
Hati ini selalu iri ketika melihat wanita berbusana sar'i memakai jilbab panjang, kaos kaki bahkan sampai menutupi wajah cantiknya dibalik kain bernama niqop. Jiwa ini seakan bergetar ingin mengikuti jejak yang dipilih wanita itu, yaitu jejak Ibunda Fatimah Azzahra. Lantas terkadang diri ini memakai kain bernama niqop yang sering disebut banyak orang cadar secara sembunyi, tak mampu memakainya dihadapan banyak orang. Dikarenakan hati ini belum sekuat baja untuk mendengarkan cemooh dari mereka semua. Ada ketakutan tersendiri dalam diri ini "Apakah Aku mampu istiqomah? apakah mampu sabar ketika dikatakan ninja, ******* bahkan aliran sesat?"
Awal mula hijrahku pun tak ada yang mendukung, bahkan keluarga ku sekalipun. Ya Aku hijrah secara perlahan. Ku niatkan dalam hati untuk memakai jilbab meskipun didalam rumah. Pertama memakai jilbab didalam rumah semua anggota keluarga banyak yang bertanya.
"Mau pergi kemana dek, kok pakai hijab"
Sambil tersenyum Aku menjawab pertanyaan ibukku "Tidak mau kemana-mana bu"
__ADS_1
"Lah kalau gak mau kemana-mana kok pakai hijab?" Tanyana heran
Senyum tak pudar dari bibirku ketika mendengar pertanyaan selanjutnya, Ya dahulu Aku tidak pernah memakai jilbab ketika didalam rumah bahkan keluar rumah jika ku rasa jarak itu masih dekat dari rumahku. Aku baru memakai jilbab ketika berpergian jauh. Padahal satu langkah anak perempuan keluar dari rumah tidak menutup aurat sama saja satu langkah ayahnya menuju neraka, naudzubillah. Lantas dari situlah Aku ingin memakai jilbab agar ayahku tidak semakin dekat dengan neraka, karena Aku tak ingin menghadiahkan sebuah neraka untuk ayahku.
"Ya memang gak mau kemana-mana bu, mulai saat ini Aku ingin memakai jilbab meski di rumah" Jawabku halus sambil tersenyum.
"Buat apa memakai jilbab didalan rumah?, toh gak ada yang lihat justru buat rambu cepat putih" dengan sewot dan langsung pergi keluar rumah
__ADS_1
Sakit hati ini mendengar kalimat ketus yang keluar dari bibir ibuku sendiri, wanita yang ku cintai. Tak terasa air mata ini keluar tanpa bisa ku cegah. Apakah salah Aku memakai jilbab ini?. Aku tak pernah menduga bahwa respon ibuku sangatlah pedih ketika melihatku memakai jilbab di dalam rumah. Apa salahnya coba?, tidak ada yang salah dari inikan?
Ku pandangi ibuku berlalu dari hadapanku dengan derai air mata yang terus mengalir tanpa bisa berhenti.
"Baru ku memakai jilbab respon mu sudah seperti itu bu, lantas jika kau tahu di dalam hati anakmu ini ingin memakai cadar seperti wanita diluaran sana hinaan apa yang akan keluar dari mulutmu bu?" Tanyaku dalam hati
Baru ku sadari ternyata jalan hijrah itu tidak lah mudah, banyak sekali krikil-krikil, duri, bahkan jurang yang menghalangi. Tidak heran jika balasannya surga. Lantas bagaimana wanita diluar sana mengahadapinya?, pastinya ada yang mendukung dan menguatkannya bukan?
__ADS_1
"Aku ingin seperti mereka ya Allah, bantulah hamba-Mu ini. Jika tidak ke dua orang tuaku yang mendukung ku memakai cadar, biar lah suamiku yang memakaikannya kepadaku ya Allah" pintaku kepada Sang Pencipta.
Jika niat hati karena Allah percayalah, Allah lah yang akan membantumu tanpa perantara sekalipun. Allah tidak tidur, ia selalu melihat apa yang dilakukan oleh semua hamba-Nya. Bahkan yang tersembunyi dalam hati Ia bisa mendengar dengar jelas tanpa kau ucapkan.