Hanya Anak Sekolahan Biasa

Hanya Anak Sekolahan Biasa
Kontrak


__ADS_3

Sekarang aku sedang berada di warnet. Aku mengecek kalau email milikku banyak sekali notifikasi pesan yang masuk.


roplay : Salam ! Kami dari Roplay.


bentangpustaka : Kami dari Bentang Pustaka. Kami adalah penerbit besar.


N media : Halo Tuan NEDO.


flashmedia : Salam ! Kami dari Flash Media.


e-book : Email terkait dengan penerbitan buku.


Seperti yang diperkirakan, pesan datang dari lima perusahaan penerbit teratas di Indonesia. Langkah pertama sukses.


Untuk saat ini aku akan mengabaikan mereka semua. Satu-satunya alasan mengapa novel populer hingga 2021 adalah karena novel itu sendiri menyenangkan sehingga akan membuat pembaca menunda-nunda untuk membacanya sekaligus.


Mengetahui fakta bahwa penulis lain yang bangkrut. Aku berhasil berkenalan dengan perusahaan penerbit besar.


Ada banyak ulasan di internet tentang penulis yang dibujuk oleh staf penerbit untuk mengisi kontrak dan pada akhirnya mereka menyesali keputusan yang mereka buat.


Aku harus ekstra berhati-hati, dan juga... kantor penerbit Flash Media. Novel awalnya diterbitkan oleh Flash Media.


Besok paginya.


"Bu, apakah Ibu hari ini libur ?"


Aku melihat Ibu hari ini tidak bekerja dan istirahat di rumah. Oleh karena itu ini adalah kesempatanku untuk mengajak ibuku jalan-jalan.


"Hari ini Ibu libur. Memang kenapa ?"


Aku lalu tersenyum kepada ibu sambil berkata, "Aku akan mengajakmu makan enak, Bu", ucapku sambil menunjukkan jempol.


"Eh ? Kamu tidak punya uang untuk itu... Kalau gitu apa aku akan jalan-jalan dengan anakku karena sudah lama ?"


Karena Ibu sudah setuju. Saat ini kami sedang dalam perjalanan untuk bertemu pemilik penerbit Flash Media. Jadi kita bisa bicara tentang kontrak !


Tapi sialnya, peraturan dibawah umur membatasi aku. Karena anak dibawah umur belum boleh melakukan kontrak hukum sendirian. Persetujuan dari orang tua diperlukan untuk melakukan tindakan hukum. Tindakan hukum dimana ada uang muka dan pinalti. Untuk melakukannya aku membawa ibu sebagai perwakilanku.


Bus berhenti tepat dekat dengan tempat pertemuan yang kami janjikan. Aku turun bersama Ibu di alun-alun pusat kota.


"Bu, kita sudah sampai. Hati-hati".


Aku memegangi tangan Ibu takut kalau dia jatuh saat turun dari bus.


"Nak, selera humormu meningkat akhir-akhir ini".


Kami berjalan ketempat tujuan sambil menyusuri kota yang ramai dengan banyak orang berlalu lalang.


"Ayo kita minum lemon tea dulu Bu..."


"Lemon tea ? Apa kamu tahu rasanya lemon tea itu bagaimana ?"


"Tentu saja aku tahu. Di cuaca seperti ini paling bagus minum yang segar-segar".


Saat ini kami sudah sampai didepan tempat janjian. Tempat untuk bertemu berada di sebuah toko atau sejenis kafe kecil. Ini adalah tempat yang nyaman untuk membahas masalah tentang kontrak.


Saat pintu kafe dibuka pemimpin redaksi dan Sang CEO segera mengalihkan perhatiannya ke pintu kafe.


"Dia disini... oh hanya seorang siswa". Sang CEO sedikit kecewa kalau orang itu bukan si penulis.


"Sepertinya penulisnya akan sedikit terlambat", ucap pemimpin redaksi.


Aku yang melihat kedua orang itu sudah menunggu dari tadi. Aku memberi nilai tambah untuk mereka karena tepat waktu.


