
Dihari libur kuliah, Pagi-pagi Faris sudah sangat rapi sekali, bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Baju kemeja biru dan celana hitam, membuat Faris sangat tampan. Ibunya terheran-heran, melihat Faris sangat rapi di pagi hari. "Faris, mau kemana nak? kenapa pagi-pagi sekali sudah rapi seperti ini?". Faris hanya senyum melihat ibunya. " Ibu tanya kamu mau kemana?". Membalas senyuman Faris ibunya kembali bertanya. "Mau nyari kerja bu". Jawab Faris sambil membetulkan kerah bajunya.
Mencoba mencari pekerjaan, ke satu perusahaan nanti pindah ke perusahaan lainnya lagi untuk mencari pekerjaan. "Sulit sekali mencari pekerjaan". Ucap Faris sambil membersihkan keringat yang keluar di dahinya. Ketika teringat Iqbal yang kemarin mengajak Sehan ke bioskop yang kala itu sangat senang sekali, Faris langsung bersemangat mencari pekerjaan. Dia terus berjalan menyusuri jalanan, panas terik matahari tidak membuatnya patah semangat.
Lumayan banyak lowongan kerja, tapi tidak pantas untuknya mengingat dia juga sedang kuliah. "Pekerjaan apa yang harus aku lamar, semuanya full di pagi hari". Pikirnya dia tidak ingin kuliahnya terhambat, kuliah yang telah dicapainya dari beasiswa tidak akan di sia-siakannya.
Hari sudah mulai sore, dia berniat pulang. Dia mencari angkot, terus berjalan sampai menemukan angkot. Ditengah perjalanan tiba-tiba dan tiba-tiba, dia melihat, melihat Sehan. Ya, Sehan dengan mobilnya yang mogok. Sehan sudah menghubungi orang bengkel tapi belum muncul juga. "Mungkin terjebak macet" pikirnya sambil duduk di bangku yang terletak dipinggir jalan.
Dag dig dug, jantung Faris berdetak sangat kencang. Faris hanya menundukkan kepalanya sambil menyembunyikan kepalanya memakai amplop lamarannya. "Malu aku jika Sehan melihatku seperti ini, tapi dia sedang membutuhkan pertolongan". Pikir Faris sambil terus berjalan yang sedikit lagu sampai didekat Sehan.
Sesampainya didekat Sehan, karena tidak ingin ketahuan, Faris terus menyembunyikan mukanya itu memakai amplop lamarannya. " Gubrakk". Faris terjatuh dihadapan Sehan. "Maaf mas, anda tidak apa-apa? " Ucap Sehan sambil membantu Faris berdiri. "Faris? Ya ampun, ini kamu". Lanjut Sehan berbicara sambil senyum-senyum. Senyuman yang sangat beda, terlihat happy sekali dia bertemu dengan Faris, iyaa sepertinya sepertinya Sehan.
__ADS_1
Faris tersenyum. " Iya Sehan ini aku Faris". Karena ketahuan jadinya Faris menemani Sehan duduk dipinggir jalan sambil menunggu orang bengkel. Sebenarnya Faris ingin memperbaiki mobil Sehan, tapi karena Faris tidak membawa perlengkapan bengkel jadi dia tidak bisa memperbaikinya. "Maaf ya Sehan, aku tidak bisa memperbaiki mobil kamu"
Mereka berdua hanya duduk, tidak mengobrol panjang lebar seperti yang dilakukan Iqbal, hanya sepatah dus kata yang mereka obrolkan. "Apa aku membuka bengkel online saja ya, aku juga ahli dalam bengkel" Pikir Faris yang sedang melihat mobil Sehan.
Sehan bertanya kepada Faris, sedang apa dia di hari libur kuliah. Dimana yang lain mungkin sedang berlibur, liburan jalan-jalan. Begitu juga dengan Faris, Faris pun mempunyai pikiran yang sama dengan Sehan. "Ku kira di libur kuliah ini, orang kaya seperti Sehan akan berjalan-jalan ke luar negeri, ternyata tidak".
