Harry Potter : Lost In 1943 (Tomione)

Harry Potter : Lost In 1943 (Tomione)
chp 7


__ADS_3

(hermione POV)


Aku


dan kedua rekanku - Thomas dan george turun ke aula untuk makan siang.


Pelajaran ramuan tadi sungguh melelahkan. Aku kembali teringat moment


dimana aku benar-benar kesal pada harry sebab ia membuat ramuan nya


sempurna karna mendapat bantuan dari Half-blood prince. Tapi saat ini,


aku malah ikut terbantu oleh pangeran itu, dan senang sekali mengingat


wajah terkejut Tom tadi. Tanpa sadar senyum kecil tersungging dari bibir


ku. Ntah karena aku teringat akan moment indah di masa ku, atau karena


aku menang dari tom yang angkuh itu.


Pintu


besar menuju aula masih beberapa langkah lagi, tetapi dari kejauhan


sudah tercium aroma kentang goreng, sosis goreng dan harum yang manis


dari berbagai macam cake. Aahhh perutku semakin melilit di buatnya.


"kita


disana saja" kata thomas ketika kami sudah sampai di aula, ia menunjuk


tempat yang paling ujung di meja gryffindor. Memang hanya itulah


satu-satunya tempat yang kosong. Sepertinya jam makan siang kali ini


tidak ada yang berniat untuk datang telat.


Meja


panjang ini sudah berisi banyak sekali makanan. Aku sudah benar-benar


kelaparan sehingga aku hanya mengambil saja apa yang ada di depanku -


ayam goreng, kentang tumbuk dan sup yang mengepulkan asap tipis. Tak


lupa aku mengisi pialaku dengan jus labu penuh-penuh.


"astaga


! apa bukit di belakang kastil sudah berpindah ke piring mu george ?"


aku mendengar teriakan mengerikan dari seorang gadis gryffindor yang


belum pernah aku lihat sebelumnya.


"urusi saja urusan mu !" hardik george kesal yang berhasil membuat thomas terpingkal-pingkal.


"percayalah padaku. Gadis itu benar-benar menyukaimu" kata thomas masih dalam tawanya ketika gadis itu sudah menjauh.


"ada apa ?" tanyaku tak mengerti dengan apa yang merek perdebatkan.


"gadis itu. Siapalah namanya..."


"evelyne brown !" kata thomas menyela


"aku tak peduli ! pokoknya dia ! aku tak tahu ada apa dengan nya , dia selalu saja mencampuri segala urusanku..."


"sudah ku katakan dia menyukaimu !" thomas memotongg kalimat george sekali lagi dan membuatnya semakin naik pitam.


"astaga.


Apa kalian tidak bisa tenang ketika sedanang makan ? sudahlah, itu


bukan hal yang penting untuk di bahas kan ?" kataku kesal yang membuat


thomas dan george melongo, agak menyesal juga menanyakan hal konyol yang


akan membuat perdebatan mereka semakin panjang.


"cepat


habiskan makan kalian dan kita pergi menjenguk harry"tambah ku dan


mereka berdua langsung mengangguk senang. Bagi mereka harry sudah


seperti sahabat mereka sendiri bahkan saat ini harry akan menjadi


pahlawan mereka. Karena setelah harry sembuh ia akan bergabung pada tim


quidditch asrama dan di harapkan membawa kemenangan bagi gryffindor.


Aula


sudah mulai kosong karena kebanyakan dari mereka pergi untuk pelajaran


berikutnya dan sebagian lainnya memilih untuk pergi ke perpustakaan


untuk mengerjakan tugas atau sekedar bersantai di asrama mereka


masing-masing. aku di temani thomas dan george langsung melesat ke arah


rumah sakit untuk menjenguk harry. Tak membutuhkan waktu lama kami sudah


sampai di rumah sakit.


"harry


? apakah kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit hari ini ?" tanyaku


bingung, harry sudah turun dari kasurnya dan sudah mengenakan seragamnya


lagi.


"seperti yang kamu lihat"jawab nya sambil tersenyum.


