Happenings At School

Happenings At School
Lomba


__ADS_3

Tiga hari berlalu, hari yang di tunggu yaitu hari lomba presentasi antar kelas.


Di panggung aula yang luas, sudah di siapkan segala tentang kebutuhan presentasi. Para murid yang mengikuti lomba presentasi duduk di kursi yang berbeda dengan murid lainnya.


Peserta pertama, kedua, dan ketiga berjalan dengan mulus dan berbagai judul presentasi.


Saat yang ke empat, Dinda yang mewakili kelas mereka akhirnya naik ke panggung.


Ia pun memulai presentasinya "Ya sebelumnya selamat pagi, perkenalan nama saya Dinda Kanya. Saya disini menjadi perwakilan kelas, dan judul presentasi yang saya bawakan hari ini adalah pendidikan masa kini"


Dinda pun langsung menunjuk beberapa foto di layar proyektor. Namun, bukannya berisi tentang materi yang ia siapkan semalam. Ini malah berisi video s*x yang Dinda pun gak tau itu dari mana munculnya.


Dinda yang merasa panik tidak tahu harus berbuat apa. Banyak kakak kelas yang nyinyir dan juga guru-guru semuanya kaget, terlebih temen-temen sekelas nya.


Di dalam kebisingan, ada suara teriakan. Itu tak lain adalah suara Irene.


"Pendidikan apa! Huh!!! Biar kita bisa s*x gitu haha" teriak Irene dan disusul suara cekikikan Farah.


Dinda berusaha menjelaskan melalui mikrofon, tapi sayang tak ada yang mendengarkan, satu aula menjadi ricuh.


"Saya minta maaf, mungkin ini ada kesalahpahaman.. dan... Tolong dengarkan saya! Ini.. saya..." Ia tidak tahu harus bicara apa.


"Huhh!!!" Suara teriakan kakel.


Dinda memutuskan untuk berlari menuju ke toilet. Dan yah, lomba presentasi itu kacau dan diberhentikan.


Fannya dan Triyas berusaha mengejar Dinda ke toilet, sementara Lea dan Jhanny mencari Irene dan Farah. Mereka sudah tahu kalau yang membuat kekacauan ini adalah mereka, terlebih Irene pernah ngomong kalau presentasi Dinda gak bakal berhasil.


Di toilet wanita.


"Din lo gak papa?" Ucap Triyas menanyakan keadaan Dinda


"Gak ko Yas, gue baik-baik aja"


"Kita ke kelas aja yok" ucap fannya


"Kalian berdua duluan aja"


"Dinnn.. Lo masih gak enak? Udah tenang aja, lagian Lea sama Jhanny lagi urus mereka"


"Maksudnya?"


"Udah yok ke kelas" ajak Triyas.


"Tapi kalo guru tanya gimana? Gue gak tau apa-apa Yas,fan"


"Udah lo tenang aja Din"


Akhirnya Dinda berhasil untuk di bujuk ke kelas, di sepanjang jalan menuju kelas. Tentu saja banyak lirikan dan omongan tak sedap yang tertuju pada Dinda.


"'Ehem! Belajar s*x yah? Hahaha" teriak kakel.


"Gak usah di dengerin din" bisik Triyas.


Di kantin.


Jhanny dan Lea melihat Farah dan Irene sedang tertawa terbahak-bahak seperti sangat puas.


Tanpa pikir panjang mereka langsung menghampirinya.


"Eh tapi kita ambil jus dulu yah jhan?" Ucap Lea basa basi dan mengambil jus jeruk.


Ia berjalan ke meja Irene dan...


Byurrr jus jeruk itu sengaja di tumpahkan di wajah Irene.


"Hah Lea!" Ucap Jhanny yang merasa kaget dan tak mengira ia akan menumpahkan nya.


Irene langsung teriak sejadi-jadinya. Farah yang ingin membalas perbuatan Lea, ia mengambil kopi di mejanya dan ingin menyiramkan kopi itu namun, Bagas menghentikan tangan Farah.

