
Pagi harinya, sepertinya ini akan menjadi hari yang buruk bagi Lea. Karena dia telat bangun dan kedua orangtuanya sibuk dan terpaksa ia harus menaiki bus umum.
Sedikit sulit baginya untuk buru-buru mandi, dan bersiap yang lainnya. Ia menunggu di halte bus dengan gelisah, tapi setelah ia sampai ke sekolah ia telat dan gerbang sudah di kunci oleh satpam, terlihat juga beberapa anak lain yang pulang. Lalu Lea berpikir, sebelum satpam melihatnya, ia harus segera mencari cara agar bisa masuk ke sekolah entah memanjat atau yang lainnya.
"Oh ****! Gimana ini! Apa gue harus lewat tembok belakang sekolah?" Gerutu dalam hatinya.
Lalu ia berjalan mengendap-endap menuju belakang dan beruntungnya ia melihat Bagas dan Noel yang dengan sangat santai hendak memanjat tembok.
"Pssst Noel!!!!" Ucap Lea dengan nada berbisik.
"Hah Lea? Gimana bisa nyampe sini?"
"Anu gue telat bangun, jadi gini deh"
Bagas hanya melirik mereka berdua yang mengobrol lalu bilang "jadi manjat gak?"
"Jadi gas, Lea gimana? Kasian kalo ditinggal"
"Suruh manjat pohon aja dulu" ucap Bagas.
"Hah!" Rasa khawatirnya sekarang menjadi dua kali lipat karena dia bahkan tidak bisa memanjat pohon.
Kemudian Noel yang pertama memanjat pohon dan loncat dari tembok.
Brughhh suara itu terdengar "gue udah gas!"
Ketika giliran Bagas naik pohon, Lea menahan kaki Bagas.
"Lo tega ninggalin gue?"
Entah kenapa ketika Bagas melihat wajahnya ia mendadak mereka tidak tega.
"Lo bisa manjat?" Tanya Bagas dengan nada diginnya. Lea menggelengkan kepalanya.
Seketika Bagas jongkok.
"Naik!"
"Hah? Lo yakin? Nanti baju lo kotor"
"Mau naik gak" tanya Bagas lagi disertai dengan wajah dingin mencekam.
"Ehh iya iya, tapi.... Lo jangan liat ke atas pas gue naik!" Bagas tidak menjawab.
Lalu Lea naik ke pundak Bagas dan ia perlahan berdiri. Lea berhasil mencapai tembok dan segera loncat.
Entah kenapa Lea yang lebih dulu mencapai tembok, tapi malah Bagas yang lebih dulu loncat.
"Astaga Lea cepet!!" Noel mulai geram.
"Ah iya, iya" Lea langsung melompat.
Aaaaaaaaaarghhhhhhh! Brughhh Lea menimpa Bagas
"pemandangan apa ini!" Gerutu Noel sembari menepuk jidatnya.
"Gue duluan!" Noel bergegas ke kelas.
"Lo betah tiduran di atas gue?" Tanya Bagas dengan nada dingin.
Lalu Lea segera bangun dan membereskan bajunya yang berantakan
"Maaf" ucap Lea sambil menunduk malu dan merasa bersalah.
Mereka berdua kemudian langsung menuju ke kelas, dikelas sudah ada Noel yang duduk rapih.
Beruntungnya, Bu Ani belum datang. Masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal, Lea segera duduk.
Dengan sigap, para temannya duduk disebelah meja Lea dengan menggotong kursi.
"Ya ampun Lea, lo dari mana lama banget!" Tanya Jhanny.
"Iya, dari mana lo" ucap Triyas.
Lea tidak menjawab, ia cume bilang "air! Gue butuh air!" Lalu mereka memberikan air dan tisu untuk mengelap keringat.
Fannya juga mengipasi Lea agar lebih relaks, karena terlihat sangat berkeringat saat itu.
"Gue telat bangun guys! Ayah sama bunda pagi-pagi udah gak ada sibuk katanya, gue bingung. Jadi gue memutuskan untuk naik bus, tapi sampai sini telat. Untung liat Noel ama Bagas di tembok belakang" ia menjelaskan tentang kejadian tadi secara rinci.
"Hah! Lo sama mereka?" Tanya Dinda.