"akhirnya !" seru kami berbarengan yang langsung membuat madam pofrey mendelik kesal.


"mione,


ada yang ingin ku diskusikan padamu" bisik harry ketika kami sudah


sampai di asrama. Ingin sekali mungucapkan mantra kedap suara tetapi itu


pasti akan membuat thomas dan george curiga.


"keluar


saja" saran ku. Kami pun berdiri hendak meninggalkan ruang rekreasi dan


mencari tempat yang sekiranya aman untuk berdiskusi.


"kalian mau kemana ?" tanya george yang sedang menyusun bidak-bidak catur di papannya.


"ah


tadi profesor dumbledore memanggil kami. Aku baru ingat" jawab harry


santai. Mereka pun hanya mengangguk saja dan sudah memulai permainan


catur mereka.


"jadwal kita selanjutnya pukul 2.30. - jika kalian lupa" tambah thomas yang masih berkonsentrasi dengan lajur bidaknya.


"baiklah kami akan mengingatnya sampai bertemu lagi di kelas..."


"pertahanan


terhadap ilmu hitam. Jangan sampai salah arah lagi" oceh mereka untuk


terakhir kalinya. Karena setelah itu potret nyonya gemuk sudah menutup


dan membuat kami yang berada di luar tidak bisa mendengar apapun lagi


kejadian atau suara yang ada di dalam ruang rekreasi.


Kami


berjalan dalam diam. Menyusuri lorong yang satu dan lorong yang


lainnya, melihat-lihat kelas mencari tempat yang aman untuk berbicara.


"sudahlah


harry disini saja" kata ku sudah mulai lelah. Kami berhenti di sebuah


lorong yang benar-benar sepi bahkan tak ada satu pun hantu yang


berkeliaran di tempat ini.


"muffliato" bisikan mantra keluar dari bibir tipis harry.


"aman. Begini, aku merasa kesulitan dengan sihir yang ada di tubuh ini" jelas harry membuka diskusi kami.


"ya.." aku terdiam mempersilahkan harry untuk melanjutkn apa yang mengganjal di fikirannya.


"aku


rasa kita perlu berlatih. Maksudku, kita butuh penyesuaian diri dengan


sihir asing ini. Jika tidak kita pasti akan kesulitan. Kamu tau tempat


ini terlalu berbahaya" penjelasan harry sangat masuk akal. Dari pada


hanya memikirkan dari mana sihir ini berasal, lebih baik mulai


menjinakkannya saja, sambil berjalan sambil difikirkan dari mana sihir

__ADS_1


ini berasal. Mungkin itu lebih efisen. Aku mengangguk setuju dengan apa


yang di kemukakan oleh harry.


"kalau begitu kita harus mencari tempat untuk berlatih" kataku.


"kamar


kebutuhan sepertinya di pakai oleh Riddle dan para pengikutnya.


Bagaimana dengan hutan terlarang ?" kata harry kedua kali nya aku


mengangguk setuju dengan ide harry.


"hey hey lihat siapa ini ? seperti nya kau benar-benar anak nicholas flamel !" canda ku yang membuat kami tertawa.


Setalah


berdiskusi panjang, kami segera pergi menuju kelas karena 15 menit lagi


pelajaran akan di mulai. Sepanjang koridor masih terlihat beberapa


siswa yang sudah di tahun ke tujuh duduk di kursi-kursi yang ada dengan


buku-buku tebal mereka.


