
#harshword!
"Dih alay anjirr" ucap Nay menjengit. "AHAHA BENER KANN!?" tawa sontak dari Nadya yang di angguki Nay. "Emang gitu anjir bentukan nya, ngeselin parah!" lanjut Nadya dengan nada kesal. "Terus abang lo mau gitu?". "Mau anjirr, buta kali ya tuh orang. Heran gue, padahal bukti dia sendiri drama katanya gue gampar, yaudah gue gampar beneran depan kak Jay dong".
Tawa lepas keluar dari bibir Nay. Pusing dengan kelakuan temannya yang kadang diluar nalar. "AHAHA gilaaa. Emang ga luput dari sikap abang lo juga yang senggol bacok ye". "Beda nya kak Jay buta cinta, gue ga." ucap Nadya sarkas. Benar-benar tak habis pikir dengan sikap kakaknya sendiri.
Dengan terpaksa, Nadya mengemasi buku nya. "Eh gue duluan ya Nay, si anjing ini di rumah, kak Jay suruh gue nemenin." pamit Nadya. "Lanjut kerjain di apart abang lo aja gimana? gue temenin lo." ujar Nay yang diangguki oleh Nadya. "Boleh, tapi maaf ya kalo nanti si dedemit ribut ga jelas". "Gapapa, bawa santai".
...----------------...
__ADS_1
Nadya coba buka pintu apartnya dengan kunci. Namun anehnya kuncinya tak bisa di putar. "Anjing? kok ga bisa?" Nadya sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mencoba memutar knop pintu dan, "Oh? kebuka?". Membuka pintu dan mendapati seorang gadis yang meliriknya sekejap lalu memfokuskan kembali atensinya pada handphone nya.
Nadya sudah sangat geram. andai tak mengerti dosa, Nadya akan mematahkan knop pintunya lalu menghantamkan kepada seseorang yang baru saja meliriknya sekilas dari dalam sana. "Mau jadi wanita malam? Keluar ga tau waktu." Nadya menatap tajam gadis di hadapan nya. Sedang yang ditatap hanya sibuk bermain handphone sambil menggunakan blush on se merah mungkin pada pipi kiri nya.
Nadya mengabaikan manusia yang benar benar datang tanpa undangan itu. Masuk dan menarik lengan Nay untuk pergi ke sofa dimana ia akan duduk berhadapan dengan musuh bebuyutannya. "Ow, adik kecil Jay.. Habis jual diri dimana? pulang bawa cowo?" Nay menyunggingkan senyumnya. "But-!" "Calm down, lebih dari buaya. dibutakan dalam melihat mangsa termasuk salah satu sifat dasar seekor bajingan".
"LO!?" Belum sempat ia menghampiri Nay, Jayden membuka pintu dan mengubah keributan. Hening. hingga tak terhitung menit, gadis dengan nama 'Mona' menghampiri Jayden dengan tangis sesenggukan. benar-benar manipulatif, tangisnya bahkan tak bisa dibedakan dengan tangisan asli.
"SAYANGG! Hiks, Sakitt" rengeknya. Tapi Jayden tak berkutik, diam menatap pacarnya yang tersungkur dengan perasaan setengah terkejut. "IH JAYDEN! Kamu bales dong!! Kamu itu ja-" Tak sempat meneruskan ucapannya, pipinya dicengkram kuat oleh Nay. Membolak balikkan wajah dengan dua warna merah yang berbeda pada belah pipinya. "Blush alami dari gue cakep. Lo ga mau coba Nad? bikinin dia blush alami" Nay dengan sedikit gelak tawa saat mengucap.
"Rasanya ga perlu lagi deh, pawang nya ga berkutik jadi ga asik. Mending gue lanjutin rekapan" ucap Nadya menyunggingkan senyum sarkas nya sembari menatap kakaknya. Nay beranjak dan segera mengambil tas nya. "Gue titip ya? nanti revisinya gue aja, gue duluan!" ucap Nay dan pergi tanpa meninggalkan jejak siluetnya.
__ADS_1
"Ish! Kamu tuh!! Kenapa ga bantuin coba? Aku pac-"
"DIEM! Lo dorong gue ke jurang kalo lo minta gue bales dia!"
"LO LEBIH MILIH DIA? PACAR LO GUE ATAU DIA!?"
Tak terima dibentak, Jayden mencengkram rahang pacarnya. "Gue ingetin ya! Sekali gue gores Nay, gue yang bakal mati di tangan tunggal Erlangga. Ngerti lo?" ucapnya penuh penekanan sebelum akhirnya pergi ke kamarnya sendiri.
Hening. Benar benar hening.
'Erlangga? Apa hubungan mereka?" benak Nadya bertanya-tanya. Menjinjing tasnya kembali lalu masuk ke kamarnya, meninggalkan oknum bernama Mona itu sendiri di ruang tengah.
__ADS_1
...****************...