__ADS_1
"Iya Din"
Dek dek dek suara hentakan kaki dari balik pintu.
"Eh guys keknya itu Bu Ani deh diam-diam!" Jhanny memberi tahu teman sekelasnya supaya diam, karena ibu Ani ia sedikit galak.
"Selamat pagi" sapa Bu Ani.
Anak-anak di kelas itu menjawabnya dengan serentak.
"Bu, katanya mau bagiin kelompok?" Tanya Jojo.
"Jojoooooo!" Semua teman sekelasnya meneriakinya, karena mereka semua takut kalau kelompok mereka tidak sesuai.
"Ya ampun, ibunya lupa. Yaudahlah ibu baginya kalau mau jam istirahat aja yah, Jonathan kamu kumpulin tugas kemarin"
"Baik Bu"
Semua anak mengumpulkan kecuali Bagas.
"Kemana tugas kamu!" Ucap Bu Ani dengan nada tinggi.
"Belum buat Bu" ia menjawab santai pertanyaan Bu Ani itu.
"Kamu ya! Sudah bikin masalah pagi-pagi! Berdiri kamu didepan!"
Kelas seketika hening karena omelan Bu Ani.
Bagas langsung berdiri di depan kelas dan menatap mereka yang belajar dari depan. Entah kenapa ia sangat malas jika masalah menulis.
"Baik, karena sekitar sepuluh menit lagi istirahat. Ibu baginya sekarang aja yah"
"Baik Bu" Jawab mereka serentak.
Lalu Bu Ani membagikan kelompok, sepertinya mereka yang mendapatkan kelompok, baik-baik saja dengan rekan yang diberikan Bu Ani. Tapi Lea tak merasa senang, karena dia dipasangkan dengan Bagas. Sementara Dinda dipasangkan dengan Noel.
"Baik sudah ibu bagi yah! Ibu keluar dulu, kalian boleh istirahat, oh ya nanti makalah nya dikumpulkan Minggu depan ya. Judulnya tentang penelitian, kalian bisa meneliti tempat apa aja. Seperti tempat bekas penjajahan, alam dan yang lainnya"
"Buuuu!" Teriak Lea, ia menghentikan langkah Bu Ani.
"Kenapa Lea?"
"Kenapa? Ibu sudah memasangkan yang menurut ibu pantas! Saya sudah pilih satu yang rajin di masing-masing kelompok! Masih ada yang belum terima?"
"Tapi Bu...."
"Sudah terima saja!" ucap Bu Ani, ia kemudian pergi meninggalkan kelas.
Dalam hati lea (damn, gua bunuh juga lu!!!) Dan suasana hati lea seketika menjadi buruk.
Di kantin, Bagas dan Noel memesan makanan dan dan mengobrol tentang lea.
"Gas, kenapa Lea gak mau sama lu yah? Perasaan lu gak jelek-jelek amat hahaha" seru Noel yang berusaha menggoda Bagas.
"Gatau" jawab Bagas.
"Tuh tuh... Lo gak nyadar?"
"Apa?" Bagas merasa heran dengan perkataan Noel itu.
"Lo tuh terlalu cuek gas, coba lo jangan cuek ke Lea"
"Gue ngerasa bisa aja tuh"
"Hmm terserah lu deh"
Ketika istirahat usai, pelajaran produktif akan berlangsung sampai jam pulang. Pak Edy adalah guru produktif yang profesional, ia selalu mengajarkan segala langkah dengan rinci. Dia juga selalu punya cara agar siswa nya tidak bosan dengan produktif, ia akan memainkan game yang seputar pelajaran dengan siswanya.
Saat jam menunjukkan waktunya pulang, Lea kebagian piket kelas hari ini. Terlihat Bagas yang masih mengemasi barang-barangnya, lalu ia menghampiri Bagas.
"Mau ngerjain kapan?" Tanya Lea.
"Ngerjain apa?"
"Tugas Bu Ani"
"Yang mana?"
"Yang buat makalah Bagas!!" Tegasnya lagi.
"Ohh, gak usah di kerjain"
__ADS_1
"What? Ko lo gitu sih?" Lea mulai geram.
