
Aku bekerja di Sebuah cafe dan bar, di kawasan bintaro. Sudah beberapa tahun aku bekerja di tempat ini semenjak jaman aku kuliah dulu sampai lulus sekarang ini. Pagi sampai Sore menjadi tempat cafe dan malamnya menjadi bar. Tempatnya juga gak terlalu gede, tapi Interiornya memang mengusung konsep jadul dengan pembaharuan bahan kayu dan pencahayaan yang terkesan redup.
Di beberapa dindingnya juga, terpasang keramik-keramik bermotif unik yang membuat interior semakin menarik.
Tidak hanya desain interiornya, menu makanan yang disajikan juga cukup unik karena menggabungkan masakan Indonesia dan western.
Karna sudah waktunya jam makan siang, banyak sekali pengunjung datang ke tempat cafe ini. Pengunjung sangat menikmati acara ritualnya. Ya itu Coffee time.
Ada juga acara selfie heboh dari ibu-ibu arisan, anak muda-mudi yang sedang kumpul bersama dengan teman-teman lainnya,
Dan banyak sekali hal yang mereka lakukan untuk menikmati secangkir kopi dengan cara mereka masing-masing.
Aku merasa bahagia melihat orang-orang di sana sangat senang menikmati rasa pahit dari kopi yang kuracik sendiri.
Padahal Kopi itu terasa pahit untuk di minum. Atau mungkin karna kepahitan itu yang membuat semua orang semakin Suka dan Candu merasakan kepahitan dari sebuah kopi hitam. Dan, di balik rasa kepahitan itu ada suatu kenikmatan saat menyeruputnya.
Bukan hanya aku saja menjadi barista, ada juga seniorku yang sudah lama bekerja di tempat ini. Dia perempuan yang sangat cantik, murah senyum, dan pandai meracik kopi dengan skill cekatan Pro. Namanya Sarah. wajahnya cantik, berambut hitam di ikat kuda dan rambut depannya di biarkan poni. Membuat dirinya semakin imut.
‘Dareen..’ ada seseorang yang memangilku
‘Iya?’ jawabku, ternyata Sarah memanggilku.
‘Tolong ambilkan Biji kopi robusta di bawah meja kamu! Soalnya biji kopiku sudah habis’ ucap Sarah meminta biji kopi kepadaku.
‘Bentar saya cari dulu’ aku membungkukkan badanku di bawah meja mencari biji kopi robusta di lemari. Setelah mencari akhirnya ketemu ‘Ini Kak, Cuma ada dua bungkus saja’ ucapku sambil mengasih dua bungkus kepada Sarah.
‘Makasih ya Dareen’
‘Iya, sama-sama’
‘By the way, nanti malem ini kamu ada waktu gak?’ Ucap Sarah sambil menaruh biji kopi ke Mesin grinder
‘Gak ada, palingan langsung pulang’ Jawabku.
‘Hmm.. kalau gitu bisa temani aku malam nanti?’ Tanya Sarah.
‘Eh? mau kemana?’ Tanyaku balik.
‘Nanti aku beritahu kamu lagi, oke!’ Jawab Sarah sambil senyuman jailnya.
Sudah gak terasa waktu sudah menunjukkan jam lima sore, aku bergegas membersihkan meja kerjaku dan alat-alat kopi sebelum pergantian shift jaga. Setelah sudah rapi semua, aku melihat di sana, Sarah sedang membersihkan meja yang sudah di gunakan pengunjung tadi.
Sebetulnya aku ingin menghampirinya untuk tanya ajakkan dia tadi siang, tapi kelihatannya dia sedang sibuk mungkin. Akhirnya aku bergegas ke loker baju untuk ganti baju kerjaku.
Saat aku mau melepaskan bajuku, tiba-tiba ada tangan yang merangkul di leherku sampai aku terkejut. Sontak aku membalikkan tubuhku, ternyata pelakunya Master.
Masterku ini yang menggantikan shift jaga sekarang. Dan, dia adalah pemilik cafe tempat ini. Dia juga bertugas sebagai bartender. Dia rela bantu kerja karna tamu-tamunya adalah perempuan semua yang ingin di layani oleh Master sendiri. Bahkan ada yang jadi pelanggan tetap.
‘Kaget gua! Gua kira siapa?’ ucapku terkejut.
‘Kejam sekali, kau mau balik sekarang’ Tanya Master.
‘Iya saya mau balik sekarang’ ucapku sambil menutup loker baju setelah mengganti pakaianku.
‘Kenapa buru-buru sih? Minum-minum kek biar enteng kalau pulang. Aku traktir deh sebagai gantinya’ ucap Master dan sambil duduk di hadapan loker-loker baju.