__ADS_1


"Bagas!" Teriak Farah, ia merasa geram karena Bagas menghentikan aksinya.


"Udah siram-siramannya?" Ucap Bagas dengan tatapan mata yang sinis ke mereka berempat.


Semua siswa-siswi yang ada di kantin melihat mereka dengan tatapan yang tak ramah.


Ilham yang datang dengan Bagas merasa tak nyaman dengan semua tatapan itu, karena ia merasa sepatutnya tidak ikut campur dengan masalah ini.


"Gas, pulang ke kelas aja gih, gak enak banget dilihatin kek gini! Kita gak usah ikut campur" Ilham terus-menerus menyenggol lengan Bagas agar mau kembali ke kelas.


"Diam ham, mereka gak salah. Kita harus bantu" seru Bagas.


"Yaudah lah terserah Lo aja"


"Bagas! Kok lo belain mereka? Lo liat kan, Lea yang nyiram gue duluan" Irene berusaha membuat Bagas percaya padanya.


"Iya gue liat, Jhanny Lea pergi kalian!" Ucap Bagas dengan tatapan dingin ke mereka berdua.


"What? Apaan sih? Gak ada hubungannya sama Lo gas!" Lea semakin emosi.


"Udah Lea, balik aja yuk! Ngapain ladenin mereka" ajak Jhanny


Jhanny dan Lea sampai tak habis pikir, Bagas malah membela dua orang yang membuat mereka seemosi ini.


"Pergi kalian! Budek ya? Inget Lea, gue bakal lapor tindakan gak sopan ini ke guru" seru Irene sambil nyengir, ia dan Farah merasa sangat puas.


Jhanny dan Lea hanya melihat mereka sekilas lalu pergi meninggalkan kantin.


Belum sempat Irene bilang terima kasih, Bagas sudah pergi duluan.


Di jalan menuju kelas.


"Gas! Ko lo belain mereka sih? Kan udah jelas mereka yang salah. Gaje lu!" Ilham merasa kesal.


"Udah deh ham, pergi lu! Kelas lu ke sana" sambil menunjuk arah yang berlawanan.


"Lu yang gaje njir"


Sebenarnya, sebelum lomba dimulai. Bagas dan Ilham melihat ke belakang tirai panggung, ada yang mencurigakan. Terlihat Farah dan Irene sedang berbicara dengan osis disana dan terlihat Irene seperti menukar flashdisk milik Dinda dengan miliknya.


Di kelas, banyak sekali yang menanyakan tentang presentasi yang gagal itu.


Lea terus menatap tajam dan merasa kesal kepada Bagas. Sementara Dinda hanya merebahkan kepalanya di atas meja, ia merasa sedikit tak karuan.


Kemudian Bagas berjalan ke meja Lea dan Triyas.


"Gue bisa jelasin.." belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Irene tiba-tiba memutusnya.


"Ehem! Lo sama Dinda di panggil buat ke ruang guru" kata Irene


Lea semakin kesal dan meninggalkan Bagas.


Di ruang itu, terlihat ada Ilham, Farah dan pak Sandy yang terkenal kejam.


"Ini pak sudah saya panggil mereka berdua" seru Irene.


"Irene dan Farah kalian di skors selama 3 hari dan seminggu membersihkan lapangan dan kolam renang" ucap pak Sandy dengan singkat.


"What? Gimana pak?" Irene yang tadinya senang sekarang merasa bingung kenapa malah ia yang dijatuhi hukuman.


"Kalian ingin mengakui sekarang atau akan saya tambah hukumannya! Kalian tahu kan saat di aula itu sedang siaran langsung? Kalian gak mikirin resiko yang di dapat dan apa yang akan orang luar pikiran tentang sekolah kita. Kalian baru masuk loh! Udah buat masalah"


"Anu pak kita...." Mereka terbata-bata dan tak tahu harus ngomong apa.


"Gak usah ngeles dong! Gue sama Bagas udah tau semuanya"


"Jadi...." Irene seketika memikirkan kejadian di kantin, ia baru sadar ternyata ia dijebak.