Sedangkan ibu keheranan karena melihatku memandangi kedua orang yang memakai pakaian resmi.


Aku langsung menghampiri mereka dan menyapanya. "Permisi, apakah anda dari Flash Media ?"


Sang CEO dan pemimpin redaksi langsung terkejut ketika mendengar siswa itu menyebutkan perusahaan mereka.


"Tidak... mungkin... Tuan... NEDO... ?" ucap Sang CEO dengan mulut terbuka lebar.


"Ya, aku penulis NEDO" ucapku dengan nada yang berwibawa.


'Apa ? Seorang penulis ??' batin Ibu yang terkejut ketika mendengar anaknya adalah seorang penulis.


Sang CEO dan pemimpin redaksi terkejut ketika mengetahui fakta bahwa orang yang menulis novel bukanlah seorang penulis terkenal melainkan hanya seorang siswa biasa.


Tapi ada sesuatu yang mereka berdua sadari. Suasana yang dikeluarkan oleh siswa itu terasa aneh. Terlihat di ucapan dan perilaku yang arogan dari siswa didepan mereka. Mereka juga menyadari kalau siswa itu memperhatikan mereka dari awal dan datang menghampiri.


Siswa itu pandai membaca suasana. Dan setelah pemikiran itu, akhirnya mereka menyadari kalau siswa dihadapan mereka bukalah seorang anak biasa.


"Apa ada masalah ?" ucapku ketika melihat mereka terdiam sambil memandangiku.


Karena teguran dari siswa, membuat mereka langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah tidak, silahkan duduk. Anda terlihat muda dari yang kami bayangkan"


"Boleh kami tahu berapa umur anda ?"

__ADS_1


Tanpa basa basi aku langsung memberitahu mereka, "Aku kelas 6 SD".


Mendengar itu mereka tidak bisa tidak terkejut. Seorang siswa kelas 6 SD berbicara dengan nada yang berwibawa. Ciri khas orang seperti itu akan sulit untuk menandatangani kontrak.


Sedangkan Ibu yang sedari tadi tidak tahu dengan situasi apa yang ada di depannya. Ibu lalu bertanya kepadaku, "Nak... siapa orang-orang ini ? Dan apa itu NEDO ?"


Saat Ibu bertanya seperti itu. Aku melihat ekspresi wajah kedua orang ini yang tercengang. Melihat itu aku menjadi ingin tertawa wkwkwk. Tapi aku harus menjaga sikap profesional ku karena aku tidak ingin mereka memandangku hanya sekedar anak SD biasa.


"Sepertinya anda tidak dapat menandatangani kontrak dengan anak SD ?"


Mendengar itu Sang CEO dan pemimpin redaksi langsung mencoba menjelaskan kalau hal itu salah.


"Ah... tidak, tidak. Bukan begitu...!!" ucap pemimpin redaksi yang gelagapan.


Sang CEO segera berbicara dan berkata, "Izinkan kami memperkenalkan diri secara resmi. Aku CEO dari Flash Media. Lino Richard".


Pemimpin redaksi juga tidak lupa ikut memperkenalkan dirinya " Saya pemimpin redaksi. Toni Barta".


Dengan senyuman percaya diri, aku lalu memperkenalkan diriku kepada mereka, "Senang bertemu dengan kalian. Aku Bagas Herman".


Setelah itu aku mulai menoleh ke arah Ibuku untuk memberitahunya kalau Ibu juga harus menyapa. "Kau juga harus menyapa mereka Bu. Mereka adalah CEO kantor penerbit dan pemimpin redaksi".


"Apa ?? Penerbit !?" Ibuku langsung terkejut ketika mengetahui fakta itu.


Aku segera menjelaskan situasi apa yang sedang aku hadapi untuk menenangkan Ibu agar tidak panik. "Ya, sekarang anakmu ini akan menandatangani kontrak dengan penerbit".


