
Cinta....mengapa harus terjadi
Kau tinggalkan diriku di sini
Cinta....mengapa ada duka
Jika harapan tertumpu pada suka
Apakah hati ini yang terlalu rapuh
Atau rasa yang menetap tanpa disuruh
Hatiku kau biarkan terluka
Kau pergi dan aku sengsara
Seorang gadis sedang menangis karena luka hati yang dia rasakan. Ditinggalkan oleh seorang yang pertama kali membuat hatinya bergetar, tapi pertama kali pula cinta yang begitu besar tiba - tiba menorehkan luka yang begitu dalam.
Seorang gadis yang bernama Syafana terus meneteskan air matanya. Terisak menangis dalam kesendirian. Tak mudah baginya sebagai seorang gadis muda yang bertahan untuk tidak mencintai, tapi semakin besar berusaha mengelak dia tidak bisa menghindari cinta pertama yang hadir begitu saja. Namun kebahagiaan yang sudah dirajut bersama orang yang dia terima cintanya harus terkubur habis menyisakan luka yang teramat besar. Tidak hanya cinta yang diperjuangkan olehnya tapi masa depannya pun selalu diperjuangkan.
Disini,ditepian danau dia mengingat kembali bagaimana perjuangannya menggapai mimpi untuk masa depannya dan juga cinta yang hadir dalam prose perjalanannya.
...Flashback...
.
*Hari Kelulusan*
"Fana....kita lulus..." Tiga sahabat berpelukan erat. Syafana, Aya dan Tia. Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Berteman sejal awal masuk sekolah menjadikan mereka begitu akrab.
"Alhamdulillah.. sekarang saatnya memikirkan untuk melanjutkan masa depan. Meraih cita - cita untuk sukses dunia dan akhirat" Syafana tersenyum lembut kepada teman - temannya.
"Apa rencanamu Fana?" tanya Aya.
"Aku akan bekerja sambil kuliah. Aku harus berjuang keras untuk masa depanku"
"Kami bangga padamu Fan. Kamu benar - benar hebat." Tia mengacungkan dua jempol pada Fana.
"Hei coba lihat.. Anak miskin seneng banget kayaknya lulus. Kayak bisa ngelanjutin kuliah aja. Dasar orang miskin." tiba - tiba seorang perempuan datang menghampiri.
"Heh nenek lampir. Ganggu orang aja. Itu mulut kudu dijaga. Kalau nggak lem aja pake lem tikus sekalian" bentak Tia.
"Udah deh ya, kalian berdua diam aja. Teman kalian yang miskin ini bagusnya jadi pemba*tu aja dirumah gua. Heh.. Syafana. Gimana? Lue mau kerja sama gua. Nanti gua kasih gaji yang gede"
"Heh.. Niken si nenek lampir peyot, teman gue yang cantik dan manis ini gak butuh duit loe. Pasti banyak kerjaan yang lebih bagus. Secara dia kan pintar, cantik, baik lagi. Ya kan Fana?" Aya tidak mau kalah mengomentari.
"Udahlah. Aku gak mau ribut. Lagian yang dikatakan Niken itu benar. Aku memang orang miskin. Gak sama dengan dia yang anak orang kayah." Syafana berusaha menengahi.
"Fana, tapi si nenek lampir ini udah keterlaluan. Mulutnya memang harus dicabein dengan level 30." ujar Tia.
"Hahhah...sekalian aja mulutnya digeprek." Aya berbicara sambil cekikian.
Niken memandang dengan sinis. Dia memang tidak pernah suka dengan Syafana. Syafana banyak disukai teman - temannya. Kesederhanaannya membuat semua kagum padanya. Dia kembali menatap sinis pada Syafana.
"Heh...dia aja ngakuin dirinya sendiri kok kalau dia miskin dan gak pantas punya cita - cita tinggi. Bangga lue punya orang tua miskin hah? Apa yang lue harapin dari kerja orang tua lue? Makan aja susah, apalagi kuliah. Huh .. gak nyadar banget." Niken sengaja berbicara pedas seperti itu. Dia paling senang sekali menghina Syafana. Selama ini tak ada puasnya di menghina. Apalagi selama ini Syafana hanya diam saja tak menanggapi. Jadi dia beranggapan Fana takut padanya. Syafana cuma malas berdebat. Baginya tidak ada gunanya membalas hinaan Niken.
Tapi ketika orang tuanya disebut darahnya langsung mendidih. Kata - kata Niken barusan bagaikan membangunkan singa betina tidur.
