
Pagi-pagi sekali Iqbal pergi ke rumah Faris untuk mengajaknya pergi untuk lari pagi di sebuah event Car Free Day. Tapi sayangnya Faris belum bangun, dia masih tertidur karena semalam ada acara didekat rumahnya dan dia pun harus membantunya. "Faris, Faris". ucap Iqbal yang sudah sampai di rumah Faris. Ibu Faris keluar mendengar ada yang memanggil nama anaknya. " Bu, saya Iqbal temannya Faris, Faris nya ada? ". Ucap Iqbal sambil senyum-senyum. " Ada, silahkan masuk". Ibu Faris mempersilahkan Iqbal untuk masuk dan duduk sambil menunggu Faris. Ibunya pergi ke kamar Faris untuk membangunkan Faris. "Faris bangun nak, ada temanmu Iqbal diluar" Sambil menggoyang-goyangkan badan Faris untuk membangunkannya. "Baik bu". Jawab Faris yang masih mengantuk dan memaksakan dirinya untuk bangun. Faris pun keluar kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka dahulu. " Mau minum apa nak Iqbal?". Ucap Ibu Faris menanyakan ke Iqbal. "Air putih aja bu". jawab Iqbal.
" Iqbal, ada apa pagi-pagi kesini?". Ucap Faris sambil menggosok mukanya pakai handuk sehabis cuci muka. "Cuma mau mengajak ke Car Free Day Ris, ikut ya Faris, please". Jawab Iqbal sambil memohon agar Faris ikut. " Baik". Bales Faris.
Dilain tempat Sehan pun bersiap-siap untuk ikut Car Free Day bersama teman-temannya. "Pagi yang indah" Ucap Sehan sambil menarik nafas menghirup udara segar di pagi hari. "ayo Sehan" Temannya Sehan langsung mengajak Sehan untuk segera berangkat ke tempat Car Free Day.
Berangkat mereka, Faris dan Sehan berangkat bersama teman masing-masing untuk mengikuti event Car Free Day. Mereka masing-masing menggowes sepeda untuk menuju ke event Car Free Day. Ditengah perjalanan saat sedikit lagi sampai, Faris melihat Sehan diseberang jalan. Faris terus mengedipkan matanya tanda dia benar-benar tidak percaya jika Sehan ikut Car Free Day. Sekali, dua kali Faris terus mengusap matanya agar percaya jika itu Sehan.
"Sehaannn". Ucap Iqbal berteriak memanggil nama Sehan di kejauhan. "Ayo" Sambil mengajak Faris, Iqbal menemui Sehan dan teman-temannya. Mereka bersama-sama bersepeda bareng menuju tempat parkir sepeda, Faris hanya menunduk tidak berani menatap Sehan dari dekat.
__ADS_1
Setelah sampai diparkiran sepeda, Iqbal mengajak Sehan untuk berjalan berdua dengannya, dan meninggalkan Faris begitu saja. Hati Faris hancur berkeping-keping begitu saja, melihat Iqbal menggandeng tangan Sehan. "Bukankah mereka hanya teman? kenapa mereka bergandengan tangan?". Pikir Faris yang kala itu sedang memarkirkan sepedanya. Teman Sehan mengajak Faris untuk berjalan dengannya, tapi Faris tidak mau, dia hanya melihat Sehan yang sudah berjalan jauh dengan Iqbal.
" Faris tidak kamu ajak Bal?". ucap Sehan sambil menengok kebelakang melihat Faris yang perlahan jalan dibelakangnya. "Nanti juga dia nyusul". Jawab Iqbal dengan senangnya mengajak jalan Sehan. Sehan merasa tidak enak dengan Faris dan teman-temannya, mau gimana lagi Iqbal adalah anak dari teman ayahnya. Mau tidak mau dia harus menjaga pertemanan baik oleh Iqbal.
