
Plak.
Tamparan ketiga untuk minggu ini, lebih sedikit dari minggu sebelumnya, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Baik di wajah maupun ... di hati.
Gadis itu hanya meraba pipinya sekilas sebelum kemudian meraih uang saku yang diletakkan di atas nakas. Tanpa berkata apapun, dia keluar dari rumah tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Bang Jo, anterin gue ke sekolah bang," ucap gadis itu kepada seorang tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari rumahnya.
"Oke neng, tapi motor neng mana? Tumben." Laki-laki yang dipanggil Jo itu menyerahkan helm kepada Nadine. Gadis itu menerima tanpa berkata apa-apa.
Joni hanya menghela nafas, sedikit terbiasa dengan tabiat dingin gadis yang satu ini. Meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah gadis itu, tapi bekas merah yang masih membayang di pipinya menunjukkan bahwa suasana hati Nadine tidak baik-baik saja.
Motor mulai melaju, tak lama kemudian hanya berkisar beberapa puluh meter dari SMA X tempat gadis itu bersekolah, motor tiba-tiba berhenti di pinggir jalan, di depan sebuah toko roti.
"Maaf Din, kita berhenti di sini bentar ya, mbak Oni tadi suruh abang beli roti keju di sini, biasanya pagi udah mulai laris, takutnya nggak kebagian."
"Oh iya bang."
Baru beberapa langkah Joni berjalan menuju toko itu, Nadine kembali memanggilnya.
"Bang Jo, bentar!" Dirogohnya saku rok abu-abu sebatas lutut miliknya, mencari sesuatu di sana.
Joni berbalik."Ada apa Din, lo mau nitip."
"Nggak bang, ni buat lo." Diraihnya telapak tangan Joni kemudian meletakkan 3 lembar uang lima ribuan di sana.
"Buat apa Din?" kening Joni berkerut, meminta penjelasan.
Nadine hanya diam, memalingkan wajahnya ke arah jalan.
Joni tersenyum, Nadine adalah gadis yang baik, hanya caranya saja yang sedikit berbeda. Tanpa banyak bertanya lagi diterimanya uang pemberian gadis itu.
"Terima kasih Din, tapi uang jajan kamu gimana?"
Nadine meraih tas di punggungnya, membuka resleting bagian depan dan menunjukkan isinya kepada Joni. Beberapa lembar uang puluhan ribu tampak ada disana.
Joni kembali tersenyum, sekali lagi mengucapkan terima kasih, dan berbalik berjalan memasuki bangunan toko yang memang tampak mulai ramai.
"Jangan berterima kasih sama gue bang, gue ngelakuin ini bukan buat lo, tapi buat diri gue sendiri," gumamnya lirih dengan pandangan kosong menampar trotoar jalan.
***
"Nih," seorang anak laki-laki menyodorkan sesuatu di depan Nadine yang sedang melamun. Pagi ini memang jam masuk kelas lebih lambat dari biasanya. Jadi dia memilih duduk di depan kelas memandangi suasana sekolah yang tampak sudah ramai.
Nadine mendongak, melihat benda itu dengan kening berkerut.
Salep? batinnya.
__ADS_1
"Buat apa lo ngasih ke gue?"
Pemuda itu hanya tersenyum dan menunjuk pipi kirinya sendiri. Nadine balas tersenyum, paham. Diterimanya salep itu tanpa banyak basa-basi lagi.
Pemuda disampingnya hanya memperhatikan sekilas saat gadis itu mengoleskan salep ke pipinya. Dia benar-benar tidak tahu apa terjadi pada hidup gadis itu selama ini, tapi jika melihat
lebih dalam semua orang juga tahu kalau rona merah di pipi Nadine itu adalah bekas tamparan. Ini bukan pertama kalinya Roni mendapati Nadine dengan kondisi wajah seperti itu. Tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut, Nadine akan sangat marah jika dia mengusik tentang kehidupan pribadinya.
"Thanks Ron."
"Wuih, sejak kapan lo bisa berterima kasih Din? kepala lo nggak lagi anget kan?" Dirabanya kening gadis itu dan membandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri. Nadine tampak merengut kesal.
"Mm, nggak panas sih, anget dikit iya," ucap Roni mengangguk-angguk yakin dengan diagnosa ala dirinya sendiri.
