
(***)
"lepaskan !lepaskan aku !" riddle mendengar jelas suara seorang wanita yang berteriak-teriak, ia penasaran dan segera ke sumber suara. Ia melihat avery bersama seorang gadis.
'hmm ? bukankah itu dumbledore ?apa yang avery lakukan kepada gadis itu ?" lama riddle menonton adegan di depannya,ia melihat jamnya ternyata 5 menit lagi akan masuk.
'sial ! seharusnya aku langsung ke kelas saja' umpatnya kesal.
Saat riddle akan beranjak pergi, ada sesuatu yang menyentak perutnya kuat-kuat ketika ia melihat avery berusaha mencium dumbledore.
""INCARCEROUS !" tali tebal keluar dari tongkatnya dan langsung mengikat tubuh avery. Riddle akan keluar dari persembunyiannya,tiba-tiba saja muncul seorang pria di depan sana.
"mione, kamu tidak apa-apa ?" ternyata pria itu adalah flamel, dari suaranya sepertinya dia sangat mengkhawatirkan gadis itu.
"harry ! harry kau menyelamatkanku!" dumbledore yang melihat flamel langsung memeluknya erat-erat. 'cih, mereka benar-benar sepasang kekasih ? dasar bodoh ! yang menyelamatkanmu itu aku bukan dia !'riddle masih berada di tempat persembunyiannya. Bukan takut hanya menunggu waktu yang pas saja.
"kamu tidak apa-apa ? aku menyusulmu karena kamu terlalu lama" si flamel junior mengelus rambut Dumbledore dengan sayang.
"aku tidak apa-apa. Ayo kita segera ke kelas. Kita terlambat" flamel tampak menimbang sejenak, sepertinya ia masih ingin mengajar habis avery yang sudah mengganggu kekasih nya itu.
"ayo harry sudah lupakan !" gadis itu berusaha menenangkan kekasihnya, tampak matanya sudah berlinang membuat riddle merasakan sesuatu hal yang ntah apa dia tidak tahu apa itu. Flamel yang menyadarinya segera saja menggandengnya dan pergi dari tempat itu.
"lain kali, mau pergi kemanapun kamu harus mengajakku. Disini tidak seaman seperti yang kita fikir. Kamu harus tau dia dan rombongannya ada disini dan sangat berbahaya" gadis itu hanya mengangguk pelan. 'dia dan rombongannya ?berbahaya ? apakah mereka membicarakan ku ?'
"ada keributan apa ini ?" riddle tak tahan lagi ingin keluar dari berjalan perlahan kearah mereka bertiga. Mereka bertiga tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Avery masih tersungkur dengan tali kuat yang mengikatnya sedangkan Dumbledore dan flamel hanya diam Nampak jelas tak ingin menjawab pertanyaan riddle. Ekspresi aneh yang mereka tunjukkan sejak pertemuan awal masih terukir jelas di wajah mereka.
"miss Dumbledore, mr flamel dan mr avery. Apa yang kalian lakuakan ? apakah ada si pelanggar peraturan disini ?" Tanya nya lembut dengan senyum yang masih terpampang menghias wajah nya yang tidak sesuai dengan tatapan mata nya yang dalam, gelap dan dingin.
"avery ? oh jadi kamu menyuruh pengikutmu untuk mengganggu mione !?" flamel menggertak. ia mengacungkan tongkatnya siap tempur. 'ada apa dengan pria ini ?apakah professor sialan itu sudah memberitahukan semuanya kepada mereka ?'riddle masih berdiri tenang tak berusaha mengeluarkan tongkatnya. Gadis itu segera menyadari tingkah aneh pria di sebelahnya itu dan menggenggam erat tangan yang memegang tongkat.
"harry cukup, kumohon" tanpa di minta dua kali cengkraman tongkat pria itu mulai mengendur. Kemudian mereka segera meninggalkan riddle dan avery tanpa mengucapkan sepatah katapun.
(***)
"seharusnya kamu tidak perlu mencegah ku mione. Tadi itu waktu yang sangat pas untuk membunuhnya !" harry berteriak mengerikan. Untung saja di lorong tak ada siapapun saat itu.
"harry, bukan kah kamu seharusnya lebih bijak di bandingkan aku ? seharusnya kamu bisa berfikir lebih tenang lagi" Hermione sudah nyaris putus asa untuk membuat sahabatnya itu tenang.