__ADS_1
‘Saya ada urusan mendadak, kapan-kapan aja ya master’ ucapku ke Master sambil senyum maksa, berharap dia tidak memaksaku menemani dia lagi. Karna setiap kali aku menemani dia, selalu saja berisik saat aku ingin menikmati kopiku.
‘Oi-oi, mau merayuku dengan muka gak ikhlas gitu? Kalau gak mau senyum gak usah di lakuin deh’ ucap Masterku dan aku tidak bisa menyangkal perkataannya.
‘Yaudah Master saya pamit dulu ya master. Salamin buat yang lain’ ucapku buru-buru meninggalkan Master. Namun tangan Master menarik tanganku sehingga langkahku terhenti.
‘Mau kabur pas kita masih ngobrol? jadi curiga saya hmm’ ucap Master menyelidik.
‘Jadi mau ngobrol apa sih Master? Dari tadi kita gak bicara hal serius’ ucapku mengeluh. Master bangun dari tempat duduknya dan tiba-tiba Muka Master mendadak mendekat di wajahku seperti adegan ciuman.
‘Jagai dia dan Beri dia semangat’ ucap Master sambil tersenyum haru, lalu pergi begitu saja meninggalkan sebuah ucapan Master yang membuatku bingung “Dia Siapa?” gumamku.
Aku meninggalkan tempat Kerjaku setelah berpamitan yang Lainnya. Aku membuka pintu cafe, Secara kebetulan aku bertemu Sarah di depanku. Sepertinya dia sedang menungguku di luar. Aku pikir dia masih di loker baju.
‘Yaudah yuk pergi’ ajaknya sambil dia tersenyum ke padaku.
Aku berjalan mengikuti arah langkah Sarah yang entah mau pergi kemana? Jadi, aku bertanya dia langsung karna kita berjalan cukup panjang dari tempat kerja kita.
‘Kak, mau kemana sih?’ tanyaku.
‘Ini bentar lagi udah sampai kok, tuh! udah keliatan di sana’ ucap Sarah sambil menunjuk ke arah tempat ia maksud. Setelah kita sampai di tujuan, ternyata tempat yang dia maksud ternyata hanya sebuah Cafe dan bar seperti tempat kerjaku. Tapi bedanya tempat ini ada live music.
‘Oh ini tempatnya?’ ucapku
‘Yuk buruan, entar gak dapet tempat duduk’ Ucap Sarah menyuruhku bergegas masuk ke tempat itu.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Sarah membuka menu pesanan.
‘Jadi kamu mau pesan apa?’ tanya dia.
Sarah melambaikan tangannya ke arah pelayanan di sana setelah menulis pesanan dia sendiri dan aku. Lalu, pelayan itu datang menghampiri meja kita berdua. Sarah mengasihkan buku menu pesanan kita ke pelayan itu. Kemudian, pelayan itu beranjak pergi.
Suasana di tempat ini sangat ramai pengunjung yang sedang menikmati alunan live music di sana. Sarah yang sedang menunggu pesanannya datang sambil sibuk mengetik gadgetnya. Sedangkan aku menikmati suara alunan jazz dari panggung live music di sana.
Tanpa lama pesanan kita berdua datang. Pas aku mau makan daging stekku, tiba-tiba datang satu pitcer besar berisi beer yang di bawa pelayan itu ke meja kita berdua. Sontak aku kaget ,otomatis Aku langsung bilang ke pelayan itu.
‘Mas, saya gak pesan beer’ Ucapku bingung.
‘Dareen aku yang pesan tadi’ Ucap Sarah menyela.
‘Ha? Serius!?’ ucapku masih setengah gak percaya.
‘Iya, serius Dareen’ Jawab Sarah serius.
Selama aku kenal dia cukup lama, tak pernah dia perlihatkan ke padaku kalau dia peminum. Yang ku tahu hanya ‘lah dia orang yang baik, pintar, dan dewasa. Memang sih aku lebih mudah darinya.
Tapi caranya dia memperlakukanku seperti seumuran. Padahal umur kita beda tiga tahun. Namun siapa sangka? Di balik parasnya cantik, dia peminum.
‘Oi Dareen! kenapa kamu? Kaget ya liat aku minum?’ Tanya Sarah tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
‘Enggak juga sih, Cuman gak percaya aja kalau kak Sarah peminum juga’ ucapku terang.
‘Baru satu tahun aku minum ini, tapi rasanya enak dan nikmat’ ucap Sarah sambil minum beer lagi ‘ Kamu gak mau minum? Nih!’ tambahnya sambil menyodorkan gelasnya ke padaku.
‘Oh, saya gak minum maaf makasih’ Ucapku menolak.
__ADS_1
Dan, aku melanjutkan makanku, dan Sarah masih minum beer itu sambil memakan kudapan yang ia pesan.
‘Ahh.. nikmat sekali kalau habis kerja itu enaknya minum beer langsung enteng badan. Ya ‘kan Dareen!?’ ucap Sarah semangat.
