Hasrat Bercinta Mahasiswa

Hasrat Bercinta Mahasiswa
Bab 5: Kehilangan


__ADS_3

Boleh saja muda, tidak kompeten, buruk rupa, tak kuat di ranjang, asal jangan miskin. Kemiskinan itu masalah hidup paling menyengsarakan. Orang bisa tetap bahagia meski buruk rupa, tak kuat, tidak kompeten, tapi tidak dengan miskin.


Warman merasa bersalah pada Rahma. Itulah yang membuat ia membatalkan kencan singkatnya. Perempuan itu telah dibayarnya, kemudian pergi. Warman tidak tahu harus melakukan apa. Dia tampak bingung. Bagaimana dia akan menemukan Rahma lagi, sedangkan Rahma telah pergi menjauh.


Barangkali Rahma betul-betul tidak ingin ketemu Warman lagi. Rahma boleh saja kotor, berdosa, najis, dan akan dibakar di neraka, tapi dia tetap mengharapkan Warman yang suci, bersih, rajin beribadah, taat agama, dan yang paling penting tidak sekalipun tersentuh perempuan. Itulah Warman yang ideal di mata Rahma.

__ADS_1


Tapi waktu terus berjalan ke depan, sementara Warman masih diam mematung kebingungan. Rahma telah pergi menjauh sejauh yang dia bisa; menuju tempat yang kemungkinan tidak akan dijamah oleh Warman. Tidak ada kesempatan lagi untuk warman bisa menemukan Rahma. Dengan begitu, hubungan mereka telah selesai. Betul-betul selesai, tak akan ada kesempatan kembali.


Warman yang sedari tadi hanya diam mematung, kini, seolah menemukan cara bagaimana dia bisa menemui Rahma. Dia akan mencarinya di tempat-tempat yang biasa dikunjungi Rahma ketika sedang sedih. Itu ide cemerlang, yang tiba-tiba datang seperti ilham. Tapi Warman yang sudah kotor penuh dosa itu merasa itu bukan ilham, melainkan bisikan setan. Tuhan mana mungkin memberi ilham kepada hambanya yang berdosa ini, batinnya. Berpikir soal ilham saja membuat dirinya merinding, merasa risih dan jijik dengan dirinya itu. Tapi kemudian dia menenangkan dirinya, dengan berpikir: Tuhan tidak melimpahkan kebaikan hanya kepada hambanya yang taat. Tuhan maha pengasih dan penyayang.


Warman meneruskan pencariannya. Tibalah dia di sebuah taman hutan mini kampus, yang belakangan menjadi semakin kecil karena pembangunan yang tiada hentinya. Setahu Warman di sinilah Rahma biasa merenungi masalah-masalah hidupnya. Melihat gedung-gedung yang roboh, hancur, rata dengan tanah membuat dia terhibur, karena merasa tidak hancur sendirian. Begitulah kehidupan, tak ada yang kekal. Semua akan hancur lebur, pikirnya. Dibangunnnya gedung-gedung baru yang indah juga memberinya perenungan reflektif: barangkali begitulah hidup, jatuh lalu hancur, kemudian bangun lagi menjadi lebih hebat.

__ADS_1


Di sebuah Burjo kesukaan Rahma, Warman bertanya, " Mang, apa Rahma sempat ke sini seharian ini?" Karena palanggan tetap, si Mamang jadi mengenal Rahma. Mamang juga yang selama ini berkali-kali menanyai Warman soal Rahma yang tak pernah tampak batang hidungnya lagi, setiap kali Warman berkunjung.


"Mana tahu, dia mungkin sudah nggak di Semarang lagi," jawab Mamang.


Warman menyerah. Dalam perjalanan pulang, dia justru bertemu Sarwati. Tapi, pertemuan itu hanya singkat berlalu; Warman belum mau disibukkan dengan beban basa-basi yang tidak perlu.

__ADS_1


Sarwati bingung, merasa dirinya dijauhi. Itu membuatnya sedih. Tapi apalah dia, hanya adik tingkat yang ke-ge-er-an disukai kakak tingkatnya. Dasarnya Warman yang memang sudah berubah menjadi bajingan, ia tidak mau peduli soal perasaan adik tingkatnya itu.


Tapi..


__ADS_2