
"Aaaawwwww....."
Syafana berteriak keras. Dia hampir ditabrak motor. Dia terjungkal kebelakang dan terduduk di pinggir trotoar. Baksonya? terlempar entah kemana. Orang yang hampir menabraknya turun dari motor dan bergegas menolong.
"Kamu tidak apa - apa? sini aku bantu." pria itu mengulurkan tangan untuk membantu Syafana berdiri. Syafana menatap kesal pria yang masih memakai helmnya.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri. Dan gak usah pegang - pegang." ucap Syafana masih kesal.
"Gak apa. Biar aku bantu." lagi - lagi pria itu mengulurkan tangannya.
Dan lagi - lagi Fana menolak.
"Apa sih om, gak usah pegang - pegang deh."
Pria itu terkejut karna Syafana memanggilnya om. Dia mengernyitkan keningnya bingung.
"Kamu panggil aku om? kapan aku nikah sama tantemu?" ucapnya mulai kesal.
"Om kan pake helm. Aku gak liat wajahnya. Atau aku manggilnya bapak aja ya"
Pria itu melepas helmnya. ternyata pria itu masih muda.
"masih muda dan ganteng oi...." ujarnya dalam hati sambil melongo.
"Kenapa? kagum ya sama kegantengan aku?" ujar pria itu sambil mengangkat alisnya.
Syafana tersadar dan menormalkan raut wajahnya.
"Ck..Biasa aja tuch. Gantengan juga kakakku." Tiba - tiba Fana tersadar akan sesuatu. Seperti ada yang kurang.
"Ya ampun... bakso aku mana?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. Tiba - tiba dia melihat ke satu arah. Dan baksonya ternyata udah tumpah semua.
Dia mendelikkan matanya pada pria itu lagi.
"Bakso aku tumpah..." tunjuknya cemberut.
"Kamu nyalahin aku? yang salah itu kamu. Nyebrang kok ragu - ragu. Kayak nenek - nenek kehilangan selendang aja. Ya udah, biar aku ganti. " ujarnya kemudian.
"Gak mau. itu baksonya porsi terakhir ditempat langganan aku" ujarnya sambil cemberut.
"gadis ini ngegemesin banget dech. Jantung aku kok deg - degan yah."
"Trus gimana? lagian kamu cewek kok keluar malam - malam?"
"Aku tu pulang kuliah, bukan keluar malam - malam tanpa sebab."
Tiba - tiba Fana punya ide.
"Mmmmm.. ya udah gini aja. Kakak bantu aku nyebrang aja. Jadi impas deh" lanjutnya.
"Ya ampun... Jadi kamu gak bisa nyebrang?" pria itu bertanya dengan nada tidak percaya.
"Apa sih kak.. Aku tu bukannya gak bisa nyebrang, cuman takut nyebrang aja. Itu pun kalu rame. Kalau sepi juga nyebrang sendiri kok" kesal Fana.
"Ya udah. Yuk aku bantu " pria itu mengulurkan tangannya lagi.
"Tarik lagi tangannya. Aku cukup berdiri di samping kakak aja" ujarnya cemberut.
Mereka menyebrang. Sampai di depan pagar rumah mereka berhenti.
"Makasi ya kak" ucap Syafana sambil berbalik.
"Tunggu gadis kecil"
Syafana berhenti dan memutar badannya dengan menghentakkan satu kakinya.
__ADS_1
"Apa? Aku udah mau 20 tahun." katanya kesal.
Laki - laki itu menjulurkan tangannya dengan niat bersalaman
"Berarti urusan kita selesai ya" ucapnya kemudian.
Ragu - ragu Syafana membalas salamannya.
"Aauuww.." buru - buru dia menarik tangannya. Pria itu juga terkejut.
"seperti kesetrum? jantungku kenapa ini? bathin pria itu.
" Tangan kakak ada aliran listriknya ya? kok kayak nyetrum gitu? tapi ya udahlah. Aku masuk dulu. Sekali lagi terima kasih ya kak " ucapnya ramah.
"Ehh...iya. sama - sama" balas pria itu.
"Tunggu dulu..." tiba - tiba pria itu berteriak kecil.
Syafana menghentikan langkahnya, berbalik dan menaikkan satu alisnya.
" Nama kamu siapa?"
"Untuk?"
"Biar lebih afdhal" pria itu ikut - ikutan menaikkan alis.
"Fana"
"ouw..Fana nama kamu" pria itu manggut - manggut.
Syafana melanjutkan langkahnya.
"eh...tunggu"
"apa lagi? mau minta no hp? gak bisa"
"Gak nanya." Syafana mendelikkan matanya dan melanjutkan langkahnya.
