Harry Potter : Lost In 1943 (Tomione)

Harry Potter : Lost In 1943 (Tomione)
chp 9


__ADS_3

"tolong


jaga mione selama liburan" aku benar-benar terkejut mendengar perkataan


harry barusan. Apakah ini mimpi ? sejak kapan mereka akrab ? dan apa


maksudnya semua ini ? sepertinya harry benar-benar telah di mantrai oleh


yang harus ku lakukan.


"tenang


saja, akan ku jaga dia" katanya tersenyum dan langsung meninggalkan


kami. beberapa langkah setelah kepergian riddle, aku masih terpaku atas


ucapan harry kepada riddle, aku sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya


ada di fikiran harry saat ini. tanpa fikir panjang tangan ku spontan


mencengkram bahu harry yang nyaris saja tersedak oleh pai dagingnya.


"kau ! –"


"harry,


aku ingin berbicara padamu – empat mata saja" kata ku menoleh ke arah


thomas dan george, yang sedari tadi terus memperhatikan kami. kuputuskan


saja untuk membawa harry keluar dari aula supaya bisa berdiskusi lebih


leluasa.


"mau pergi kemana kalian ? –"


"kami


akan menunggu kalian di halaman depan kastil. Kita akan pergi ke


hogsmeade bersama" tambahku, mereka pun mengangguk paham. Kami berjalan


dalam diam. Aku penasaran sekali apa maksud nya tadi. Menitipkanku pada


pangeran kegelapan ?yang benar saja. Kalau benar-benar harry dalam


pengaruh sihir aku akan langsung mencari profesor dumbledore. Bukannya


aku tak bisa melakukan apapun hanya saja dengan kemampuan sihirku yang


sedang tidak normal seperti ini bisa jadi malah memperburuk keadaan


harry.


Lantai


batu kastil yang ku pijaki berangsur-angsur berubah menjadi tanah


coklat dengan beberapa rumput hijau di sana sini. Aku menghentikan


langkah ku tepat di depan air mancur yang berada di depan kastil.


"muffliato" bisikku.


"harry – "


"jangan khawatir – " tak disangka, harry lah yang membuka percakapan ini.


"aku


melakukan hal tadi dengan sangat sadar. Kau tau? Ada kemungkinan ia


mengetahui ada sihir aneh dalam diri kita. Tak tahu kenapa sejak kita


pergi ke hutan terlarang ia semakin banyak memperhatikan kita dan – "


aku menahan nafas menunggu kalimat harry yang selanjutnya.


"kita


harus bisa memposisikan diri kita. Kau tau tak seharusnya kita


membencinya – masudku di hati kita membencinya tapi jangan pernah kita


tunjukkan di bawah hidungnya bahwa kita membencinya. Dia memang saat ini


siswa biasa. Tapi percayalah dia sudah pernah membunuh manusia


sebelumnya. Dan kemungkinan dia sudah memiliki horcrux"penjelasan harry


memang masuk akal, aku berfikir sejenak merenungkan setiap kalimat yang


di ucapkan harry.


"jadi – kau tak terpengaruh sihirnya ?"


"apa


? sihir ? jangan konyol ! apakah itu yang kau cemaskan sejak tadi ?"


jawab harry geli, ku pukul bahunya agar ia diam tapi percuma saja. Ah!


Lega sekali rasanya, aku kira harry terkena kutukan atau apalah, aku


sudah terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting


akhir-akhir ini.


"kalian


sudah selesai bicaranya ?" thomas dan geore menghampiri kami. aku


melihat rasa lega di balik wajah mereka berdua. Mungkin mereka fikir aku


akan bertengkar dengan harry disini.


"aku


sudah tidak sabar untuk bersenang-senang hari ini !" mereka berteriak


girang. Aku hanya memutar bola mata ku saja sebagai respon dari apa yang


mereka ucapkan. 'dasar laki-laki !'


Perjalanan


menuju hogsmeade sungguh menyenangkan. Kami bercanda dan tertawa


membicarakan hal ini dan hal itu, Aku jadi teringat dengan teman-teman


di masa depan. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka menyadari


bahwa kami menghilang ? atau ketika kami menghilang masa depan pun ikut


berubah ? memikirkan itu semua sungguh membuat ku sedih. Tapi dalam


kondisi seperti ini pun aku tetap bersyukur karena aku di pertemukan


oleh mereka berdua, tanpa mereka mungkin hidup kami saat ini tak


berwarna seperti saat ini.