"mione ! fikirkan apa yang dia lakukan tadi ! lagi pula apasih yang kamu lakukan sampai membuatnya tertarik padamu ? seharusnya kita jauh-jauh dari dia !" Hermione tidak bisa menjawab apapun lagi. Dia berjalan menunduk di sebelah Harry, ia merasakan air hangat keluar dari sudut matanya. Dia juga memikirkan hal yang sama sebenarnya apa yang ia lakukan sampai bisa menarik perhatian si pangeran kegelapan muda.
"huft ! maaf kan aku mione. Aku kelepasan. Seharusnya aku tidak perlu membentakmu seperti ini. Aku hanya khawatir saja." Harry sepertinya sudah kembali ke akal sehatnya,harry berhenti dan mengusap air mata Hermione yang keluar. Hermione menyandarkan kepalanya ke pundak harry dan dibalas harry dengan mengusap lembut rambut Hermione.
"apakah ini waktu yang pas untuk bermesraan ? kalian sudah terlambat masuk kelas. Bodoh !" seseorang mengatakannya dengan nada yang datar dan dingin.
"bukan urusan mu riddle !" harry kesal sekali, ternyata orang itu adalah riddle. Riddle berjalan mendahului mereka tanpa menoleh. Harry dan Hermione hanya saling pandang melihat riddle masuk ke kelas transfigurasi mereka.
"apakah kita akan sekelas dengan nya ?" harry bengong saja.
"kesialan kita belum berakhir mione" mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka dengan lesu. Kegembiraan Hermione tadi pagi Karena professor kesayangannya akan mengajar sirna sudah.
Mereka berdua tiba di depan pintu kelas, Harry yang mengetuk dan membuka pintunya, ternyata professor sudah tiba. Hermione yang dalam sejarahnya tidak pernah datang ke kelas terlambat sangat terlihat resah, harry sampai harus menariknya untuk membuatnya berjalan dan masuk kedalam kelas.
"maaf kan kami prof, kami tadi tersesat" harry mengatur suaranya agar terdengar meyakinkan sehingga professor Dumbledore percaya. Tapi sepertinya harapannya sia-sia. Professor Dumbledore memicingkan matanya penuh Tanya yang mengartikan 'setelah kelas berakhir aku ingin mendengar alasan sesungguhnya' harry dan Hermione hanya meringis getir.
"silahkan duduk kalau begitu. Aku tidak akan mengusir atau memotong poin kalian. Tetapi kalau lain kali masih terulang kalian harus menerima konsekuensinya" professor mengatakannya dengan lembut dan tenang.
"akan kami ingat. Terimakasih professor" harry menjawabnya senang. Harry sekilas melihat Hermione mengusap sudut matanya, tapi sepertinya Hermione begitu bukan karena hal yang baru mereka alami tadi melainkan sangat senang karena tidak di hukum karena dating terlambat.
__ADS_1
Hermione melihat George dan Thomas melambai-lambai "disini. Masih ada dua kursi lagi" katanya berbisik setelah Hermione dan harry mendekat. Hermione bersiap duduk dan agak sedikit berjengit ketika melihat seseorang yang duduk di belakangnya adalah tom riddle.
"duduk mione, seperti nya kesialan kita benar-benar belum berakhir" harry berbisik sangat pelan. Hermione hanya tersenyum lemah bingung menanggapi kalimat harry, harus tertawa atau menangis dia tidak tahu tetapi dia tetap duduk juga di tempatnya.
(***)
"tok..tokk" riddle tersadar dari lamunannya. Ia dari tadi memang tidak memperhatikan pelajaran, karena percuma saja ia memperhatikannya. Pelajaran transfigurasi merupakan pelajaran yang paling di bencinya. Sebenarnya bukan pelajarannya yang dia benci, tetapi pengajarnya lah yang dia benci. Sesempurna apapun ia berada di kelas ini tetap saja tidak akan di perhatikan oleh professor sialan itu. Tak lama kemudian muncul dua orang anak konyol yang dating terlambat.
Si pria harus sedikit menarik si gadis agar mau masuk. Sungguh konyol sekali si gadis Dumbledore itu. 'seharusnya dia melihat wajah konyolnya itu' sebuah garis tipis tersungging di bibirnya.
