Hantu Di Pojok Kelas

Hantu Di Pojok Kelas
Part 3


__ADS_3

#PART_3


*KRING------KRING------KRING*


Bel pulang pun berbunyi. Naya sudah menggendong tasnya dan bersiap-siap untuk pulang. Namun saat ia melewati bangku mereka, ia langsung dijegat oleh Rere And The Genk.


Rere : "Mau kemana lu hah?" ucapnya sambil menarik kasar tangan Naya hingga membuat si empunya meringis kesakitan.


Naya : "Sshh aaww sakit, lepasin tangan aku! Tentu saja aku mau pulang,"


Rere : "Enak aja! Jangan pulang dulu! Lu harus bantuin kita ngelaksanain hukuman dari Pak Irsyad!"


Caca : "Bener tuh! belagu amat sih lu! mentang-mentang ulangannya beres duluan dan dapet pujian dari Pak Irsyad, lu jadi bertingkah seenaknya ama kita!"


Shella : "Dasar songong!" ucap Shella sambil mendorong kasar Naya, hingga membuat tubuh gadis itu terpojokkan dan membentur dinding.


Naya : "Aaww sakit. Minggir kalian, jangan ngehalangin aku!"


Sindy : "Waahh, jadi lu udah berani ngelawan kita ya?"


Rere : "Udah lah guys, mending kita siksa dia aja yuk?"


Shella : "Ide bagus tuh! Caca, tolong ambilin dong tali ama lakban yang ada di tas gua!"


Caca: "Ahsiyap!" ucap Caca sambil memperagakan gerakan hormat. Ia pun segera mengambil benda yang dipinta Shella. Setelah mendapatkannya, ia langsung memberikan benda tersebut pada Shella.


Naya terus memberontak, namun apa daya, kekuatannya tidak seberapa dibandingkan mereka ber-4 yang kini sedang menahan tubuhnya. Shella pun segera merobek lakban hitam lalu menempelkannya di mulut Naya agar gadis itu tidak bisa berteriak minta tolong.


Kemudian mereka mendudukkan Naya di bangkunya yang terletak di pojok belakang kelas, lalu segera mengikat tubuh Naya dengan tali, hingga membuatnya diam tak bisa bergerak.


"hmmmpphht"


Naya ingin berteriak minta tolong, namun gagal. Yang terdengar hanyalah gumaman-gumaman tidak jelas karena mulutnya yang sudah dilakban tadi.


PLAAKK


PLAAKK


PLAAKK


PLAAKK


Rere, Sindy, Caca, dan Shella, bergantian menampar Naya dengan tamparan yang sangat keras hingga membuat pipi Naya memerah dan terdapat bekas tamparan mereka, pasti pipinya akan terasa panas dan sakit. Naya hanya bisa menangis dan pasrah atas segala kejadian yang menimpanya saat ini.


Rere : "Aduh,,,nangis! Kasian banget ya?"

__ADS_1


Lalu Rere pun mengeluarkan sebuah silet dari dalam sakunya dan segera mengarahkan silet itu ke wajah Naya. Rere pun menyeringai tajam.


Rere : "Sebentar lagi, wajah lu akan hancur dan luka-luka, bye-bye kutu kupret!"


Sindy : "Siap-siap Naya, bentar lagi lu bakal mati!"


Dan......


Sreettt!!


Rere pun menyayat-nyayat wajah Naya hingga membuat wajah mulus gadis itu dipenuhi dengan luka sayatan, diiringi darah segar yang telah tercampur dengan air mata kepedihan yang terus mengalir dari wajah Naya.


Setelah puas menyiksa Naya, mereka pun segera keluar dari kelasnya, tak lupa menutup semua gorden dan mengunci pintu kelas agar tidak ada yang curiga nantinya. Mereka pun bergegas pulang menuju rumahnya masing-masing.


Rere : "Yuhu....asik banget ya guys, bentar lagi si kutu kupret itu bakalan mati, dan kita gak bakal liat muka so polos dan lugu itu lagi."


Caca, Shella, Sindy : "Yoooiii !!!"





Hari semakin sore, Naya semakin kesulitan bernafas dan rasa perih di wajahnya semakin menjadi-jadi. Di tambah lagi cuacanya sedang mendung, semakin menambah suasana yang mencekam dengan kelas yang gelap minim cahaya.


▪ Faktor pertama :


Kalian pasti sudah tau kan, ia nyaris tidak punya teman, hanya 2 orang saja yang mau menemaninya, itu pun tidak satu kelas dengannya. Mereka adalah Siska dan Tomi.


▪ Faktor kedua :


Ia sering dibully oleh teman sekelasnya, terutama oleh Rere And The Genk. Itu membuatnya terkena tekanan batin dan kurang memiliki semangat hidup.


