Hati Dan Pemiliknya •Lee Heeseung

Hati Dan Pemiliknya •Lee Heeseung
5


__ADS_3

#harshword!




...----------------...


Tanpa mengetuk, Jayden memasuki sebuah rumah kos yang sederhana itu. Mengedarkan pandangan mencari sang penghuni kos tersebut. Tak melihat adanya Hesa, Jayden memilih duduk di sofa dengan meja kayu di depannya.


"Rokok gue mana?" tanya Hesa yang membuat Jayden menoleh telak. Rupanya temannya ini baru saja mandi? Terlihat telanjang dada dan juga handuk yang berada diatas rambut basahnya. "Nguras duit gue lo,60 ribu nge" ujar Jayden menyerahkan titipan Hesa.


Bukannya menjawab, Hesa pergi ke kamarnya. Mengambil kaosnya lalu keluar kembali sambil merogoh saku celana yang ia kenakan. "Nih, sisanya ambil" ucap Hesa menyerahkan uang 70 ribu. Tentu yang mendengar itu tersenyum bahagia. "Nah gini kan enak,kalo nitip lagi bilang ya?".

__ADS_1


Tak lama terdengar ketukan pintu, mereka menduga itu adalah teman-temannya. Namun anehnya, temannya tak pernah mengetuk pintu kos Hesa saat berkunjung. Dengan pikiran positif, Hesa berkata "masuk aja."


Ternganga karena dugaan mereka salah. "Gue mau nganter titipan ke kak Jay, hehe. Maaf ya ganggu.." Ucap Nadya sembari memberikan kunci kepada Jayden. Jayden menerima kuncinya, namun menarik lengan adiknya juga. "Bareng siapa? Bukannya ga bisa naik motor?"


Memutar bola matanya, Nadya menjawab "sama Nay lah! orang udah sepaket. Udah ih, mau main ke kos nya Nay". Jay melihat adiknya pergi. Dan memang tak salah, Terdapat Nay dengan motornya di pekarangan kos Hesa. "Lo waras kan sa? Cakep anjir, pantes lo gila".


Mereka berdua tak melepas netranya dari Nay meskipun Nay sudah melesat dari tempat mereka. "Gitu amat ngeliatin nya bro" ucap Satria yang datang bersama Jake. disusul dengan sheva, Juan, dan Nalen. "Kasmaran bang?" ucap Nalen telak di angguki oleh Jayden. "Dia doang tapi,gue engga" tuding Jayden.


...****************...



__ADS_1


ucapan Nalen seketika mengheningkan isi ruangan. Nalen mengangkat kepalanya menatap teman-temannya yang juga menatapnya kecuali Hesa. "Ya lo beli lah" ucap Satria. Sheva yang mengerti keadaan menyela, "ini bukan soal tempat tinggal, Rumah yang Nalen maksud adalah tempat dimana dia bisa menuangkan keluh kesahnya."


"Gue ga pernah sesayang ini sama cewe. Bahkan buat dia, gue rela lakuin apapun. Tapi dia ga pernah sekalipun hargai perasaan gue, perjuangan gue. Apapun yang gue lakuin rasanya tak pernah ternilai di mata nya. Dia sepelein rasa sayang gue. Gue pengen lepasin, tapi gue ga bisa. Gue anggap dia tempat berpulang gue."


"Lo bahkan rela terkapar sendirian sedang dia foya foya tanpa satupun pemikiran tentang lo,len." Ucap Hesa seraya menghisap candu nikotin. "Gue ga ngerti salahnya dimana bang, perjuangan gue selama ini rasanya bertepuk sebelah tangan." ujar Nalen.


"Lo yang pegang perjuangan, lo juga yang harus tentukan akhir. bertahan atau pergi". Mendengar itu, Nalen benar-benar habis dengan pikirannya. Nalen sontak menunduk, melepas semua luka yang digores oleh pujaan hatinya. Naluri tetap naluri. sebagai tanda simpati, Juan yang notabene nya ada di sebelah Nalen mengusap punggung Nalen.


Hening dengan suara isakan. Mereka tau, hubungan memang rumit, tapi itulah resiko. Rumitnya hubungan adalah bagaimana cara satu pasangan ini menanggapi tentang hubungan mereka. Hidup bisa terbalik drastis jika kita melepaskan tanpa memikirkannya berkali-kali.


Memilih untuk tak larut dalam duka, Mahesa membuka ponsel nya. Menatap isi komentar postingan temannya barusan. "Kapan kampus punya acara?" Tanya Hesa memecah keheningan. "Gue ga tau, tapi kayanya acara ulang tahun kampus ga jauh lagi." ucap Jake yang diangguki oleh Hesa.


"Kita bikin lagu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2