"maaf kan kami prof, kami tadi tersesat" riddle mendengar dengan jelas bahwa yang di katakannya itu kebohongan besar, riddle melihat kedua anak itu meringis bodoh. 'benar-benar tidak punya bakat berbohong' riddle mendengus tertahan.
"silahkan duduk kalau begitu. Aku tidak akan mengusir atau memotong poin kalian. Tetapi kalau lain kali masih terulang kalian harus menerima konsekuensinya" professor itu percaya dan mengatakannya dengan lembut dan tenang. 'kalau aku ada di posisi mereka pasti berbedalah -benar pilih kasih,sial!' riddle tadi hampir saja terlambat. Ketika dia masuk tadi tepat sekali dengan masuknya professor Dumbledore.
"akan kami ingat. Terimakasih professor" flamel menjawabnya dan tampak senang. Riddle melihat mereka berdua sedang memandang sekeliling mencari bangku yang kosong. Tepat di depan matanya riddle melihat seseorang melambai-lambaikan tangannya konyol. 'cih, ternyata potter dan lupin. Mereka satu kelompok ? benar-benar kelompok yang luar biasa konyolnya kalau begitu' mereka berdua berjalan mendekat ,si gadis bersiap duduk dan agak sedikit berjengit ketika melihat yang duduk di belakangnya adalah riddle. 'ekspresi macam apa itu ?' umpatnya dalam hati. Riddle melihat si flamel membisikkan sesuatu dan dijawab senyuman aneh oleh si gadis Dumbledore. 'apa yang dia bisikkan ?sial !apakah mereka membicarakanku ?' benar-benar dua orang aneh itu membuatnya frustasi, terutama si gadis Dumbledore itu. Tanpa alasan yang jelas riddle benar-benar tidak menyukainya.
Professor Dumbledore melanjutkan pelajarannya yang tadi sempat tertunda. Dan riddle pun kembali ke aktifitasnya sebelumnya yaitu melamun menatap keluar jendela. "seperti yang sudah kita bahas sebelumnya tadi. Hari ini kita akan mempelajari tentang inanimate to animate transfiguration. Ada yang tahu apa itu ?" Tanya nya kepada seluruh kelas. Riddle tahu apa itu tapi dia sangat malas untuk mengangkat tangan. Percuma pasti tidak akan di anggap.
'anak-anak di kelas ini bodoh. Mereka pasti tidak tahu apa itu. Ya apa boleh buat....' Dengan enggan Riddle mengangkat tangannya.
"ya, silahkan mr flamel" riddle tersentak kaget. Dia sama sekali tidak memperhatikan dan dia seharusnya sadar dua anak baru ini bukan anak yang biasa. Pasti salah satu diantara mereka anak yang cerdas mengingat latar belakang keluarga mereka adalah ilmuan besar.
(***)
"inanimate to animate transfigurasion adalah praktek transfigurasi yang sangat rumit, yaitu mengubah benda mati menjadi makhluk hidup. Ini adalah pekerjaan yang sulit dan apabila di telaah dengan kasar praktik sihir ini seolah-olah mematahkan hukum alam dimana kita bisa menciptakan kehidupan. Padahal sebenarnya itu tidak benar. Karena semua itu sudah di atur dalam hukum GAMP pada poi" harry menjelaskan secara terperinci. Ia sebenarnya malas ingin menjawab tapi mengingat statusnya adalah anak dari Nicholas flamel sang ilmuan yang luar biasa jadi dia tidak bisa bersantai-santai. Dia tidak ingin merusak citra sang 'ayah' yang ilmuan besar tetapi memiliki anak yang luar biasa bodoh. Harry melihat Hermione memicingkan matanya.
"maaf Hermione, tapi aku tidak boleh merusak citra 'ayah'ku yang ilmuan" harry hanya meringis melihat ekspresi Hermione yang seperti itu. Seolah-olah harry telah mematahkan cap yang sudah melekat pada dirinya yaitu 'nona yang tahu segalanya'.
"iya jawaban yang tepat 10 untuk Gryffindor. Benar seperti yang sudah dikatakan mr. flamel bahwa inanimate to animate transfigurasion salah satu praktek transfigurasi yang sangat rumit, membuat benda mati menjadi makhluk hidup memang sangatlah sulit. Selain itu dianatara kalian ada yang tau tidak apa itu hukum GAMP yang dimaksud?" Tanya pada seluruh kelas. Kali ini Hermione lah yang mengangkat tangannya.
