
Faris hendak mau ke kantin bersama temannya sewaktu jam istirahat kuliah, ditengah perjalanan dia bertemu dengan wanita pujaannya itu. Saling senyum keduanya membuat heran teman-temannya. Teman Faris bernama iqbal. Dalam hati iqbal pun menebak-nebak pasti keduanya saling suka.
Faris selalu ingin berkenalan dengan wanita itu. Tapi apa daya dia tidak bisa, hanya memperhatikan dari kejauhan. Mereka memang berbeda kelas. Faris mengambil jurusan teknik mesin, sedangkan wanita itu mengambil teknik komputer.
Siapa nama wanita itu, membuat Faris selalu penasaran. Bahkan ketika dia dirumah, membuat ibunya curiga. Hanya mengingat-ingat wajahnya saja yang dia bisa.
Ibunya membuat nasihat kepadanya (Cinta memang kejam ya, membuat orang menjadi tidak waras. Senyum- senyum sendiri, membuat orang melamun. Ada tapinya yaitu membuat hidup menjadi berwarna. Ungkapkanlah jika memang cinta, karena jika tidak diungkapkan hanya membuat sakit. Bahkan kita tidak tahu apakah orang yang kita cintai itu, juga mencintai kita? Ungkapkanlah biar hati kita menjadi tenang)
Faris mengingat pesan ibunya itu, dia ingin sekali berkenalan dengan wanita itu. Tapi harus bagaimana, bahkan untuk membuka suara dihadapannya pun tidak bisa. Dia hanya bisa berandai-andai.
Apa dia harus menghubungi temannya iqbal supaya membantunya untuk berkenalan dengan wanita itu. Setahu dia iqbal sangat ahli dalam berkenalan dengan wanita. Tapi sayangnya Faris tidak ingin merepotkan masalah percintaannya ke orang lain.
__ADS_1
Faris tidak bisa harus seperti ini terus. Ibunya benar, ini membuat dia menjadi seperti orang yang tidak waras. Di mulai dari selalu senyum sendiri, melamun, bahkan diam seribu bahasa ke ibunya sendiri. Tapi ya itulah yang dinamakan cinta, cinta seorang anak manusia yang mengharapkan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Yang membuat dia tidak bisa berkenalan karena dia minder, dia hanya sosok anak seorang pembantu rumah tangga, sedangkan wanita itu anak seorang CEO. Pikirnya bagaimana mungkin anak seorang CEO mau berkenalan dengan anak seorang pembantu. Rasanya tidak mungkin, wanita itu mau berkenalan.
Ibunya selalu mendorong Faris agar selalu berkenalan dengan wanita itu. Bagaimana tidak, bukankah ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Itulah yang membuat ibunya terus memberi semangat kepada Faris (Faris pasti bisa).
Mendengar perkataan ibunya membuat Faris percaya diri, dia meyakini dirinya untuk harus berkenalan dulu dengan wanita itu, urusan mengungkapkan cinta, sabar saja pasti nanti bisa.
Ibu memang sahabat yang terbaik kita, beliau lah orang yang membuat kita semangat dalam menjalankan hidup ini. Bersedia mendengarkan curhatan kita, bersedia menjadi pendengar yang baik, memberikan semangat untuk kita, ibu bisa dibilang segalanya bagi kita.
Keesokan harinya masuk kuliah seperti biasanya, pagi hari yang cerah membuat hati Faris bahagia, terlebih bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Iqbal pun mengajak Faris ke kantin untuk sarapan, "tenang saya yang traktir" ucap iqbal. Tapi Faris tetap menolak karena memang dia sudah sarapan di rumah. Iqbal terus memaksanya, menarik tangannya Faris untuk ikut dengannya, akhirnya Faris menurutinya.
Sesampainya di kantin, penuh sekali orang di kantin, sampai mencari bangku untuk duduk pun sangat susah. Iqbal dan Faris mencari-cari bangku dan untungnya masih ada bangku dan meja yang kosong untuk 4 orang. Iqbal memesan bakso kesukaannya, dia menawarkan kepada Faris mau bakso atau tidak? Faris menjawab dia tidak mau, dia hanya ingin teh hangat saja. Iqbal pun memesan bakso dan teh hangat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, sang pujaan hati Faris datang bersama temannya, mencari-cari bangku kosong sangat susah sekali. Iqbal dengan percaya dirinya langsung memanggil kedua wanita itu. "Hey, disini masih ada yang kosong". Kedua wanita itu menoleh dan langsung duduk. Faris baru sadar ketika kedua wanita itu duduk, ternyata dan ternyata, pujaan hatinya lah yang duduk. Deg deg, deg deg, deg deg, itulah suara bunyi jantung Faris. Merasa dirinya gemetar melihat pujaan hatinya, sebentar memandang sebentar menunduk, tidak berani melihat lama wajah pujaan hatinya itu.
Iqbal memulai pembicaraan, "hey, salam kenal , nama saya iqbal dan ini temen saya Fariz, boleh tau nama kalian berdua?". Teman pujaan hatinya itu menjawab "nama saya Vina dan ini teman saya Sehan". Dalam hati Faris berbicara "ternyata namanya Sehan".
Sudah saatnya masuk kelas dan mereka pergi masuk kelas. Di kejauhan Faris terus melihat Sehan dan Sehan pun juga melirik Faris. Inilah awal mula keduanya ada rasa ketertarikan.
Di rumah, Faris sangat senang sekali, hatinya berbunga-bunga bagai dia sedang berada di taman bunga yang disekelilingnya tumbuh bunga-bunga berwarna-warni. Dia bercerita kepada ibunya "namanya Sehan bu, Sehan". Ibunya juga sangat senang sekali ketika anaknya itu terlihat sangat bahagia karena mengetahui nama sang pujaan hati.
Sedangkan Sehan hanya senyum-senyum sendiri di rumah, dia seperti merasakan sesuatu hal yang berbeda di dirinya. Entah perasaan cinta atau seperti apa, dia belum bisa merasakannya.
Faris bingung dengan dirinya, bagaimana dia bisa mengungkapkan perasaannya itu. Tapi waktu terus berjalan, dia terdiam sejenak, berpikir keras akan hal ini. Dia hanya berpikir, "ini baru awal kenalan, jangan terburu-buru, wanita itu butuh perhatian dan kasih sayang nanti juga lama-lama dia luluh".
Dia membuat syair untuk Sehan yang ditulis di kertas. " Engkau rembulan yang sangat indah, tempat mu tinggi di langit. Engkau wanita yang aku suka, tapi apa daya ku tak bisa mengungkapkannya. Begitu juga seperti rembulan tak mungkin aku menggapainya".
__ADS_1
Pikirnya "sepertinya sangat buruk sekali aku menjadi penyair, mungkin butuh waktu beribu-ribu tahun untukku jadi penyair".
Itulah syair yang mungkin sangat indah yang pernah dibuatnya, hanya sekejap saja membuatnya tapi membuat hatinya tenang akan syairnya itu. Apa mungkin Sehan juga menyukainya, terlebih dia juga melirik Faris dengan senyumannya yang indah, yang mempesona, yang membuat Faris tidak bisa tidur membayangkan akan hal itu. Wanita yang sangat cantik, murah senyum, itulah Sehan. Sehan sang pujaan hati Faris.