
Saat matahari terbenam di langit malam, aku berada di tempat Kota Tua atau di kenal sebagai Oud Batavia yang terletak di daerah pusat Kota Jakarta. Suasana di kota tua sangatlah ramai. Banyak orang yang nongkrong yang berkelompok, duduk di areh terbuka di depan Museum Fatahillah, dan dengan nyayian merdu dari sekolompok pengamen jalanan bernyayi di lapangan Museum fatahillah, mengawali malam hariku untuk menunggu seseorang yang paling spesial.
Dan, Tiba-tiba orang yang di nanti datang sambil berlarian menghampiriku, wajahnya terlihat senang dengan di bawah lampu redup kota tua yang amat sangat menawan saat menerangi jalannya.
'Maaf ya Dee aku datangnya telat, habisnya macet tadi' ucapnya dengan napas memburu. dia adalah teman dekatku saat masa kuliah dulu, sekaligus perempuan yang aku sukai dalam diam, Namanya Yuri.
'Gakpapa yang penting kamu udah di sini 'kan' kataku santai. 'Jadi, mau kemana kita?' tanyaku.
'Kita sambil jalan yuk! Rasanya pengen hunting foto deh' Pintahnya.
'Oke'
Kita berdua menikmati suasana di sekitar Kota Tua. Cahaya dari lampu-lampu gedung menghiasi area Kota Tua malam hari. Sangat menyenangkan sekali saat kita hunting foto menggunakan Camera DSLR yang di bawa Yuri. Dia sangat antusias ingin berfoto bersama cosplay para tentara jaman dulu, di situ juga ada ratu jaman belanda, ada pula Sultan jaman dulu, dan banyak sekali cosplay yang di kenakan mereka, berjejeran di setiap tepi sudut jalan Kota Tua.
Setelah mengelilingi Kota Tua, akhirnya kita istirahat sejenak di Cafe batavia yang terkenal sudah sejak lama berdiri zaman belanda dulu. Kita duduk di meja makan lantai dua dekat jendela besar yang menghadap Museum Fatahillah. Tiba-tiba datang seorang pelayan menghampiri meja kita sambil menyodorkan menu pesanan, lalu dia pergi menunggu di panggil.
'Kita Makan aja ya!? Aku udah laper ini, kamu mau pesan apa?' Tanya Yuri terlihat seperti kehabisan tenaga. Jelas dia laper karena dia terlalu senang saat keliling ke Kota Tua sambil mengarahkan kameranya, membidik berbagai objek yang menurutnya menarik untuk di foto.
Lalu, Aku menatap menu yang tulisannya bahasa inggris, aku jadi kebinggungan harus pesan apa?
'Aku pesan Nasi Goreng aja deh' ucapku sambil senyum pahit.
'Ha?'
'Iya nasi goreng, kenapa? ada masalah?' Ucapku bingung.
'Dasar, kita makan di cafe bagus, masih mau makan nasi goreng?' Kata Yuri heran.
'Aku memilih yang menurutku enak, 'kan tujuan kita menikmati suasana di Kota Tua. Bukan, acara Dinner' jelas ucapku. Yuri masih bergumam sendiri. Tangan Yuri melambaikan tangan ke arah pelayan sambil memanggilnya.
'Mbak, Saya pesan Spaghetti Carbonara, Nasi Bebek Bali, sama Mini Pancake' Kata Yuri menghiraukan ucapanku yang ingin pesan Nasi Goreng.
'Oi bos! Tadi aku pesan apa barusan!' Protes aku.
__ADS_1
'Usst.. diem!'
'Minumnya apa?' Tanya pelayan itu.
'Kopi Hita-'
'Mix Fresh Juice sama Orange Juice' ucapnya menyala perkataanku barusan.
'Oi bos' ucapku ketus. Yuri melirikku sinis.
'Siap, mohon di tunggu sebantar' kata pelayan itu sambil menulis pesanan kita berdua, lalu beranjak pergi.
'Haa.. enak sekali ya suasana tempo dulu' ucapnya seperti gak punya dosa.
'Oi bos!'
'Kenapa adinda?' Kata dia sok imut.
'Jangan kaya gak punya dosa deh, kamu barusan suruh aku pilih pesan apa, kenapa kamu milih sendiri?' Kataku seru.
'Habisnya kamu milih makan gak sesuai suasana tempat ini, apalagi kamu pesan kopi! Kalau udah pesen kopi, kamu udah kayak cacing kepanasan pengen ngrokok jadinya' Ucap Yuri cemberut.
Setelah sepeluh menit menunggu, pesanan kita sudah datang, aroma bebek dari bumbu rempah-rempah tercium sampai ke hidungku. Dan, Yuri menikmati Spaghettinya sampai gak mau bicara denganku sebentar. Tapi kalau di liat, dia sangat cantik sekali di sana. Cara dia makan, cara dia berbicara denganku, cara dia menggagumi sesuatu, membuatku ingin jatuh sejatuhnya dalam cintanya meski dalam diam.
