Hasrat Bercinta Mahasiswa

Hasrat Bercinta Mahasiswa
Bab 2: Pertemuan Dengan Sarwati


__ADS_3

Memutus hubungan juga bukan perkara mudah bagi Rahmawati. Bagaimanapun Warman tetap satu-satunya yang ia cintai sepenuh hati. Tapi keinginannya untuk menikmati masa muda tidak pernah padam. Masa muda yang tidak akan lama itu tidak mau dia korbankan.


"Warman, Sayangku, kita putus dulu. semoga kita bertemu lagi," pungkas Rahmawati mengakhiri obrolan pertemuan siang itu, di sebuah gang sempit belakang ruang kelas.

__ADS_1


Rahmawati berlalu. Warman masih termenung memikirkan keputusan besar yang menjadi pilihan jalan pacarnya itu. Sempat terpikir untuk Warman menuruti saja apa mau Rahmawati. Lagi pula kakeknya tidak akan pernah tahu. Nakal sedikit boleh, asal jangan banyak-banyak. Menyentuh perempuan sedikit saja bolehlah, asal jangan memperkosanya. Itu dilarang agama, juga mencederai kemanusiaan.


Tapi kemudian Warman berpikir lagi. Kakek memang tidak tahu apa pun yang aku kerjakan di sini, tetapi menarik ucapan sendiri itu musuh terbesar laki-laki. Lelaki yang dipegang ucapannya. Kalau aku mengingkari ucapanku sendiri, masih layakkah aku disebut laki-laki? Bisa-bisa aku dikutuk menjadi banci. Kehilangan satu perempuan bisa mencari lagi, tapi menjadi banci jelas akan sangat memalukan. Bisa-bisa ditertawakan anjing jalanan yang tak pernah mandi itu.

__ADS_1


Niatnya menuruti Rahmawati memudar. Ia tetap berpegang pada apa yang diucapkannya kepada kakek. Meski sebetulnya, hasratnya telah memuncak sejak dulu. Rahmawati yang secantik itu mana bisa dibiarkan berlalu begitu saja tanpa dinikmati sana-sini. Itu kerugian besar-besaran. Rahmawati itu bagaikan harta nasional. Kecantikannya harus dijaga, dilindungi, dan kalau perlu dilestarikan. Dengan cara apa lagi kalau bukan beranak-pinak? Ah, belum saatnya menikmati tubuhnya. Warman tersadar.


Rutinitas Warman berjalan normal kembali. Pagi hari ia pergi ke kampus. Sore pulang ke kosan. Malam hari mengerjakan tugas bersama teman-teman sejurusan di Burjo-burjo sekitar. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Tapi kemudian, dalam kelas Sejarah Perempuan, dia bertemu dengan Sarwati. Sarwati adalah adik kelas Warman yang mengikuti mata kuliah akselerasi karena cerdas. Hidup Warman yang tadinya begitu sederhana sejak kepergian Rahmawati, menjadi rumit kembali.

__ADS_1


Entah bagaimana kisahnya, singkat cerita Marman mulai menaruh sedikit perhatian lebih kepada Sarwati. Sebagai junior, Sarwati merasa diuntungkan disukai oleh senior. Paling tidak jika ada tugas-tugas yang sulit bisa dijadikan tempat berdiskusi. Tentu saja Warman juga lelaki yang cerdas, hanya saja karena agak pemalu dia tidak tampak menonjol di kelas. Kalau saja dia agak sedikit berani, mungkin dosen-dosen akan sedikit kewalahan jika harus berdebat dengannya. Segerobak buku telah dia baca, hampir tidak ada pengetahuan Sejarah Indonesia yang tidak dia tahu.


Itu salah satu daya tarik Warman di mata Sarwati. Meski Warman sebetulnya tidak begitu tampan menurut Sarwati, tapi apa boleh buat, dia tetap menarik. Ketampanan hanya butuh perawatan, itu bisa dilakukan begitu Warman kaya nanti. Sekalinya disentuh produk perawatan yang bagus, pastilah Nam Jo-hyuk lewat. Siapa lagi? Kim Seon-ho, Lee Jong-suk, Park Seo-joon, jelas lewat juga. Apalagi kok hanya Andika Mahesa Kangen Band, jelas hanya seujung rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2