
(hermione POV)
Aku
dan kedua rekanku - Thomas dan george turun ke aula untuk makan siang.
Pelajaran ramuan tadi sungguh melelahkan. Aku kembali teringat moment
dimana aku benar-benar kesal pada harry sebab ia membuat ramuan nya
sempurna karna mendapat bantuan dari Half-blood prince. Tapi saat ini,
aku malah ikut terbantu oleh pangeran itu, dan senang sekali mengingat
wajah terkejut Tom tadi. Tanpa sadar senyum kecil tersungging dari bibir
ku. Ntah karena aku teringat akan moment indah di masa ku, atau karena
aku menang dari tom yang angkuh itu.
Pintu
besar menuju aula masih beberapa langkah lagi, tetapi dari kejauhan
sudah tercium aroma kentang goreng, sosis goreng dan harum yang manis
dari berbagai macam cake. Aahhh perutku semakin melilit di buatnya.
"kita
disana saja" kata thomas ketika kami sudah sampai di aula, ia menunjuk
tempat yang paling ujung di meja gryffindor. Memang hanya itulah
satu-satunya tempat yang kosong. Sepertinya jam makan siang kali ini
tidak ada yang berniat untuk datang telat.
Meja
panjang ini sudah berisi banyak sekali makanan. Aku sudah benar-benar
kelaparan sehingga aku hanya mengambil saja apa yang ada di depanku -
ayam goreng, kentang tumbuk dan sup yang mengepulkan asap tipis. Tak
lupa aku mengisi pialaku dengan jus labu penuh-penuh.
"astaga
! apa bukit di belakang kastil sudah berpindah ke piring mu george ?"
aku mendengar teriakan mengerikan dari seorang gadis gryffindor yang
belum pernah aku lihat sebelumnya.
"urusi saja urusan mu !" hardik george kesal yang berhasil membuat thomas terpingkal-pingkal.
"percayalah padaku. Gadis itu benar-benar menyukaimu" kata thomas masih dalam tawanya ketika gadis itu sudah menjauh.
"ada apa ?" tanyaku tak mengerti dengan apa yang merek perdebatkan.
"gadis itu. Siapalah namanya..."
"evelyne brown !" kata thomas menyela
"aku tak peduli ! pokoknya dia ! aku tak tahu ada apa dengan nya , dia selalu saja mencampuri segala urusanku..."
"sudah ku katakan dia menyukaimu !" thomas memotongg kalimat george sekali lagi dan membuatnya semakin naik pitam.
"astaga.
Apa kalian tidak bisa tenang ketika sedanang makan ? sudahlah, itu
bukan hal yang penting untuk di bahas kan ?" kataku kesal yang membuat
thomas dan george melongo, agak menyesal juga menanyakan hal konyol yang
akan membuat perdebatan mereka semakin panjang.
"cepat
habiskan makan kalian dan kita pergi menjenguk harry"tambah ku dan
mereka berdua langsung mengangguk senang. Bagi mereka harry sudah
seperti sahabat mereka sendiri bahkan saat ini harry akan menjadi
pahlawan mereka. Karena setelah harry sembuh ia akan bergabung pada tim
quidditch asrama dan di harapkan membawa kemenangan bagi gryffindor.
Aula
sudah mulai kosong karena kebanyakan dari mereka pergi untuk pelajaran
berikutnya dan sebagian lainnya memilih untuk pergi ke perpustakaan
untuk mengerjakan tugas atau sekedar bersantai di asrama mereka
masing-masing. aku di temani thomas dan george langsung melesat ke arah
rumah sakit untuk menjenguk harry. Tak membutuhkan waktu lama kami sudah
sampai di rumah sakit.
"harry
? apakah kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit hari ini ?" tanyaku
bingung, harry sudah turun dari kasurnya dan sudah mengenakan seragamnya
lagi.
"seperti yang kamu lihat"jawab nya sambil tersenyum.
"akhirnya !" seru kami berbarengan yang langsung membuat madam pofrey mendelik kesal.
