
"Hai..." Dhaffa tersenyum.
Fana cuman tersenyum datar. Dia masih melihat kondisi jalan dengan wajah bingung.
"Mau aku bantu nyebrang?"
"Gak usah bantu tapi temanin aja"
"Temanin aja?" Dhaffa tersenyum "baiklah,ayo aku temanin"
Syafana berjalan disampingnya dengan menunduk.
"ok, sudah sampai"
"Terima kasih y kak" ucap Syafana dengan senyum manisnya.
"senyumnya. aku bisa galau dengan senyum itu"
"mmm..i...iya, sama - sama"
"Fanaa...." tiba - tiba seseorang memanggil.
"Kak Boy?"
"Ayo kakak boncengin adik manis, biar cepat nyampe"
"Iya kak, tungguin dedekmu" balas Syafana. Dia menoleh kembali kepada Dhaffa.
"Kak Dhaffa, maaf ya, aku harus pergi. Ojek gratisku udah nungguin. Bye.."
Syafana berlari ke arah Boy dan naik motornya. Sementara Dhaffa kembali ke motornya dan melanjutkan perjalanannya ke tempat kerja.
-----------------------
*Dikampus*
"Terima kasih ya kak Boy"
"Sama - sama bidadari hatiku" ucap Boy sambil menaik - naikkan alisnya. Fana cuma geleng - geleng kepala dan berlari ke rombongannya.
Mereka masuk kelas dan belajar.
Setelah istirahat makan siang, mereka duduk - duduk di depan kantin.
"Fana, polisi yang bersama kamu tadi pagi siapa?" tiba - tiba Boy bertanya.
"Polisi? ouw iya, dia tadi membantu aku nyebrang karna jalanan terlalu ramai kak."
"ouw. aku kira saingan aku"
"Kak Boy gak usah aneh - aneh ya. Nanti kalau si bakso gosong dengar, dia marah sama aku. Nanti dibilangnya aku mau rebut kak Boy dari dia lagi."
"Ish...apa sih Fana, siapa juga yang suka sama si bakso gosong. Mendingan sama kamu"
"ogah"
"udahlah, kak Tita, Kak Wel, Fatya masuk lokal yuk.. Fana takut disini lama - lama nanti dicabein sama bakso gosong"
"Yuk"
mereka masuk lokal sambil bercanda.
Jam setengah sembilan malam Syafana pulang. Tidak terlalu rame sich. Ketika melewati persimpangan Fana melihat 3 orang laki - laki mengikutinya. Karna khawatir Fana mempercepat langkahnya.
"siapa mereka? tumben sekali aku diikuti. Biasanya gak ada. Aku harus tetap tenang." syafana bergumam dengan pandangan yang waspada.
Ditempat yang agak sepi ketiga laki - laki itu menghadang Syafana.
"Hei...cantik. Mau pulang ya?" Sapa preman pertama.
"Iya, bisakah anda bertiga memberiku jalan lewat?" Fana berusaha tenang.
__ADS_1
"Sayangnya tidak. tapi kami hanya bisa memberimu kebahagiaan. Ayo ikut kami"
"Cih.. perkataan kalian membuat telingaku sakit. Sekali lagi ku katakan Beri aku jalan lewat" ucap Syafana tegas.
"Wah.. tambah galak tambah cantik ya. Aku jadi tambah semangat. Hahaha."
"benar - benar menjijikkan" bathin Fana.
"Menyingkirlah dari hadapanku" Fana berteriak keras. Suaranya menggelegar. Mata nya menataap tajam dan rahangnya mengeras. Dia menendang perut preman yang ada di tengah - tengah dengan cepat.
Bugh....
Dan langsung menendang lutut preman yang disisi kanannya. dan memukul keras kepala preman itu.
Brugh....praakk..
Lalu dia menatap ke arah preman disisi kiri.
"Dasar gadis breng**k. rasakan ini" pria itu mengayunkan pukulannya ke arah Fana. Fana menyambut pukulan itu dan memutar tangan preman itu kebelakang. Dan mengunci pergerakan preman itu.
Brugh...
"aawww..lepaskan tanganku gadis na*al."
"Apa? Kau bilang aku gadis apa?" Fana menarik keras tangan preman itu.
"Aawww..sakit. Lepaskan aku. Heh..kalian berdua bantu aku"
"Berani kalian berdua menyentuh gadis itu, ku pastikan kepala kalian akan tembus oleh benda ini." tiba - tiba terdengar suara pria sambil menodongkan senjata.
Syafana menoleh ke asal suara. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah suara itu.
Preman itu terkejut. Melihat polisi, mereka berlutut.
"Ampuni kami bertiga. Kami hanya di suruh" mereka mengatupkan kedua tangannya.
