Hari ini Untuk Selamanya

Hari ini Untuk Selamanya
Mady dan Marco


__ADS_3

"Ayo, buruan. Aku nungguin kamu sampe butut di loby." Suara Marco menggema dari smartphone Mady.


"Bentar lah Mar. Tunggu 3 menit lagi." Jawab Mady sambil keluar dari kamarnya.


"Ma, bekal Mady yang mana?" Tanya Mady kepada Mama yang masih juga belum selesai memasak.


"Kotak pink. Inget, jangan lupa dimakan sayurnya. Sawi di bakmi itu enak kok. Enggak kayak kangkung yang katamu alot. Jangan lupa ambil juga kotak birunya."


"Lah, kenapa kotak Nioka dibawa juga, ma?"


"Bukan. Kotak Nioka warna coklat. Mama beli biru satu buat Marco."

__ADS_1


"Aih, mama kenapa kasih makan anak orang?" tanya Mady sembari memasukkan kotak bekalnya kedalam tas.


"Jasa antar jemput lah. Lagian kapan juga kalian bakal jadian? HTS (Hubungan Tanpa Status) kok betah lama-lama." Suara Nioka terdengar dari dalam kamar.


"Nyambung terus kaya sinyal, kak!" Jawab Mady setengah berteriak. "Ma, berangkat dulu ya." Mady pun mencium pipi mamanya.


"Tuhan besertamu," Kecup mama Mady sembari membuat tanda salib di dahinya.


Pintu lift terbuka, dan disanalah Marco berdiri, ngobrol dengan Pak Man, Bapak satpam favorit para penghuni Apartemen Starbright. Sudah 6 bulan sebenarnya Marco mengantar jemput Mady, tetapi ia tetap tidak bisa mengendalikan perasaan bahagia setiap kali bertemu dengannya.


"Lha ini baru turun Madynya pak."

__ADS_1


"Iya mas, dari ngobrol kemenangan Liverpool, sampe F1. Lama bener." Jawab Pak Man.


"Ih, Bapak, namanya juga kesiangan." Jawab Mady sambil malu.


"Ayo dah. Duluan ya pak." Pamit Marco sambil menarik lengan Mady. Mady pun tersenyum ke arah Pak Man sambil melambaikan tangan. Merekapun bergegas menuju sekolah dengan sepeda motor retro punya Marco yang sangat dicintainya. Tidak pernah kotor dan berdebu, karena Marco selalu rapi dan higienis. Tidak seperti Mady yang selalu apa adanya. Kadang ia pun malah lupa menyisir rambutnya yang ikal.


Marco.. hmm, Marco dan Mady memang bisa dibilang sama-sama good looking. Marco adalah ketua tim eksul Karya Ilmiah Remaja yang sangat mumpuni. Penelitian terakhir mereka, pemaksimalkan pemanfaatan daun kelor, bahkan memenangkan kompetisi tingkat SMA se-nasional. Dengan tinggi 180/70kg, kulit langsat khas orang dayak, alis tebal dan bibir yang tipis, Marco selalu menjadi idola disekolah. Tapi sayang, Marco terlalu introvert. Kadang ia hanya bisa nyambung dengan orang-orang yang ketertarikannya sama dengannya.


Mady justru berbeda dari Marco. Rambut yang bergelombang, kulitnya yang coklat eksotis, alisnya yang tebal, hidung mancung, serta bibir yang penuh dan merah alami selalu menjadi daya tarik bagi setiap orang. Mady selalu mampu membawa suasana dimanapun ia berada. Semua orang suka Mady karena ia rendah hati, mau selalu belajar dan humoris. Satu lagi yang disukai dari Mady, ia selalu berpikir positif.


Mereka pertama kali bertemu ketika Mady harus mewawancarai klub Karya Ilmiah untuk kesuksesan mereka di tingkat Nasional. Awalnya bukan Mady yang bertugas, tapi Shinta. Tapi karena berbagai alasan, Mady yang menggantikannya.

__ADS_1


Walaupun cukup sibuk sebagai ketua mading, Madypun berusaha tetap berpikiran positif dan menggantikan Shinta. Siapa sangka, disitulah ia bisa bertemu dengan cowok yang ternyata bisa mencuri hatinya.


__ADS_2