Dia menatap tajam ke arah Niken, rahangnya mengeras. Dengan mengepalkan tangan menahan marah dia berjalan ke arah Niken. Aura dingin Syafana membuat orang yang berdiri disitu bergidik ngeri. Niken yang terkejut dengan tatapan mematikan dari Syafana mulai takut. Seketika keberaniannya hilang. Dia mundur beberapa langkah. Tepat dihadapan Niken dia mencengkram erat dagu niken. Aya dan Tia hanya melongo menyaksikan.
"Kamu boleh menghina aku. Tapi jangan hina kedua orang tuaku. Mereka adalah kehidupanku. Berani kamu mengusik hidupku, aku tak akan mengampunimu. Aku memang mengatakan aku orang miskin. Tapi aku punya hak untuk bercita - cita tinggi. Tidak kamu atau pun yang lainnya jangan pernah berani ikut campur untuk hidupku. Aku tidak pernah takut padamu. Sekali lagi kamu mencoba untuk terlibat dengan hidupku, maka akan ku buat kamu menyesal seumur hidupmu atau akan ku robek mulut samp*h mu itu. Kau paham nenek lampir?" Niken yang gemetar hanya mengangguk dengan wajah pucat. Dia benar - benar ketakutan melihat Syafana.
Syafana melepas cengkramannya dan kemudian mengajak kedua temannya untuk pulang.
"Wah .. Fana harusnya dari dulu kamu hajar si nenek lampir itu" uja Tia
" udahlah... ayo pulang"
"ya ampun, ternyata ngeri juga dia kalau marah. Aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Aku benar - benar takut. Bagaimana kalau dia benar - benar merobek mulut seksi ku ini? oh tidak....." bathin Niken.
Dia bergegas mengambil tasnya dan buru - buru pulang.
Sesampai dirumah Syafana mendapati kedua orang tuanya sedang berada di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum... Ibu.... Ayah... Syafana cantik pulang nich..."
"Wa'alaikumsalam... geernya anak gadis ibu."
"Hehehe.. ayah dan ibu Fana yang saaangat baik, Fana lulus...." Syafana menyerahkan bukti kelulusannya pada ayah dengan gembira.
"Wah...hebat gadis kecil ayah ini"
"Ayah, Fana udah besar. 18 tahun lo.." Syafana cemberut.
"Iya ,Fana kesayangan ibu udah besar" Ibu mengelus lembut rambut Fana. Fana tersenyum dan bergelayut manja pada ibunya.
__ADS_1
"Fana, apakah kamu berencana untuk kuliah nak?"ayah Syafana bertanya dengan serius kepada putri kesayangannya.
" Ayah, maaf. Apakah ada biaya untuk Fana Kuliah?" Syafana bertanya dengan hati - hati kepada ayahnya.
Ayahnya menarik nafas dalam dan melepaskan dengan pelan. Sebagai seorang anak Syafana tau betul kondisi keluarganya. Biaya kuliah tentu mahal. Tapi Syafana sudah bertekad kalau dia akan tetap kuliah dan akan berusaha bekerja untuk mendapatkan uang.
Berasal dari keluarga sederhana memang membuat dia kesulitan. Tapi di tau betul dengan kondisi orang tuanya. Dia bersama Kakaknya Joe sudah terbiasa mandiri dari kecil. Apalagi kakaknya sedang sibuk dengan skripsi. Dan membutuhkan banyak uang.
Dia sudah memikirkan semuanya semenjak lama. Dia akan bekerja sebagai guru private pada sebuah keluarga. Keluarga tersebut memiliki anak - anak yang masih sekolah di sekolah dasar. Kedua orang tuanya sibuk, jadi Syafana akan menjadi guru pendamping untuk mereka.
Ya, Syafana sudah mengambil sebuah keputusan. Dia akan bekerja pada keluarga tersebut. Beruntungnya dia akan tinggal langsung di sana dan rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat kuliahnya nanti, jadi dia bisa irit ongkos.
"Ayah, Syafana akan bekerja sambil kuliah. Menjelang kuliah Syafana rasa gaji dan tabungan Syafana 3 tahun ini akan cukup untuk biaya masuk kuliah.
Syafana akan tetap rajin belajar. " Syafana menjelaskan pada ayahnya.
"Dimana nak?" ibunya bertanya khawatir.
"Bu, Syafana akan bekerja menjadi guru private anak - anaknya keluarga Ibu Yuni."
"Ibu Yuni?"
"Iya. Dan Fana juga akan tinggal disana
Kan dekat dari kampus"
"Apa kamu ikhlas sayang? maafkan kami nak."
"Syafana sangat ikhlas kok. Malahan Fana senang. Ayah dan Ibu jangan khawatir ya.."
