
Ditempat lain terlihat Brayen yang sedang duduk mengistirahatkan dirinya yang sudah begitu lelah dengan semua kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya dan musibah yang telah menimpa keluarga kecilnya yaitu kehilangan Surya sang buat hati yang dianggap pelengkap keluarga ternyata hanya pelengkap sesaat bagi hidupnya.
Brayen duduk diranjang kamarnya yang empuk dengan seprai berwarna abu-abu dan terlihat foto keluarga lengkap dengan bingkai besar terpampang dikamarnya yang terlihat begitu ceria dan tak ada kesedihan dalam foto itu.
Ia bergumam dalam batinnya dan berbicara seakan-akan tidak percaya dengan semua yang terjadi dalam hidupnya saat itu,dengan perasaan yang masih hancur dan terpuruk.
"Ya Allah....."
"Aku ingin sekali memperbaiki semuanya,tapi semua yang telah dimulai begitu lama yang sudah melekat dan mendarah daging dalam tubuh ini dan dihati ini"
"Apa bisa begitu mudah dilupakan?!"
Tidak lama kemudian setelah ia selesai bergumam,suara telpon berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari Mega yang sedang menelpon Brayen dengan perasaan cemas dan gelisah.
Tepat dikamar Mega,ia berjalan kearah jendela kamar yang terbuka lebar menelpon Brayen dengan perasaan gundah gulana.
"Kring......"
"Kring ......"
"Kring......."
Suara telpon berbunyi terdengar dikamar Brayen,namun ia tidak mengakatnya dan malah mematikan telpon dari Mega dan berusaha tidak peduli karna tidak ingin diganggu dan ingin menenangkan dirinya sendiri dulu setelah terpukul begitu dalam Karna kehilangan putranya Surya yang sangat ia dambakan.
Pagi menjelang lama saat itu setelah selesai pemakan.
Mega yang masih berusaha menelpon Brayen hingga larut malam karna cemas dengan keadaan Brayen saat itu.
Terus menerus menelpon walaupun panggilannya tak kunjung diangkat oleh Brayen.
Tapi ia terus berusaha dan berharap Brayen mengangkat panggilan darinya dan mau menghubunginya.
Sedangkan disisi lain Brayen yang sedang berusaha menyibukkan diri dan berusaha menghibur putri kecilnya duduk disofa tamu dengan Beka yang berada dibawah lantai meletakkan tangannya diatas meja sedang belajar.
Agar mereka tidak terus bersedih dan tidak teringat dengan kehilangan dan musibah yang baru saja menimpa keluarga kecil itu.
Setelah beberapa saat kemudian Mega yang awalnya sangat antusias dan terus berharap agar Brayen mengangkat panggilan nya, perlahan-lahan pun menyerah dan berhenti untuk menghubungi Brayen lagi.
Mematikan telpon dari genggaman nya dengan suasana hati yang sudah krask krusuk dan kekecewaan kepada Brayen yang sudah mencapai puncaknya karna ia tidak kunjung mengangkat panggilan dari Mega.
Malam yang sunyi dan sepi pun menjelang pagi hari namun suasana hati Mega masih kacau balau,resah dan cemas dengan keadaan Brayen,karna ia tidak kunjung mengangkat telpon dari Mega.
Mega terus berusaha dan berusaha menghubungi Brayen kembali.
__ADS_1
Ia berjalan didepan teras rumahnya sambil terus menelpon Brayen dengan handphone yang ia pegang erat ditangan dan melekat ditelinganya seakan-akan berharap Brayen mengangkat panggilan telpon darinya dan mau berbicara dengannya.
"Kring......"
"Kring..........."
"Kringgg......"
Suara nada dering telpon dari handphone pun terdengar dari meja kerja Brayen dekat disamping menaruh secangkir kopi hangatnya dipagi hari.
Satu buah laptop menyala berisi file-file penting didalamnya dan ada secangkir kopi sebagai pelengkap nya,berada diatas meja kerja Brayen yang sedang sibuk mengurus pekerjaan kantornya yang ada di laptop tersebut.
"Huh Brayen"
"Kamu kenapa sih ko' dari kemarin ga angkat-angkat telpon ku"
Ujar Mega geram dan gelisah dari kemarin hingga sekarang sembari duduk dikursi teras depan rumahnya .