"mione,
ada yang ingin ku diskusikan padamu" bisik harry ketika kami sudah
sampai di asrama. Ingin sekali mungucapkan mantra kedap suara tetapi itu
pasti akan membuat thomas dan george curiga.
"keluar
saja" saran ku. Kami pun berdiri hendak meninggalkan ruang rekreasi dan
mencari tempat yang sekiranya aman untuk berdiskusi.
"kalian mau kemana ?" tanya george yang sedang menyusun bidak-bidak catur di papannya.
"ah
tadi profesor dumbledore memanggil kami. Aku baru ingat" jawab harry
santai. Mereka pun hanya mengangguk saja dan sudah memulai permainan
catur mereka.
"jadwal kita selanjutnya pukul 2.30. - jika kalian lupa" tambah thomas yang masih berkonsentrasi dengan lajur bidaknya.
"baiklah kami akan mengingatnya sampai bertemu lagi di kelas..."
"pertahanan
terhadap ilmu hitam. Jangan sampai salah arah lagi" oceh mereka untuk
terakhir kalinya. Karena setelah itu potret nyonya gemuk sudah menutup
dan membuat kami yang berada di luar tidak bisa mendengar apapun lagi
kejadian atau suara yang ada di dalam ruang rekreasi.
Kami
berjalan dalam diam. Menyusuri lorong yang satu dan lorong yang
lainnya, melihat-lihat kelas mencari tempat yang aman untuk berbicara.
"sudahlah
harry disini saja" kata ku sudah mulai lelah. Kami berhenti di sebuah
lorong yang benar-benar sepi bahkan tak ada satu pun hantu yang
berkeliaran di tempat ini.
"muffliato" bisikan mantra keluar dari bibir tipis harry.
"aman. Begini, aku merasa kesulitan dengan sihir yang ada di tubuh ini" jelas harry membuka diskusi kami.
"ya.." aku terdiam mempersilahkan harry untuk melanjutkn apa yang mengganjal di fikirannya.
"aku
rasa kita perlu berlatih. Maksudku, kita butuh penyesuaian diri dengan
sihir asing ini. Jika tidak kita pasti akan kesulitan. Kamu tau tempat
ini terlalu berbahaya" penjelasan harry sangat masuk akal. Dari pada
hanya memikirkan dari mana sihir ini berasal, lebih baik mulai
menjinakkannya saja, sambil berjalan sambil difikirkan dari mana sihir
__ADS_1
ini berasal. Mungkin itu lebih efisen. Aku mengangguk setuju dengan apa
yang di kemukakan oleh harry.
"kalau begitu kita harus mencari tempat untuk berlatih" kataku.
"kamar
kebutuhan sepertinya di pakai oleh Riddle dan para pengikutnya.
Bagaimana dengan hutan terlarang ?" kata harry kedua kali nya aku
mengangguk setuju dengan ide harry.
"hey hey lihat siapa ini ? seperti nya kau benar-benar anak nicholas flamel !" canda ku yang membuat kami tertawa.
Setalah
berdiskusi panjang, kami segera pergi menuju kelas karena 15 menit lagi
pelajaran akan di mulai. Sepanjang koridor masih terlihat beberapa
siswa yang sudah di tahun ke tujuh duduk di kursi-kursi yang ada dengan
buku-buku tebal mereka.
