GUS ITU SUAMIKU

GUS ITU SUAMIKU
Pov kehidupan


__ADS_3

Aku Aisyah Nadiva yang kerap dipanggil Diva. Seorang gadis biasa seperti mereka di luaran sana. Aku terlahir dari keluarga yang kurang pemahaman agama, namun tekad ibuku untuk menjadikan kedua anaknya bisa membaca Al-quran tercapai sudah. Ibuku pernah berkata "Tak apa nak, ibu dan bapak tidak bisa membaca Al-quran, namun kamu dan kakakmu harus bisa membaca Al-quran, jangan seperti kami" Kata-kata ibuku itu lah yang sampai saat ini masih ku ingat, mungkin hingga nanti Aku tiada di dunia ini.


Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku memiliki kakak perempuan yang mana usianya hanya terpaut 1 tahun dari diriku. Banyak yang mengatakan bahwa Aku memiliki saudara kembar, padahal tidak. Mereka mengira bahwa kakakku adalah saudara kembar Ku.


Sampai-sampai sahabatku sendiri mengira bahwa kakakku adalah kembaranku, memang konyol sahabatku itu.


"Div, sebenarnya lo itu kembar ya?" Bengong ku ketika Sisil sahabatku bertanya tentang kembaran ku


"Hah, kembar sama siapa?

__ADS_1


"Ya, itu wanita yang ada dirumah lo kemarin,secara kan mirip sama lo, kalau bukan kembaran lo terus siapa? " Memang kemarin Sisil main kerumah dan baru kali pertama ia melihat kakakku. Meskipun kami bersahabat, namun dapat dihitung jari ia main ke rumah dan kemarin ia melihat kakakku.


"Hah, mirip? Mirip darimananya woi" gelengku tak percaya, jelas-jelas wajahku dan kakakku berbeda


"Ya wajah lo lah Div" Jawab sisil ngotot


Helaan nafas dari bibirku "Dia itu kakakku, yang sering gue ceritain ke lo"


"Iya, Dia itu mbak Nuri, Sisil sayang" gemasku dengan sikapnya yang konyol sekali.

__ADS_1


Ya kakak yang sering Aku ceritain ke sahabatku bernama Nuri Prameswari. Dia sekarang bekerja di koprasi di daerah tempat tinggal kami. Cita-citanya sebagai pegawai Bank harus terkubur dikarenakan biaya. Ayah yang hanya seorang pedagang dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Yang mengharuskan kami semua hidup hemat dan mandiri. Mengakibatkan kakaku harus bekerja setelah lulus sekolah.


"Ohh, jadi itu mbak Nuri?" tanyanya sambil menganggukkan kepala


"Hemm"


"Dahlah Yuk pulang"Ajakku ketika mendengar bel pulang sekolah berbunyi.


Ya, Aku masih duduk di bangku sekolah tepatnya di kelas 12. Hidup sederhana yang mana mengajarkanku untuk hidup mandiri, bahkan tak pernah Aku menceritakan tentang masalahku kepada kedua orang tua, karena Aku sadar bahwa masalahku tidaklah lebih besar dari yang mereka alami. Aku hanya bisa menceritakan masalahku kepada Sang Rob ku, dan menangis secara diam-diam di tengah malam. Mungkin jika bantal guling bisa berbicara, ia akan berteriak "tolong jangan menangis di sini telingaku sakit mendengar tangisanmu" tapi syukurlah ia benda mati yang tak akan pernah protes kerap kali mendegar tangisanku.

__ADS_1


Menjadi anak terakhir juga tidaklah indah seperti bayangan mereka. Banyak yang mengatakan "enak ya jadi anak terakhir, semua serba dituruti" hinga hati kecil ini ingin menjerit "Hehh, enak darimananya yang kalian ucapkan" nyatanya jadi anak terakhir itu serba dibatasi bahkan disuruh untuk menjadi seperti kakak-kakaknya. Padahal jelas-jelas setiap anak itu berbeda tidak akan pernah bisa kalian membuat anak itu sama seperti yang lain. Kalian paham, jadi jangan pernah banding-bandingkan anak satu dengan yang lainnya, karena mereka memiliki perbedaan yang sangat jelas.


__ADS_2