"jadi hukum GAMP yang dimaksud adalah point pertama yang berbunyi: benda hidup. Benda dapat dihidupkan, membawa kehidupan pada obyek tak bernyawa, tetapi mantra pada obyek tersebut akan menghilang dalam jangka waktu tertentu. Berlandaskan hukum tersebut bisa kita praktekan bukanlah menciptakan kehidupan, akan tetapi hanya merubah satu objek menjadi imitasi makhluk hidup. Dimana imitasi tersebut bersifat tidak permanen." Hermione benar-benar menjelaskan sesuai yang ada di buku bahkan titik koma nya pun sesuai. George dan Thomas memandang mereka berdua kagum.
"sempurna, 10 lagi untuk Gryffindor. Benar seperti yang dikatakan oleh miss Dumbledore. Namun mungkin kita masih bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang tidak hidup bisa bergerak apabila mereka tida memiliki nyawa ?hal itu sangat mudah di jelaskan , ketika kita mengubah suatu benda menjadi hidup, kita tidak bisa melepaskan arah tongkat sihir kita ke objek yang di mantrai artinya arah tongkat sihir ita harus tetap teracung kea rah objek yang kita mantrai , apabila tongkatsedikit saja berubah arahmaka objek akan mati. Yang menggerakkan benda tersebut adalah sihir itu sendiri. Apabila sihir pada benda itu berkurang atau menghilang maka benda tersebut akan kehilangan kehidupannya. Tetapi ada juga beberapa penyihir yang luar biasa bisa menggunakan sihir ini tanpa tongkat. Seperti menggerakkan baju zirah untuk berperang sedangkan si penyihirnya hanya bersantai. Itu tidak lah mudah, harus mengguanakn konsentrasi yang luar biasa serta pengalaman dan pendalaman sihir yang baik. Hari ini kita akan mempeajari mantra Pavo" Hermione tidak tahu tentang mantra ini, ia langsung menoleh kearah harry yang sepertinya sama juga dengannya tidak mengerti tentang mantra ini.
"ada yang tahu bagaimana cara kerja mantra ini ?" Hermione hanya menunduk, untuk pertama kalinya ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari professor. Dia mengutuk dirinya keras-keras dan berjanji untuk segera pergi ke perpustakaan setelah ini. Ternyata banyak sekali hal yang berbeda dengan yang ada di zamannya.
"sepertinya belum ada yang pernah dengar dengan mantra ini. Mantra pavo adalah mantra untuk mengubah benda mati menjadi burung merak." Professor Dumbledore membagikan bulu secara sihir dan di bagikan kepada setiap anak yang ada dikelas.
"Ayo kita akan mulai mempraktikkan nya hari ini. Penilaian sesuai dengan bentuk, corak dan warna dari burung merak tersebut" baru saja professor menyelesaikan kaliamatnya terdengar suara huuu keras yang keluar dari mulut setiap anak.
"ini benar-benar pelajaran yang rumit. Aku harus memulainya dari mana ?" Hermione mendengar celotehan George. Sedangkan Thomas hanya diam dan siap-siap untuk mulai praktik. Anak-anak di kelas lainnya pun sama seperti George yang hanya mengeluh. Hermione memandang sekeliling dan tanpa sengaja melihat kea rah riddle yang baru disadarinya bahwa ia hanya duduk sendiri di sana. Dan dia hanya memandang keluar bahkan tidak mengeluarkan tongkatnya. Riddle sepertinya sadar kalau Hermione sedang memperhatikannya. Ia menoleh dan mengangkat alisnya seolah-olah mengatakan 'ada apa ?' . Hermione buru-buru melihat kearah yang lainnya.
"bruukk !" suara seperti benda jatuh sangat dekat dengan Hermione. Hermione memandang sekeliling dan mendapati harry sudah tak sadarkan diri di lantai.
"harry ! harry ! bangunlah harry !" Hermione benar-benar khawatir melihat keadaan sahabatnya itu. Langsung saja seluruh kelas menghentikan kegiatannya dan melihat kearah harry. Professor Dumbledore setengah berlari segera menghampiri. Ada bercak darah di beberapa bagian tubuh harry sepertinya luka-luka di tubuh harry yang masih basah terbuka lagi.
