Hari ini Untuk Selamanya

Hari ini Untuk Selamanya
Try Out yang Kacau


__ADS_3

"Haaaahhhhhh." Mady menghela nafas sambil menyandarkan tangan dan kepalanya diatas meja kantin. Mady duduk sendirian di ujung kantin segera setelah ia memesan satu mangkok mie ayam dari Bang Jali. Mady lalu mengangkat kepalanya sambil melihat ke smartphone kesayangannya.


Mar, belom selesai? Mady mengirimkan pesan ke Marco sambil menunggu. Hari ini Marco berjanji bahwa ia akan menemani Mady makan setelah try out.


"Halo neng Mady cantik, kenapa ditekuk mukanya? Entar gampang keriputan lho." Goda Bang Jali sambil menaruh satu mangkok ayam diatas meja.


"Ih Bang Jali bisa aja. Makasih ya Bang." Jawab Mady sambil tersenyum kecut.


"Abang bonusin ceker itu, biar neng cantik semangat makannya." Goda Bang Jali lagi sembari ngacir.


"Saranghae, Abang Jali. Abang baik deh." teriak Mady sambil membentuk love di jarinya. Mady segera menyantap mie ayam kesukaannya. Dari beberapa penjual di kantin SMA DD, hanya Bang Jali yang selalu membuat Mady rindu. Mie ayam yang begitu kenyal, bumbu minyak dan kecap yang begitu sedap, sayur yang fresh dan juga ayam kecap yang mantap selalu berhasil membuat Mady kembali good mood. Tak lupa krupuk pangsit dan ceker ayamnya.


"Halo, Mad." Marco menepuk punggung Mady dengan lembut.


"Marco....." rengek Mady dengan mulut penuh mie.


"Kenapa.. kenapa.?" Marco tersenyum penuh perhatian.

__ADS_1


"Mar, sambil makan yah. Ini tadi mama kasih aku bekal buat sarapan, dibonusin bekal buat kamu. Kamu enggak mungkin makan makanan kantin kan? Ini, mama masak bakmi tadi." Mady mengambil bekal biru dari tas lalu menyodorkannya ke Marco.


"Mama masak apa?" Tanya Marco sambil membuka kotak. "Bakmi! Asik! Hmm.. Bentar-bentar. Kamu pagi makan bakmi, siang makan mie ayam, nggak bosen?"


"Enggak. Mie is love. Mie is life."  Jawab Mady sambil tersenyum.


"Balik lagi.. Tadi mau cerita apa?" Marco menatap Mady sambil mengunyah.


"Tadi itu... Mar... Kan aku udah berusaha ngerjain try outnya sungguh-sungguh, tapi aku ngerasa, nilaiku bakalan nggak maksimal deh. Masa dari 70 soal, aku cuma bisa kerjain 30an. Enggak ada separuhnya dong. Mana lagi tadi pagi aku nyadar kalo mama mau aku masuk ke kedokteran... Mar, aku harus apa?" keluh Mady sambil membereskan mangkoknya yang sudah kosong.


"Yah kan kamu udah berusaha yang terbaik, Mady. Apapun hasilnya, itu yang terbaik. Masa kamu lupa sama motomu sendiri... Do your best and...?"


"Ya ini kan masih try out.. Tapi, kamu yakin mau masuk kedokteran?" Marco membereskan kotak makan dan memberikannya kepada Mady. Mady menaruh lunch box kedalam tas bekal dengan segera,


"Enggak tau, Mar. Sedih akutu... Masa tadi aku denger dari Bu Mona kalau per tahun ini kita juga nggak bisa masuk ke jurusan yang nggak sesuai dengan bidang peminatan di SMA. Tau gitu dulu aku nggak bakalan masuk IPA. Aku nyesel.... nyesel sejadi-jadinya Mar."


Ada keheningan sejenak diantara Marco dan Mady. Tiba-tiba ada suara yang mengangetkan mereka dari belakang.

__ADS_1


"Hayo, berduaan terus aja!" Brian, sahabat baik Marco, menepuk pundak Marco dengan cukup keras yang dibalas Marco dengan tepukan yang keras juga.


"Kalian ini ya, berdua terus aja tapi nggak jadian-jadian. Mar, inget, Mady ini idola. Nanti ditikung orang. Apalagi abis ini kita pencar. Wussss, hilang.. Mad, inget, ini jaman emansipasi wanita, kamu boleh kok nembak Marco duluan. Enggak dosa. Hukumnya ora et labora." ceriwis Brian tanpa henti.


"Memang apaan ora et labora?" tanya Marco penasaran.


"Ya itulah pokoknya." Jawab Brian singkat.


"Ngasal... Ora et labora ini belajar dan berdoa." Jawab Mady ketus.


"Yah pokoknya itulah..." Jawab Brian. "Inget ya pokoknya. I am rooting for you two."


"Ya nantilah gampang." Marco tersenyum.


Deg. Tiba-tiba Mady merasa sesak. Mady tidak lagi yakin jika Marco serius terhadapnya. Mady juga tidak yakin jika suatu saat Marco akan menyatakan perasaannya. Ini semua mulai terasa aneh. Sudah setahun mereka dekat, tetapi masih juga tidak ada apa-apa.


Inget UN Mady, ingett. Mungkin Marco juga mau fokus ke UN dulu.

__ADS_1


"Eh, bentar ya aku ke toilet dulu." Mady pamit sambil membawa tasnya begitu saja. Marco tau apa yang sedang Mady pikirkan tapi ia lebih memilih untuk tidak mengejar Mady.


"Kamu sih..." Gerutu Marco ke Brian yang hanya mengangkat bahu sambil bergumam "Sorry."


__ADS_2