Aku


cukup terpukau ketika kami tiba di hogsmeade. Tak banyak yang berubah,


tapi ada beberapa toko yang seharusnya tidak ada tetapi ada di zaman


ini. seperti bangunan yang dindingnya terbuat dari susunan kayu-kayu


berwarna coklat gelap itu, sepertinya cukup hangat berada di dalamnya


'punkim coffee' ucap ku membaca papan yang ada di atas pintu bangunan


itu. Kapan bangunan itu di tutup? Di masa depan bangunan itu sepertinya


sudah tidak ada lagi di gantikan oleh pekarangan dengan pohon eek tumbuh


besar di atasnya. Dan gubuk menjerit seharus nya di bangun jauh di


seberang sana, tapi tak ada apapun bangunan yang berdiri di atasnya. Aku


tahu itu, karena bangunan itu mulai di bangun ketika profesor lupin


mulai bersekolah di hogwarts. Pengalaman ketika sirius black 'menculik' kami


mulai terbayang lagi. Suasana saat itu sangat menckram, bagaimana tidak


? tawanan azkaban melarikan diri dari penjara dan menculik kami semua,


dan dari semua tempat kami di bawanya ke gubuk menjerit yang kabarnya


sangat berhantu. Ah untung saja kami semua selamat dan sirius black


bukan orang yang jahat. Membayangkan itu semua membuat hati ku semakin


sakit saja, aku jadi teringat Ron, 'apakah hatimu akan berubah ?'. tak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku berusaha mencari sesuatu yang menarik di tempat ini.


"aku


akan pergi ke toko buku itu " aku menunjuk salah satu toko buku yang


ada di sana 'tomes and scroll' aku penasaran buku-buku apa yang beredar


di zaman ini. mungkin tak jauh berbeda tapi tetap saja aku ingin tahu.


"apakah kami perlu menemanimu ?" tanya harry, wajah nya sedikit kebingungan.


"jika


kalian harus pergi mencari sesuatu sebaiknya pergi saja. Aku akan


baik-baik saja percayalah. Siapa orang gila yang akan mencelakaiku di


tempat yang ramai seperti ini ?" aku tahu pasti ada beberapa hal pribadi


yang harus mereka cari, jadi ku persilahkan saja mereka pergi.


"baiklah, kita bertemu di three broomsticks" kata thomas penuh antusias, mereka pun pergi meninggalkan kami.


"aku ingin mencari sesuatu untuk ku berikan pada keluarga ku" kata harry.


"kalau begitu aku harus membantu mu –"


"tidak


– maksudku , aku tidak mau mengganggu waktu mu. Buku-buku yang ada di


sana sudah tidak sabar menantikanmu" godanya yang membuat ku tertawa.


"well, sampai


ketemu di three broomsticks kalau begitu" harry pun melambaikan


tangannya dan pergi meninggalkan ku. Setelah melihat punggung harry yang

__ADS_1


sudah tak nampak lagi aku pun segera melesat ke toko buku itu karena


sudah tidak tahan mendengar buku-buku itu terus-terusan berteriak


memanggilku untuk segera di jamahi.


(Tom POV)


Aku


menyesal untuk datang ke tempat ini. lebih baik aku di kamarku saja


membaca buku-buku itu. Masih banyak yang harus ku pelajari terutama


untuk bisa hidup abadi. Ah sangat menyenangkan pasti menjadi tak


terkalahkan dan hidup abadi selamanya di dunia ini. aku bisa melakukan


banyak hal, mengikuti perkembangan ilmu hitam – Pasti sangat menarik.


"Tom


ayo kita ketempat itu" sial, kenapa gadis ini terus-terusan


menggandengku seperti ini. ingin sekali aku membuangnya, tapi saat ini


ia masih terlalu bermanfaat bagi ku. Setidak nya aku bisa mempunyai


barang-barang berharga tanpa harus memintanya – maksudku aku bukan


pengemis tentu saja, aku hanya memberikan dan ia membayarnya. Impas


bukan ?


"apakah


ini bagus tom ?" gadis itu meletakkan sebuah benda berbentuk kupu-kupu


berwarna biru gelap di kepalanya. Aku tak tahu benda apa itu, sepertinya


benda itu menempel karena di jepitkan di sela-sela rambutnya.


"itu


indah sekali" kata ku berbohong tentu saja tapi dia senang sekali


mendengar ucapan ku tadi. Aku melihat sekeliling berharap menemukan


sesuatu yang menarik. Dari kejauhan aku melihat rambut coklat semak itu.


