HAti... Temukan Cintamu

HAti... Temukan Cintamu
Si Bungsu Kesayangan - 3


__ADS_3

Syafana memasuki kelasnya. Ternyata sudah lumayan banyak yang datang. diperhatikan memang rata - rata usia teman sekelasnya sudah diatas dia. Tiba - tiba Fana tersenyum, dia mendapati masih ada 2 kursi kosong di depan. Syafana menghirup nafas dalam - dalam dan ia lepaskan pelan. Kemudian dia berjalan ke kursi kosong tersebut.


"Maaf, Kak. Apa sudah ada yang duduk disini?" Fana bertanya kepada seorang perempuan yang duduk di sebelah kursi kosong itu. Perempuan itu menoleh dan tersenyum.


"Tidak ada kok. Kamu duduk aja disini." kata perempuan tersebut.


Syafana kemudian duduk dan tersenyum kepada perempuan tadi.


"Kakak namanya siapa? kenalkan aku Syafana" Syafana mengulurkan tangannya.


Wanita tersebut tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Kamu bisa panggil kak Welly. Sepertinya usiamu masih kecil. "


Perempuan yang bernama Welly mencolek teman disebelahnya dan menunjuk kepada Syafana.


"Syafana, kenalkan yang ini namanya kak Tita."


Syafana menjulurkan tangannya.


"Syafana, kak" ucapnya sambil tersenyum


Tiba - tiba Fana melihat seorang perempuan sedang kebingungan mencari kursi kosong. Sepertinya dia hampir seumuran dengan Syafana. Tanpa pikir lama Syafana melambaikan tangannya. Perempuan itu berjalan menuju Syafana.


"Kamu lagi nyari tempat duduk? disini aja duduknya" Syafana menawarinya.


Dengan senang hati dia duduk disamping Syafana.


"Makasi ya, aku Fatya. Kamu namanya siapa?"


"Aku Syafana. Ini kak Welly dan itu kak Tita" Jawabku sambil mengenalkan kak Welly dan kak Tita.


Mereka berkenalan dan menjadi akrab. Bahkan kami berkenalan dengan yang lain juga.


"Ternyata berteman dengan yang lebih tua tidaklah buruk, malahan cukup menyenangkan" tiba - tiba Fatya berbisik pada Fana.


Fana hanya tertawa dan mengangguk. Dosen akhirnya masuk dan keadaan berubah menjadi hening. Mereka yang di ruangan tersebut diam. Dosennya sich masih muda tapi aura dingin dan tatapan matanya yang tajam membuat semuanya terasa membeku.


"Baiklah, saya adalah dosen untuk mata kuliah sekarang. Saya yakin kalau ada diantara kita semua yang usianya lebih tua dari saya, tapi harap dimengerti kondisi kita. Hubungan kita adalah dosen dan mahasiswa serta mahasiswi. Mungkin akan ada yang tidak suka dengan saya, tapi itulah kenyataannya. Sebagai dosen saya akan melaksanakan tugas saya dengan baik" ujarnya dengan muka datar.


"ya ampun, benar - benar balok es. Aku menyesal memilih duduk di depan." bathin Syafana


"Baiklah, karena ini pertemuan pertama, dan sebagai perkenalan saya akan memanggil nama satu persatu dan sebutkan umur" dosen itu melanjutkan ucapannya.


"Sebelumnya kenalkan nama saya Muhammad Reza Sanjayya , usia saya 25 tahun" lanjutnya


"Baiklah, saya mulai....bla...


bla..bla...*akhirnya sampai dinama Syafana*


Syafana Fania Putri.."

__ADS_1


Syafana mengangkat tangannya "saya pak, usia saya 18 tahun"


Tidak hanya pak Reza, tapi hampir semuanya menatap ke Syafana.


"Wah..ternyata kita punya si bungsu kesayangan ya.." beberapa mahasiswa dan mahasiswi ada yang berkomentar.


Tapi Syafana tidak terlalu menghiraukannya, karena dia fokus kepada pak Reza yang seperti terkejut melihatnya.


"aneh, kenapa ekspresinya berbeda. Apa ada yang salah denganku?" Syafana membathin dengan wajah keheranan.


"Gadis itu,,wajahnya mirip dengan... " ujar reza dalam hati.


Buru - buru Reza menormalkan wajahnya dan melanjutkan mengabsen sampai selesai.


Satu setengah jam pun berlalu dan pelajaran dengan pak Reza selesai. masih ada waktu untuk istirahat sebelum jam berikutnya.


"Syafana, kamu benaran masih 18 tahun?" tiba - tiba seorang laki - laki datang.


"Eh,,iya kak. memangnya kenapa kak?" tanya Syafana ramah.


"Tidak apa - apa. kenalkan nama aku Boy". Boy mengulurkan tangannya dan disambut oleh Fana.