"Bukannya lo yang gak mau satu kelompok sama gue? Mending gak usah dikerjain kan?" Ucap Bagas mempertegas, lalu ia pergi dan dengan sengaja menyenggol lengan Lea.
"What?" Damn!" Lea sekarang merasa kesal.
Triyas, Dinda, fannya dan Jhanny menunggu Lea parkiran, karena mereka ingin mencari kafe untuk bersandar.
Di dalam kelas, Lea langsung menyelesaikan piketnya, dan ia membuang beberapa sampah.
"Guys udah selesai nih!" Teriak Lea dari kejauhan sambil berlari terengah-engah.
"Cepet leaaaa! Kita sampai lumutan nungguin lo tau!" Seru Jhanny.
"Sa sabar huhh, cape banget gue lari haha"
"Suruh siapa lari?" Tanya Dinda.
"Udahlah ayok ke kafe! Temen gue udah tanyain!" Seru fannya.
"Hah? Bukannya kita cuma berlima?" Tanya Triyas.
"Iya, kan gue dah booking tempat duduk yang di lantai atas, kebetulan kan temen gue kerja di sana"
"Oh yaudah yok!"
Mereka segera menuju ke kafe.
Sesampainya di kafe, mereka tak sia-sia karena pemandangan yang sangat indah dan segar di mata. Kafe itu berada di atas bukit dengan nuansa klasik.
"Wih gak sia-sia nih fan!" Ucap Lea.
"Iya bagus" sambung Dinda.
Kemudian Jhanny mengajak Fannya untuk memesan sesuatu.
Sembari menunggu makanan datang, Lea menceritakan kekesalannya yang ia alami ke Bagas.
"Tau gak? Pas gue piket, Bagas nyebelin banget masa dia gak mau ngerjain tugas dari Bu Ani coba! Terus dia bilang, ya kan lo yang gak mau sama gue kan? Yaudah mending gak usah di kerjain katanya. Kan kesel gue, udah gitu pergi sambil nyenggol gue lagi huh sebel" Lea menceritakan secara rinci seperti satu kali tarikan nafas, lalu ia membuang nafas.
"Kenapa lo ribet banget sih Lea, kan bisa ngerjain nya beda abis itu kan yang penting kalian presentasi nya barengan kan?" Ucap Triyas memberi saran.
Lea hanya menjawabnya dengan mengangguk seolah tak suka dengan saran dari Triyas.
"Gue sih sama siapa aja" ucap Dinda.
Seketika suasana hening.
"Hmm leaaa lo kapan dewasanya sih? Heh?" Ucap Dinda sambil mengacak-acak rambut Lea.
"Ih Dinda, kan rambut Lea jadi kusut!" Lea semakin cemberut.
Tak lama makanan pun datang, lalu mereka berlima memakannya sambil menikmati pemandangan.
Setelah menghabiskan waktu di cafe itu, mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah lea, ketika ia membuka pintu langsung disambut ayahnya dengan wajah yang tak ceria.
Lea memunculkan gelagat lucunya, ia seketika membalikan badannya, namun ayahnya menarik tas Lea dari belakang.
"Mau kemana lagi kamu?"
"Eh ayah hehe, nggak kemana mana kok" jawab Lea sambil cengengesan.
"Haha hehe!! Dari mana saja kamu? Ini udah mau jam 6 sore loh" Lea yang tadinya cengengesan, ia refleks menundukkan kepalanya. Ia tipikal orang yang tidak bisa bohong kepada orang tuanya.
"Tadi Lea ke cafe dulu yah, maaf"
"Kenapa gak kabarin ayah atau bunda dulu?"
"Ma maaf ayah, Lea lupa" ia merasa bersalah melihat ayahnya yang khawatir itu.
Ketika ayahnya ingin bertanya lagi, kebetulan bundanya datang.
"Eh sayang udah pulang! Sini masuk makan dulu. Awas pah! Kok anak sendiri gak dikasi masuk sih! Yok sayang" ia membawa Lea masuk.
"Tapi saya lagi tanya"
"Udah ah" ucap bundanya.
Sementara orang tua Fannya, Jhanny, Dinda dan Triyas biasa saja. Lea juga kadang merasa kenapa masih dikekang di umur yang sudah sebesar ini.
__ADS_1