Hanya Anak Sekolahan Biasa

Hanya Anak Sekolahan Biasa
Kondisi


__ADS_3

"Anak-anak, sekarang Pak Guru akan membagikan hasil ulangan kalian. Bagi nama yang dipanggil harap maju ke depan untuk mengambil kertas ulangan !"


Pak Guru mulai memanggil nama setiap siswa dimulai dari absen terkecil sampai ke terbesar. Sedangkan absenku adalah 12. Dan sekarang tiba giliranku yang dipanggil.


"Gas, semua pasti baik-baik saja. Percayalah", ucap Faza yang menyemangati aku.


Aku lalu tersenyum membalas ucapan dari temanku ini.


"Umh".


Aku mulai berjalan maju untuk mengambil kertas ulangan ku. Saat aku melihat hasilnya, "Yah, aku sudah menduga hal ini".


Aku lalu berjalan untuk kembali ke bangku tempatku duduk.


Sekarang semua murid sudah mendapatkan hasil ulangan mereka. Mereka semua rata-rata menunjukkan ekspresi senang di wajah mereka. Meskipun ada juga yang menunjukkan ekspresi sedih, tapi itu hanya beberapa.


"Anak-anak, karena semester 1 sudah selesai maka kalian akan diberi libur 2 minggu. Ingat meskipun di hari libur kalian tetap harus belajar !"


Pak Guru menasihati murid-muridnya agar tidak malas dalam belajar meskipun sedang libur semester.


"Baik Pak !" jawab semua murid dengan serempak.


"Sekarang kalian boleh pulang" Pak Guru lalu segera meninggalkan kelas.


Saat Pak Guru sudah tidak di kelas. Terlihat ada dua anak laki-laki yang mendekat ke arahku. Mereka berdua adalah Dedy dan Edo.


"Lihat wajah si bodoh ini. Sudah ketebak kalau dia mendapat nilai jelek lagi haha...".


"Hey Edo jangan mengejeknya. Kan kasihan dia, karena nilai paling tingginya mungkin cuma 60"


"Hahaha..."


Faza menjadi kesal ketika melihat temannya diejek hanya karena sebuah nilai.


"Bisakah kalian berhenti. Apakah kalian tidak cukup mengganggu Bagas tadi pagi ? Bagas juga pasti sudah berusaha keras untuk mendapatkan nilai itu !" ucap Faza sambil berdiri didepan Bagas.


Aku menjadi senang ketika melihat sikap temanku yang sama persis seperti kehidupan sebelumnya. 'Ternyata Faza masih sama seperti Faza yang aku kenal dulu'.


Aku mulai memberitahu Faza untuk menjauh dari kedua anak itu. "Sudahlah Faza, lebih baik kita tidak usah meladeni mereka. Kau hanya akan membuat mulutmu lelah saja, jika terus meladeni kedua anj*ng itu".


Faza tercengang ketika mendengar ucapan Bagas. "Gas apakah kau akan membiarkan mereka begitu saja ? Mereka pasti akan tambah ngelonjak lagi nanti".


"Kau tak perlu khawatir, karena cepat atau lambat aku pasti akan membungkam mulut mereka sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa 2 minggu lagi", ucapku sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Saat pulang atau pergi sekolah. Aku selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, kira-kira butuh waktu 20 menit dengan memakai sepeda.


Sebelum pulang ke rumah, biasanya aku mampir dulu ke suatu tempat yang tidak sengaja aku temukan. Tempat itu sedikit terjal jika harus dilalui dengan sepeda. Sehingga aku harus berjalan kaki sambil menuntun sepedaku untuk sampai kesana.


"Hah.... sudah cukup lama ya aku tidak kesini". Aku menghirup udara segar ketika sampai disana. Pemandangan ditempat itu masih sama seperti di kehidupanku dulu.


"Pohon yang besar nan rindang. Haha... bikin nostalgia saja. Kalau dipikir-pikir aku selalu tidur siang disini waktu dulu". Aku menyentuh batang pohon itu sambil mengingat masa-masa dulu.


Aku mulai duduk dibawah pohon sambil melihat pemandangan disana. "Baiklah sekarang apa yang harus aku lakukan ? Kalau melihat kondisiku yang sekarang. Aku kembali pada saat aku masih kelas 6. Berarti usiaku sekarang adalah 11 tahun".


Aku berpikir. Apa yang bisa aku lakukan dengan usiaku yang sekarang ? Meskipun aku terus berpikir, nyatanya aku malah tertidur di bawah pohon itu.


Desa Langit, Rumah Bagas


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu".


"Ya, hati-hati di jalan".


Orang itu lalu segera pergi dari rumah. Saat ibu mau masuk rumah aku segera memanggilnya. "Ibu aku pulang".


Ibu yang mendengar suaraku, dia langsung menoleh ke belakang. "Ternyata kamu sudah pulang nak".


Aku segera menaruh sepedaku di tempatnya dan aku lalu menghampiri ibuku. "ibu, tadi itu siapa ?"


Saat aku sampai rumah, aku melihat seseorang yang keluar dari rumah. Orang itu juga tidak tampak asing bagiku.