Tanpa bertanya lagi professor Dumbledore memanggil tandu dengan sihir dan meletakkan harry di atas tandu tersebut. "semua nya tenang ! aku akan membawa mr flamel ke rumah sakit. Aku harap kalian menyelesaikan mantra kalian. Nanti aku akan kembali lagi dan menilai hasil kalian." Professor Dumbledore segera pergi membawa harry kerumahsakit.
"apa yang terjadi dengannya ?" Hermione meneteskan air matanya. Dia benar-benar tidak tahan. Harry adalah satu-satu nya bukti bahwa dia berasal dari masa depan. Kalau terjadi apa-apa dengannya dia tidak tahu harus berbuat apa.
"tenang Hermione. tadi harry mengacungkan tongkatnya kearah bulu itu. Tapi tiba-tiba saja dia terjatuh" George memang dari tadi tidak melakukan apapun. Ia malas berusaha membuat bulu itu berubah dan memutuskan untuk melihat hasil kerja Thomas dan harry.
"cih. Ternyata dia benar-benar bodoh. Sampai-sampai dia pingsan ketika akan mencoba mantra yang sederhana seperti ini" terdengar ocehan datar di belakang mereka yang merupakan ocehan dari riddle.
"tutup mulutmu !" Hermione membentak. Dia benar-benar tidak takut sama sekali saat ini dengan voldemort muda. Yang ia takutkan saat ini hanya keadaan harry. Banyak sekali gadis yang menoleh tidak terima mendengar ada yang membentak pangeran mereka. Riddle hanya tersenyum santai seolah-olah ia tidak melakukan dosa apapun dan memasang wajah 'apa masalahmu' Hermione berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Hermione mau kemana ?profesor Dumbledore bilang kita harus menyelesaikan mantra bulu ini." Thomas mengingatkan Hermione. tetapi Hermione yang memang sedang kalut tidak mendengar lagi.
__ADS_1
"aku akan kerumah sakit melihat kondisi harry" katanya dengan nada penuh amarah.
(***)
Hermione melangkahkan kakinya dengan cepat. Ingin sekali langsung sampai di rumah sakit, ntah karena ingin segera menemui harry atau ingin jauh-jauh dari voldemort muda sekarang juga. Ia berjalan dalam diam hanya terdengar suara sepatunya dan nafasnya yang saling memburu. Sepanjang jalan ia tidak menjumpai siapapun. Bertanya-tanya adakah filch di zaman ini. Kalau ada pastilah dia sudah kena detensi saat ini karena keluar kelas pada jam pelajaran. Beberapa menit kemudian sampailah dia dirumah sakit. Ia langsung membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Hermione melihat harry masih berbaring di salah satu ranjang yang tersedia. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju khusus rumah sakit. Di sebelah ranjang duduk professor Dumbledore dan madam pomfrey yang sedang berbincang serius.
"maaf professor aku tiba-tiba dating kemari. Bagaimana keadaan harry ?" suara Hermione sedikit bergetar karena ia sadar bahwa keadaan harry buruk. "jangan khawatir. Ia sedang tidur. Madam pomfrey berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan lukanya. Madam pomfrey juga sudah memberikan ramuan untuk meminimalisir rasa sakit yang di deritanya." Jelas professor panjang lebar.
"sebenarnya ada apa dengan nya prof ?" Tanya Hermione mulai memandang wajah sahabatnya yang sedang berbaring tenang. Ia masih bisa melihat dada nya naik turun yang menandakan bahwa harry masih hidup.
"sebenarnya itu lah yang ingin ku tanyakan padamu, madam pomfrey bisakah anda meninggalkan kami disini ? hanya untuk beberapa menit saja" madam pomfrey dengan enggan mengangguk setuju.
"tapi jangan lama-lama, aku tidak ingin kalian mengganggu istirahat pasienku" katanya sambil meninggalkan mereka berdua. Hermione mengambil kursi dan duduk di sebelah professor Dumbledore.
"muffliato" gumam Hermione sambil mengibaskan tongkatnya pelan kesekeliling mereka berdua.
"apa itu ?" Tanya professor Dumbledore bingung.
"eh ? mantra supaya tidak ada yang bisa mendengar perbincangan kita. Apa belum ada di zaman ini ?...astaga benar, mantra itu akan muncul beberapa tahun lagi seharusnya." kata Hermione tersipu.