"Kakak mendukungmu dek. Nanti setelah selesai ujian sidang dan lulus, kakak akan langsung mencari kerja. Dan kakak yang akan berjuang untukmu." Tiba - tiba kakaknya Joe mendekati Syafana dan membelai sayang rambut adiknya.
"Kakak? baru pulang ya?"
"Iya. Ayah, ibu. skripsi Joe sudah di acc. Tinggal nunggu jadwal ujian aja. Tolong di do'akan semoga lancar."
"Tentu nak. Kami bangga punya kalian."
Kriyuuk... kriyuukk
Semua menatap Syafana. Syafana hanya cengengesan.
"Ya udah, makan dulu yuk. Nanti ada drama pingsan lagi" ibu tersenyum.
"ah..ibu...." rengek Fana sambil memeluk ibunya.
"Mulai deh penyakit manjanya." Joe mengacak - acak rambut adiknya.
"Joe, sudah....jangan ganggu adikmu. Cepat bersih - bersih dan makan"
"Iya, nyonya.." Joe dan Fana menyaut berbarengan.
"Hahahahaha.." mereka tertawa. Ayah dan ibu cuma geleng - geleng kepala melihat tingkah anak - anak mereka.
Meski kesulitan dari segi uang, tidak bisa membuat Syafana mengubur begitu saja impiannya. Dia harus menambah ilmu pengetahuannya. Memiliki otak yang cerdas, wajah yang manis dan lembut, dan semangat yang tetap menyala. Itulah dia Syafana. Banyak yang kagum akan dirinya. Seorang gadis yang mengerti betul keadaan orang tuanya. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya begitu saja. Baginya orang tuanya adalah segalanya. Dia akan mematuhi mereka. Termasuk untuk menjaga hati dan menjaga jarak dengan laki - laki. Hanya boleh berteman saja. Itulah yang selalu dinasehatkan ibunya. Meskipun banyak yang menyukainya, tapi dia selalu berusaha biasa saja. Dia akan berusaha menetralkan rasa yang ada di hatinya. Ya, sikap ceria, cuek dan mudah dalam bergaul membuat Fana banyak disenangi dan disukai teman - temannya. Guru-guru pun menyukainya karena Fana adalah salah satu yang pintar. Senyum ramahnya dan suka menolong membuat dia banyak di kenal dan di segani baik dilingkungan sekolah, maupun di rumah.
Sedih memang sering dia rasakan ketika teman - temannya bisa melakukan apa yang mereka suka. Bisa membeli apapun sesuai keinginan mereka. Tapi fikiran itu langsung ditepisnya. Dia mengingatkan dirinya agar selalu berpikiran positif dan selalu semangat dalam menjalani hidup. Harus selalu bersyukur. Tersenyum saja dengan ikhlas.
______________________________________
Sesuai kesepakatan, hari itu Syafana mengemasi pakaian dan keperluan lainnya. Demi menggapai cita - cita dia harus tegar berpisah dengan orang tuanya.
"Ibu, tolong do'akan Syafana ya semoga semuanya lancar." ucap Syafana pada ibunya.
"Iya nak, rajinlah belajar, berbuat baiklah terus, hormati orang tua angkatmu, dan yang terpenting berjalanlah di jalan yang sudah ditetapkan agama kita." kata ibunya berlinang air mata.
Syafana mengangguk dengan genangan air matanya. Kemudian di memeluk ayahnya.
"Ayah, maafkan Fana karna mulai besok Fana tidak bisa membuatkan ayah kopi lagi." ucapnya.
Ayah membelai rambut Syafana dan tersenyum,"Tidak apa - apa nak. Belajarlah yang rajin, raih cita - citamu. Maafkan ayah belum bisa membahagiakanmu."
"Ayah jangan meminta maaf, nanti Fana yang akan membahagiakan ayah dan ibu setelah sukses nanti." ucap Fana dengan semangat.
"Nak, kalau ekonomi kita udag baikan, nanti pulang ya. Bekerjanya udah cukup."
"Ok ayah.. Hehehe."
Akhirnya Syafana berangkat dengan diantar kakaknya. Sesampainya dirumah keluarga angkatnya setelah duduk sebentar kakak Syafana yang bernama Joe pamit pulang.
"Jaga dirimu dek. Kalau ada apa - apa cepat khabari kakak. Ingat, jangan terlalu dekat dengan laki - laki. Kamu adalah mutiara berharga kami. Setelah kakak mendapatkan pekerjaan yang layak tidak akan kakak biarkan kamu susah lagi. Kakak janji." ucap Joe sambil memeluk adik kesayangannya.
"Siap kak." ucap Syafana sambil meletakkan jari telunjuk dan jari tengah dikeningnya.
Setelah kakaknya pulang, Syafana kembali masuk ke dalam rumah menemui keluarga angkatnya.
