Hari ini Untuk Selamanya

Hari ini Untuk Selamanya
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Marco


"Yes! Kita berhasil!" pekik Marco ketika membaca pengumuman dari akun Instagram official Peneliti Muda. Suara gemuruh dari tim Karya Ilmiah Remaja SMA Darmo Damai ( SMA DD) pun memenuhi tempat klub mereka yang ada di ujung lorong gedung serbaguna.


"Gila, Mar. Idemu memang luar biasa. Sorry ya, awalanya aku pikir ide untuk meneliti daun kelor itu nggak banget. Siapa sangka, sekarang malah bisa bawa kita jadi pemenang. Tingkat nasional lagi!" Kata Yusak sambil memukul-mukul meja karena kegirangan.


"Ya wajarlah kalo kamu bilang idenya nggak banget. Aku juga nggak bakal pake ide ini kalo nggak tau dari kakak perempuanku yang lagi sibuk mengkonsumsi itu buat ngeboost produksi ASI buat anaknya."


"Yah, yah. Pokoknya ini awal yang bagus buat tim kita. Good job, team!" Sahut Pak Yudi sambil menepuk-nepuk pundak seluruh tim KIR yang berjumlah 10 orang.


Klub KIR memang tidak pernah menjadi favorit bagi siswa-siswi SMA DD. SMA DD dipenuhi oleh klub klub yang lebih menarik seperti Wall Climbing, Karate, Taekwondo, Memasak, hingga Mading. Awal kakak kelas memperjuangkan klub ini pun bisa dibilang sangat alot. Diperlukan minimal 5 anggota untuk membuat klub ini tetap diizinkan ada.


Kling, suara ringtone Marco membuat Marco buru-buru memeriksa smartphonenya.


Pagi, kak Marco. Ini bener kak Marco kelas 11 kan? Perkenalkan, nama saya Shinta, dari tim mading. Selamat ya kak, atas kesuksesannya. Kak, tim mading lagi butuh konten nih, bisa minta waktunya untuk wawancara nggak?


Marco pun tersenyum sambil mengetik balasan.


"Mar, kami cabut dulu ya. Mau kelas nih."


Suara Yusak dan anggota lain menyita perhatian Marco sesaat. Pak Yudi pun ikutan pergi sambil melambaikan tangan.


"Ok. Semangat ya." Jawab Marco singkat sambil kembali melihat ke smartphonenya.


Ok. Kapan mau wawancara? balas Marco. Marcopun kembali ke kelasnya.


Kling, terdengar suara balasan lagi.


Pulang sekolah ini bisa kak? Saya nanti ke ruang klub ya.


Ok. Jawab Marco, singkat.


(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)(^.^)


Mady


Mady terlihat sibuk membolak balik majalah barunya yang datang kemarin malam. Tema yang diangkat bulan ini adalah tentang Girl Power, dan Mady sangat menyukainya.

__ADS_1


"Cool!" pekik Mady kegirangan.


Get you with the Du Du Du! Suara ringtone smartphone memecah konsentrasi Mady.


Pasti Shinta nih. Pasti mau ngelemparin tugasnya ke aku. Sialan banget ah.


"Ya, Shin?" Jawab Mady sambil membalik-balik halaman majalahnya.


"Kak Mady yang cantik jelita. Shinta mau minta tolong, boleh?"


Tuh kan, aku pikir juga apa.


"Apalagi, Shin?" Mady merasa kesal.


"Aku tuh udah janjian mau wawancara sama klub KIR pulang sekolah ini nanti kak. Sama Kak Marco sih, tepatnya. Tapi aku nggak bisa tiba-tiba. Pacarku sakiit nih kaak. Sorry ya."


"Ok-ok Shin. Semoga Andre cepet sembuh ya." Jawab Shinta sambil menutup telponnya.


Hilih. Padahal mau baca majalah nih, mumpung UTS masih jauh. Tapi nggak apa-apa deh. Wawancara sama orang baru juga pasti seru. Semangat!