Mereka berdua lalu mengendus kesal dan pergi dari ruangan itu dan terdengar juga suara bantingan pintu.

__ADS_1


"Ya udah, kalian bertiga kembali ke kelas yah. Bapak juga minta maaf, osisnya amatir bisa disuap dan bapak juga lalai. Sekali lagi bapak minta maaf, kalian baru masuk sudah hadapi kesulitan" ucap pak Sandy dengan nada yang sangat mendalam.


"Makasih ya pak" ucap Lea dan Dinda berbarengan.


"Makasih nya sama Bagas, ya gak ham? Untung di video, kalo nggak ya bapak gak bakal percaya"


"Ya udah pak kita ke kelas dulu"


Di perjalanan menuju kelas, banyak kakak kelas yang meminta maaf karena sudah melontarkan kata-kata kasar yang menyindir. Padahal sudah jelas mereka belum tahu apa-apa.


Di kelas


"Lo duduk aja, gue mau bilang terima kasih ke Bagas" ucap Dinda ke Lea.


"Iya"


Dinda menghampiri meja Bagas


"Makasih ya gas, tanpa lo gue gak tau lagi mereka gak ada yang dengerin penjelasan gue"


"Iya"


Singkat, kalimat yang keluar dari mulut Bagas.


Seminggu berlalu semenjak kejadian tak diinginkan itu akhirnya lomba itu dilaksanakan juga dan siapa sangka yang menang adalah Dinda. Di kelas sebelas nanti, ia akan menjadi satui yang mewakili untuk mempromosikan sekolahnya.


Dan pastinya masa skors irene dan Farah sudah selesai, tapi masih harus membersihkan kolam renang dan lapangan. Beruntungnya mereka tidak berulah lagi.


Di aula banyak yang meminta foto bersama Dinda, Dinda terlihat sangat cantik dan dewasa. Kemudian ada kakak kelas laki-laki dari kelas otomotif meminta foto dan berbincang cukup lama.


"Siapa sih itu Yas?! Kita juga kan pengen foto sama Dinda, pengen banget gue omong tu kakel tapi takut dikira ga sopan" gerutu nya kepada Triyas.


"Hmm. Btw kayaknya itu kakel suka deh sama Dinda" bisiknya.


Akhirnya penantian ini selesai, Kaka kelas itu pergi juga.


Lalu mereka menghampiri Dinda.


"Lama banget lu Din!" Ucap Lea. Dinda hanya menjawab dengan senyuman.


"Siapa Din?" Tanya Triyas ke Dinda.


"Ka Andre"


Kemudian mereka langsung berfoto dan memposting nya di media sosial.


Momen ini merupakan momen yang cukup bahagia karena nantinya sampai kapanpun Dinda akan dikenal, begitu juga ibunya yang sangat bangga.


Di kantin


Fannya, Jhanny, Dinda, Triyas dan Lea duduk bersama di bangku kantin. Memesan menu yang sama. Tanpa di sadari, Jhanny memiliki topik menarik untuk di bahas.


"Eh Lea, lo gak mau bilang makasih atau minta maaf gitu ke Bagas?" Ucap Jhanny.


"What? Buat apa? Itu juga kebetulan kali liat Irene lagi tukeran flashdisk. Udah cukup Dinda aja yang bilang makasih, ya gak Din? Lagipula dia juga sering bikin emosi orangnya" ucap Lea dengan panjang.


"Iya leaaa!" Serunya sembari mengelus kepala Lea.


"Udahlah, udah berlalu juga. Ya gak fan?" Tanya Triyas pada fannya.


"Eh Besok pelajaran Bu Ani, katanya bagi kelompok yang makalah gak sih?" Tanya Lea kepada para sahabatnya.


"Iya" mereka menjawab berbarengan.


"Semoga gue dapetnya sama kalian"


"Ya kita juga mikirnya gitu Lea, kata kelas lain makalah nya susah tau" ucap fannya.


Mereka menarik dan mengeluarkan napas berat bersamaan. "Hmmm"

__ADS_1


__ADS_2