"Tapi kurasa itu mantra yang sangat berguna, baiklah langsung saja kita bahas...." Professor Dumbledore dan Hermione menoleh. Dilihatnya harry sudah membuka matanya. Hermione menonaktifkan mantranya dan segera saja menghambur ke pelukan harry.
"dimana ini ?" Tanya harry bingung, dia tidak bisa melihat apapun dengan jelas karena tidak mengenakan kacamata.
"di rumah sakit. harry ada apa denganmu ?" Tanya Hermione terharu. Hermione mengenakan kacamata harry agar harry bisa melihat jelas.
"aku juga tidak tahu kenapa..sebentar, dimana tongkat ku ?" harry mencari-carinya dan menemukan di sebelahnya.
"muffliato" bisiknya sambil mengibaskan tongkatnya.
"untuk jaga-jaga. Aku tidak ingin ada yang mendengar"jelas harry dengan wajah tampak serius.
"mione, apakah kamu sudah pernah menggunakan sihirmu di jaman ini ?" Tanya harry yang membuat Hermione bingung. Professor Dumbledore hanya terdiam tidak memberikan komentar atau reaksi apapun.
"ada apa memangnya ?" Tanya Hermione bingung.
"aku tadi di kelas sedang berkonsentrasi untuk mentransferkan sihirku supaya bulu tadi berubah. Tetapi tiba-tiba saja ada sihir aneh di dalam tubuh ku. aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak tahu dari mana asal sihir itu. Tiba-tiba saja tubuhku terasa perih dan aku sudah tidak sadar lagi. Apakah ini merupakan efek dari perbedaan waktu ? aku tadi mencobanya dengan mantra sederhana, peredam suara. Tetapi aku tidak merasakan sihir aneh itu lagi." Jelasnya. Tiba-tiba suasana hening. Tak ada satupun yang berkomentar. Semuanya Nampak berfikir keras apa sebenarnya yang terjadi.
"aku akan mencobanya. Aku akan membuat gelas ini berubah menjadi tikus" jelasnya. Hermione mengambil gelas yang ada di meja dia menimang-nimang sejenak dan meletakkannya kemballi. Ia melafalkan mantranya dan mulai berkonsentrasi untuk merubah gelas itu menjadi tikus. Benar saja tiba-tiba ada sihir aneh yang ada di dalam tubuhnya, Hermione berkonsentrasi lebih keras lagi tidak mau kalah dengan sihir aneh di dalam tubuhnya. Ia berusaha mengendalikan sihir aneh itu tapi sulit sekali. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Tubuhnya terasa lemas dan akhirnya sihirnya terputus. Hermione mengatur nafasnya, lelah sekali rasanya seperti habis lari marathon berkilo-kilo meter.
"miss anda tidak apa-apa ?" Tanya professor Dumbledore. Harry pun Nampak sangat khawatir melihat keadaan sahabatnya itu. Beruntungnya Hermione tidak seburuk harry dalam menghadapi sihir aneh itu. Mungkin karena luka Hermione sudah hampir sembuh total sehingga tubuhnya tidak begitu menanggung beban yang berlebihan.
"aku merasakan hal yang sama harry. Sihir aneh itu begitu kuat. Apa mungkin sihir kita tersegel karena perbedaan zaman ini ?" professor Dumbledore memijit-mijit pelipisnya. Sepertinya ia sama bingungnya dengan harry dan Hermione.
"lalu kalau ada hal yang mendesak apa yang harus kita lakukan ? sihir sederhana seperti ini saja kita tidak bisa melakukannya. Padahal disini terlalu berbahaya" harry membayangkan hidup di tempat yang sama dengan voldemort muda dan tidak bisa melakukan sihir apapun itu namanya sama saja dengan bunuh diri.
"apakah hidup disini benar-benar berbahaya ? apakah itu ada hubungan dengan keterlambatan kalian yang hampir berbarengan denga mr riddle ?" pertanyaan professor Dumbledore nyaris terdengar dengan sebuah pernyataan daripada pertanyaan .
"bolehkah aku membunuhnya ?"
"harry !" hermione berteriak histeris.
"aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya dimasa depan mr. tapi kurasa bukan tindakan yang bijak merubah masa depan dengan menjadi seorang pembunuh . Lalu apa bedanya dirimu dengan dirinya ?"suara professor Dumbledore tetap tenang, dia bahkan tidak marah sama sekali mendengar pernyataan harry tersebut
(TBC)
__ADS_1