"kasihan
sekali tahun ke tujuh di jaman ini ya mione" kata harry memperhatikan
mereka. Ini lah salah satu letak perbedaan kurikulum yang ada di jaman
ini dengan yang ada di jaman kami. Di jaman ini anak tahun ke tujuh
benar-benar tiada hari tanpa belajar. Mereka sudah di persiapkan untuk
karir ke jenjang berikutnya. Mereka pun tidak di perboleh kan masuk ke
dalam organisasi apapun dan tidak boleh menjabat apapun. Membosankan
sekali kehidupan mereka. Pantas saja kurikulum tersebut di ubah. Mungkin
anak tahun ke tujuh banyak sekali yang stress di jaman ini. Lihat saja
wajah mereka benar-benar kusam dan pucat, rambut mereka benar-benar
tidak beraturan lagi bahkan beberapa siswa mengenakan kaca mata mungkin
mata mereka pun sudah ikut lelah. Bayangkan yang tampak luar saja sudah
lelah semua bagaimana yang di dalam tubuh mereka. Aku sudah tidak bisa
membayangkannya. Aku tidak ingin masih ada disini ketika di tahun ke
tujuh. Untunglah kami meminta untuk berada di tahun ke enam. Kalau kami
mengikuti kelas yang seharusnya - tahun ke 7,mungkin bukannya mencari
jalan untuk kembali ke jaman kami malah terjebak disini selamanya.
Kami
pun melnjutkan berjalan menuju aula untuk mengikuti pelajaran
pertahanan terhadap ilmu hitam. Minggu lalu profesor Galatea
Merrythought mengatakan akan praktik sehingga kelas di pindahkan ke aula
besar.
"wah sudah ramai sekali" aku bergumam ketika sudah sampai di aula.
"harry
lebih baik kita berpasangan saja. Karena sihir kita di jaman ini belum
lah sempurna" bisikku. Harry pun mengangguk setuju.
"selamat
siang kelas !" suara dengungan kelas berangsur-angsur menghilang karena
Profesor merrythoughts sudah datang. Sejauh ini hanya ada dua guru PTIH
saja yang berkompeten. Yaitu profesor merrythought dan profesor lupin.
Aku heran ada masalah apa sampai profesor merrythought tidak mengajar
lagi. Mungkin beliau pensiun dini. Atau mungkin karena rahasia jaman ini
belum ku ungkap sepenuhnya.
"hari
ini kita hanya belajar melucuti senjata. Dan mempertahankan diri.
melucuti senjata. Tidak ada penyerangan serius !" profesor merrythought
berbicara dengan segala penekanan pengucpan di sana sini. Kelas langsung
berubah seperti sekumpulan lebah lagi. Aku sudah menemukan partner
terbaik ku - yang sudah di duga thomas berpasangan dengan george. Aku
melihat masih banyak anak yang belum memiliki pasangan.
"aku dengan mu ya !" kata anak perempuan berambut pirang.
"tidak
mau. Aku tidak mau masuk rumah sakit hari ini" jawab yang diajak
bicara. Aku hanya tersenyum saja melihat mereka semua. Tak sengaja mata
ku terarah ke pangeran kegelapan. Dan tak disangka ia pun sedang melihat
ke arah kami. Tahu aku sedang mentapnya ia langsung memamerkan senyum
manisnya itu, yang bukannya membuat ku terpesona malah membuat ku
merinding. Tak mau cari masalah dengan nya aku pun mengalihkan pandangan
ku dari nya.
Dengan
bantuan dari profesor merrythought yang berteriak di sana-sini akhirnya
kelas pun di mulai. AkuĀ memegaang tongkat ku erat-erat dan mulai
berkonsentrasi. Benar saja sihir asing itu mulai menjalar diseluruh
tubuh ku. Aku melihat harry sekilas keringat sudah mulai bercucuran di
dahinya. Seperti nya ia pun kesulitan mengendalikan sihir aneh itu.
"jangan segan-segan ayo lucuti senjata lawan mu !" kata profesor merrythought nyaris berteriak.
(RiddlePOV)
Kelas
pertahanahan terhadap ilmu hitam kali ini seperti nya menarik. Jarang
sekali pelajaran ini praktek. Sesampainya aula besar mata ku langsung
menyapu ruangan. Astaga bagaimana bisa ada sekumpulan manusia seperti
ini. Kurasa gedung ini bisa runtuh karena kebisingan mereka yang luar
biasa. Aku berjalan menuju anak-anak slytherin lainnya yang berada di
paling kanan.
"hay tom" sapa rose dengan manja. Ingin sekali aku melempar kutukan padanya saat ini.
"hay
rose" aku tersenyum yang membuat nya semakin girang menjijikan.
