
"Kebebasan adalah hal yang kuimpikan. Berpetualang, bertarung melawan monster, memiliki banyak teman, dan menikah dengan wanita yang kucintai, ah.... Sungguh indah"
"Tapi.... Itu semua hanyalah sebuah impian belaka"
Kretak.... Kretak.... Kretak....
Wushhhhhhhh
Terjadi retakan ruang diatas langit-langit tempat Cain kecil bergumam. Dan dibalik retakkan ruang itu, muncul seekor naga hitam besar, dengan mata berwarna kuning yang sangat tajam dan dalam.
"Terkadang, kita harus menerima kenyataan yang pahit, daripada keindahan palsu." Ucap semu naga raksasa itu.
Cain kecil melirik naga itu, lalu mengalihkan pandangannya, "Itu hanya kadang-kadang saja kan?"
Naga itu tersenyum kecil, lalu menganggukan kepalanya, "Ya, itu hanya kadang-kadang saja"
Cain kecil cemberut, lalu memukul-mukul tanah dengan lengan mungilnya, "Arghhhh! Aku bosan tuan dragon, bisa tidak kau biarkan aku pergi?"
Naga itu menutup matanya, lalu menatap langit-langit ruangan, "Tidak bisa, tuan muda"
"Kenapa tidak bisa?! Itu hanya permintaan mudah bukan?!".
"Itu hanya menurutmu saja, tuan muda"
"Erghhhhhhh! Kau menyebalkan!" Cain kecil cemberut, lalu membalikkan tubuh kecilnya, sebab dia terlalu marah untuk melihat sosok naga didepannya.
Melihat Cain kecil yang sedang marah-marah, Naga itu menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas. "Sebenarnya ada satu cara agar tuan bisa keluar dari sini"
Saat mendengar itu, Cain kecil langsung bahagia, dan matanya penuh dengan cahaya harapan, "Benarkah???"
"Ya" Naga itu menganggukan kepalanya.
"Apa? Apa? Cepat katakan!"
"Pengorbanan"
__ADS_1
"Pengorbanan?" Cain kecil terlihat melamun memikirkan itu.
"Ya, dengan nyawaku yang sangat berharga dan suci, kau bisa keluar dari tempat ini sekarang juga. Jadi tuan Cain, bagaimana keputusanmu?"
Cain melebarkan matanya tak percaya, "Maksudmu bila aku ingin keluar, kau harus mati dulu?"
"Ya tuan muda. Aku rela mengorbankan nyawaku untuk kemauan tuan muda"
Mata Cain berkaca-kaca, dia menahan air matanya karena malu, "Tidak usah! Kebebasan mungkin sangat membahagiakan, tapi kebahagian itu tidak setara dengan nyawamu"
Hati naga itu tersentuh saat mendengar perkataan Cain, "Terimakasih tuan muda, aku sangat menyayangimu"
"Hmmph!" Cain hanya mendengus, untuk menahan malunya.
***
"Dewa Ruang, dan Dewi Waktu, sebuah entitas penguasa yang pernah hidup ribuan tahun yang lalu. Kekuatan keduanya sama-sama sangat kuat, bahkan masing-masing keduanya mampu membelah langit dengan satu ayunan jari, lalu ayunan tangannya mampu membuat tsunami, dan hentakkan kakinya mampu membelah gunung. Namun karena kuat dan tidak ada lawan sebanding, sang Dewi waktu merasa bosan, dan menantang suaminya bertarung, dan kebetulan juga suaminya bosan, sehingga keduanya bertarung selama puluhan tahun, hingga sang dewa ruang mati didalam pertarungan itu, karena mengalah dengan istrinya. Istrinya merasa bersalah karena telah membunuh suaminya, sehingga dia membunuh dirinya sendiri untuk menebus dosanya"
"Tuan dragon, kenapa kau senang sekali menceritakan pasangan suami istri yang egois itu?" Cain heran kenapa naga didepannya terus menceritakan kisah itu selama ratusan kali.
"Mereka sudah berpasangan selama ribuan tahun, jadi mereka pasti sudah mempunyai anak bukan? Dan dari keduanya, tidak ada yang memikirkan anaknya sama sekali, sehingga mereka berdua memang pantas bila disebut egois."
Naga itu tersenyum kecil, dia sangat bangga dengan tuan mudanya yang sangat kritis, dan berpikiran luas, "Itu memang benar tuan muda, mereka memang pantas disebut egois"
"Iya kan!"
"Tapi walaupun mereka egois, mereka sudah menyelamatkan miliaran orang, sehingga mereka tidak pantas dibenci oleh orang lain, tapi pantas dibenci anaknya"
"Jadi aku tidak pantas?"
"Aku tidak tahu"
Cain menaikkan sebelah alisnya, saat melihat reaksi sosok naga didepannya. "Oh"
***
__ADS_1
"17 tahun telah kita lewati bersama, hingga akhirnya waktu berpisah telah tiba. Ah... Masa-masa yang indah ya?"
"Ya, tuan dragon"
"Kini sudah waktunya aku mati, dan agar kematianku tidak sia-sia, aku akan mengeluarkan tuan muda dari sini"
"Ya, tuan dragon"
"Kau terlalu pendiam, tuan muda"
Cain yang sudah besar tersenyum kecil, "Aku hanya sedang menahan tangisku, tuan dragon." Kini, penampilan Cain telah berubah 180 derajat. Rambut hitam legamnya yang pendek, dengan mata berwarna merah cerahnya yang sangat dalam, membuat wajah Cain seperti pahatan patung, dari seniman terhebat didunia.
"Haha, kau memang menggemaskan, tuan muda" Penampilan tuan dragon sudah lebih tua dari sebelumnya, kulitnya yang hitam legam dan sangat keras, berubah menjadi kulit abu-abu yang sudah lapuk dimakan waktu.
Tuan dragon menempelkan kepalanya pada kepala Cain, lalu menutup matanya dalam-dalam.
Setetes air mata mengalir dipipi Cain, "Terimakasih dan selamat tinggal, tuan dragon"
"Carilah takdir yang sesungguhnya milikmu, maka aku bisa mati dengan tenang"
Cain menganggukan kepalanya, dia terlalu sedih untuk berbicara pada tuan dragon. "Tuan dragon.... Apakah aku boleh tahu siapa namamu?"
"Namaku adalah Mavros, si raja naga." Setelah mengucapkan itu, tubuh tuan dragon berubah menjadi serpihan cahaya, dan memasuki tubuh Cain.
Langit-langit dan kubah hitam yang mengurung Cain selama ribuan tahun, perlahan-lahan mulai runtuh, dan dimakan seluruhnya oleh cahaya. Dan disaat itu juga, Cain jatuh pingsan tak sadarkan diri.
***
Halo teman-teman, ini adalah novel pertamaku, kalo ceritanya, atau tulisannya berantakan, maklumi saja ya teman-teman. Terimakasih 🙏
.
.
.
__ADS_1
.