"kasihan


sekali tahun ke tujuh di jaman ini ya mione" kata harry memperhatikan


mereka. Ini lah salah satu letak perbedaan kurikulum yang ada di jaman


ini dengan yang ada di jaman kami. Di jaman ini anak tahun ke tujuh


benar-benar tiada hari tanpa belajar. Mereka sudah di persiapkan untuk


karir ke jenjang berikutnya. Mereka pun tidak di perboleh kan masuk ke


dalam organisasi apapun dan tidak boleh menjabat apapun. Membosankan


sekali kehidupan mereka. Pantas saja kurikulum tersebut di ubah. Mungkin


anak tahun ke tujuh banyak sekali yang stress di jaman ini. Lihat saja


wajah mereka benar-benar kusam dan pucat, rambut mereka benar-benar


tidak beraturan lagi bahkan beberapa siswa mengenakan kaca mata mungkin


mata mereka pun sudah ikut lelah. Bayangkan yang tampak luar saja sudah


lelah semua bagaimana yang di dalam tubuh mereka. Aku sudah tidak bisa


membayangkannya. Aku tidak ingin masih ada disini ketika di tahun ke


tujuh. Untunglah kami meminta untuk berada di tahun ke enam. Kalau kami


mengikuti kelas yang seharusnya - tahun ke 7,mungkin bukannya mencari


jalan untuk kembali ke jaman kami malah terjebak disini selamanya.


Kami


pun melnjutkan berjalan menuju aula untuk mengikuti pelajaran


pertahanan terhadap ilmu hitam. Minggu lalu profesor Galatea


Merrythought mengatakan akan praktik sehingga kelas di pindahkan ke aula


besar.


"wah sudah ramai sekali" aku bergumam ketika sudah sampai di aula.


"harry


lebih baik kita berpasangan saja. Karena sihir kita di jaman ini belum


lah sempurna" bisikku. Harry pun mengangguk setuju.


"selamat


siang kelas !" suara dengungan kelas berangsur-angsur menghilang karena


Profesor merrythoughts sudah datang. Sejauh ini hanya ada dua guru PTIH


saja yang berkompeten. Yaitu profesor merrythought dan profesor lupin.


Aku heran ada masalah apa sampai profesor merrythought tidak mengajar


lagi. Mungkin beliau pensiun dini. Atau mungkin karena rahasia jaman ini


belum ku ungkap sepenuhnya.


"hari


ini kita hanya belajar melucuti senjata. Dan mempertahankan diri.


melucuti senjata. Tidak ada penyerangan serius !" profesor merrythought


berbicara dengan segala penekanan pengucpan di sana sini. Kelas langsung


berubah seperti sekumpulan lebah lagi. Aku sudah menemukan partner


terbaik ku - yang sudah di duga thomas berpasangan dengan george. Aku


melihat masih banyak anak yang belum memiliki pasangan.


"aku dengan mu ya !" kata anak perempuan berambut pirang.


"tidak


mau. Aku tidak mau masuk rumah sakit hari ini" jawab yang diajak


bicara. Aku hanya tersenyum saja melihat mereka semua. Tak sengaja mata


ku terarah ke pangeran kegelapan. Dan tak disangka ia pun sedang melihat


ke arah kami. Tahu aku sedang mentapnya ia langsung memamerkan senyum


manisnya itu, yang bukannya membuat ku terpesona malah membuat ku


merinding. Tak mau cari masalah dengan nya aku pun mengalihkan pandangan


ku dari nya.


Dengan


bantuan dari profesor merrythought yang berteriak di sana-sini akhirnya


kelas pun di mulai. AkuĀ  memegaang tongkat ku erat-erat dan mulai


berkonsentrasi. Benar saja sihir asing itu mulai menjalar diseluruh


tubuh ku. Aku melihat harry sekilas keringat sudah mulai bercucuran di


dahinya. Seperti nya ia pun kesulitan mengendalikan sihir aneh itu.


"jangan segan-segan ayo lucuti senjata lawan mu !" kata profesor merrythought nyaris berteriak.


(RiddlePOV)


Kelas


pertahanahan terhadap ilmu hitam kali ini seperti nya menarik. Jarang


sekali pelajaran ini praktek. Sesampainya aula besar mata ku langsung


menyapu ruangan. Astaga bagaimana bisa ada sekumpulan manusia seperti


ini. Kurasa gedung ini bisa runtuh karena kebisingan mereka yang luar


biasa. Aku berjalan menuju anak-anak slytherin lainnya yang berada di


paling kanan.


"hay tom" sapa rose dengan manja. Ingin sekali aku melempar kutukan padanya saat ini.


