Hasrat Bercinta Mahasiswa

Hasrat Bercinta Mahasiswa
Bab 3: Kematian Kakek Warman


__ADS_3

Dalam hal apa pun, kakek masih menjadi orang paling penting di hidup Warman. Baik itu Rahmawati, atau Sarwati, tidak mungkin bisa menggantikan posisi kakek di hidup Warman. Maka ketika Warman kematian kakeknya, dunianya berubah secara signifikan.


Selama satu bulan di kampung halaman sejak kakeknya meninggal, Warman tampak tak bergairah lagi menjalani hidup. Dari raut mukanya, menatap kosong, terlihat seperti telah kehilangan segala hal di dunia.


Bagaimanapun kakek lah yang mengasuh dan mendidiknya hingga sedewasa sekarang ini. Belajar di Semarang juga tentu atas perintah kakek. Dia satu-satunya keluarga yang tersisa saat itu, setelah kejadian pembantaian masal oleh bajingan-bajingan gila dengan alasan stabilitas politik.


Warman masih sangat muda saat itu, jadi tidak banyak ingatan soal orang tua. Justru hingga belasan tahun tumbuh, ia lebih banyak menyimpan kenangan bersama kakek. Tapi kakek telah pergi, apa yang mau diperbuat, selain merelakan, tidak ada.


Merelakan kematian mungkin mudah bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Warman. Ia tidak rela kakeknya meninggal, lebih lagi karena dibunuh. Mau berapa nyawa lagi yang harus dikorbankan demi kepentingan politik elite tertentu? Ini tidak adil. Bagaimanapun, ketidakadilan adalah musuh kemanusiaan. Ini tidak bisa dibiarkan.

__ADS_1


Sepengetahuan saya, kakek Warman memang tinggal satu-satunya saksi kunci tragedi pembunuhan masal. Ia sangat tahu siapa tokoh yang seharusnya paling bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan itu.


Itulah alasan mengapa kakek dibunuh dengan sangat keji. Tidak seorang pun yang membunuh kakek, kecuali bajingan politik yang masih terus ingin mempertahankan kekuasaannya. Warman mengutuknya dengan sangat keras!


kejadian itu membuat Warman kehilangan kehidupan baiknya. Ia tak semangat lagi menjalani hidup sebagai orang baik, sebagaimana mestinya keinginan kakek. Dia telah kembali ke Universitas. Di Semarang dia tidak lagi tinggal di kos khusus hanya lelaki, tetapi kos campur lelaki-perempuan. Dia tak lagi peduli soal nasehat-nasehat kakek.


"Buat apa aku hidup seperti mau kakek, sedangkan kakek sudah tak ada lagi di dunia ini?" kata Warman kepada dirinya sendiri, berharap kakek mendengarnya juga.


Dalam keadaan sekacau itu, Warman hanya mengingat Rahmawati. Ia butuh tempat pelarian. Hanya tubuh Rahmawati yang menurutnya bisa memberinya kehangatan, kebahagiaan, dan juga kepuasan.

__ADS_1


Tidak adanya Rahmawati membuat Warman berpikir nakal. Aku hanya butuh kepuasan, nggak harus dengan tubuh Rahmawati. Sarwati juga sama cantiknya. Tapi kelihatannya Sarwati itu gadis baik-baik, apa mau dia bercinta denganku? Warman membatalkan niatnya menghubungi Sarwati. Meskipun sudah memutuskan menjadi bajingan, dia tetap tidak ingin merusak siapa pun.


Tidak ada cara lain, memesan pekerja **** pastilah mahal juga belum tentu bersih dan sehat, alternatifnya: menonton porno dan masturbasi, tidak buruk juga, pikirnya. Ia hanya cukup membayangkan sedang bersetubuh dengan Rahmawati. Itu pasti hampir sama nikmatnya. Teman-teman kampusnya sering cerita begitu.


Selesai dengan masturbasinya, perasaan keterpurukan kembali menyerang psikologis Warman. Ternyata kepuasan orgasme sendirian tidak mampu menggantikan kepuasan tubuh perempuan, juga tidak menghilangkan keterpurukan. Aku harus mencari Rahmawati.


**


Rahmawati sudah pergi dari Semarang sejak putusnya hubungan dengan Warman. menurutnya tak ada lagi yang menarik dari Semarang. Ia memilih fokus penelitian untuk skripsinya di luar Semarang. Penelitian Rahmawati adalah tentang pengaruh **** terhadap produktivitas kerja.

__ADS_1


Penelitian itulah yang membuat Rahmawati mengorbankan tubuhnya untuk dinikmati banyak laki-laki, yang ia teliti.


__ADS_2