
JPO Jakarta, 2031
Hari ini aku sedang berada di atas jembatan sambil menatap bulan yang bersinar terang. Kenapa aku ada di atas jembatan ? Karena aku berniat untuk mengakhiri hidupku hari ini. Aku berniat bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan.
Alasanku bunuh diri karena aku merasa frustasi. Hari ini aku di pecat dari pekerjaanku. Aku sudah hancur dan sekarang aku menganggur.
Aku melihat ke bawah jembatan. "Apakah aku melompat saja ?" Tiba-tiba dari arah samping aku mendengar suara seseorang.
"Hei !! Turunlah ! Kau ini benar-benar ya !!"
"Jangan sentuh aku ! Aku akan melompat !!"
Aku melihat dua orang polisi yang sedang mencoba menenangkan seorang pria yang ingin mencoba bunuh diri. Pria itu menangis sambil berdiri di atas tiang jembatan.
"Ah aku tidak peduli... Lompat saja"
"Bukan hanya 1 atau 2 hari, tapi setiap hari. Apa yang salah denganmu ?"
Kedua polisi itu berteriak kepada pria yang ada di atas tiang jembatan.
"Aku benar... Benar-benar... Aku benar-benar h... hancur !!!" Pria itu menangis dengan air mata yang mengalir deras seperti air terjun. "Tolong selamatkan aku..."
Pria itu lalu turun dari atas tiang jembatan. Setelah turun, kedua polisi lalu menghampirinya dan mencoba menenangkannya.
Saat melihat itu aku pun berpikir, 'Jadi jembatan JPO ini adalah tempat dimana banyak orang yang bunuh diri setiap harinya. Dunia tidak akan berubah jika aku melompat. Aku harus pulang kampung besok'.
Aku lalu segera turun dari jembatan dan berjalan pulang untuk sampai ke kosan. Meskipun aku merasa terpuruk, tapi bunuh diri juga tidak akan merubah apapun dalam hidupku.
__ADS_1
Saat ini aku tengah menunggu lampu hijau untukku menyebrang jalan. Aku melihat ke arah samping dan terlihat anak sekolahan yang sedang memainkan handphone sambil memasang handset di telinganya.
'Pasti menyenangkan. Aku iri padamu', batinku.
Setelah lampu hijau mulai menyala, anak itu langsung menyebrangi jalan.
"Huh ? Kapan dia menyadarinya ? Hais... anak jaman sekarang memang hebat". Aku mulai ikut menyebrang, tapi saat mendengar suara mobil aku langsung berhenti.
Aku melihat kalau mobil itu berjalan terlalu cepat. Dan jika mobil itu tidak berhenti maka anak itu akan dalam bahaya.
"Nakkk !! Bahaya !!"
Aku berlari dan mendorong anak itu agar tidak tertabrak mobil. Meskipun aku lah yang menggantikan anak itu tertabrak mobil.
BRAKK
Aku terpental sejauh 5 meter ke depan, setelah mobil itu menabrak aku. Saat itu dunia langsung menjadi hitam dan gelap.
Sekolah Dasar Sendang, 2015
"Gas ! Bagas ! Bangun Gas !"
Aku mendengar seperti ada suara yang memanggilku. Anehnya suara itu terdengar akrab di telingaku.
Perlahan aku mulai membuka mataku, dan hal pertama yang aku lihat adalah sahabat yang telah lama aku rindukan.
'Faza ? Kenapa aku melihat Faza ? Bukankah aku sudah mati di tabrak mobil ? Ini terlalu nyata untuk di jadikan mimpi'
__ADS_1
"Hei Gas apakah kamu tidak apa-apa ?" ucap Faza yang mengkhawatirkan keadaan Bagas.
'Ternyata ini bukan mimpi'. Tanpa pikir panjang aku langsung memegang pundak temanku dan menggoyang-goyangkannya. "Ternyata kamu tidak mati ! Ternyata kamu tidak mati !"
"Hei Gas, kamu kenapa ?" Faza tidak mengerti kenapa Bagas tiba-tiba memeluknya.
Aku segera melepaskan tanganku itu. Lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja karena kau baik-baik saja".
"Kamu aneh Gas".
Faza belum mengerti kenapa Bagas bersikap aneh seperti itu. Tapi yang jelas dia juga ikut senang melihat Bagas yang tidak kenapa-napa.
Faza merupakan teman baik Bagas. Ketika semasa sekolah dasar. Dia selalu melindungi Bagas dari bulian anak-anak lain. Bagi Bagas, Faza adalah teman terbaik sepanjang masa.
Tapi anehnya ketika masa sekolah menengah. Bagas sudah tidak menerima kabar dari Faza lagi. Sekolah Bagas dan Faza berbeda karena Bagas adalah orang yang bodoh jadi dia tidak bisa satu sekolah dengan Faza.
Aku memegang pundak Faza dan berkata, "Faza, kali ini aku berjanji aku yang akan berganti untuk melindungimu !"
Faza terkejut ketika mendengar itu dari Bagas. Dia melihat sorot mata Bagas yang penuh dengan keyakinan, tidak seperti sorot mata biasanya yang gelap dan tidak percaya diri.
"Hahaha.... kamu habis makan apa sampai bisa ngomong kayak gitu ?" Faza merangkul Bagas dengan tangannya sambil memoles kepala Bagas dengan santai.
"Hei aku tidak bercanda. Kali ini aku yang akan melindungimu !" Aku mencoba meyakinkannya, kalau perkataanku ini bukanlah candaan belaka.
"Iya iya, aku percaya kamu !" ucap Faza dengan nada riang.
'Meskipun kamu hanya menganggapnya sebagai candaan, tapi aku berjanji kali ini akan berbeda dengan kehidupanku dulu', batinku.
__ADS_1