"apaan dia. ketus banget. dingin lagi auranya. Tapi menarik." kemudian pria yang bernama Dhaffa itu kembali ke motornya dan melajukan motornya.
Syafana membuka pintu.
"Assalamu'alaikum.. Syafana pulang"
"Wa'alaikum salam" terdengar bu Yuni membalas salam dari ruang keluarga.
"Udah pulang Fana? bersih - bersih dulu habis itu makan . Udah shalat belum?"
"Tadi udah shalat di mushalla kampus Buk. Fana makan buah aja. Soalnya gak lapar. Nanti Fana gendut lagi.'' jawab Fana sambil tersenyum.
" Kamu ini. Badan kecil begitu gimana mau gendut. Ya udah, ibuk mau tidur dulu. Jangan lupa pintu dikunci ya" balas ibu Yuni sambil tersenyum dan pergi.
Setelah bersih - bersih, Fana duduk di sofa depan televisi sambil makan buah. Tiba - tiba Shabrina datang.
"Kakak yang cantik. Jadi siapa nama om itu?"
"Om? siapa ?" kening Shabrina berkerut.
"Itu loh, yang barusan bantuin kakak di depan"
"Ouw.. kakak gak tau siapa dia. Memang dia harus bantu kakak lah dek. Kan dia hampir tabrak kak" ujar Fana sambil cemberut. Lalu dia menatap kembali pada Shabrina.
"Tapi... Kamu kok tau dek?"
"Tadi Shabrina habis nutup gorden jendela kak. Tapi tenang aja cuman Shabrina kok yang liat" Shabrina tersenyum.
__ADS_1
"Kak, kayaknya Shabrina pernah deh liat om itu, tapi dimana ya?" Shabrina mengkerutkan keningnya.
"Ih, ngapain sih dek dipikirin. Kakak capek. Bobok yuk. Kakak gosok gigi dulu" ujar Fana kemudian.
---------------
*Dhaffa*
Hari ini aku hampir menabrak seorang gadis cantik, judes tapi kelihatannya baik. Dia begitu ketus. Tapi suasana hatinya tidak mudah ditebak.
Aku tertarik padanya. Jantungku benar - benar deg - degan. Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini.
------------------------
*Fana*
aku bertemu dengan pria yang membuat jantung aku bergetar. Dan waktu bersalaman aku seperti tersengat listrik.
Wajahnya begitu teduh. Perasaan apa ini. Biasanya aku tak begini.
-------------------------
Pagi ini jadwal kuliah Fana mulai jam 8 pagi sampai setengah 9 malam.
Pukul 07.00 sudah pamit berangkat. Ketika membuka pintu dia melihat seorang pria berpakaian polisi lewat didepan rumahnya. Mata mereka saling menatap untuk sekian detik. Buru - buru Fana menundukkan wajahnya.
"Dia? pria yang semalam? ternyata polisi?" Syafana membathin dan bergegas pergi.
Tiba - tiba kak Hesti memanggilnya.
"Fana..." Fana menoleh.
"Ada apa kak?"
"Bekal makan siangmu ini ketinggalan."
Fana menepuk jidadnya " oiya, Fana lupa kak. Hehehe"
"Bekal kamu udah kakak masukin sayur, trus ada buahnya juga, kamu harus banyak makan biar nggak kurusan"
"kakak, badan Fana itu kurus bukan kurang makan tapi udah dari sononya."
Fana melirik pria tadi yang masih menatapnya dengan tersenyum.
"apaan dia senyum - senyum. Ini lagi kakak, nyuruh makan kayak nyuruh anak TK makan aja. malu - maluin aja dech."
"ya udah kak. Makasi ya kak. Apa gak sekalian nambah uang jajan Fana? Hehehe"
"ogah, nanti malah jajan sembarangan lagi. Sana berangkat. Ntar telat lagi."
"Iya, kakakku yang baik. Salim dulu dong sama adiknya yang cantik ini." Syafana bersalaman dan melanjutkan pergi ke kampusnya.
Dipersimpangan ketika akan menyeberang Syafana menggembungkan pipinya. Jalanan begitu ramai.
"ini nich cobaan terberatnya. Nyebrang lagi kan..ish..sebelnya" Syafana mengerucutkan bibirnya.
Tanpa disadarinya sepasang mata sedang mengamatinya den senyuman.
"Dasar gadis lucu"
kemudian dia mendekati gadis itu.
Tiiin...tiiin..tiiiinnnnn...
********************
__ADS_1
Temans, aku masih nungguin like dan komentnya ya..