Aneh sekali melihatnya tapi aku langsung tahu siapa pemilik nya,tak ada


orang lain selain dirinya – dumbledore. Aku memperhatikannya, mungkin


karena sudah sering memperhatikan mereka berdua sehingga sudah menjadi


kebiasaan bagiku untuk mengamatinya. Dimana pasangan konyolnya ?


biasanya mereka sudah seperti sepasang kaus kaki busuk, kemana-mana


selalu bersama. Tanpa sadar aku pun mencoba menghampirinya. Tungu dulu –


menghampirinya ? ini salah, aku tertarik dengan toko buku itu, bukan


gadis berambut semak itu. Samar-samar aku mendengar suara rose


memanggil-manggil namaku. Siapa yang peduli dengan nya saat ini. aku


sudah lelah menghadapinya hari ini. saat nya bersenang-senang mungkin


saja ada buku yang baru di tempat itu. Sulit sekali menerobos kerumunan


ini, namun akhirnya aku sampai di toko buku ini.


Lonceng bergemelincing ketika aku membuka pintu kayu ini.


"ah,


pelangganku. Apa kabar ?" tua bangka menjijikkan – penjaga toko buku


ini memang sangat ramah, ia sangat menyukai ku karena aku sering


membantu menyusun buku ketika buku-buku ini sudah sampai. tak Cuma-Cuma


aku membantu nya begitu saja – tentu ada imbalannya. Kalau saja ia tak


memberikan buku-buku berharga itu – takkan sudi aku melakukan pekerjaan


hina ini.


"apakah ada yang baru ?" tanya ku berusaha sopan di depannya.


"belum


ada yang datang mungkin seminggu lagi. Tak tahu – tak jelas, ini akibat


perang yang terjadi di dunia muggle, pendistribusian nya jadi


terhambat" kata penjaga itu penuh rasa kecewa. Di dunia sana memang


sedang terjadi perang bersekala internasional. Aku tak tahu apa yang


mereka perebutkan, toh mereka sudah memiliki wilayahnya masing-masing.


Lagi pula negara yang mereka jajah belum tentu menghasilkan sesuatu yang


berarti untuk mereka yang menang. Tak tahulah, aku tak mau ambil pusing


juga. Ini toh urusan mereka tak akan berdampak pada ku saat ini.


rampingku menelusuri buku-buku yang berjejer rapih di rak nya, ku baca


judul-demi judulnya. Tak ada yang menarik, buku ilmu hitam nya pun sudah


ku miliki semuanya. Aku memutuskan untuk keluar saja dari toko buku ini


sampai akhirnya mata ku menangkap seonggok rambut semak itu – di ujung


ruangan. Ah ! aku hampir lupa gadis itu berada disini. Apa kah


seharusnya aku menghampirinya ? mungkin aku bisa menggodanya dan


mendapatkan sesuatu yang aku butuhkan – informasi mengenai profesor


sialan itu mungkin ? atau sesuatu yang lain. Ah tapi dari awal dia tak


tergoda oleh ku, bahkan tatapan matanya ketika melihat ku – ada sesuatu


yang lain disana, antara benci, jijik dan sesuatu yang lain yang tak


bisa ku terjemahkan – kasian ? tapi untuk apa ia harus mengasiahniku ?


tatapan itu sudah ku jumpai sejak awal bertemu bahkan tanpa campur


tangan profesor sialan itu. Lagi pula mereka berdua tak percaya oleh


profesor sialan itu, aku tau itu karena mendengar sendiri dari mulut


mereka berdua. Bukan, tapi flamel lah yang mengatakan bahwa ia tidak


percaya – ah sama sajalah, flamel ataupun dumbledore yang bicara intinya


mereka berdua tak mempercayainya. Itu sudah cukup bagiku. Tanpa


ragu,aku memutuskan untuk berjalan menghampirinya.


"hai" sapa ku sopan, ia menoleh – hanya sebentar dan kembali lagi pada aktifitasnya tanpa membalas sapaan ku. 'sabar !' aku menenangkan diriku sendiri mencoba menekan sihir hitam ku yang bergejolak memaksa ingin keluar.


"buku


apa yang kau cari ? mungkin aku bisa membantu mu ? aku hafal letak


buku-buku disini" kata ku mencoba untuk lebih dekat padanya. Kalau dia


masih mengacuhkan ku, sepertinya menarik untuk bermain-main dengan nya.


Lagi pula sihir hitam ku sudah gatal ingin keluar.


"aku


tak tahu. Jenis buku apa yang kau inginkan ? mungkin bisa menjadi


refrensi ku ?" tak kusangka dia meresponku, perasaan aneh apa ini ?


kenapa aku senang sekali mendengarnya menjawabku dengan nada yang


bersahabat seperti itu.