"Syafana, ini kamarmu. Kamu akan tidur dengan anak perempuan Ibuk. Namanya Shabrina. Kebetulan dia anak perempuan Ibuk satu - satunya. Ini adiknya Arka. Ini suami Ibuk Pak Hendra. Yang ini adik Ibuk Kak Hesti dan anaknya yang masih umur 1 tahun Seima."
__ADS_1
Syafana tersenyum dan bersalaman dengan mereka semua.
"Tapi Fana belum tau nama Ibuk," tanya Syafana
"Panggil saja Ibuk Yuni."
"Baik buk."
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat dulu. Shabrina, ayo ajak kak Fana ke kamar dan lanjutkan belajarmu."
"Iya Bu. Kak Fana, ayo kita ke kamar," Shabrina kemudian ke kamar diikuti Syafana.
Sesampai di kamar Shabrina menunjukkan lemari pakaian untuk Syafana. Syafana langsung membereskan pakaiannya.
Shabrina tersenyum dan melanjutkan belajarnya.
Setelah selesai dengan pakaiannya, Syafana menghampiri Shabrina.
"Shabrina, ada yang bisa kakak bantu?" tanya Fana.
Shabrina tersenyum,"untuk sekarang tidak kak, besok shubuh aja kak. Tiap selesai shalat biasanya Shabrina setor hafalan ayat".
"Baiklah, jangan sungkan ya sama kakak".
" Baik kak, Shabrina senang ada kakak. Jadi ada teman juga untuk Shabrina. Kakak harus betah disini ya, karena Shabrina udah langsung sayang sama kakak" jelas Shabrina.
Syafana tersenyum dan memeluk Shabrina. kemudian dia mengusap lembut rambut Shabrina.
"Kakak juga udah langsung sayang sama Shabrina. Kakak akan selalu sayang sama Shabrina dan yang lainnya."
"Terima kasih ya kak"
"Sama - sama sayang" ucap Fana sambil memeluk Shabrina.
Akhirnya Fana tiduran aja di kasur sambil memperhatikan Shabrina. Dia berharap mudah - mudahan semuanya lancar, karena cita - citanya baru akan dimulai.
Syafana kemudian mengambil hp nya.
tut tut tut
"Assalamu'alaikum sayang"
"Wa'alaikumsalam,Bu. Fana udah sampai. Fana kangen".
"Sabar ya sayang nanti kalau ekonomi kita udah membaik, Fana pulang lagi ya nak"
"Iya,bu. Sampaiin salam kangen Fana sama ayah ya"
"Baik sayang. baik - baik disana ya"
" Iya,bu. Fana tutup dulu telfonnya ya. Assalamu'alaikum bu"
"Wa'alaikum salam sayang." Fana menutup telfonnya.
Shabrina yang sudah selesai belajar, menyimpan bukunya dan menghampiri Syafana.
"Kak"
"Iya Shabrina, ada apa dek?"
"mmmm,, kira - kira kakak akan betah kan disini?"
"Kenapa Shabrina bertanya seperti itu?"
"Shabrina udah terlanjur suka sama kakak. Jadi Shabrina gak mau ditinggal kakak"
"Mmmm, kakak gak bisa janji sampai kapan kakak bisa bekerja disini. tapi yang jelas kakak akan menjadi kakak yang baik" Syafana tersenyum sambil mengusap rambut Shabrina. Shabrina tersenyum.
"Boleh Shabrina peluk kakak?"
"Boleh, sini sayang" syafana merentangkan kedua tangannya. Sharina langsung memeluk Fana.
"Nyaman sekali ada dipelukan kakak. Kakak tau kalau Shabrina anak tertua. Jadi mulai sekarang, Kak Fana jadi kakak Shabrina ya?"
"Baiklah, mulai sekarang kakak akan jadi kakak yang tertua" mereka berdua tertawa riang. Sangat mudah bagi Syafana untuk langsung disukai adik angkatnya karena ya Syafana memang mempunyai sifat penyayang dan ramah.
"Shabrina, sekarang udah terlalu malam. Jadi kita tidur yuk biar besok bangunnya gak telat."
"Ok, kak. besok tolong bangunin Shabrina cepat ya kak. Shabrina mau hafal ayat dan nyetor dulu sama kakak"
"Baiklah,besok akan kakak bangunkan. Selamat malam dan jangan lupa berdo'a sebelum tidur ya"
"Iya kak"
Akhirnya mereka tidur dengan nyenyaknya sambil berpelukan..
********************
Jangan lupa di like ya..
__ADS_1
ini karya pertama aku...
Jadi mhon dukungannya. Tolong dikomentar juga ya..