
"Erghhh.... Dimana ini?" Cain terbangun diatas papan kayu yang dia duga sebagai kasur. Dia mengedarkan pandanganya kesekeliling, dan melihat seorang gadi kecil yang sedang memasak menggunakan tungku batu.
"Erghhhhh," Cain mencoba membangunkan tubuhnya, namun apa daya, seluruh tangan dan kakinya diikat menggunakan tali yang memiliki edaran mana yang sangat kacau, sehingga dia tidak bisa melepas tali itu, tanpa mengetahui jalur mananya.
Mendengar kerusuhan-kerusuhan kecil dibelakangnya, gadis kecil itu membalikkan tubuhnya, "Ah... Kau sudah bangun, tuan?" Ucapnya dengan senyuman manis dan menggemaskan.
"Gadis kecil, apa kau yang mengikatku?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, lalu menggaruk belakang kepalanya, "Tidak tuan, aku menemukanmu disungai dalam keadaan terikat. Saat aku menemukanmu diikat ,aku ingin melepaskannya menggunakan pisau, tapi pisauku langsung hancur saat menyentuh tali itu"
"Oh...." Cain menganggukan kepalanya, "Oh iya gadis kecil, bisakah kau menyeretku keluar sana? Aku ingin melepaskan tali ini menggunakan sihir, karena bila aku menggunakan sihir disini, gubukmu akan hancur"
Mata gadis itu terlihat berbinar-binar, "Sihir??! Apakah hal seperti itu memang ada??!"
"Tentu saja ada, gadis kecil. Tali yang mengikatku juga dari sihir, sehingga tali ini bisa menghancurkan apapun, bila ada orang yang mencoba membukanya"
Gadis itu membentuk mulutnya seperti huruf O. "Baiklah tuan.... Em? Siapa namamu tuan?"
"Cain. Dan jangan panggil aku tuan, panggil saja kakak"
"Iya kakak! Oh ya! Namaku adalah Nera!"
Cain menganggukan kepalanya tanda paham, "Baiklah Nera, tolong seret aku"
"Ya!" Setelah itu, Nera menyentuh kaki Cain, lalu menyeretnya hingga berada jauh dari gubuk miliknya.
.....
__ADS_1
"Huff.... Huff.... Huff.... Apakah ini cukup?" Tubuh Nera terlihat penuh dengan keringat, dan nafasnya ngos-ngosan.
"Ya, kau bisa pergi dari sini agar tidak terkena dampaknya"
"Siap!" Setelah memberi hormat pada Cain, Nera berlari pergi dari sana.
Melihat Nera yang sudah pergi jauh, Cain menghela nafasnya, "Siapa yang mengikatku begini? Apakah itu tuan dragon? Atau orang lain? Entahlah, yang terpenting, aku harus mencoba untuk melepaskannya." Setelah bergumam sebentar, Cain memejamkan matanya.
Wushhhhhhhh
Sebuah cahaya berwarna merah, perlahan-lahan bermunculan dari dahi Cain, cahaya merah itu memasuki tali yang mengikatnya, lalu menghancurkan setiap aliran-aliran mana yang kacau didalam tali itu.
Setelah menghancurkan aliran-aliran kacau itu selama beberapa menit, tali yang mengikat Cain perlahan-lahan mulai meluruh, dan meledak kesegala arah.
Duarrrrrr
Mendengar suara ledakkan yang lumayan besar, Nera berlari kecil untuk menghampiri tempat dimana Cain berada.
Alangkah terkejutnya Nera saat melihat sebuah kawah berdiameter 3 meter, dengan kedalaman sedalam 1 meter. Dan yang lebih membuat Nera terkejut adalah, Cain yang sedang duduk ditengah-tengahnya, dengan kondisi tubuh yang telanjang.
"Kyaaaaa!!!!" Wajah Nera memerah, dan menutup matanya dengan kedua lengannya.
Cain menaikkan sebelah alisnya bingung, melihat reaksi Nera yang menurutnya berlebihan. "Benar kata tuan dragon, wanita itu suka bertingkah terlalu berlebihan" Cain menggelengkan kepalanya. "Sudahlah Nera, daripada kau teriak-teriak tidak jelas, lebih baik kau membawakanku baju"
"Baiklah!" Nera berlari dari sana, dengan wajah yang masih memerah.
.....
__ADS_1
Cain diberikan baju, yang menurutnya bukan baju sama sekali oleh Nera. Sebab yang diberikan Nera hanyalah sebuah celana yang terbuat dari daun pisang.
"Ini...." Cain termenung saat melihat daun pisang yang dibentuk dengan susah payah menjadi celana.
"Cepat pakai!!!" Nera memberikan daun pisang itu, sembari menutup kedua matanya.
"Tapi ini cuma daun pisang...."
"Pakai!!!!"
Cain dengan pasrah menutupi burungnya yang besar, menggunakan daun pisang yang diberikan Nera.
"Aku sudah memakainya, jadi kau tidak perlu menutup matamu kembali"
Mendengar itu, Nera perlahan-lahan membuka matanya, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat perut kotak-kotak milik Cain, dengan dibaluti kulit yang seputih susu.
"Kyaaaa!!!!" Nera dengan cepat-cepat menutup matanya kembali, dan berlari masuk kedalam gubuknya.
"Sialan...." Batin Cain kesal. Karena tidak ingin melihat Nera yang malu-malu melihatnya, Cain segera pergi dari sana, dan mencoba untuk mencari baju untuk dirinya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1