"Senang bertemu denganmu Ibu penulis Herman. Saya CEO Lino Richard dari perusahaan penerbit Flash Media". Dia segera menyerahkan kartu namanya ke Ibu sebagai tanda perkenalan.


Ibu lalu segera mengambil kartu nama itu dengan perlahan. Ibu masih tidak mengerti dengan situasi yang tiba-tiba ini.


"Tunggu apa yang terjadi disini ? Mengapa anda mengatakan secara tiba-tiba bahwa anakku adalah seorang penulis ?" ucap Ibu dengan nada tergesa-gesa.


"Kenapa Bu ? Apakah anakmu ini tidak boleh jadi seorang penulis ?" tanyaku kepada Ibu.


"Bukan itu yang Ibu maksud. Aku tahu kemapuan menulismu. Ini sangat aneh saat melihat anakku tiba-tiba menjadi seorang penulis ! Dan juga, seorang siswa seharusnya belajar. Dan tiba-tiba menjadi penulis ! Apa itu masuk akal ?"


Mendengar itu, Sang CEO dan pemimpin redaksi sependapat apa yang diucapkan oleh sang Ibu. Memang tidak masuk akal hal itu terjadi.


"Selama libur sekolah ini, aku memposting Nobel di internet. Aku datang untuk menandatangani kontrak dan melihat apa ibu menyukainya ?"


"Apa ? Kau ? Benarkah ??"


Ibuku masih tidak percaya apa yang aku katakan. Dia masih pusing tentang kejadian yang Ibu lihat saat ini.


Melihat keadaan itu, Sang CEO segera menjelaskan kepada Ibu siswa tersebut.


Pemimpin redaksi juga menyuarakan pendapatnya, "Sebagai editor ini adalah karya terbaik yang pernah aku lihat". Pemimpin redaksi itu juga segera meminum lemon tea yang sudah dia pesan tadi.


Melihat hal itu aku menatap mereka dengan tatapan bosan.


"Solo Level ? Itu judul yang bagus" ucap Ibu. Dia lalu menatap aku dengan tatapan kasihan. Ibu masih tidak percaya kalau aku sekarang sudah bisa mencari uang meskipun masih kelas 6 SD.


"Bisakah kita memesan lemon tea juga pak ?" ucapku.


Mendengar itu Ibu langsung terkejut. "Eh ? Apa yang kamu katakan kepada orang dewasa ?!"


"Uhuk.. !" Kedua orang itu langsung tersedak ketika mendengar aku mengatakan hal itu dengan entengnya.


"Ah ! Dimana sopan santunku, tentu saja ! Kalian mau memesan apa ? Biar aku pesankan" ucap pemimpin redaksi.


Melihat ada kesempatan yang datang aku tidak segan segan untuk memesan. "Aku ingin dua lemon tea dan juga dua cokolate cake" ucapku dengan tersenyum.


Pemimpin redaksi lalu segera memesankan apa yang aku minta. Dan sekarang di hapanku hanya ada Sang CEO dari perusahaan penerbit Flash Media.


"Apa anda sudah membawa kontraknya ?" ucapku sambil melihat dia dengan tatapan yang tajam.


"Haha ! Penulis Herman sangat bersemangat !!" Sang CEO lalu segera mengeluarkan kertas kontrak dari tasnya. "Ini kontraknya Anda bisa membacanya pelan-pelan".


Aku lalu mengambil kertas kontrak itu dan langsung membaca apa saja yang tercantum di kontraknya.


Pasal 16 (karya sekunder dan lisensi untuk digunakan kembali)


1) Hak cipta sekunder jadi milik penerbit selama 5 tahun.


2) Selama jangka waktu kontrak. Izin untuk digunakan, untuk hal-hal yang berkaitan dengan biayanya pemungutan pengguna, dll.


Kontrak ini sungguh gila. Meskipun begitu aku mempersiapkan ujian pengacara sebelum aku mati. Aku melihat cake yang aku inginkan datang dibawakan oleh pemimpin redaksi. Aku laiu memotong dan memakan cake itu dengan lahap.