Ibu mengeluarkan uang Rp 50000 dari kantongnya. Uang itu adalah pemberian dari paman yang tadi berkunjung ke rumah.


Saat melihat itu, entah kenapa aku menjadi teringat akan kehidupanku dulu yang menyedihkan. Saat kehidupan dulu aku juga sering dikasih uang oleh paman, dan uang itu aku gunakan untuk main PS


"Eh... kenapa ? Apakah kamu tidak senang mendapat uang dari pamanmu ?" tanya ibu yang melihat anaknya biasa saja ketika melihat uang dari pamannya.


Aku yang mendengar pertanyaan itu pun langsung memasang ekspresi wajah senang.


"Tidak. Aku senang kok. Mana mungkin anakmu ini tidak senang Bu".


"Baguslah kalau kamu senang. Sekarang kamu ganti baju dulu. Ibu akan menyiapkan makanan untukmu".


Aku lalu segera ke kamar untuk berganti baju. Saat aku membuka kamar aku melihat kamarku yang seperti dulu. Buku-buku membosankan seorang pria. Ini adalah tempat menghabiskan masa sulit dan kesepianku saat menjadi remaja.


"Benar-benar memalukan".


Aku lalu segera mengganti bajuku, saat berganti aku tidak lupa untuk bercermin. Untuk melihat kondisi tubuhku yang berumur 11 tahun.

__ADS_1


"Wow, ternyata aku benar-benar kembali ! Wajah yang muda serta tubuh yang kuat. Ini serasa seperti mimpi".


Aku memutar tubuhku melihat dengan jelas tubuh anak muda. Tubuh yang penuh dengan tenaga. Mata yang masih jernih. Tulang yang kuat. Ini semua adalah apa yang aku miliki sekarang.


Setelah itu aku melihat dengan teliti lagi kamarku. "Ya ampun, dilihat dari temboknya saja sudah miskin. Lantai yang masih tanah. Kipas angin dari pembuangan sampah. Sigh... rumah ini sudah sangat tua. Sudah seperti rumah pada zaman Majapahit".


"Bagas~! Makanan sudah siap !" Ibu memanggilku agar aku cepat-cepat kesana dan makan.


'Ya~ Bu, aku pakai baju dulu".


"Cepatlah ! Nanti nasinya dingin !"


"Ya...!"


Aku segera memakai baju rumahku, dan karena besok aku libur semester. Aku langsung menaruh baju sekolahku di tempat cucian.


'Kamar mandinya... Tidak. Ini bahkan tidak bisa disebut kamar mandi".


Kain yang dijadikan sebagai penutup agar tidak bisa dilihat dari luar. Papan kayu yang di jadikan sebagai lantai untuk tempat berpijak saat mandi. Dan beberapa ember untuk tempat menaruh air.


"Kenapa aku sungguh tidak menyadarinya waktu dulu. Keluarga kami ternyata sangat miskin hingga seperti ini" ucapku sambil melihat kondisi kamar mandi.


"Bagas cepat ! Nanti nasinya jadi dingin".


"Ya~ Bu !"


Saat ini aku sedang makan bersama dengan ibuku di Desa Langit. Udara yang segar menerpa kami saat kami sedang makan. Suasana khas pedesaan yang sangat menenangkan.


"Selamat makan !!"


Aku langsung melahap makanan yang ada di meja. Masakan ibu yang sudah tidak bisa aku rasakan lagi jika tidak kembali ke masa lalu.


"Wah~ rasanya sangat enak Bu ! Masakan Ibu memang yang terbaik ! Rasa pedas dan segar dari sup ini adalah kesukaanku ! Bagaimana kalau Ibu membuka restoran saja dari pada menjadi pembantu ? Aku yakin pasti akan sangat laku jika Ibu membuka restoran !"


Aku menyarankan hal itu agar Ibu tidak usah bolak balik kerja lagi. Ibuku adalah seorang pembantu di tempat orang lain. Untuk berangkat dan pulang kerja Ibu harus menempuh perjalanan sejauh 6 km.


"Bagas apakah kamu mabuk ?" tanya Ibu yang melihatku bertingkah aneh.


"Haha.. tidak Bu. Aku hanya ingin Ibu bekerja disekitar rumah saja". Aku menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal sambil menatap ke bawah.


"Ingat ini ya~. Meskipun kelak anakku ini akan segera dewasa, tapi Ibu tetap melarang kamu minum alkohol !"


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Ibuku. Dulu aku dikenal sebagai pemabuk berat saat di pekerjaan. Tapi karena aku sekarang kembali ke masa lalu, aku jadi tahu seperti apa rasanya mabuk.

__ADS_1


Aku lalu melanjutkan makan sambil melihat kondisi sekitar. Terlihat tembok dari papan kayu yang usang. TV model tahun sembilan puluhan. Tikus yang berkeliaran


'Kenapa... keluarga kami sangat miskin ? Jika tetap seperti ini. Aku tidak akan berhasil ! Aku harus menghasilkan uang...'


__ADS_2