
#PART_4
(Keesokan harinya)
Sepulang sekolah, Rere berniat ke toilet, dan diantar oleh Sindy.
Rere : "Eh Sin! Anterin gua ke toilet yo!"
Sindy : "Ayo!"
Mereka bergegas menuju toilet. Sesampainya di toilet, Rere langsung masuk ke dalamnya ditunggu oleh Sindy di depan pintu.
Sambil menunggu Rere, Sindy mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Ia pun menghentikan pandangannya saat netranya menangkap sesosok gadis yang mirip dengan Rere. Saat gadis itu menoleh ke arahnya, ia langsung terkejut.
'Lho, itu kan Rere. Bukannya dia masih di toilet ya? kok jadi ada situ sih? BTW mukanya kok pucet amat ya,' batin Sindy bertanya-tanya. Karena diliputi rasa penasaran yang tinggi, ia pun mengikuti Rere yang kini berjalan menjauhinya. Ia tidak tahu, padahal sebenarnya yang ia ikuti itu bukan Rere. Rere yang asli masih berada di toilet.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Rere berniat keluar dari toilet, namun pintunya tidak bisa dibuka.
'Perasaan tadi gua gak ngunci pintunya deh, kok jadi gak bisa dibuka gini sih!' batin Rere. Perasaannya mulai tidak tenang.
Rere: (sambil menggedor-gedor pintu) *Tok tok tok tok tok* "Sindy! Sindy! bukain pintunya! Jangan jail deh lu!" Rere mengira Sindy telah menjailinya di depan pintu, padahal kenyataannya di luar tidak ada siapa-siapa.
Rere : "Woyy anjir, Sindy! Jangan diem aja lu!"
'Duh, kok gua merinding ya.' batinnya.
Tiba-tiba Rere merasakan bulu kuduknya berdiri, ia pun langsung menoleh ke belakang lalu dibuat terkejut dengan kehadiran sosok Naya yang kini tengah menyeringai tajam ke arahnya, dengan wajah yang berdarah dan penuh luka sayatan.
Rere : "Na-Naya?!" ucapnya gemetaran sambil menahan takut.
Naya : "KAMU HARUS MATI !!!" ucap Naya dengan penuh penekanan.
Rere : "A-apa? mati?"
Naya : "Ya. Ucapkan selamat tinggal pada dunia!"
Rere : "Gak gak, gua gak mau mati sekarang! gua masih pengen idup!"
Naya : "Bukan urusan aku!" Naya langsung mendekat ke arah Rere dengan posisi tangan siap mencekik. Rere spontan berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rere : "Aaaaakk tolong!!!!"
(Beberapa detik kemudian.....)
Rere tak merasakan apa-apa di lehernya. Ia pun menurunkan kedua tangannya lalu membuka matanya. Di toilet ini tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri, padahal barusan ia baru saja melihat Naya. Dengan perasaan gelisah, Rere bergegas keluar dari toilet.
CKLEK
Pintu yang semula susah dibuka itu pun akhirnya berhasil terbuka. Rere segera berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan toilet tersebut.
*****
Sindy terus mengikuti Rere hingga membawanya ke sebuah taman. Ia langsung menghentikan langkahnya bersamaan dengan Rere yang kini berada di depannya dengan posisi membelakangi Sindy.
Sindy : "Stop Re! Ngapain lu bawa gua ke sini?" tanyanya keherenan.
Namun yang ditanya hanya diam tak bergeming. Tentu saja Sindy langsung kesal dibuatnya. Ia langsung membalikkan tubuh gadis tersebut yang ternyata itu bukan Rere seperti yang ia kira sebelumnya, dia adalah Naya.
Sindy : (spontan berteriak) "Aaaaakkk tolong! ada setan!"
Sindy sangat terkejut dengan kehadiran Naya yang kini tengah menyeringai tajam ke arahnya, dengan wajah yang berdarah dan penuh luka sayatan.
Naya : "BERSIAPLAH DENGAN KEMATIANMU!"
__ADS_1
Sindy : "Jangan Nay, gua gak mau mati sekarang!" ucapnya dengan nada ketakutan.
Naya : "Semuanya sudah terlambat. Kamu akan jadi orang pertama yang mati di tanganku. Ucapkan selamat tinggal pada dunia! Hahaha..."
Naya langsung mendekat ke arah Sindy dengan posisi tangan yang siap mencekik.
Sindy : "Jangan bunuh gua, to-tolong! Aa-aaww!!!"
Tangan Naya sudah berada di leher Sindy, tanpa aba-aba ia langsung mencekik leher Sindy dengan kuat hingga membuat Sindy kesulitan bernafas.
Sindy : "Le-passhhinn!! uhuk-uhuk" Sindy merasa kehabisan nafas, ia yakin ajalnya akan menjemputnya sekarang juga.
Naya : "MATI KAU!!!" ucap Naya dengan menambah kekuatan penuhnya mencekik leher Sindy. Hingga akhirnya Sindy menghembuskan nafas terakhirnya. Sindy langsung jatuh tergeletak tak berdaya, Naya tertawa puas.
"Hahahaha. Rasakan itu! Targetku tinggal 3 orang lagi."
Setelah itu, Naya langsung menghilang dalam sekejap. Tak lama Rere datang dengan tergesa-gesa. Ia langsung terkejut melihat kondisi Sindy yang tergeletak tak berdaya dengan wajah pucatnya dan mulut yang mengeluarkan busa.
Rere : "Sindy, bangun Sin. Lu jangan tinggalin gua! SINDY!!!" panik Rere sambil menepuk-nepuk pipi Sindy dan mengguncang-guncangkan tubuh Sindy. Namun ia terlambat, Sindy sudah tiada.