Tidak lama kemudian, orang bengkel datang dan langsung memperbaiki mobil Sehan. Yang datang adalah orang bengkel baru dalam service mobil, dia belum terbiasa memperbaiki mobil. Tukang bengkel itu terus menggaruk kepalanya tanda dia bingung pada kerusakan mobil Sehan itu.
Tidak lama kemudian, mobil Sehan pun sudah selesai diperbaiki. Sehan memberikan minum pada Faris, Faris mengambil minuman itu sambil tersenyum. "Sudah selesai, silahkan dijalankan Sehan". Sehan pun mulai mencoba menghidupkan mobilnya. " Kau hebat sekali ya Faris". Faris hanya tersenyum.
Sehan menawarkan Faris untuk ikut pulang dengannya, tapi Faris menolak, dia malu tidak bisa menyetir mobil dan jika harus Sehan yang membawa mobilnya, rasanya tidak pantas sekali bagi Faris. Faris menyuruh Sehan jalan duluan saja, biar nanti dia naik angkot saja. Sehan pun mengiyakan perkataan Faris.
__ADS_1
Sehan dan Faris pun pulang, mereka berdua tersenyum mengingat akan hal ini. Pertemuan yang singkat, namun sangat berarti bagi mereka berdua. "Apa mungkin ini cinta, tapi rasanya tidak mungkin". Lagi-lagi Sehan tidak mempercayainya jika dia sudah menyukai Faris.
Sesampainya di rumah, Faris dan Sehan masih tersenyum. Mereka masing-masing melihat bulan dan bintang yang bersinar di langit. "Oh bulan, kau sangat indah sekali dipandang, membuat hati berbunga-bunga, membuat perasaan ini menjadi terus gembira, andai bisa ku ambil, akan ku taruh dikamar ku, ku tatap setiap saat, begitu juga dengan Sehan, andai dia jadi milikku akan ku".
" Faris ". Teriak ibunya mencari Faris sambil keluar rumah. " Rupanya kamu disini nak". Faris tampak kesal karena baru saja dia berhasil membuat syair untuk Sehan. "Ada apa bu" Jawab Faris dengan nada pelan. Ibunya menyuruh Faris untuk makan malam, Faris pun mengiyakan.
"Bagaimana tadi, sudah dapat kerja? " Ibunya bertanya sambil mempersiapkan makanan untuk Faris. Faris menggelengkan kepalanya, sama sekali belum mendapatkan pekerjaan. "Tidak apa, lain kali pasti kamu dapat". Faris mengatakan bahwa dirinya ingin membuat bengkel online saja. Dikarenakan jika bekerja pasti harus membutuhkan waktu full time sedangkan dia harus kuliah. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat bengkel online saja. Ibunya menyetujui akan keputusan Faris dan mendukung penuh Faris. Faris pun tersenyum. "Ibuku memang ibu yang sangat baik sedunia, terimakasih ya bu sudah mendukung Faris, Faris janji kelak Faris akan membahagiakan Ibu". Ucap Faris sambil memeluk ibunya.
Waktunya Faris tidur, tiba-tiba " Sehaaannnn". Tengah malam Faris terbangun karena mimpinya. Sambil pelan-pelan menarik nafas dia mengambil air didekatnya untuk minum. "Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin" Ucapnya ketika dia duduk di kamarnya.
Mungkin karena terlalu memikirkan Sehan, sampai terbawa mimpi oleh Faris. Faris benar-benar tidak percaya akan mimpinya itu. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Iqbal tidak akan menikah dengan Sehan, tidak, ini tidak boleh terjadi". Dengan tangan sambil memegang bantal Faris meneteskan air matanya. " Aku tidak boleh menangis, ini hanya mimpi, jika pun dia adalah jodoh Iqbal, tetap aku tidak boleh menangis"
__ADS_1
"Aku hanya percaya jodoh ada ditangan Tuhan, sabar Faris, sabar". Sambil menarik nafas panjang Faris langsung tidur kembali. Faris memang sangat mencintai Sehan, dirinya selalu memikirkan Sehan, ingin memilikinya menjadi kekasihnya. Faris mungkin tidak akan diam begitu saja, terus berusaha itu yang akan dilakukannya.