Hasrat Bercinta Mahasiswa

Hasrat Bercinta Mahasiswa
Bab 1: Putus dari Rahmawati


__ADS_3

Kalau bukan karena putus dari Rahmawati, Warman mungkin tidak akan pernah mengenal Sarwati. Warman adalah mahasiswa Ilmu Sejarah semester akhir, Universitas Negeri Semarang. Kelulusannya tertunda, sebab selain dosen pembimbingnya yang mengundurkan diri, dan dia harus mencari dosen pembimbing baru, ia juga sibuk menyembuhkan luka-luka di hati setelah putus dari Rahmawati.


Putus dari Rahmawati adalah momen terpahit di sepanjang hidupnya. Selama ini, Rahmawati adalah perempuan yang selalu mendukung ia dalam segala hal. Apa yang disukai Warman, tidak pernah sekalipun membuat Rahmawati keberatan. Warman tentu saja di anak baik, kesukaannya tidak pernah aneh-aneh. Kegemarannya ketika di kampus adalah membaca buku di sudut kampus. Sendirian. Kalaupun ada yang boleh disebut aneh, mungkin hanya satu, ia suka melamun di tengah keramaian. Semua itu tetap jadi kesukaan Rahmawati.


Tapi jangan bilang-bilang, sebetulnya Warman adalah pecandu video porno. Itu satu-satunya hal yang tidak diketahui Rahmawati. Sekalinya tahu juga mungkin itu tidak akan menjadi soal. Tapi Warman tetap mau menyembunyikannya. Menurutnya, itu sebuah aib, karena ada stereotip bahwa lelaki yang menyukai video porno, tapi tanpa pernah menyentuh perempuan sama sekali adalah kelainan. Kebetulan saja selama pacaran, Warman memang tidak pernah sama sekali menyentuh Rahmawati. Warman tidak ingin dianggap memiliki kelainan, maka sebaiknya itu tetap rahasia.


“Wati, maukah kamu berjanji?” Tanya Warman.


“Soal apa?”

__ADS_1


“Hiduplah bersamaku! Apa pun yang terjadi nanti. Aku mau, kamu lah yang menjadi pasangan hidupku.”


“Baiklah, aku berjanji. Asal kamu mau terbuka soal apa pun, dan berbagi kisah bersama.”


Warman sangat percaya diri, sebab selama ini, ia sangat terbuka soal apa pun. Lagian, mana ada rahasia, semua soal Warman, Rahmawati tahu. Bahkan sebetulnya diam-diam Rahmawati juga tahu, Warman pecandu video porno. Tapi karena itu memang semacam aib, dia menghargai Warman yang berusaha menutupi. Tapi apa alasan sesungguhnya bahwa Warman tak mau menyentuh Rahmawati?


Sebelum Warman resmi berstatus mahasiswa, Kakeknya pernah berpesan bagaimana dia harus menjaga dirinya di kota. “Semarang itu kota besar, Nak. Janganlah kamu bertingkah sembrono!” Nasehat Kakek kepada Warman. Nasehat itu benar-benar dipegang Warman hingga saat ini. Urusan menyentuh perempuan adalah tindakan sembrono. Itu pantangan buat dia. Sentuhan kecil bisa membawamu ke sentuhan yang lebih besar. Itu jelas sembrono.


“Aku tidak ingin celaka, Sayang.”

__ADS_1


“Celaka bagaimana?”


“Tahulah kamu!”


Rahmawati bingung, Ia tidak mendapat jawaban sama sekali. Kenapa celaka? Orang-orang pacaran, harusnya kan memang mesra-mesraan. Kita sudah sama-sama dewasa. Lagian ini Semarang, bukan kampungmu. Orang lain tidak akan mengutuk kita karena bercinta sebelum menikah. Toh, kita hanya akan bercinta ringan saja. Kita tidak mungkin **** atau semacamnya.


“Warman, berbulan-bulan kita berpacaran, belakangan aku merasa kesepian. Aku mau menikmati masa muda tapi kamu tidak pernah mengizinkannya. Baiknya, apa kita putus saja?”


Kalimat itu akhirnya sampai kepada Warman, setelah hampir seminggu menjadi perenungan Rahmawati. Terlalu banyak pertimbangan. Rahmawati masih sangat mencintai Warman, tapi hasratnya untuk menikmati masa muda lebih kuat dari cinta itu. Pikirnya, cinta yang murni bisa ditunda, tapi bercinta di usia muda tidak bisa. Masa muda harus dinikmati, sebelum nanti dirundung usia tua. Aku mau putus saja. Ketika aku siap menikah, aku akan kembali padamu, Warman.

__ADS_1


“Wati Sayangku, apa tidak bisa dipikirkan lagi? Aku masih mencintaimu.” Jawab Warman dengan penuh memelas.


((Bersambung, terima kasih telah membaca ceritaku, tinggalkan komentar ya supaya saya bersemangat untuk menulis bab selanjutnya))


__ADS_2