"Bagaimana tuan Herman dengan kontraknya apakah ada yang membuat anda tidak puas ?" tanya Sang CEO.


Aku lalu segera menghentikan makanku dan menjawab, "Hak cipta pertama harus menjadi milik penulis. Tolong ubah dan kirimkan kepadaku".


Mendengar itu Sang CEO langsung gugup. "Ee... sepertinya penulis Herman tidak tahu. Tapi hak cipta pertama bukanlah hal yang penting. Secara formal penulis lain menandatangani kontrak semacam itu..."


Melihat sikap CEO aku dengan tegas langsung berbicara, " Aku tidak suka pasal ini. Aku ingin penerbit hanya mempunyai hak untuk menerbitkan ! Perhatikan juga bahwa hak publikasi diluar negri harus dinegosiasikan dengan penulis. Juga sebagai metode pembayaran dimuka, aku ingin uang mukanya 236 Juta Rupiah !"


DONG ! Mereka berdua langsung tercengang ketika mendengar jumlah uang muka yang disebutkan oleh si penulis. Tak terkecuali Ibu yang juga terkejut saat melihat aku mengatakan jumlah uang yang banyak itu dengan entengnya.


Aku lalu mulai berbicara kembali dan menjelaskan secara rinci kepada mereka. "Biaya jamuan dan royalti 10% untuk 6000 eksemplar. Jika kalian ingin menjualnya kembali, kalian harus membayar royalti bulanan ke rekening bank secara akurat dan pada saat yang sama dengan pemberitahuan".

__ADS_1


Keringat langsung membasahi jidat Sang CEO. Saat ini dia seperti sedang berhadapan dengan seorang yang penuh dengan aura bermartabat.


."Hahaha penulis Herman. Hari ini anda benar-benar bersemangat ya" ucap Sang CEO.


Pemimpin redaksi langsung menjelaskan kepada si penulis kalau hal itu tidak mungkin. "Maaf, tapi tidak ada penerbit yang membayar uang muka seperti itu kepada pendatang baru. Meskipun jumlah views novelmu saat ini banyak, tidak ada jaminan kalau kualitasnya akan tetap sama..."


Aku melihat kalau sepertinya mereka berdua membawa laptop yang mereka taruh di tas. Itu kesempatan bagus untuk menunjukkan bahwa harga yang aku ucapkan memang layak.


"Oh ! Kalian membawa... laptop ?" ucapku sambil tersenyum memandang laptop yang ada di tas mereka.


"Maaf ? Kenapa tiba-tiba laptop ?" tanya pemimpin redaksi yang keheranan.


"Aku memberi kesempatan ! Jjka anda memang benar-benar tidak menyukainya, anda dapat menolaknya !" Aku langsung mengeluarkan flashdisk yang aku simpan dikantong bajuku.


"Apa ini ?" tanya pemimpin redaksi.


"Sepertinya flashdisk..." ucap Sang CEO yang melihat flashdisk yang disodorkan oleh si penulis.


"Ini adalah manuskrip !" ucapku.


Manuskrip adalah kumpulan naskah dalam jumlah banyak.


"Aku memiliki hingga lima manuskrip disini !" Aku lalu menyodorkan flashdisknya ke hadapan mereka.


"APA !!" Seperti tersambar petir kedua orang itu langsung terkejut dengan apa yang telah mereka dengar.


Sang CEO dan pemimpin redaksi lalu langsung mengecek manuskrip itu di laptop yang mereka bawa. Dan hal mengejutkan terjadi setelah mereka membaca naskahnya.


Mulut mereka berdua melongo tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan saat ini. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan.


"Penulis Herman... Tanda... tanda tangani kontrak dengan kami ! Aku akan langsung memberimu uang muka sebesar 236 Juta Rupiah !" ucap Sang CEO dengan mata yang terbuka lebar.


"Hoho... pilihan yang bagus Bos !" ucapku sambil tersenyum.