Rere : "SINDY!!! HIKS HIKS..." Rere pun menangis lalu memeluk tubuh sahabatnya itu.
•
•
•
(Keesokan harinya/Di Kelas)
Caca : "Gua turut berduka cita atas meninggalnya Sindy, gak nyangka banget dia bakal ninggalin kita secepat itu."
Shella : "Iya Ca, gua juga bener-bener kagak nyangka."
SIAPA LAGI KALAU BUKAN NAYA?!
Dengan wajah menahan takut, Caca memalingkan wajahnya ke arah lain guna menghindari tatapan tajam Naya.
*KRING------KRING*
Bel masuk pun berbunyi. Tak lama masuklah Pak Irsyad.
Pak Irsyad : "Anak-anak hari ini kita akan mengadakan remedial UH IPS. Posisi duduknya akan saya ubah. Rere di bangku depan, Shella di bangku tengah, dan Caca di bangku belakang." ucapnya sambil menunjuk bangku yang dimaksud.
'Apa? gua duduk di bangku Naya? mampus dah! gimana kalo dia ngamuk ke gua?' batin Caca.
Pak Irsyad : "Cepat, sekarang kalian pindah posisi duduk!"
Caca, Shella, dan Rere langsung berpindah posisi duduk sesuai yang sudah diperintahkan Pak Irsyad.
Dengan perasaan gelisah, Caca langsung duduk di bangku Naya, lalu ia menemukan secarik kertas dengan tulisan warna merah seperti darah bertuliskan,
BERSIAPLAH! SEBENTAR LAGI KAMU AKAN MATI!
Caca sangat terkejut dengan isi tulisan itu. Ia langsung meremas kuat kertas tersebut hingga tak berbentuk, lalu membuangnya sembarangan.
Pak Irsyad segera membagikan soal remedial UH IPS. Setelah selesai membagikan, ia duduk kembali di kursi guru. Murid-murid langsung mengerjakan remedial dengan hening, tanpa ada suara dan tanpa niat menyontek. Tidak biasanya mereka seperti ini.
Baru 5 menit mengerjakan, tiba-tiba Caca merasakan hawa dingin dan merinding di sekujur tubuhnya. Perasaannya pun mulai tidak enak.
Sementara itu, Pak Irsyad mendapatkan panggilan telepon. Ia bergegas keluar kelas untuk mengangkat panggilan tersebut.
Caca merasakan nafasnya tercekat hingga membuatnya kesulitan bernafas. Ia pun tidak bisa fokus mengerjakan remedial. Ia segera mengarahkan kepalanya ke belakang dan langsung dibuat terkejut melihat Naya yang kini sedang menyeringai tajam ke arahnya sambil mencekik lehernya.
__ADS_1
Caca : "Aaakkk sakit! le-pashhinn! tolong! tolong!"
Caca berteriak dengan susah payah sambil memukul-mukul meja guna mengalihkan perhatian Shella dan Rere agar segera menolongnya dari arwah Naya yang berniat membunuhnya.
Sontak saja, Shella dan Rere langsung panik dan bergegas menghampiri Caca ke bangku belakang.
Rere : "Ada apa Ca?"
Shella : "Caca, lu kenapa teriak-teriak? apa terjadi sesuatu?"
Caca : "To-longhh. Naya nyekik leher guahh!" ucapnya dengan nafas yang tercekat.
Rere : "Hah? Naya nyekik leher lu? di mana dia sekarang?"
Caca : "Di belakang gua, cepetan tolongin gua!"
Shella : "Gua gak bisa liat dia!"
Rere : "Sama, gua juga."
Shella : "Mending kita tarik tangannya Caca, siapa tau nanti setannya kalah tenaga ngadepin kita."
Rere : "Bener juga tuh! Ayo kita tarik!"
Shella & Rere : "1... 2... 3... Hiyaaatt!!!"
Shella : "Ayo tarik lagi Re!"
Rere : "Ini juga udah gua tarik kali !!!"
Namun bukannya berhasil, yang ada mereka berdua malah terpental jatuh ke lantai karena kalah tenaga dengan kekuatan Naya.
Shella & Rere : "Aduh! Sakit!"
Caca : "Sa-kithh lep-phhassin! uhuk-uhuk!"
Naya : "Ucapkan selamat tinggal pada dunia! Hahahaha...."
Naya semakin memperkuat cekikannya di leher Caca hingga Caca merasa ia telah berada di akhir hayatnya. Dalam hitungan detik, Caca pun menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan Naya yang langsung menghilang dalam sekejap dari ruang kelas tersebut.
Shella & Rere segera menghampiri Caca yang kini kondisinya sudah lemah tak berdaya dengan busa yang keluar dari mulutnya.
Shella : "Cacaaaa!!! Lu jangan tinggalin kita Ca!"
Rere : "Caca! bangun Ca!"
Mereka terus mengguncang-guncangkan tubuh Caca guna untuk membangunkannya, siapa tau Caca masih hidup kan? - pikir mereka. Namun semuanya sudah terlambat, Caca telah meninggal dunia.
Mendengar kegaduhan, Pak Irsyad bergegas masuk kembali ke dalam kelas. Sesampainya di dalam, ia langsung dibuat shock melihat kondisi Caca yang lemah tak berdaya sambil diguncang-guncangkan tubuhnya oleh Shella & Rere. Ia segera menghampiri mereka.
Pak Irsyad : "Lho, Shella, Rere, ada apa ini? Caca kenapa?"
Shella : "Caca meninggal pak,"
Refleks, Pak Irsyad langsung mengecek urat nadi di pergelangan tangan Caca. Dan benar yang dikatakan Shella, CACA TELAH TIADA.
Pak Iryad : "Innalillahi wainnailaihi roji'un."
•
•
•
__ADS_1
TBC.