia lagi menjelma jadi murid teladan setelah dapat pujian dari buk Darwin". Ujar Vano terkekeh geli menatap Aurora. Aurora mendengus kesal mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


Vander Sialan!


Pesanan Aurora datang, gadis itu langsung menyambar minumannya lalu menyahut. "Cih, palingan tuh anak juga gak bakal tahan seharian penuh di sekolah. Bentar lagi juga bakal nyusul kesini".


Lori, Andra, dan Vano tertawa keras mendengar ucapan Aurora. Yang di katakan gadis itu memang benar adanya, Vander tidak cocok menjadi murid teladan. Satu jam tanpa rokok dan minuman saja pria itu sudah seperti mayat hidup.


Dan benar saja setelah beberapa menit kemudian seorang pria bertubuh Jangkung datang dengan penampilan urak-urakannya. Seragam yang sudah keluar dari tempatnya—hanya menyisakan baju hitam kebanggannya dengan rambut acak-acakan.


Vander berdecak kesal mendengar tawa mengejek dari teman-temannya. Pria itu duduk di samping Aurora lalu menghirup napas dalam-dalam.


"Akhirnya gue bisa bebas". Ucap Vander seraya memejamkan matanya. Menikmati bau rokok yang menguar di udara. Tapi belum sempat pria itu menikmati ketenangannya sebuah jitakkan di kepala membuat Vander mengeluh sakit.


"Aww...sakit *****!". Vander mengerang. Memegang kepalanya yang berdenyut sakit.


Aurora tersenyum sinis lalu kembali melayangkan pukulan maut di punggung lebar Vander.


"Aduh....Ara stop! Ini sakit woy!". Vander berteriak, pria itu langsung melindungi tubuhnya sendiri dari serangan Aurora sementara teman-temannya yang lain hanya menertawakan tanpa membantu Vander sama sekali.


"Gara-gara lo yang nahan kaki gue, akhirnya gue jadi kena semprot buk Darwin! Puas lo, huh?!". Pekik Aurora kesal kali ini dengan menjambak rambut Vander membuat pria itu tambah berteriak sehingga mengundang perhatian orang lain.


Dasar teman laknat, Vander heran kenapa dia bisa bersahabat dengan empat orang manusia yang tidak memiliki akhlak sama sekali itu.


Pada akhirnya Vander meminta maaf kepada Aurora. Aurora menghentikan serangannya lalu memilih untuk duduk tenang kembali di susul oleh Vander yang sudah babak belur.


Kelima sahabat itu mengobrol dan terus berbincang-bincang hingga lupa waktu. Aurora bahkan terbahak-bahak dan sudah menghabiskan tiga botol Ice Americano.


Entahlah, tapi gadis itu benar-benar mencintai kebebasannya.


...***...


Alby memakirkan mobilnya di Basement rumah yang baru saja mereka beli. Pria itu melenggang masuk melihat kondisi rumah yang masih sama dengan kondisi saat dia meninggalkannya tadi pagi.

__ADS_1


"Apa Aurora belum pulang, kenapa rumah ini sepi sekali?". Gumam Alby. Pria itu melepas jas-nya dan menggantungnya di Hanger pakaian.


"Ara...?". Panggil Alby. Beberapa menit dia menunggu tapi tak ada sahutan sama sekali. Akhirnya pria pemilik mata berwarna cokelat terang itu memilih menaiki tangga menuju kamar Aurora.


"Ara...?" Alby membuka pintu, tapi yang di lihatnya hanya kamar yang berantakan dengan bungkus snack di mana-mana. Alby masuk kedalam kamar Aurora. Ini pertama kalinya pria itu menginjakkan kaki di kamar gadis bermata indah itu. Mereka baru pindah dua hari yang lalu dan sekarang kamar ini sudah bagaikan kapal pecah.


Alby memungut bungkus sampah yang berserakan di mana-mana, memasukannya ke tempat sampah lalu membereskan ranjang Aurora yang berantakan.


Pria itu keluar dari kamar Aurora setelah membersihkan semuanya—hendak menuju dapur untuk membuat makan malam mereka sebelum ketukan di pintu menarik perhatian Alby.


Pasti Aurora.


Alby berjalan cepat seraya mengepalkan tangannya kuat. Ini sudah malam dan Aurora baru pulang sekarang? Gosh! Rasanya Alby masih tidak percaya bahwa wanita inilah yang dia nikahi seminggu yang lalu.


"Ara—". Teriakan Alby menggantung di udara ketika mendapati Aurora ambruk di pelukannya dengan bau alkohol yang menyengat.


Wait...What?! Jangan bilang gadis yang masih berumur 19 tahun itu sedang mabuk?


Oh God! Alby tidak percaya akan hal ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUED.


Gak ada yang perlu di sampaikan sih wkwk😆


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.


HOPE YOU LIKE IT!


Salam,

__ADS_1


Itall✨



__ADS_2