
Sejak dimulainya penelitian, Rahmawati telah berkencan dengan puluhan lelaki. Tentu saja bukan kencan betulan, mereka hanya tidur bersama, lalu bercinta, puas, kemudian berpisah. Begitulah yang terjadi hingga berbulan-bulan. Rahmawati sangat menikmati itu, sekalipun mungkin tanpa kepentingan penelitian.
Dari data yang diperoleh, dia menyimpulkan bahwa s*** berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja. Kualitas kerja semakin baik, itu dapat dilihat dari kinerja (hampir) ratusan teman bercintanya. Ia juga merefleksikan ke dirinya sendiri, bahwa pengaruh s*** yang rutin itu memberinya pikiran yang cemerlang. Maka penelitian pun berjalan sebagaimana mestinya.
(Selanjutnya Rahmawati akan ditulis Rahma)
Keberhasilan itu membuat Rahma berpikir untuk segera kembali ke Semarang. Ia akan menemui pembimbingnya dan mendiskusikan hasil temuannya. Dia tidak berpikir untuk segera menemui Warman. Baginya, dia belum selesai dengan penjelajahannya terhadap dunia penuntasan hasrat bercinta.
Menemui Warman berarti proses penyudahan terhadap kehidupan yang bebas. Rahma akan dikekang, terikat dengan pernikahan. Dia hanya akan bisa bercinta dengan satu lelaki saja: Warman.
__ADS_1
Tapi melihat dirinya sendiri yang masih muda, ia tentu tidak ingin segera menyudahi aktivitas yang membuat hidupnya bergairah sepanjang waktu itu. Ia akan menemui Warman di usia 35, ketika tubuhnya tak kuat lagi bercinta dengan lelaki liar. Ia membayangkan di usia itu, tubuhnya pasti akan tidak sekuat dulu.
Ketika memasuki 35 tahun, dia akan bertemu dengan Warman, menikah, dan membuat anak 5 yang semuanya menggemaskan. Dia sangat yakin pasti Warman akan menunggunya, bahkan hingga usia 60 tahun pun. Warman setia sepanjang hidupnya hanya dengan satu perempuan. Itu janjinya.
**
Warman masih mencari Rahma, bahkan hingga menanyakan semua temannya. Satu-satunya cara untuk menghubungi Rahma adalah melalui WhatsApp, karena ia tak memakai media sosial lain. Tapi Rahma telah berganti nomor sejak kepisahannya dengan Warman. Ia juga tak menghubungi siapa pun temannya. Ia berniat membuka kehidupan baru di tempat lain. Penelitian.
Bukan hanya Rahma yang membawa pasangannya, melainkan juga Warman. Ia bersama perempuan yang dipesannya melalui aplikasi. Bayangkanlah bagaimana hancurnya perasaan Rahma melihat kejadian itu! Warman yang dia tahu tipe lelaki setia dan bersih dari dosa, ternyata telah berubah berbalik arah. Warman telah sama bajingannya dengan semua pria yang dikencaninya.
__ADS_1
"Maaf, ya, hari ini aku belum bisa," kata Rahma kepada pria yang menggandengnya. "Aku ada urusan mendadak. Kosnya biar aku yang bayar penuh," pungkas Rahma, kemudian lari sambil menangis.
Lelaki itu kemudian mengejar, "Kenapa? Why? Urusan apa? Kenapa menangis?"
"Kamu nggak perlu tahu! Ini urusan pribadiku!" jawab Rahma, melepaskan cengkraman lelaki itu, lalu berjalan keluar.
Rahma menangis sedih, kecewa, dan hancur, sementara Warman masih diam mematung. Ratusan pertanyaan, dugaan, dan kemungkinan tentang Rahma begitu melintas di pikirannya. Pikiran itu menguasai diri Warman. Perempuan yang dipesannya melalui aplikasi kencan pun bingung melihat Warman.
"Mas berubah pikiran? Kenapa tak masuk?" tanya perempuan itu. Berubah pikiran tidak masalah, tapi transaksi harus tetap berjalan. Perempuan itu harus dibayar. Ia bekerja, bukan bersenang-senang, apalagi dengan lelaki muda yang tampak tidak kaya seperti Warman.
__ADS_1
Boleh saja ...... (silakan klik lanjut)