" Kenapa bukan aku saja yang mengajak Sehan, kenapa aku sama sekali tidak berani mengajak Sehan seperti itu, kenapa aku hanya diam saja ketika Sehan di ajak seperti itu" Ucap Faris dengan penuh penyesalan sambil berjalan mengikuti Iqbal dan Sehan. Menatap dengan penuh kesedihan, ingin menangis tapi tidak bisa. "Rasanya ingin balik kanan saja". Dalam benaknya.
Mereka berhenti di kantin untuk melepas lelah saat berjalan jauh. Faris pun ikut dengan duduk dengan mereka. "Mau makan apa Sehan? biar aku yang traktir". ucap Iqbal sambil melihat Sehan yang sedang memainkan HP nya. " Aku mau jus apel saja" jawab Sehan sambil melihat Iqbal. Faris pun hanya memesan teh hangat saja, favorit dia di pagi hari minum teh hangat.
"Sehan, siang ini kita ke bioskop yu, hanya kita berdua saja". Ucap Iqbal yang sedang menatap Sehan. Mendengar itu, hati Faris lagi-lagi hancur, dia tidak bisa mengajak Sehan untuk ke bioskop karena dia sama sekali tidak mempunyai uang. Dia berpikir untuk mencari pekerjaan agar dia bisa dengan PD nya untuk mengajak Sehan pergi dan mentraktir dia makan. "Maaf Iqbal, aku tidak bisa, ada urusan nanti siang" jawab Sehan dengan nada yang pelan. Faris senyum-senyum sendiri, menandakan dirinya senang karena Sehan menolak ajakan Iqbal.
__ADS_1
Hari pun sudah mulai siang, mereka segera bergegas untuk pulang. Dengan PDnya Iqbal akan mengantarkan Sehan ke rumahnya. "Sehan, biar kami antar kamu sampai ke rumah". Sehan pun mengangguk.
Sesampainya di rumah Sehan, membuat Faris terkejut, bagaimana tidak rumahnya sangat besar, bahkan rumah dia pun mungkin seperti garasi mobilnya Sehan. Sehan pun mengajak masuk keduanya. Deg Deg, Jantung Faris berdetak kencang ketika disuruh masuk oleh Sehan. Menarik nafas pelan-pelan agar membuat dirinya tenang. "Tenang Faris tenang".
Mereka mulai masuk dan duduk. " Siapa Sehan?" teriak ibu Sehan yang kala itu sedang memainkan hpnya di dekat kolam renang. "Teman Sehan bu" jawab Sehan sambil masuk ke kamarnya. Faris berpikir "rumahnya sangat berbeda dengan ku, derajatnya kami pun sangat berbeda, tidak mungkin rasanya keluarganya bakal nerima ku, yang miskin tidak mempunyai apa-apa, kenapa aku harus jatuh cinta padanya"
Sambil duduk mereka bertiga pun mengobrol, tidak bukan mereka bertiga yang mengobrol tapi hanya berdua saja, hanya Iqbal dan Sehan yang mengobrol dan Faris hanya memperhatikan mereka saja, mendengar percakapan mereka yang sangat seru sekali. "Apa mereka akan berjodoh? ". Ucap Faris dengan rasa patah hati.
Ibu Sehan memperhatikan Iqbal dan Sehan, " Mereka berdua sangat cocok sekali kelihatannya". sambil senyum-senyum sendiri. Lalu mengambil foto mereka berdua. "Akan aku kirimkan ke Ayahnya Sehan". Dan Faris pun melihat jika ibu Sehan mengambil foto mereka berdua. " Sepertinya ibunya Sehan sangat senang sekali dengan Iqbal" sambil menundukkan kepalanya Faris mengusap air matanya yang keluar begitu saja. "Perasaan apa ini, kenapa rasanya sakit sekali, kenapa aku harus jatuh cinta pada dia, kenapa Tuhan, kenapa?, derajat kami sangat jauh berbeda, aku tidak akan bisa berjodoh dengannya, aku orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa, Tolonglah hapus perasaan ini, perasaan yang benar-benar tidak masuk akal".
__ADS_1