"hay


rose" aku tersenyum yang membuat nya semakin girang menjijikan.


Sudahlah abaikan saja dia. Aku pun berjalan menjauh dari nya.


"selamat


siang kelas !" kelas berangsur-angsur mulai tenang. Profesor


merrythought memulai pelajarannya. Tapi tak sampai semenit mereka semua


sudah kembali lagi menjadi sekawanan lebah yang brisik. Profesor


merrythought mulai menjelaskan di depan kelas. Aku hanya menyimaknya


sekilas. 'ah pasti peraturan seperti biasanya' aku mengalihkan


pandangan ku arah gryffindor sialan itu, dumbledore dan flamel


berpasangan ? sudah ku duga. Kita lihat sihir apa yang akan mereka


lakukan nanti. Ah ! si dumbledore melihat ke arah ku. Aku akan


memamerkan senyum termanisku, tapi apa itu ? responnnya di luar dugaan,


ia menatap ku penuh rasa kengerian yang lebih di bandingkan biasanya,


dan aku di acuhkannya - lagi.. Aku meihat ke arah rekannya, ternyata ia


memandang ke arah ku. Aku pun memamerkan senyum ku lagi seperti biasanya

__ADS_1


tetapi ia hanya menatapku saja,tatapan yang aku tidak bisa tafsirkan


sebenarnya apa yang ia fikirkan saat ini. Aku heran sebenarnya apa


salahku pada mereka ? sejak pertama bertemu sikap mereka sudah aneh


seperti itu. Apakah mereka menyatakan perang padaku ? kalau begitu aku


akan menerimanya dengan senang hati.


"malfoy, kamu akan dengan ku" kataku mulai melupakan mereka dan fokus untuk menyerang malfoy.


"jangan


segan-segan ayo lucuti senjata lawan mu !"tenang profesor aku tidak


akan pernah segan untuk melucuti lawanku. Aku menyeringai yang membuat


malfoy semakin ketakutan. Mantra-mantra sederhana dengan tanpa


pengucapan langsung saja menyerang malfoy. 'melucuti ?jangan bercanda' puas dengan bermain-main dengan malfoy aku tertarik untuk melihat pasangan bodoh itu. Aku


terkejut melihat mereka, apa yang mereka lakukan ? mereka tampak


berkonsentrasi penuh tetapi tak ada satupun mantra yang keluar. Satu


menit berlalu, sepuluh menit berlalu bahkan hingga pelajaran berakhir


tak ada satupun mantra yang keluar. Tapi anehnya mereka tampak sangat


kelelahan. Apakah mereka sebenarnya sangat bodoh ?apa tak ada satupun


mantra yang bisa mereka lakukan ? astaga ! jangan-jangan mereka hanya


bagus dalam teori dan nol dalam mempraktikkannya ! apa guna teori-teori


itu jika tak ada satupun yang dapat di praktekan ? aku tersenyum sinis


melihat kebodohan mereka itu. Setelah profesor merrythought menutup


kelas hari ini aku langsung berlari untuk mengikuti pasangan sialan itu.


"aku


mau melakukannya sekarang. Apakah kamu siap ?"tanya si flamel dan di


jawab anggukan lemah oleh dumbledore. Apa maksudnya ? itu sungguh


membuat ku semakin penasaran, apakah mereka akan melakukan sesuatu yang


menjijikkan?aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Mereka


terus berjalan menjauhi kastil, kenapa mereka tidak mengobrol ? mungkin


aku bisa mendapatkan sesuatu dari apa yang mereka obrolkan. 'sial!' umpatku


dalam hati, mereka semakin jauh meninggalkan kastil dan semakin


mendekati hutan terlarang. Apa yang akan mereka lakukan disana ? atau


mereka mencari sesuatu yang mereka sembunyikan disana ? sudahlah jangan


berasumsi sendiri malah membuatku pusing lebih baik ikuti saja dan lihat


sendiri.


"sepertinya kita lakukan disini saja mione" kata flamel.