Sudahlah abaikan saja dia. Aku pun berjalan menjauh dari nya.
"selamat
siang kelas !" kelas berangsur-angsur mulai tenang. Profesor
merrythought memulai pelajarannya. Tapi tak sampai semenit mereka semua
sudah kembali lagi menjadi sekawanan lebah yang brisik. Profesor
merrythought mulai menjelaskan di depan kelas. Aku hanya menyimaknya
sekilas. 'ah pasti peraturan seperti biasanya' aku mengalihkan
pandangan ku arah gryffindor sialan itu, dumbledore dan flamel
berpasangan ? sudah ku duga. Kita lihat sihir apa yang akan mereka
lakukan nanti. Ah ! si dumbledore melihat ke arah ku. Aku akan
memamerkan senyum termanisku, tapi apa itu ? responnnya di luar dugaan,
ia menatap ku penuh rasa kengerian yang lebih di bandingkan biasanya,
dan aku di acuhkannya - lagi.. Aku meihat ke arah rekannya, ternyata ia
memandang ke arah ku. Aku pun memamerkan senyum ku lagi seperti biasanya
__ADS_1
tetapi ia hanya menatapku saja,tatapan yang aku tidak bisa tafsirkan
sebenarnya apa yang ia fikirkan saat ini. Aku heran sebenarnya apa
salahku pada mereka ? sejak pertama bertemu sikap mereka sudah aneh
seperti itu. Apakah mereka menyatakan perang padaku ? kalau begitu aku
akan menerimanya dengan senang hati.
"malfoy, kamu akan dengan ku" kataku mulai melupakan mereka dan fokus untuk menyerang malfoy.
"jangan
segan-segan ayo lucuti senjata lawan mu !"tenang profesor aku tidak
akan pernah segan untuk melucuti lawanku. Aku menyeringai yang membuat
malfoy semakin ketakutan. Mantra-mantra sederhana dengan tanpa
pengucapan langsung saja menyerang malfoy. 'melucuti ?jangan bercanda' puas dengan bermain-main dengan malfoy aku tertarik untuk melihat pasangan bodoh itu. Aku
terkejut melihat mereka, apa yang mereka lakukan ? mereka tampak
berkonsentrasi penuh tetapi tak ada satupun mantra yang keluar. Satu
menit berlalu, sepuluh menit berlalu bahkan hingga pelajaran berakhir
tak ada satupun mantra yang keluar. Tapi anehnya mereka tampak sangat
kelelahan. Apakah mereka sebenarnya sangat bodoh ?apa tak ada satupun
mantra yang bisa mereka lakukan ? astaga ! jangan-jangan mereka hanya
bagus dalam teori dan nol dalam mempraktikkannya ! apa guna teori-teori
itu jika tak ada satupun yang dapat di praktekan ? aku tersenyum sinis
melihat kebodohan mereka itu. Setelah profesor merrythought menutup
kelas hari ini aku langsung berlari untuk mengikuti pasangan sialan itu.
"aku
mau melakukannya sekarang. Apakah kamu siap ?"tanya si flamel dan di
jawab anggukan lemah oleh dumbledore. Apa maksudnya ? itu sungguh
membuat ku semakin penasaran, apakah mereka akan melakukan sesuatu yang
menjijikkan?aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Mereka
terus berjalan menjauhi kastil, kenapa mereka tidak mengobrol ? mungkin
aku bisa mendapatkan sesuatu dari apa yang mereka obrolkan. 'sial!' umpatku
dalam hati, mereka semakin jauh meninggalkan kastil dan semakin
mendekati hutan terlarang. Apa yang akan mereka lakukan disana ? atau
mereka mencari sesuatu yang mereka sembunyikan disana ? sudahlah jangan
berasumsi sendiri malah membuatku pusing lebih baik ikuti saja dan lihat
sendiri.
"sepertinya kita lakukan disini saja mione" kata flamel.
