
Cepat-cepat Aku menghapus air mata yang mengalir tampa permisi agar tak dilihat orang lain. Bukan karena malu apabila ditanya "mengapa menangis?" bukan sebab itu, melainkan jawaban apa yang akan Aku ucapkan nantinya.
Ku langkahkan kaki ini kembali kedalam kamar, mengunci diri dibalik kesedihan yang sedang menyapa. Ku raih benda pipih bernama handphone membuka kembali ceramah dari ustadzah Halimah Alaydrus. Seorang ustadzah yang tak ada foto sama sekali diakun media sosial nya, namun namanya terkenal dipenjuru dunia. "Akankah Aku bisa seperti itu?" jawabannya Tidak. Karena Aku bukan wanita istimewa sepertinya.
Tak terasa satu jam sudah Aku menonton video ceramah tentang wanita akhir zaman. Hati ini kembali tenang dan semakin teguh untuk memakai hijab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu, setiap harinya mendengar pertanyaan yang sama "Ngapain pakai hijab?, ngapain pakai hijab?" hanya Ku tanggapi dengan senyuman manis tanpa perlu menjawabnya, padahal mereka juga tahu bahwa hijab itu wajib untuk seorang mukmin, bukan untuk orang-orang suci saja kan?.
Mungkin dua, tiga bahkan sampai satu bulan kedepan mereka akan bertanya, tetapi apakah mereka akan bertanya sampai selamanya?, jelas tidak. Jadi buat apa lelah-lelah meladeni pertanyaan tidak bermutu seperti itu anggap angin lalu.
"Hay Divvvv" teriak Sisil didepan pintu. Ya hari Sisil ingin mengajakku keluar, katanya bosan didalam rumah. Dasar anak zaman sekarang tidak ada yang betah berlama-lama didalam rumah.
"MasyaAllah" menggelengkan kepala melihat tingkahnya "bukannya salam ketika bertamu, malah teriak-teriak. Hey ini rumah bukannya hutan ya Sil" ledekku
Ia hanya memanyungkan bibirnya persis seperti bebek.
"Jelek tauk bibirmu kayak gitu, macam bebek wek wek" seru sekali kalau meledek sahabatku satu ini
"Tahu ahh, yuk keluar"
__ADS_1
"Ya sebentar, pamit dulu sama ibu"
Setelah berpamitan kami berdua keluar keliling kota dengan berboncengan menggunakan motor Sisil. Menghirup udara sejuk sore hari, melihat lalu lalang kendaraan bermotor, menikmati suara bising yang tercipta dari kendaraan bermotor sungguh sangat asik.
Sisil memakirkan motornya setelah sampai disebuh cafe kenikian kesukaannya. Baru pertama ini Aku memasuki cafe, sebelumnya tidak pernah. Karena menurutku duduk didalam tempat sunyi dan jauh dari banyak orang adalah tempat ternyaman bagi orang-orang introvert sepertiku.
"Yok masuk" ajaknya sambil menarik tanganku
Entah mengapa pertama kali melangkahkan kaki memasuki cafe, dadaku berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
"Kenapa ini ya Allah?" tanyaku dalam hati sambil mengusap dada agar lebih tenang "Astaghfirullah, lindungi hambamu ini ya Allah"
Begitu terkejutnya diri ini ketika sudah memasuki cafe. Begitu banyak wanita-wanita berbapakain seksi nyaris hanya menutupi separuh dari tubuhnya.
"Ngapain pulang Div, kan kita baru sampai?. Yuk ahh duduk sana" jawabnya sambil menunjukkan salah satu kursi yang dikelilingi banyak laki-laki
"Gue ngak mau Sil, kita pulang aja yuk" pintaku memelas
"Tenang aja Div, mereka itu teman gue. Percaya deh mereka gak bakal ngapa-ngapain lo" sahutnya
"Tetep aja Sil, gue gak mau" Bentakku kepada Sisil
__ADS_1
Sisil terkejut dengan bentakkanku.
"Maaf Sil, gue gak bermaksud mbentak lo tadi"
"Is oke gak masalah, tapi sekarang kita masuk" ajaknya hanya ku tanggepin dengan gelengan
"Gue gak mau Sil, jika lo mau kesana gak papa gue pulang sendiri"
"Ya gak bisa gitu dong, lo kan kesini sama gue jadi pulang sama gue"
"Gue mau pulang sama lo asal sekarang"
"Gak seru lo Div"
"Terserah, yang penting kita pulang sekarang"
"Ya sudah kalu gitu, lo gak mau gue ajak masuk karena lo malukan sama pakaian lo yang kampungan itu" ucapnya sambil menunjuk "Berbeda dengan kami, lihatlah pakaian kami beda sama lo yang ketinggalan zaman"
Ya Allah apakah ini sifat asli dari sahabat hamba?. Meskipun kami bersahabat kami tak saling tahu kehidupan sehari-hari.
"Makanya jadi orang itu jangan kampungan, sok suci"
__ADS_1
Deghh