
Pada siang hari. Aku berkunjung ke toko buku di kawasan Mall Kelapa Gading untuk membeli beberapa buku di sana. Saat aku memasuki toko buku itu, aroma kertas dari buku itu sering kali memikat. Bahkan, saat aku berjalan menyusuri tempat ini. Begitu juga dengan buku yang tersusun rapi di setiap rak-rak buku yang sesuai dengan genre’nya masing-masing.
Pas sibuknya aku memilih buku, akhirnya ada satu buku menarik yang aku temukan, buku bergenre Sci-Fi. Aku sangat menyukai buku itu. Karena buku itu menunjukkan dunia baru yang sangat menakjubkan. Tapi itu bukanlah dongeng, mereka adalah kelanjutan dari dunia ini, seperti menceritakan masa depan yang akan datang.
Setelah aku mengambil buku itu, aku membayarnya ke kasir. Selesai berbelanja buku, aku berjalan keluar dari toko buku itu. Aku melangkahkan kakiku ke arah tempat cafe yang biasanya tempat untuk rehat sejenak setelah menghabiskan waktuku berbelanja buku tadi.
Pas aku membuka pintu cafe, aku terkejut melihat perempuan yang di sana duduk satu meja berduaan dengan pria lain? Aku langsung spontan menutup pintu cafe’nya Kembali. Aku hanya bisa diam dan terpaku melihat dari kaca tembus pandang itu. Perempuan yang di sana adalah Yuri bersama Pria yang tak ku kenal sebelumnya. Namun, Pria itu berpenampilan formal, wajahnya sangan tampan, dan berkarisma.
Aku sangat heran, kenapa dia ada di tempat ini bersama pria lain? Setauku dia masih belum punya pacar. Kalau dia udah punya pacar seharusnya dia gak perlu bertemu lagi denganku kemarin. Apa mereka kebetulan bertemu di satu tempat terus mengajak makan siang bareng saja. Aku perhatikan, mereka juga terlihat cukup dekat.
Aku menghembuskan napas sebentar, dan berpikir kalau ini sangat buruk kalau aku ketahuan mereka kebetulan bertemu di tempat ini akan jadi bahaya. Misalkan, Kalau aku menghampirinya juga aku hanya jadi merepotkan ‘kan dia saja. Meskipun aku agak curiga, tapi ini bukan urusanku.
Ku urungkan niatku masuk ke cafe, lebih baik aku langsung balik ke kontrakan dari pada mereka melihatku berada tempat ini.
Sampai dari Kontrakanku, aku membuka kunci pagar terlebih dahulu, pas aku mau dorong Pagar, tiba-tiba datang mobil Sedan berhenti pas di depan pagar rumahku. Lalu, orang itu muncul dari mobil.
‘Oi! Sobat lama! Baru sampai?’ Ucap Ahmad sambil melambaikan tangan ke arahku.
‘Oh, ternyata lu, gua barusan habis ke toko buku’ jawabku. Ahmad ini adalah teman dekatku semasa kuliah dulu. Meskipun jurusan kita beda tapi kita cukup dekat saat kita hanya berdua maupun kumpul bareng bersama teman-teman lainnya pas waktu jaman kuliah dulu. Sekarang pun masih bareng sama dia terus.
‘Kebetulan gua lewat ke sini, jadi gua mampir ke rumah lu’ ucap Ahmad sambil menepuk pundak ‘ku.
__ADS_1
‘Yaudah masuk, gua bikinin kopi dulu sebentar’ ucapku menyuruh temanku masuk ke rumahku, lalu aku berjalan menuju ke dapur untuk bikin kopi.
Selang berapa menit terlewat, kopi yang sudah aku buat, aku menyodornya kopi itu ke Temanku, dan aku mulai bertanya sambil melihat jendela luar, menyadari kalau mobil Ahmad belum di masukin sama dia, karna aku lihat langit sudah mulai petang.
‘Mobil lu masukin dulu, udah mau malem ini’ ucapku menyuruh mobilnya masuk ke terasku.
‘Gua cuma sebentar aja di sini, malem ini gua mau pergi sama pacar gua’ kata Ahmad sambil menyeruput kopinya dulu, lalu dia mulai melanjutkannya ‘mangkaknya gua ke rumah lu sambil nungguin pacar gua yang lagi dandan di rumah. Lu tau sendiri ‘kan, cewek kalau dandan lama bener’ tambahnya.
‘Oh gitu, gua kira lu mau nginep’
‘Jadi gimana hubungan lu sama Yuri? Ada perkembangan?’ Tanya Ahmad sindir.
‘Hmm..terus kenapa wajah lu murung? Gak biasanya lu kek gini?’ Ucap Ahmad menyelidik.
‘Cih,gua memang kek gini dari dulu, dasar tukang analis! ’ Jawab aku kesal sambil membuang muka.
‘Huh, lu memang gak mau cerita tentang masalah lu atau gak mau cerita tentang masalah Yuri’
DEG!!
Aku langsung tersedak saat minum kopi, terkejut mendengar Ahmad bilang seperti itu.
__ADS_1
‘Benar ‘kan!, berarti dugaan gua bener. Lu ada masalah ya sama Yuri!?’ Ucap Ahmad seru.
‘Serius! Gua gak ada masalah apa-apa pun sama dia’ Ucapku membantah perkataan Ahmad.
‘Dasar, lu masih aja sembunyiin perasaan lu. Padahal lu udah lama sama dia, kenapa gak ada perkembangan?’ Ucap Ahmad makin penasaran.
‘Memang gua sama dia udah deket udah lama sampai kita berdua lulus Kuliah. Tapi, bukan berarti gua bisa dapetin dia secara gampang. Bukan. Malah kenyamanan hubungan pertemanan kami yang membuat kita semakin ragu menjalin hubungan lebih jauh’ Ucapku pasrah.
‘Huh, jadi itu masalahnya’ ucap Ahmad sambil memagang kepalanya. ‘ Hei Dareen! Kalau lu gak bertindak duluan, sampai kapan lu menahan perasaan lu sendiri? Kalau lu begini terus, jadinya elu yang tersakiti sendiri! Memang agak kelihatan egois kalau meminta lebih. Tapi, jangan sampai lu membiarkan menuai apa yang membuat elu ragu dengannya, ingat itu Dareen! Jangan sampai terjebak dalam Friends Zone!!’ Tambah Ahmad Seru.
Kalau di pikir lagi memang betul kata sih Ahmad. Kalau memang perasaan harus di utarakan, seharusnya tidak di pendam sendiri. Jadi, hubunganku dengan Yuri harus di pertanyakan terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.
Namun, apakah perasanku dengannya, merasakan hal yang sama? atau apa aku hanya salah sangka, mengira kalau dia bersikap baik denganku hanya sebatas teman saja?
Selang berapa jam kemudian, Ahmad beranjak pergi dan berpamitan. Karna pacarnya udah menghubungi sih Ahmad.
‘Gua pamit dulu, kalau lu ada masalah atau apa, telpon gua ’ ucap Ahmad sembari melangkah keluar dari rumahku.
‘Oke, hati-hati di jalan. Salamin buat pacar lu’ Ucapku sambil mengantarnya keluar. Ahmad masuk ke mobil, lalu dia pergi berlalu. Aku menutup pagar terlebih dahulu. Pas mau masuk, Gadgetku tiba-tiba berdering keras di saku celanaku, aku merongo kantong celanaku, dan mengangkat telp tersebut.
“Dee, kencan yuk!”
__ADS_1