"aku


?aku suka buku-buku yang seperti ini" aku mengambil buku secara acak


dan ku baca judul nya ' perkembangan sihir hitam di masa depan' buku apa


ini ? aku belum pernah membacanya. Apakah ini buku baru ? atau buku ini


terselip – astaga kenapa ada buku hitam di antara tumpukan


dongeng-dongeng ini ? aku melihat harga nya sekilas. Ini tidak mahal


tetapi aku tak memiliki uang sepeser pun. Tapi aku menginginkannya. Apa


yang harus ku lakukan ? mengancam gadis ini ? yang benar saja ! aku


bukan pria yang seperti itu. Aku lebih suka melakukan nya dengan cara


halus. Aku tak mau orang asing mengetahui sifat asli ku.


"apakah


kau menginginkannya ?" tanya gadis itu. Apakah ia membaca fikiranku ?


tapi aku tak merasakan sihir apapun pada tubuhku. Aku menggeleng dan


meletakkannya kembali pada raknya. Aku akan kembali lagi ketika aku


sudah mempunyai uang – tidak, nanti malfoy harus membawakan buku ini


padaku.


"kalau


begitu aku yang ambil" gadis itu mengambilnya, lalu apa yang harus ku


lakukan ? aku melihatnya melewatiku dan membayarnya di kasir, aku harus


memiliki buku itu. Aku ingin tahu semaju apa perkembangan sihir hitam di


masa depan ! gadis itu sudah keluar dari toko ini. tidak – apakah aku


akan kehilangan buku itu ? aku akan melangkah keluar untuk mengejarnya –


tak perlu ku lakukan, ia sedang berdiri di depan toko buku ini –


menunggu ku kah ?

__ADS_1


"eh ?" aku bingung harus memulai nya dari mana.


"kau


bilang tak menginginkan ini ? tapi – sudahlah buku ini untuk mu saja.


Sepertinya kamu lebih menginginkan nya di bandingkan diriku" aku


merasakan buku itu sudah berpindh ketanganku – buku ini.


"aku


tidak memiliki uang. Aku harus membayarnya dengan apa ?" tanya ku. Aku


tak pernah mendapatkan sesuatu dengan Cuma-Cuma. Itu melukai harga


diriku. Bahkan para pengikutku pun mendapatkan sesuatu dari ku berupa


ilmu yang ku ajarkan pada mereka, dan mereka pun akan memberikan mereka


hukuman ketika mereka tak becus melakukan sesuatu yang ku perintahkan.


"apa


yang kau bicarakan ? anggap saja itu hadiah dariku ! sudahlah,


teman-teman ku sudah menunggu ku sampai jumpa lagi !" aku masih mematung


ketika ia pergi menjauh dariku. Apa ini ? ia memberiku tanpa meminta


imbalan apapun dari ku,namun aku merasa harga diri ini tak terhina


sedikitpun. Dan ada apa dengan ku ? kenapa rasanya ada setitik rasa


hangat di tubuh ku ?perasaan apa ini ? tanpa sadar tangan ini bergerak


ke dadaku memeluk buku kecil ini. mungkin aku terlalu senang karena


akhirnya aku mendapatkan buku ini.


"aku


akan membayarnya !" teriakanku sepertinya tak sampai padanya. aku


memperhatikannya – rambut semak itu semakin menjauh dan menghilang dari


penglihatanku.


"tom mana saja kau. Aku mencari-cari mu sejak tadi"


(hermione POV)


"aku


tidak memiliki uang. Aku harus membayarnya dengan apa ?" astaga


pertanyaan konyol macam apa itu ? aku berusaha menahan tawa ku mendengar


kalimat konyol itu. Wajah dan ekspresinya yang polos ini, apakah ini


benar nyata ? aku harap ini bukan tipu daya nya, aku harap wajah itu


memang tulus seperti itu.


"apa


yang kau bicarakan ? itu hadiah dari ku ! sudahlah, teman-teman ku


sudah menunggu ku sampai jumpa lagi !" kata ku sambil tertawa, dia sama


sekali tak berekasi, ada apa dengannya ? aku mnatapnya lurus-lurus namun


ia masih saja mematung lebih baik aku segera pergi sebelum ia berubah


fikiran menjadi riddle yang jahat dan menyebalkan.


"aku


akan membayarnya !" samar-samar aku mendengar suaranya. Demi merlin


apakah ini pertama kali baginya di berikan sesuatu secara Cuma-Cuma


?hidup macam apa yang di jalani nya selama ini? lagi pula ia akan


membayar nya dengan apa ? taring basilisk ?