‘Eh-Iya Kak’ ucapku terbatah melihat Sarah udah mulai mabuk.
‘Tau gak sih Dareen? Kenapa aku ajakin kamu kesini?’ Ucap Sarah dengan nada mabuk.
‘Gak ta-‘ belum selesai bicara, Sarah menyela perkataanku dengan cepat.
‘Karena...!! aku gak tau lagi harus melakukan cara apa bisa melupakan dia?’ Ucap Sarah serius dan dia melanjutkan minum dia sekali tegukan gelas besar di tangannya ‘Ahh.. mangkaknya aku mau curhat sama kamu’ tambahnya. Dan, tak kusangka lagi, sifat yang sebenarnya mulai keluar saat di mabuk.
‘Loh, kak Sarah baru putus sama pacar kakak?’ tanyaku.
‘Bukan, dia sudah tak ada lagi di dunia ini’ ucap Sarah pelan.
‘ Maaf, saya turut berduka’
‘Satu tahun lalu sebelum kecelakaan. Dia mengendarai mobilnya menuju jalan ke rumahku. Remnya blong pas dia mau berhenti di lampu merah itu, sehingga dia tidak bisa berhenti.’ Ucap Sarah sambil meminum beernya lagi. ‘Lalu, dia tertabrak oleh truk besar. Sampai mobil itu terguling-guling. Sejak kejadian itu aku masih belum di beritahu oleh rumah sakit maupun keluarganya. Padahal aku menunggunya cukup lama di rumahku. Dan besoknya aku baru tau dari teman pacarku kalau dia sudah tiada’ Ucap Sarah pelan, dan aku Melihat raut wajah Sarah seperti mau ingin menangis. Lalu, dia minum satu tegukan beer itu lagi, sekaligus.
Tiba-tiba Sarah melambaikan tangan ke arah pelayan itu. Pelayan itu datang menghampiri meja kita berdua. Sarah menunjuk ke Pitcher yang berisi beer itu yang aku liat udah habis. Aku kaget, baru menyadari kalau botol segede itu bisa habis sama Sarah. Ternyata dia kuat minum juga. Dan, dia memesan satu pitcher besar lagi.
Aku tau perasaan Sarah saat di tinggalkan kekasihnya pergi menghadap sang penciptanya. Memang sulit untuk di terimanya. Tapi, Bayangan kan, betapa sakitnya orang yang selama ini mengisi ruang kehidupannya menjadi hilang seperti mimpi kemarin.
Sehingga ruang yang pernah mengisi kehidupannya menjadi kosong. Dan, dia mencoba menguatkan diri dari kenyataan yang selama ini menjadi beban di hidupnya.
Tanpa berhentinya Sarah masih ingin meminum beer itu. Dia tampak terlihat mabuk kepayangan. Namun, dia masih ingin bertahan. Ku putuskan untuk meninggalkan cafe itu dari pada dia tepar di sini jadi masalah.
‘Ayo kak saya bantu keluar dari sini. Saya carikan taxi untuk nganterin kak Sarah pulang’ ajakku.
‘Ha? Masih jam berapa ini! Aku mau pengen minum lagi’ ucap Sarah sambil merengek gak mau pergi dari cafe ini.
‘Udahlah.. yuk! saya bantu’ ucapku sambil membantu dia berdiri.
Selesai membayar ke kasir, aku melangkahkan kakiku keluar dari cafe itu. Lalu, aku berdiri di hadapan jalan raya, sesambil memegang bahu Sarah biar dia gak jatuh. Kalau aku gak pegangi dia, dia pasti sempoyongan kalau berdiri.
Aku keluarkan gadgetku di saku celana kananku. Aku memesan taxi online untuk menjemput Sarah tapi aku tidak tahu alamat tinggal dia. Langsung aku tanya dia.
‘Kak, alamat tinggal Kak Sarah di mana?’ tanyaku.
‘Di Jalan Pemuda dua, nomer dua puluh tiga.’ ucapnya agak terbata-bata. Aku mengetik lagi alamat yang di tujuh.
Setelah menunggu lima menit, akhirnya mobil itu berhenti di hadapan kita berdua. Kaca mobil itu terbuka sendirinya. Lalu supir itu berkata.
‘Atas nama Dareen?’ tanya supir itu.
‘Iya betul pak’ ucapku ‘Ayo kak masuk’ sambil membuka pintu mobil itu. Tiba-tiba lenganku di pegang oleh Sarah.
‘Mau antar ke rumahku?’ ucap Sarah
‘Ha!?’ kaget saat mendengar dia ingin memintaku untuk mengantarnya.
Tiba-tiba gadgetku berbunyi keras di tangan kananku, ada notifikasi chat di gadgetku. Aku membuka chat itu, ternyata dari Yuri.
“Besok aku ingin ketemu kamu”
__ADS_1