Mega terus mencoba menelpon Baryen kembali,tapi saat ia akan menelpon kembali saat itu ditempat Brayen ia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Berada didalam mobil sedan putih yang mewah berjalan dengan kecepatan sedang duduk dikursi dan menyetir mobil.
Menggunakan pakaian setelan jas berwarna biru Dongker yang rapi dengan bau farfum mewah impor dari luar negri dan merupakan farfum terkenal dan hanya orang tertentu yang bisa memiliki nya dan hanya orang kaya raya yang bisa membelinya dengan harga milyaran hanya untuk satu buah farfum.
"Kring......"
"Kring ......"
Suara telpon berdering dan ternyata sama lagi,itu adalah panggilan telpon dari Mega.
Brayen mengambil handphone nya dan mematikannya karna tidak ingin terus diganggu oleh suara telpon dari Mega yang terus berdering dan mengusiknya.
Brayen mengabaikan panggilan dari Mega dan melanjutkan perjalanan nya menuju ke kantor.
Scen pun beralih,dan diperlihatkan Beka yang sedang menangis tersedu-sedu karna masih berkabung dengan kematian Surya adiknya tercinta.
Ia duduk dikursi kamarnya menggunakan baju putih polos dengan rambut panjang terurai harum dan berwarna hitam lebat.
Sambil memegang bingkai foto berisi foto kebersamaan nya dengan Surya adik tercintanya.
Iya terus memegang erat bingkai foto tersebut Karna begitu bermakna baginya dan merupakan kenangannya dengan Surya.
Memandanginya terus menerus tanpa berkedip sedikit pun diiringi derai air mata dan isak tangisnya yang sudah tidak terbendung lagi karna ia masih sangat merindukan adik kecilnya itu.
__ADS_1
Tangan kecilnya mengelus-elus dan meraba foto Surya sembari ia langsung memeluk bingkai foto tersebut dengan erat dan air mata yang sudah membanjiri pipinya dan hatinya yang sangat terpukul atas kepergian Surya.
Discen lain diperlihatkan pula Mega yang masih terus saja menelpon Brayen,ia terus saja berjalan mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lainnya dengan kegelisahan yang sudah mencapai puncaknya.
Namun ia terus saja berusaha menelpon Brayen walaupun harapan nya kepada Brayen sudah hampir pupus dalam pikirannya karna panggilan nya yang selalu saja diabaikan dan tak kunjung diangkat oleh Brayen.
Diperlihatkan rumah yang sepi dan tampak sederhana,dengan cat berwarna putih polos dan tanaman-tanaman hias di depan rumah itu.Rumah itu tampak asri dan tak ada keributan,yaitu rumah tempat tinggal Mega dan suaminya Reyhan.
Terlihat Mega dikamarnya sedang bergumam sembari duduk di kursinya tepat didepan cermin yaitu tempat riasnya sambil menyisir rambut nya.
"Sejak anaknya meninggal......"
"Kenapa Brayen juga ga pernah hubungin aku lagi ya?!"
"Mengangkat panggilan dari ku saja,satu kali pun tidak pernah,ia selalu mengabaikan ku"
"Apakah karna.....Hubungan dia dan istrinya membaik ya?!"
"Terus....Brayen ngerasa bersalah ke istrinya"
"Gaa......Ga...Ga boleh"
"Aku ga bisa terus kayak gini aja"
"Aku harus temuin Brayen dan bicara sama dia"
"Dia ga bisa giniin aku terus-menerus"
"Hmm......Aku Ken tau alamat rumahnya"
"Aku harus temuin dia secara langsung,ga bisa kayak gini terus"
Setelah ia selesai bergumam terlihat dibelakangnya ada suaminya Reyhan yang masih tertidur pulas terbaring di atas ranjang.
Dan ia sedang bermimpi buruk tempat berada digudang sedang memperbaiki listrik yang konslet sedang bercakap-cakap dengan temannya membahas tentang keluarga mereka masing-masing.
_Next_
Penasaran dengan percakapan Reyhan dan temannya?.
Dan mimpi buruk apa yang Reyhan impikan saat itu?.
Ikuti terus cerita ku,semoga kalian semua tertarik dan menggapnya seruu
__ADS_1
Mohon di like komen dan vote jika berkenan,makasih atas semua dukungannya:)