Ternyata


aku lah yang pertama kali sampai di three broomsticks. Mungkin aku


terlalu cepat. Lagipula tak ada yang mengatakan berapa jam lagi kami


harus berkumpul kan ? sudahlah lebih baik aku memesan saja duluan sambil


menunggu mereka datang. Seorang wanita muda menghampiriku dengan


membawa secangkir penuh buterbeer pesananku. Ia benar-benar mirip madam


rosmerta. Apakah ia ibu nya ? nyonya ini jauh lebih cantik di bandingkan


madam rosmerta, kulitnya lebih putih dan matanya juga bersinar.


Sepertinya ia menjalani hari-hari nya dengan baik. Aku penasaran apakah


madam rosmerta sudah lahir di tahun ini ? aku tak tahu berapa umurnya


jadi aku tak bisa menebaknya.


Sambil


menikmati buterbeer hangat ini aku menyapu seluruh ruangan dengan


pandangan ku. Tak ada yang berubah sama tempat duduk dan posisinya pun


masih tetap sama,bagaimana bisa si pemilik tak bosan dengan susunan yang


seperti ini ? tapi tak apalah,toh ini tidak buruk.


Apakah


sebaiknya aku kembali saja ke sekolah ? mungkin mereka sudah melupakan


ku dan sudah kembali ke asrama yang hangat, kesal sekali rasanya. Satu


jam aku menunggu tapi tak ada satupun dari mereka yang memunculkan


batang hidung nya. Aku sudah siap-siap akan bergegas namun ku lihat


harry dengan nafasnya yang masih memburu memandang sekeliling, tak tega


aku melihatnya aku pun melambaikan tangan ku. ia pun langsung melesat


menuju bangku ku.


"ku kira lupa !" kata ku ketus.


"astaga. Aku bahkan lupa menanyakan waktu kita berkumpul" katany di sela nafasnya yang memburu.


"kau tahu ? setelah melihat arloji ku aku baru sadar sudah pergi selama dua jam – " ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.


"tak


usah di lanjutkan bicaramu. Aku paham – butterbeer ?" tanya ku. Ia


hanya mengangguk saja. Aku pun segera saja memesankannya untuknya.


"dimana mereka ?" tanya harry.


"tak tahu. Sudah kembali ke asrama mungkin" jawab ku kesal.


"ayolah mione –"


"aku tak marah sungguh. Aku punya cerita. Jangan terejut – aku bersama riddle ketika berada di toko buku –"


"astaga ! –"


"berdua saja –"


"apa kau terluka ?"tanya harry panik.


"aku memang mengatakan padamu untuk bersikap biasa saja padanya. Tapi tak perlu sejauh ini" harry mulai mengomel panjang lebar.


"tak ada yang kami lakukan. Dia datang ketika aku sedang melihat-lihat buku. Kemudian aku membelikannya buku –"


"apa ?!" kata harry berteriak yang membuat semua menoleh kearah kami.


"tenang harry –"


"tidak


– buku apa yang kau – maksudku kenapa kau – untuk apa ?astaga ini di


luar kendali ku" harry masih terbata-bata sepertinya semua pertanyaannya


ingin langsung di lontarkannya padaku.


"apa


kau ingin melihat sahabat mu ini menangis eh ?" tambah nya. Aku sedikit


bingung juga menenangkannya. Apakah aku melakukan sesuatu yang


benar-benar salah ? salah di bagian mana ? aku hanya membelikannya buku


karena merasa kasihan padanya. Aku tahu latar belakang pangeran


kegelapan muda itu. Dia pasti tak memiliki uang untuk membeli semua


keperluannya – apa aku baru saja membantu voldemort ? aku mendellik


kaget.


"astaga


! apa baru saja aku merasa kasihan pada pangeran kegelapan ? astaga !


astaga ! memberikan hadiah pada voldemort ? " aku merasa diriku ini


menjijikkan saja.


"apa


kau baru sadar hah ?! apa-apaan kau ini!" kata harry masih kesal.


Jangankan dirinya, aku sendirpun merasa kesal dengan diri ku sendiri.


"tak


akan ku lakukan lagi. Anggap saja aku tadi sedang tidak waras" kata ku.


Aku langsung meminum butterbeer harry yang baru saja di antarkan oleh


pelayan cantik itu.


"hey itu milikku !" aku hanya nyengir saja mendengar protes harry.

__ADS_1


– TBC


__ADS_2