
"Mady, ayo bangun!" Teriakan Mama Mady terdengar sayup sayup di telinga Mady. OH MY GOD! Mady segera bangun dari tempat tidurnya dan segera mengambil handuk di balkon. Dia terburu-buru menuju ke kamar mandi, tapi ternyata terkunci dari dalam.
"Oh, no... Kakak, ayo cepetan. Mady hari ini TRY OUT. Masuk jam 7.15"
Terdengar suara pintu dibuka. Kakak Mady, Nioka, menyembul dari pintu. Rambut dan mulutnya dipenuhi busa.
"Berisik bet dah. Siapa suruh bangunnya siang. Tunggu bentar. 15 menit."
"Ayolah kakak.. Pleasee. 5 Menit aja mandinya, jangan 15 menit."
"Bodo amat." Balas Nioka sembari berusaha menutup pintu. Tiba-tiba Mady mengganjal pintu dengan kakinya. "Kak, katanya mau beli Gundam baru kan. Aku punya tabungan, kakak boleh ambil dah."
"Beneran?" Mady mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
"Ok deh." Nioka segera membilas rambut, kumur-kumur, lalu keluar dari kamar mandi. Dia menutupi tubuhnya dengan handuk.
Terdengar suara pintu terbuka, dan Mady pun buru-buru masuk ke dalam toilet.
Nioka segera menuju kamar Mady, dan mencari tabungan yang Mady maksud. Dia tidak mau jika adiknya itu tiba-tiba berubah pikiran, karena hal itu sering terjadi. Nioka bahkan selalu memanggil Mady dengan sebutan, "Mady si Gemini".
"Maaad, dimana tabungannya?"
"Ada di atas rak bukuku. Ambil dah." teriak Mady dari kamar mandi.
"Kan aku bilang tabungan. Ya itu. Hehe" Jawab Mady sambil terkekek.
"Bocah sialan, ini mah namanya celengan tanpa isi. Sini keluar, ku jitak kepalamu."
__ADS_1
"Nioka! Sudah, jangan ganggu adekmu. Hari ini dia Try Out. Kamu inget kan, karena kamu nggak mau masuk kedokteran, dan malah ambil DKV, makannya adekmu yang harus masuk kedokteran. Salah satu anggota keluarga kita harus jadi dokter, itu cita-cita nenekmu." Ibu menenangkan Nioka.
Deg. Jantung Mady tiba-tiba seperti berhenti berdegup. Ia teringat bahwa memang ibunya dulu pernah bilang bahwa Mady harus menjadi dokter. Tapi karena itu begitu lama, yaitu saat Mady masih kelas 10, ia tidak mengingatnya. Mady merasa lemas. Ia baru saja tau jurusan mana yang dia ambil setelah melakukan banyak hal: bermeditasi, membaca buku, bertanya kakak-kakak alumni, hingga berdoa.
Suatu hari, Mady terkagum dengan satu sosok, Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Indonesia. Ia terkagum dengan pembawaan beliau yang tegas dan selalu mantap dalam memutuskan sesuatu.
Sebenarnya Mady juga sangat suka dengan ide untuk menjadi Menteri, tetapi karena Mady benci politik, ia pun mengerti bahwa ia harus cukup puas untuk menjadi PR sebuah perusahaan. Dan ia pun sudah merancangkan perusahaan dimana ia harus melamar, Guggel.
"Ah Ma. Kasihan juga kalo Mady harus masuk kedokteran. Itu kan mimpi nenek. Nenek juga sudah meninggal. Nioka bukannya nggak mau, mama juga tau kan kalo dulu Nioka udah coba. Sampe mau muntah tiap kali inget tesnya. Coba mama tanya dulu lah mau Mady apa. Jangan sampe Mady jadi korban ambisi orang. Kenapa juga bukan Nenek yang dulu jadi dokter? Kenapa juga bukan mama?"
"Nioka! Jaga bicaramu! Kalau dulu mama dari keluarga berada, mama nggak akan taruh ambisi ini di kamu dan Mady! Apa kamu lupa bagaimana mama berjuang sehingga kalian punya asuransi pendidikan? Apa kamu lupa bagaimana papa berjuang, bekerja di Bontang dan kembali kesini tiap weekend, hanya untuk keluarga kita?"
Terdengar suara pintu terbuka, "Ma, Kak. Mady bakal jadi dokter kok. Udah ya. Sampai sini aja debatnya." Mady tersenyum laalu bergegas masuk ke kamar.
__ADS_1
Didalam kamar, Madypun mulai merenung. "Apakah aku bisa jadi PR setelah kuliah kedokteran?".
Suara ringtone pun mengagetkan Mady. Shoot! 15 menit lagi masuk!