"apakah
tidak apa disini ? bukan kah lebih baik kita memberitahukan saja pada
profesor dumbledore ?" kata gadis semakin penasaran saja dengan apa yang
akan mereka lakukan, jika ini berhubungan dengan profesor sialan itu
pasti ini merupakan hal yang menarik bukan ?
"mione,
profesor sedang sibuk seharusnya kau tau itu. Lagi pula mungkin ia akan
mempersiapkan diri untuk melawan grindelwald. Bukan kah seharusnya
begitu." Gadis dumledore itu hanya menunduk saja sepertinya mereka
sedang melalui masa-masa sulit saat ini.
"lagi pula..." si flamel masih terus akan berbicara.
"maaf
kan aku, saat ini aku belum percaya sepenuhnya kepada profesor
dumbledore, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tetapi masa
lalu profesor dumbledore tidak lah sebaik yang kita bayangkan. Ia di
butakan oleh ilmu pengetahuan. Aku tidak tahu mungkin saja bukan nya di
bantu. Aku merasa malah menjadi kelinci percobaannya. Maafkan aku mione"
aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tawa akibat apa yang di
ucapkan oleh flamel itu. Flamel ternyata tahu kebenarannya bahwa
dumbledore adalah orang yang licik. Lihat itu wajah keponakannya,
sepertinya ia terpukul sekali mendengarkan apa yang kekasihnya ucapkan.
Tunggu dulu ! apakah mereka benar-benar sepasang kekasih ?lupakan !
Aku
terus mengamati mereka, sebenarnya aku sudah bosan tapi aku tidak ingin
melewati apapun. Sepanjang pengamatanku mereka hanya berlatih
sihir-sihir dasar dan sepertinya mereka sangat kesulitan. Benar dugaan
ku, mereka hanya bagus dalam teori saja. Aku memutuskan untuk pergi saja
sampai akhirnya aku mendengar obrolan mereka.
"apakah jika kita selamat aku masih bisa bertemu Ron ?" tanya gadis itu dengan suara nya yang getir.
"aku
harap ia masih tetap mencintaiku meskipun ada yang berubah"tak tahu
kenapa ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku ketika ia mengucapkan
kalimat itu. Apa ini ? mungkin aku sudah terlalu lelah dan otot-otot ku
sudah mulai kaku karena berada di posisi yang sama berjam-jam lamanya.
Lebih baik aku benar-benar pergi saat ini.
Tak
jauh aku melangkah meninggalkan mereka berdua aku melihat sebuah
Phoenix melewati ku. Bukan phoenix biasa, phoenix putih bercahaya - ini
adalah patronus.
"mione
! kamu berhasil ! - phoenix ?kenapa patronus mu berubah ? bukan nya itu
patronus profesor dumbledore ?" suara flamel menyadarkan ku. Aku
benar-benar terkejut ada anak tahun ke enam bisa membuat patronus yang
sempurna seperti itu.
"eh
tapi milikmu ekornya lebih panjang. Ini benar-benar indah. Dan - apakah
kamu baik-baik saja mione ?" benar saja, gadis itu dalam keadaan yang
lebih memprihatinkan, wajahnya nampak lebih pucat dari sebelumnya dan
keringat bercucuran membasahi poninya yang membuatnya menjadi lepek.
Mungkin ia terkejut atau mungkin saja mengeluarkan sihir yang besar
seperti itu memang menguras tenaganya.
"ada
seseorang di sekitarsini !"patronus itu berbicara sebelum menghilang.
apa ? apa itu ? patronusnya bisa berbicara ? itu bukan pesan yang di
kirimkan orang lain kan ? tapi kenapa patronus bisa berbicara seperti
itu ? aku melihat mereka berdua sama terkejutnya dengan ku. Sekilas aku
ingin melarikan diri tapi bukan Tom Riddle namanya jika aku melarikan
diri. Baiklah aku akan menampakkan diri ku di hadapan mereka, mereka
pasti akan ketakutan. Seringai menghiasi wajahku. Tapi... kemana mereka ?
- TBC
__ADS_1