Sang CEO lalu mengeluarkan sebuah bolpoin agar si penulis bisa menandatangani kontraknya. Sebelumnya isi kontrak sudah dirubah sesuai kemauan sang penulis.


"Kalau begitu penulis Herman, anda bisa tantangan disini".


Sang CEO lalu menyerahkan bulpoin itu kepadaku. Dengan senang hati aku lalu menandatangani kertas kontraknya.


Sedangkan ibuku yang melihatku sedang melakukan tanda tangan kontrak, dia merasa khawatir. Apakah ini akan baik-baik saja ?


"Karena Ibumu juga merupakan perwakilan hukum, tolong tanda tangan disini !" ucap Sang CEO.


"Ah iya !" Ibu lalu juga ikut menandatangani kontrak sebagai perwakilan dariku yang belum cukup umur.


"Aku baru saja menransfer 236 Juta Rupiah ke akunmu sebagai uang muka" ucap Sang CEO.


Karena aku belum bisa membuat rekening, jadi aku mencantumkan rekening Ibuku. Rekening Ibuku yang miskin dan paling banyak hanya menyimpan 22 Juta Rupiah. Aku akan selalu memastikan keluarga kami makan dengan baik.


"Terimakasih banyak telah bergabung dengan kami penulis Herman !"


"Terima kasih".


Sang CEO dan aku saling bersalaman sebagai tanda kerjasama kami. Ini merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh setiap orang.


"Bu, ayo kita pergi" ucapku sambil menoleh ke arah Ibuku yang duduk di sampingku.


"Apa ? Ah oh baiklah..." jawab Ibu.


"Tunggu su... sudah mau pergi ? Setidaknya makanlah dulu bersama kamiSang CEO dan pemimpin redaksi kaget mendengar penulis akan pergi.


"Mungkin lain kali. Kami akan pergi dulu" ucapku.


Ibu tidak terbiasa makan dengan orang yang tidak dikenalnya, dan sekarang tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi hoho~.


Di perjalan setelah aku menyelesaikan urusan tentang kontrak. Aku dan Ibu saat ini sedang jalan-jalan menyusuri kota.


"Kita mau kemana sekarang, nak ?" tanya Ibu.


"Kita masih harus mampir ke bank" jawabku dengan gembira.


"Kenapa ? Apa kamu mau buat rekening disana ? Bukankah umurmu belum cukup nak ?" Ibu mengira aku kesana ingin membuat rekening mengingat sekarang aku adalah seorang penulis.


"Haha... memang apa aku pernah bilang ingin membuat rekening ? Aku ke bank bukan untuk membuat rekening Bu. Melainkan ada hak penting yang membutuhkan pertolongan dari ibu" jawabku.


Uang adalah langkah awal bagiku. Ini baru permulaan saja sebelum aku membuat hal yang lebih mengejutkan. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku akan membawa keluarga ini menuju tempat yang terang.


"Nak, hari ini Ibu sangat terkejut mengetahui fakta bahwa kamu seorang penulis dan tentang uang 236 Juta Rupiah. Bukankah kita seharusnya memberitahu hal ini kepada Ayah ?" tanya Ibuku dengan keringat di dahinya.


Mengetahui fakta bahwa aku masih di bawah umur dan membutuhkan izin orang tua. Dengan uang yang banyak ini aku bisa saja langsung membeli sebuah rumah yang layak untuk keluarga kami. Tapi aku masih belum bisa menghabiskan uangnya untuk hal itu.


"Bu, beri aku waktu satu bulan, dan aku akan memberitahu Ayah semuanya" ucapku meminta izin kepada Ibu.


Ibu yang melihat aku sangat percaya diri dia langsung setuju dengan keputusanku.


"Baiklah, kalau itu keinginanmu nak ! Ibu akan memberimu waktu satu bulan untuk menjelaskannya kepada Ayah" ucap Ibu sambil tersenyum hangat.


Ibu percaya bahwa aku akan menepati janjiku. Mungkin karena dia adalah Ibuku, jadi dia tahu tentang keinginanku.

__ADS_1


__ADS_2