
Nitaaaaa.....
Ketik Mady di smartphonenya, lalu... sent!
Tak lama berselang, ringtone Mady pun berbunyi kencang.
"He, bucin! Nape Lu sama Marco?" Cerocos Nita dari ujung sana.
"Ih sotoy! Sapa bilang ini soal Marco?" kelit Mady, tidak mau dipanggil sebagai bucin (baca: budak cinta).
"Aelah, kita temenan udah berapa lama sih Mad? Setahun? Dua tahun? 10 tahun begooo..." Teriak Nita sambil memonyongkan bibirnya.
"Sepuluh tahun, sepuluh tahun... Ini kamu bilang temenan? Kita ini LDR! Lagian ngapain sih kamu pindah Jakarta cuma mau ngejar magang di platform komik nggak jelas? Lulus SMA aja belom!"
"Biar! Emang siapa bilang MangaToon platform komik nggak jelas? Awas juga elu jatuh cinta sama platform gue."
"Gue..gua... anak udik juga." Gumam Mady.
"Awas lo! Udah, sini coba cepetan kasih tau sama Marnita Melita, apa yang menjadi keluh kesah seorang neng Mady, selebgram nan sosialita favorit kebanggan SMA Darmo Damai ini..."
Ada keheningan sejenak. Mady menimbang-nimbang antara ia harus bercerita soal sikap Marco siang ini atau tidak.
__ADS_1
"Nit, Marco..."
"Nah, bener kan tebakan gue! Nggak ada lagi soal yang bikin Mady nelpon Nita kalo bukan karena Marco... Abang Marco tercinta, si kutu-kupret, eh kutu buku... yang bisa menarik hati seorang Mady yang bersikukuh nggak mau menjalani kisah cinta selama remaja... Oh, Marco sayang. Babang Marco yang tersaranghaeyo...."
"Udah? Puas? aku matiin juga telponnya." Ancam Mady yang terlihat tidak sabar.
"Mad.. Mad.. Sabar dong ah. Gue ladenin dah curhat lu hari ini. Yang panjang noh sana. Gue dengerin..." sahut Nita, berusaha menahan ucapannya.
"Tapi kamu nggak lagi sama Bang Fahri kan?" Tanya Mady, memastikan bahwa Nita sedang tidak kencan dengan pacarnya.
"Hari ini nggak sama Bang Fahri, tapi sama Bang Zulki. Udah, buruan..."
Ganti cowok lagi nih anak. Dasar.
"Cup..cup..cup, Mady sayang.. Coba gue disana yah." Hibur Nita sambil ikut sedih atas cerita Mady.
"Itulah... Kenapa dulu kamu mendadak pergi? Kamu kan tau cuma kamu temen baik aku." Jawab Mady sambil mengusap air matanya
"Ada gula ada semut, ..."
__ADS_1
"Udah, nggak usah mantun." potong Mady.
"Yah,, maaf deh Mad.. Maaf banget. Lu tau kan kalo gue males sekolah, males banget belajar Matematika, apalagi IPA... nilai gue bikin gue terancam DO pula.. Apa bagusnya dari gue coba? Kan baca komik doang. Pas gue tau ada kesempatan magang di platform komik ini, ya gue ambil lah. Namanya juga kesempatan nggak dateng kedua kali. Lagian, daripada gue nggak naik kelas, mending kan pindah sekolah sekalian" Nita menarik nafas, dalam... "Tapi beneran, gue juga sedih ninggalin elu. Nah elunya lagi kesemsem sama Marco pas itu dan jalan berdua terus... Gue pikir elu bakal baik-baik aja. Mana tau juga gue kalo ternyata Marco nggak mau jalanin hubungan sama elu. Sorry ya Mad..."
"Nggak, nggak.. Bukan salah kamu. Mumpung kamu tau kamu mau apa kan ya... Lagipula pas itu juga aku ninggalin kamu karena Marco. Aku yang salah." Jawab Mady, tak mau Nita mersaa bersalah lebih lagi.
"Trus kedepannya elu mau gimana sama mimpi lu?" Tanya Nita, "Sama Marco juga?"
"Enggak tau lah Nit. Gue kusut... Tuh kan aku ikutan pake gue." Jawab Mady, kesal.
Tiba-tiba smartphone Mady berdering, ada incoming call... dari Billy.
"Eh, Nit, Ada telpon dari Billy!"
"Hah, Billy? Billy yang itu?" Tanya Nita, penasaran.
"Iya.. Billy yang itu.. Billy yang..."
"Angkat deh!" Teriak Nita. "Buruan... Gue cabut dulu ya. Have fun! Inget, kesempatan nggak dateng kedua kali!" Sahut Nita sambil semi berteriak.
Sekali lagi, Mady menarik nafas dalam. Dia melihat screen smartphonenya, lalu memejamkan mata."
__ADS_1
"Halo?" Sapa Mady, lembut.
"Hi, Mady. Apa kabar?" Suara Billy terdengar dari ujung sana, lembut.