"Senang berkenalan dengan kakak" lanjut Fana.


"Aku yang paling senang berkenalan dengan kamu.'' balas Boy lebih ramah.


" cie...ada yang mau pe-de-ka-te kayaknya nich" tiba - tiba salah seorang mahasiswa ikutan nimbrung.


"Apa sich kamu Arfan."


"Aku juga mau salaman sama si unyu - unyu.'' jawabnya santai.


" Udah,kembali ke kursi masing - masing" ajak Boy.


"iya, bentar napa. mmm..Syafana cantik, Bang Arfan mau kembali ke singgasana dulu ya. kalau butuh bantuan, Bang Arfan siap ngebantu kok".


"Iya, kak." jawab Fana kebingungan


Dan dosen selanjutnya udah masuk. Belajarpun di mulai.


-------------------------


Tepat setengah sembilan malam jam kuliah pun selesai. Syafana dan 3 temannya pulang bareng sampai persimpangan.


"Kak,kita pisah disini ya, Fana rumahnya belok kiri"


"Baiklah" ketiga temannya pun berpisah.


Kak Tita naik mobil online, kak Welly dijemput adiknya dan Fatya dijemput pacarnya.


Hari berganti, bulanpun dilalui. Dan sekarang ujian semester pun sudah selesai. Mereka tinggal menunggu nilai keluar.

__ADS_1


"Fana kamu udah selesai mengerjakan tugas tambahan dari pak Reza?" kak Tita tiba - tiba bertanya


"Sudah kak. Kakak sudah? lagian siapa yang akan berani untuk tidak mengerjakan tugas dari balok es." ucap Syafana kesal.


"hahahaha..kamu ini. Nanti jodoh lo." ujar ka Welly.


"Gak mau kak. Masak sama om - om" rengek Fana.


"Ya udah, sama kak Boy aja. kan mirip oppa - oppa korea" tiba - tiba Boy ikut gabung.


"Gak mau juga. bukan oppa - oppa korea, kak Boy itu opa - opa yang giginya tinggal dua." jawab Fana cekikikan.


" Tega banget sich dek. " Boy pura - pura ngambekkan. Sebenarnya dia memang menyukai Syafana. Tapi Syafana saja yang gak pekaan. Dia menganggap semua teman aja.


"udah deh, jangan ngambekkan gitu donk kak. Lipatan keningnya jadi nambah tuh satu.hehehe" Syafana mengangkat dua jarinya tanda perdamaian.


"Temanin kakak makan yuk " ajak Boy kemudian


"Gak mau, Fana masih kenyang"


"Bentar aja. Kakak yang trakktir dech.."


"Gak mau kak. Aku gak lapar. Kak Tita... aku gak mau makan sama kak Boy." rengek Fana sama Tita. Tita menatap dingin kepada Boy. Boy yang ditatappun lebih memilih langkah mundur jika sudah berhadapan dengan si mata dingin.


Setelah Boy pergi Fana memeluk Tita. "makasi ya kak. Hehehe."


Tita dan Welly hanya menggeleng kepala melihat tingkah Fana. Fana memang anak yang menggemaskan. Pantas saja semua orang menyukainya. Sifatnya yang tidak peka terhadap perhatian lawan jenis yang berlebihan padanya tak dihiraukan. Baginya untuk saat ini berteman saja sudah cukup. Karena pendidikan dan cita - citanya sedang menanti keseriusannya.


---------------------------------


Dua tahun sudah Syafana kuliah. Jangan ditanya bagaimana kuliahnya. Meski usianya tak sebanding dengan rekannya. Tapi kepintarannya bisa menandingi mereka. Bahkan beasiswa prestasipun dia dapatkan. Otomatis gajinya sebagai guru privat bisa ditabung.


Hari ini setelah pulang kuliah dan berpisah dengan teman - temannya di persimpangan jalan, dia melihat bakso tusuk langganannya.


"Mas, masih ada nggak?"


"Eh.. neng Fana? Baru pulang kuliah ya? masih ada untuk satu porsi neng"


"iya mas,baru pulang. bungkusin dong mas"


"Bentar ya neng" Mas Bakso membungkus dan menyerahkan pada Fana. Setelah membayarnya Fana melanjutkan perjalanannya. Sampai diseberang rumah, fana kebingungan karena malam ini jalanan ramai banget. Dia paling takut menyeberang kalau terlalu ramai karena pernah trauma hampir kecelakaan.


"Ramai banget jalanan. Gimana ini. Aku kan takut. Masak harus teriak - teriak manggil orang rumah. Kan malu."


Fana mencoba untuk memberanikan dirinya menyeberang. Langkahnya ragu - ragu. Dan tiba - tiba.......


"Aaawwwwww......"


*******************


Temans,,,,,bantu di like ya, komentarnya juga ditungguin. apalagi votenya... Hehehe

__ADS_1


__ADS_2