"apakah


tidak apa disini ? bukan kah lebih baik kita memberitahukan saja pada


profesor dumbledore ?" kata gadis semakin penasaran saja dengan apa yang


akan mereka lakukan, jika ini berhubungan dengan profesor sialan itu


pasti ini merupakan hal yang menarik bukan ?


"mione,


profesor sedang sibuk seharusnya kau tau itu. Lagi pula mungkin ia akan


mempersiapkan diri untuk melawan grindelwald. Bukan kah seharusnya


begitu." Gadis dumledore itu hanya menunduk saja sepertinya mereka


sedang melalui masa-masa sulit saat ini.


"lagi pula..." si flamel masih terus akan berbicara.


"maaf


kan aku, saat ini aku belum percaya sepenuhnya kepada profesor


dumbledore, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tetapi masa


lalu profesor dumbledore tidak lah sebaik yang kita bayangkan. Ia di


butakan oleh ilmu pengetahuan. Aku tidak tahu mungkin saja bukan nya di


bantu. Aku merasa malah menjadi kelinci percobaannya. Maafkan aku mione"


aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tawa akibat apa yang di


ucapkan oleh flamel itu. Flamel ternyata tahu kebenarannya bahwa


dumbledore adalah orang yang licik. Lihat itu wajah keponakannya,


sepertinya ia terpukul sekali mendengarkan apa yang kekasihnya ucapkan.


Tunggu dulu ! apakah mereka benar-benar sepasang kekasih ?lupakan !


Aku


terus mengamati mereka, sebenarnya aku sudah bosan tapi aku tidak ingin


melewati apapun. Sepanjang pengamatanku mereka hanya berlatih


sihir-sihir dasar dan sepertinya mereka sangat kesulitan. Benar dugaan


ku, mereka hanya bagus dalam teori saja. Aku memutuskan untuk pergi saja


sampai akhirnya aku mendengar obrolan mereka.


"apakah jika kita selamat aku masih bisa bertemu Ron ?" tanya gadis itu dengan suara nya yang getir.


"aku


harap ia masih tetap mencintaiku meskipun ada yang berubah"tak tahu


kenapa ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku ketika ia mengucapkan


kalimat itu. Apa ini ? mungkin aku sudah terlalu lelah dan otot-otot ku


sudah mulai kaku karena berada di posisi yang sama berjam-jam lamanya.


Lebih baik aku benar-benar pergi saat ini.


Tak


jauh aku melangkah meninggalkan mereka berdua aku melihat sebuah


Phoenix melewati ku. Bukan phoenix biasa, phoenix putih bercahaya - ini


adalah patronus.


"mione


! kamu berhasil ! - phoenix ?kenapa patronus mu berubah ? bukan nya itu


patronus profesor dumbledore ?" suara flamel menyadarkan ku. Aku


benar-benar terkejut ada anak tahun ke enam bisa membuat patronus yang


sempurna seperti itu.


"eh


tapi milikmu ekornya lebih panjang. Ini benar-benar indah. Dan - apakah


kamu baik-baik saja mione ?" benar saja, gadis itu dalam keadaan yang


lebih memprihatinkan, wajahnya nampak lebih pucat dari sebelumnya dan


keringat bercucuran membasahi poninya yang membuatnya menjadi lepek.


Mungkin ia terkejut atau mungkin saja mengeluarkan sihir yang besar


seperti itu memang menguras tenaganya.


"ada


seseorang di sekitarsini !"patronus itu berbicara sebelum menghilang.


apa ? apa itu ? patronusnya bisa berbicara ? itu bukan pesan yang di


kirimkan orang lain kan ? tapi kenapa patronus bisa berbicara seperti


itu ? aku melihat mereka berdua sama terkejutnya dengan ku. Sekilas aku


ingin melarikan diri tapi bukan Tom Riddle namanya jika aku melarikan


diri. Baiklah aku akan menampakkan diri ku di hadapan mereka, mereka


pasti akan ketakutan. Seringai menghiasi wajahku. Tapi... kemana mereka ?


- TBC

__ADS_1


__ADS_2