▪ Faktor ketiga :


Ini menyangkut masalah keluarganya. Naya merupakan anak korban broken home. Orangtuanya sering bertengkar, sampai-sampai ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ayahnya tega menyiksa ibunya. Hingga akhirnya mereka pun memilih untuk bercerai. Ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing, yakni menikah lagi dengan orang lain.


Dan apa kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? Setelah bercerai, mereka menitipkan Naya pada neneknya dan mereka jarang sekali mengunjungi Naya, mereka bersikap acuh dan tidak peduli seolah-olah tidak menganggap kehadiran Naya yang notabene-nya adalah anak kandung mereka sendiri.


*Back To Story*


Naya akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisinya yang sangat mengenaskan. Sebelum benar-benar tiada, Naya berniat dalam hatinya akan membalaskan dendamnya dengan cara meneror serta mengancam mereka yang telah membullynya hingga tewas, ia berjanji akan membunuh mereka juga agar mereka ber-4 menderita dan mati seperti dirinya.


'Awas saja kalian! Aku berjanji akan membalaskan dendamku dengan cara meneror kalian hingga membuat hidup kalian menderita, setelah itu aku akan membunuh kalian satu per satu supaya kalian juga merasakan penderitaan yang aku alami selama ini!' ucapnya dalam hati dengan penuh rasa dendam.

__ADS_1


*****


3 hari berlalu, kematian Naya terjadi pada hari Jum'at. Karena hari Sabtu-Minggu sekolah libur, dan juga kelasnya dikunci, jadinya jasad Naya tidak terkontrol.


Hari ini adalah hari Senin, pagi-pagi sekali, Tomi berangkat lebih awal dari biasanya. Ia berniat mengunjungi kelas Naya untuk mengembalikan buku novel milik Naya yang dipinjamnya tempo hari.


(Sesampainya di depan kelas Naya)


Tomi : "Lho, kok di sini bau bangkai sih? Sumpah baunya menyengat banget." ucapnya refleks menutup hidung.


Tomi mencium bau busuk seperti bangkai yang sangat menusuk indra penciumannya.


Saat ia akan membuka pintu, ternyata pintunya terkunci. Ia pun mendobrak pintu itu. Dengan segenap tenaga, akhirnya pintu kelas berhasil terbuka. Bau busuk pun semakin menjadi-jadi. Ia segera memasuki kelas tersebut.


Betapa terkejutnya Tomi, ia melihat Naya yang sudah lemah tak berdaya dengan kondisi tubuh yang diikat di kursi dengan mulut yang dilakban. Ditambah lagi kulit serta wajahnya yang sangat pucat dengan beberapa sayatan dan bekas luka di wajahnya serta darah yang sudah mengering.


Tomi berjalan ke luar kelas dengan tergesa-gesa, ia berniat meminta pertolongan kepada orang lain. Kebetulan ada Siska dan Pak Irsyad yang baru saja tiba di sekolah, ia pun langsung menghampiri keduanya dan langsung menceritakan kondisi Naya yang ia lihat barusan.


Tomi : "Jadi begitu pak, Siska, saya juga gak tau kenapa kondisi Naya jadi mengenaskan seperti itu. Dan saya yakin, Naya pasti sudah tewas. Karena saat saya mau masuk ke kelasnya, saya mencium bau bangkai yang sangat menyengat."


Pak Irsyad : "Ya sudah, cepat kita ke kelas Naya sekarang!"


Mereka ber-3 langsung bergegas memasuki kelas Naya. Sesampainya di kelas......


Siska : (menangis histeris) "Naya!!! Hiks, kamu kenapa bisa seperti ini Nay, jangan tinggalin aku Naya!" Siska terus mengguncang-guncangkan tubuh Naya lalu memeluk tubuh dingin sahabatnya itu.


Pak Irsyad dan Tomi segera melepas ikatan di tubuh Naya beserta lakban yang menempel di mulutnya. Lalu Pak Irsyad mengecek urat nadi di pergelangan tangan Naya, hasilnya nihil. NAYA SUDAH TIADA.


Pak Irsyad : "Innalillahi Wainnailaihi Roji'un. Naya sudah tiada."


Siska : "Hiks.....Naya !!!"


Sementara itu, Tomi dan Pak Irsyad hanya bisa diam termenung menatap iba pada jasad Naya.


*****


Setelah meminta pertolongan dari yang lainnya, jasad Naya pun dikuburkan dengan layak. Hari Senin ini tidak ada ***, hanya ada proses pemakaman Naya yang dimakamkan di kampungnya. Para guru, staff, karyawan sekolah beserta Siska dan Tomi pun, turut hadir di pemakaman.


Setelah guru-guru menyelesaikan proses pemakaman Naya, siswa-siswi pun diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing. Dan Selasa besok, *** tetap berjalan seperti biasanya.




__ADS_1


TBC.


__ADS_2