
#PART_5
Setelah kematian Sindy dan Caca, Shella dan Rere semakin dibuat khawatir. Karena mereka yakin, mereka berdua pasti akan jadi target Naya selanjutnya.
Sekolah mereka pun semakin dibuat heboh karena peristiwa meninggalnya 3 orang siswi dalam jangka waktu yang berdekatan.
(DUA MINGGU KEMUDIAN)
Setelah kematian 2 sahabatnya itu, Rere sering digentayangi makhluk halus dan mendapat berbagai macam teror ancaman pembunuhan. Pertama, di secarik kertas. Kedua, di cermin. Dan yang ketiga, di pesan singkat. Tak hanya itu, ia juga sering mengalami mimpi buruk saat tidur. Hal itu membuat hidupnya tidak tenang dan diliputi kegelisahan. Akhirnya ia depresi dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara mengiris urat nadinya sendiri sampai ia meninggal dunia.
Kalian pasti tau kan, siapa yang sudah membuat Rere menjadi seperti itu? YA, SIAPA LAGI PELAKUNYA KALAU BUKAN NAYA?!
*****
(SEHARI SETELAH KEMATIAN RERE)
Sepulang sekolah, Shella baru menyelesaikan piketnya seorang diri dikarenakan teman-temannya yang lain bermalas-malasan dan memilih kabur piket. Saat ia akan menaruh sapu dan serokan di pojok kelas, tiba-tiba lampu kelas berkedip-kedip, nyala dan padam dengan sendirinya. Ia langsung dibuat terkejut. Perasaannya mulai tidak enak, ia mulai merasakan hawa dingin dan merinding menyelimuti tubuhnya.
Dengan terburu-buru, ia bergegas menuju pintu kelas dan berniat langsung pulang. Namun, saat akan keluar, pintunya mendadak terkunci hingga ia terjebak di dalam kelas dan tidak bisa keluar.
Shella mulai panik, ia menggedor-gedor pintu dengan keras sambil berteriak kencang meminta tolong agar orang di sekitarnya bisa mendengarnya.
Shella : (menggedor-gedor pintu) *Tok tok tok tok tok* "Siapa pun yang di luar, toloongg saya!!"
Saat ia menengok ke belakang, rupanya di situ sudah ada Naya dengan seringaian tajam dan tatapan membunuh, seolah-olah Shella adalah mangsanya saat ini.
Shella : "Na-Naya?!"
Naya semakin mendekat ke arah Shella dengan posisi tangan yang siap mencekik.
Shella : (terus menggedor pintu) "Toloongg!!! Tolong sayaaa!!!"
Tomi dan Siska baru saja keluar dari kelasnya dikarenakan guru yang mengajar mereka di jam terakhir terus saja mengajar, padahal bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Hingga mengakibatkan mereka harus pulang terlambat.
Saat melewati salah satu kelas, mereka mendengar suara gedoran pintu disertai teriakan orang yang meminta pertolongan.
Siska: "Eh tom, kamu denger suara gedoran pintu ama teriakan gak?"
Tomi : (terdiam sejenak mendengarkan suasana sekitar) "Iya bener Sis, aku denger suaranya. Pasti berasal dari dalam kelas."
Mereka pun bergegas menghampiri sebuah kelas yang mereka yakini terdapat suara gaduh tadi. Dan benar saja, saat tiba di depan kelas tersebut, mereka kembali mendengar suara yang sebelumnya sudah mereka dengar.
"Toloongg!!! Tolong sayaaa!!!"
Siska : "Lho, itu kan suaranya Shella. Kira-kira di dalam kelas dia kenapa ya? apa dia baik-baik aja?"
__ADS_1
Tomi : "Aku juga enggak tau Sis, Biar aku buka dulu pintunya."
Tomi membuka pintu kelas, namun gagal karena pintunya terkunci.
Tomi : "Pintunya gak bisa dibuka!" sambungnya.
Siska : "Ya udah dobrak aja tom!"
Sementara di dalam sana, Shella sedang dicekik oleh Naya hingga nafasnya tercekat dan membuatnya susah bernafas.
Naya : "Rasakan ini! Kamu pasti mati!"
Shella : "Aaakkk le-pashhin! Sa-kitthh!" ucap Shella dengan nafas yang tercekat.
Naya semakin memperkuat cekikannya hingga Shella merasa hidupnya akan segera berakhir.
Naya : "Hahahaha, ucapkan selamat tinggal pada dunia!"
BRAAKK!!!
Pintu berhasil terbuka, bertepatan dengan Shella yang jatuh tergeletak di lantai dengan kondisinya yang sudah lemah tak berdaya dan mulutnya yang mengeluarkan busa.
Siska dan Tomi sangat terkejut melihat kondisi Shella, mereka segera menghampirinya.
Siska : (mengguncang-guncangkan tubuh Shella) "SHELLA! Bangun Shella! Kamu gak papa kan?"