Pandaran cahaya kuning redup Cafe Batavia yang luas, aluanan musik dari gramofon mendayu lembut dengan lagu-lagu jenis jazz membawaku ke atmofer jaman noni Belanda, seperti sorang pangeran dan ratu yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat dinner di jaman itu. Mungkin, aku seperti itu. Namun, kenyataanya kita hanya sebatas teman.
...🍂🍂🍂...
Selesai makan kita beranjak pergi setelah membayar makan kita ke kasir, lalu pergi ke luar meninggal cafe tersebut. Aku melirik jam tangan di kananku, waktu sudah menunjukkan setengah sembilan. Sudah waktunya untuk pulang.
'Yuri, udah waktunya kita pulang, aku temani kamu pulang ya' kataku mengajaknya pulang bersamaku.
'Oke, yuk kita pulang' ucap Yuri sambil tersenyum. Kita berdua melangkahkan kaki kita ke arah Stasiun Jakarta Kota pas berdekatan dengan kawasan tempat Kota Tua tadi, jadi kalau kita mau ke Stasiun mau pulang lebih dekat.
Setelah memasuki Kereta tujuan kita, aku merasa ada yang aneh dari sikapnya yang mendadak berubah sekarang. Entah suasana canggung apa ini? Di sepanjang perjalanan Stasiun, dia masih diam dalam lamunannya. Seperti ada yang di pikirkan, Ada perasaan gelisah yang telah menyelimuti wajahnya.
__ADS_1
Kemudian, aku mencoba bicara dengannya.
'Jadi gimana tempat kerja kamu yang baru? Bagus gak?' Tanya aku mengalihkan suasana canggung ini.
'Bagus kok tempat kerjanya, apalagi orang-orang di kantor juga baik-baik semua sama aku. Mungkin, aku bakal betah di sana' Jawab Yuri kembali dengan senyumannya.
'Syukurlah kalau gitu, aku turut senang mendengarnya' ucapku sambil membalas senyumannya.
Setelah beberapa menit kemudian, Kereta berhenti di Stasiun Tangerang, Kita berdua meninggalkan kereta dan keluar dari Stasiun itu. Lalu, aku menemani Yuri sampai Taksi online itu datang menjeputnya. Selang berapa menit terlewat, Yuri mulai bicara denganku.
'Hei Dareen, jika waktu bisa terulang kembali, menurut kamu gimana?' Tanya dia tiba-tiba dengan pasang wajah murung.
'Kalau waktu bisa terulang kembali, mungkin aku di beri kesempatan oleh Tuhan bisa mengubahnya mulai dari kesalahanku yang ingin ku ubah. Dengan begitu hidup terasa lebih nyaman tanpa ada penyesalan di hidupku selama ini. Itu menurut aku sih' terang aku menjawabnya sambil menatap langit malam dengan sinar rembulan malam yang begitu indahnya di pandang dan wajahmu terbayang di sana.
'Oh gitu..' sepatah kata Yuri.
'Kenapa Tanya Gitu? Ada masalah?' Tanyaku.
'Oh, gak ada apa-apa, cuma ngelantur aja tadi' Ucap Yuri sepatah, sambil memegang dadanya. Seperti ada perasaan yang belum aku tahui.
'Gakpapa kok, aku mengerti perasaan kamu. Kalau gak mau cerita juga gak masalah kok, Asalkan kamu baik-baik saja'. Ucapku menenangkan perasaan Yuri.
Tiba-tiba datang mobil taksi online yang berwarna hitam berhenti pas berhadapan dengan kita berdua. Lalu, Kaca mobil itu terbuka dengan sendirinya. Pria paruh baya yang di dalam mobil itu langsung bertanya di hadapannya kami berdua.
'Atas nama Yuri?' tanya Pak supir itu.
'Iya pak saya, sebentar ya pak saya mau bicara sama temen saya sebentar' ucap Yuri menyuruh pak supir menunggunya sebentar.
'Iya silahkan' kata pak supir itu, lalu kaca mobil itu di tutupnya kembali.
'Makasih udah mau nemenin aku jalan-jalan' Ucap Yuri sambil tersenyum.
'Iya sama-sama kalau ada apa-apa telp ak-' Ucapku belum sampai selesai, Yuri tiba-tiba mendekat kepadaku.
'Mungkin kamu benar Dareen. Tapi, aku yakin semuanya akan baik-baik saja kok' Ucap Yuri berbisik di telingaku, membuat diriku menjadi gugup dengannya.
__ADS_1
Kemudian, dia hanya tersenyum dan masuk ke mobil hitam itu. Lalu, pergi meninggalkan sebuah kalimat yang begitu tiba-tiba dan bau parfummu terasa harum saat kau mendekatiku.
Walaupun senyuman yang di paksa, tersembunyi di balik wajah masamnya. Apa yang sedang dia pikirkannya sekarang? Aku berpikir sambil memandang langit malam yang masih muda. Astaga.. manusia sungguh sangat rumit, sangat keras, sangat sulit, sangat menjemukan, dan sangat menarik!