Mady menutup majalahnya lalu menyiapkan notes, pensil dan recorder. Dia mengingat-ingat lagi profil narasumber untuk konten kali ini.


Mady membuka Instagramnya lalu mengetik nama Marco.


Marco Anggat Putra. Ah, ini dia. Mady menekan tombol follow dan kembali mempersiapkan alat-alatnya. Lalu, Mady tenggelam dalam proses membuat list pertanyaan untuk narasumber.


(・∀・)(・∀・)(・∀・)(・∀・)


Knock, knock. Terdengar suara ketukan pintu.


"Iya, masuk." Sahut Marco dari dalam ruangan klub. Ruangan klub KIR didominasi dengan warna putih. Ada lima meja besar yang terbuat dari semen yang dimarmer, beberapa wastafel di ujung ruangan yang dilengkapi dengan cermin, dan juga dua lemari yang dilengkapi dengan microscope, magnifying glass, serta laporan journal ilmiah.


"Halo, Mar. Sorry telat." Mady masuk seraya nyengir.


Nih adek kelas nggak tau sopan santun banget. Masa panggil nama doang, bukannya dia adek kelas?


"Sudah siap wawancara?" Tanya Mady sambil menguarkan peralatan wawancaranya.

__ADS_1


"Kamu sendiri?" Tanya Marco sambil tetap membuat laporan ilmiahnya.


"Udah dong." Jawab Mady sambil mulai mewawancari Marco.


Awal wawancara terasa seperti menusuk Mady. Marco hanya menjawab singkat ketika ia menanyakan profil dirinya dan juga sejarah singkat klub KIR. Mady berusaha tetap tersenyum hangat selama wawancara, tetapi sebenarnya Mady kesal juga karena Marco tidak mengizinkan kontak mata selama wawancara. Marco tetap melihat ke jurnal ilmiahnya terus sembari manjawab pertanyaan Mady.


"Ok. Pertanyaan terakhir. Apa harapanmu untuk klub KIR kedepannya?"


Mandengar pertanyaan itu, Marcopun melihat ke Mady lalu menjawab dengan antusias, "Aku berharap, murid di SMA DD lebih paham lagi pentingnya penelitian bagi kebaikan dunia, klub ini tidak dianggap lagi sebagai klub berkumpulnya para cupu, dan klub ini membawa banyak dampak baik bagi seluruh orang di SMA ini tentunya."


Deg. Mady merasakan bahwa jantungnya berhenti berdetak sebentar melihat senyum Marco yang hangat.


Ah. Nggak. Kayaknya aku kecapekan aja. Elak Mady tentang perasaannya.


"Oke, Mar. Thank you ya buat waktunya. Nanti kalo artikelnya udah up, aku kabari via dm IG ya.


"Kamu follow aku?" Jawab Marco sembari check akun IGnya. "Mana? Enggak ada nama Shinta ini juga yang follow."


"Shinta? Oh, kamu pikir aku Shinta ya. Sorry, lupa kenalin diri dulu. Halo, aku Mady, anak 11 IPA 4. Nice to meet you." Mady mengulurkan tangan sambil tersenyum manis.


Dang! Ini Mady Carmelita anak Mading yang pernah pinjemin aku pensil pas tes masuk! Kenapa aku nggak sadar dari awal.


"Halo. Marco." Marco mengulurkan tangan sambil tetap berusaha kelihatan cool.


"Yaudah deh Mar, aku duluan ya. Laper nih." Mady membereskan barangnya dan bergegas ke pintu."


"Mady, pensilmu." Panggil Marco.


"Oh iya, makasih." Balik Mady ke arah Marco, mengambil pensil, dan iapun bergegas keluar pintu klub, menahan lapar.


"Mady!" Panggil Marco setengah berteriak.


"Hmm" Mady membalikkan badan ke arah Marco.


"Mau makan bareng nggak?" Tanya Marco sembari berusaha mengontrol nada suaranya.


"Ayuk." Jawab Mady sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


Andre kembali ke dalam ruangan klub, membereskan barangnya cepat-cepat lalu memekik pelan, Yess!


__ADS_2