Siska ikut berdiri. Ia menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Siska: "Apa yang udah kamu lakuin itu salah Nay, gak seharusnya kamu membunuh mereka satu per satu. Itu hanya akan memperpanjang masalah saja."
Naya : "Kata siapa salah? Aku cuma mau balas dendam aja karena mereka sudah membuat hidupku menderita dan sering membully aku. Aku meninggal gara-gara mereka, Siska!"
Tomi : "Balas dendam itu tidak baik Nay, itu hanya akan memuaskanmu sesaat. Nanti ujung-ujungnya kamu akan menyesal dengan perbuatanmu itu."
Siska : "Terimalah takdir yang sudah ditentukan Tuhan. Kematianmu adalah salah satu takdir-Nya yang tidak bisa diubah."
Naya : "Gampang banget kalian ngomong gitu, kalian mungkin gak ngerasain penderitaan yang aku alami selama ini. Aku lelah dengan hidup ini. Dunia serasa tidak adil kepadaku!"
Siska : "Bukan begitu maksud kami. Aku dan Tomi ikut merasakan kesedihan yang menimpamu selama ini. Tapi maksudku, tidak sepantasnya kamu membalas dendam. Itu perbuatan tidak baik."
Tomi : "Kami harap, kamu bisa mengerti maksud kami Nay,"
Siska : "Aku mohon Nay, pergilah dengan tenang, dan jangan mengganggu siswa-siswi sekolah ini lagi. Maafkanlah mereka yang sudah menyakitimu."
Naya merasa tersentuh hatinya, ia mulai menyadari bahwa perbuatan yang ia lakukan selama ini salah. Tidak sepantasnya ia membalas dendam. Seharusnya ia pergi dengan tenang dan tidak mengganggu siswa-siswi di sekolah.
__ADS_1
Naya : "Maafin aku. Aku sadar, selama ini aku salah. Baiklah, aku sudah memaafkan kesalahan mereka. Mulai saat ini, aku akan berhenti mengganggu siswa-siswi sekolah dan akan pergi ke alamku dengan tenang."
Tomi : "Baguslah kalau begitu."
Naya : "Siska, Tomi, makasih udah nyadarin aku. Makasih juga karena semasa aku hidup, kalian tulus menemaniku."
Siska & Tomi : "Sama-sama Naya."
Naya : "Selamat tinggal kalian, aku berjanji tidak akan melupakan kebaikan kalian." Naya tersenyum simpul sambil melambaikan tangannya.
Siska : "Selamat jalan Naya."
Tomi : "Goodbye."
Ucap mereka sambil membalas lambaian tangan Naya.
Dalam sekejap, Naya telah menghilang dan pulang kembali ke alamnya. Sementara itu, mereka segera menghubungi pihak sekolah dan menceritakan seluruh kejadian yang mereka alami barusan. Jasad Shella akhirnya dibawa ke rumah duka dan segera dimakamkan di pemakaman yang ada di kampungnya.
*****
-THE END-
*****
#EPILOG
Setelah peristiwa kematian 5 orang siswi kelas 9-3 SMP Nusa Bangsa (kecuali Rere yang tewasnya bukan di sekolah), kelas tersebut kini terkenal seram dan angker. Para guru beserta siswa-siswi yang lain sering kali melihat penampakkan hantu siswi di pojok belakang kelas. Dengan senyuman yang terkesan misterius, disertai tatapan tajam membunuh yang tampak seperti akan menerkam siapa saja yang bisa melihat wujud mereka.
*****
*KRING------KRING------KRING*
Bel pulang berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Di kelas 9-3, tinggal tersisa satu orang yang belum keluar kelas, dia adalah Pak Irsyad, guru mata pelajaran IPS yang kini sedang menilai PR IPS murid-muridnya. Sedikit lagi tugasnya selesai, jadi tanggung kan kalau tidak dibereskan sekarang.
(5 MENIT KEMUDIAN)
Tugasnya sudah selesai, Pak Irsyad langsung membereskan barang-barangnya ke tempat semula. Saat ia akan memasukkan pulpen ke saku seragamnya, tiba-tiba pulpennya jatuh menggelinding ke arah bangku belakang. Spontan ia mengikuti arah jatuhnya pulpen, lalu berbungkuk mengambil pulpennya. Setelah berhasil mendapatkan pulpen, ia langsung bangun ke posisi semula. Namun, matanya menangkap sepasang kaki bersepatu yang tepat berada di hadapannya. Sontak saja Pak Irsyad langsung mendongak melihat pemilik kaki tersebut. Ia langsung terkejut setelah mendapati 5 sosok hantu perempuan yang sedang tersenyum misterius ke arahnya disertai tatapan tajam mereka yang tampak seperti akan menerkam dirinya sekarang juga.
*SELESAI*
-
-
-
__ADS_1
Akhirnya selesai juga cerbungku ini. Makasih buat yang udah ikutin ceritanya dari prolog sampai epilog. Semoga kalian puas dengan ceritanya:)