"Apa? disuruh? oleh siapa......?" tanya Syafana dengan kemarahan..
"I...itu...yang menyuruh kami...nona Dhina" jawab preman itu terbata - bata.
"Dhina?"
"i..iya nona. Dia bilang dia sakit hati karena nona sangat dekat dengan laki - laki yang dia sukai.''
" apa?" awas saja kamu Dhina. Kamu belum tau berhadapan dengan siapa.
"Ya sudah, pergi sana..!!" dia mengusir ketiga preman itu.
"Kenapa kamu menyuruhnya pergi? aku akan memenjarakan mereka"
"Tolong jangan penjarakan kami. Kami janji tidak akan melakukan lagi. Ini yang pertama dan terakhir."
"pertama dan terakhir? ck..dasar preman abal - abal"
"Kak,biarkan saja mereka pergi"
"Kamu yakin?
" iya"
"terserah kamu saja"
"pergilah kalian. Tapi ingat, jangan perlihatkan lagi wajah kalian di hadapan ku..!!!"
"Baik, nona. Kami janji tidak akan bekerja seperti ini lagi."
"Dan ingatlah, dimana ada gadis ini, disana ada aku. Maka ,mencari masalah dengannya berarti kalian ikut bermasalah denganku." pria itu mengeluarkan aura menakutkan.
"Kami tidak akan mengganggu nona ini lagi tuan, kami janji"
"ya sudah, pergilah"
__ADS_1
Ketiga preman itu bergegas pergi dan menghilang dipersimpangan jalan.
"Kak, terima kasih"
"Untuk apa? aku tidak menolongmu, aku hanya menemani." jawab polisi yang tidak lain adalah Dhaffa.
Dia tersenyum dan berjalan ke arah Fana.
"Kamu wanita yang hebat. Siapa yang mengajarimu beladiri?
" Kakak dan ayahku. monyong - monyong, kok kakak bisa disini?"
"kamu yang monyong. aku sebenarnya mau pulang, tiba - tiba keingat kamu. Trus aku lurus aja dan dan persimpangan sana aku udah liat mereka mengikutimu. Jadi aku ikutin aja."
"ouw.." Fana manggut - manggut.
"Fana?"
"iya?"
"kamu perempuan, kenapa ambil kuliah malam? kenapa gak kuliah pagi aja?"
"Aku harus bekerja kak. Aku bukan orang kaya. Sebenarnya kakakku sudah bekerja dan menyuruhku untuk berhenti kerja. Tapi aku kasihan kalau dia yang menanggung semuanya. Aku harus bisa mandiri. Aku harus sukses. Gak apa jika sekarang aku susah dulu." Fana tersenyum..
"sungguh wanita yang luar biasa. Aku tambah salut padanya."
"Lalu bagaimana masalahmu dengan orang tadi? memangnya kamu mendekati pacarnya?"
"ck...aku bukan wanita seperti itu. aku hanya menganggap teman kelasku dibatas teman saja. Mereka saja yang kadang kelewatan. Aku akan menyelesaikannya sendiri besok."
"Baiklah, ayo aku antar pulang"
"Terima kasih, tapi maaf kak aku pulang sendiri saja. Tidak enak jika malam - malam aku berboncengan."
"gadis ini, benar - benar membuat aku jatuh cinta"
"Tapi aku yang cemas. Begini saja, aku akan menemanimu. Kita beriringan saja."
"Aku tidak mau merepotkan"
"Jangan menolak. Aku hanya sebatas menemani."
"Terserah kakak saja"
Syafana melanjutkan perjalanannya dan Dhaffa mengiringinya dengan motor.
"Fana..''
" Mmmh.." Fana menoleh ke arah Dhaffa dan fokus kembali pada langkahnya.
"Aku kagum padamu. Kelak wanita mandiri sepertimu akan sukses dan berhasil."
Fana tersenyum, " aku hanya berusaha selagi aku sanggup kak."
Akhirnya mereka sampai. Fana membuka pintu pagarnya. Sebelum masuk dia menatap kembali pada Dhaffa. Sekian detik mereka bertatapan. Buru - buru Fana menetralkan suasana.
"Fana, sebelum kamu masuk sini hp mu?"
"Untuk apa kak?''
" Sini dulu" Fana menyerahkan hpnya. Dhaffa mengotak - atik dan menyerahkan kembali.
"Masuk dan istirahatlah" Dhaffa tersenyum lembut.
"Iya, terima kasih" Fana masuk kerumah. Dhaffa pun melajukan motornya pulang.
*************************
Kayaknya ada rasa yang mulai muncul deh di hati mereka...
Ayo donk di like, biar author semangat nge up nya....
__ADS_1