"Kalau lo nggak mau besok pagi ke sekolah pake rok, mending diam." Ditepisnya tangan Roni yang masih menempel di kepalanya.
"Haha, selow neng. Kayak kagak pernah liat babang becanda aja."
"Kagak ngurus."
Roni tertawa.
"O iya, tugas Fisika lo udah bikin Nad?"
"Tugas yang mana?"
"Bu Jen tiap masuk juga marah-marah. Nggak pernah nggak. Jadi nggak bisa dijadiin patokan."
"Haha, iya ya. Yang latihan bab 3 itu lho."
"Oh"
"Udah?"
"Hnng." Nadine hanya mengendikkan bahu.
Roni menepuk keningnya sendiri.
"Astoge, gue lupa lagi ngomong sama anak pintar."
"Gue juga lupa lagi ngomong sama anak budeg. Udah berapa kali gue bilang, jangan sebut gue gitu lagi. Lo nggak ada bedanya sama para calbin lo itu tau nggak." Ada rasa kesal dan muak dalam nada bicaranya.
"Idih, ogah gue mah calbin macam mereka. Mukanya kebanyakan, pusing gue liatnya. Maap ya Din." Menyesal dengan candaannya tadi.
Nadine memang paling tidak suka jika dia disebut pintar. Jika bagi orang biasa itu adalah pujian, maka baginya itu adalah hinaan. Bila orang lain di luar sekolah yang mengatakannya, maka dia akan maklum walau tahu itu cuma basa-basi. Tapi jika orang di sekolah ini yang mengatakannya, maka yang muncul di hatinya hanyalah rasa muak dan getir.
Jika bukan karena nilainya yang sedikit lebih baik dari teman-temannya, mana mungkin ada yang mau bersikap manis padanya. Dianggap pun mungkin tidak. Ya, walau sebenarnya tidak semuanya begitu si. Dan dia tahu itu. Tapi yaa, begitulah.
__ADS_1
"Udahlah Ron, biasa aja kali."
"Iya iya, ngomong-ngomong lo tadi naik ojek ya? Gue perhatiin tadi di parkiran, motor lo nggak ada."
"Hmm."
"Motor lo rusak?"
"Nggak."
"Terus?"
"Lo dari tadi nggak bisa diam ya Ron? Liat noh, calbin lo lagi kena hukum," tunjuknya mengarah ke lapangan. Tampak beberapa murid terlambat sedang mendapat peringatan dari guru piket. Terlihat tiga orang gadis penghuni kelasnya juga ikut berbaris di sana. "Bantuin sono!"
Pandangan Roni mengikuti arah telunjuk Nadine, dan mendapati pemandangan serupa.
"Idih, ogah gue mah. Please deh lo jangan sumpahin gue jodoh ama mereka terus dong Din ...." Roni bergidik sendiri.
"Kenapa? Kan enak tuh, cantik semua. Bohay lagi, idaman cowok banget. Nikmat tuh, buat cuci mata, lagian gue nggak nyumpahin, tapi doain." gelak Nadine.
"Laknat malah itu mah. Itu bukan doa namanya Din, tapi kutukan! Amit-amit jabang bayi."
"Haha, jangan gitulah babang. Ntar jodoh lo. Di mulut bilang amit-amit, di hati bilang imut bingiiit. Haha, kebaca otak lo Ron. Jujur aja, gue aja ngakuin. Si Nata cantik, Gea bohay, dan Loli imut. Babang kok nggak ngakuin sih? Haha." Nadine tertawa sendiri dengan pujian yang dia lontar kan. Sejak kapan ada nilai positif di matanya tentang para gadis itu.
"O.G.A.H! Gue bilang gitu juga pada tempatnya Din, bukan sama orang kayak mereka. Mulut sama hati gue kalau soal ini mah sejalan." Pandangannya sekilas melirik gadis di sampingnya.
Mata Nadine menyipit menatapnya.
Roni gelagapan sendiri, ada rasa malu jika Nadine curiga pada sikapnya. Bagaimana jika gadis itu mengetahuinya.
"Lo ...." Nadine menggantung ucapannya, matanya memperhatikan Roni dari atas ke bawah. "Normal kan Ron?"
Gubrak.
"What! Apa-apaan lo. Gue normal lahir bathin ye. Gue masih suka cewek."
"Yaa, siapa tahu aja kan lo pisang makan pisang. Hati orang siapa yang tahu." Nadine terkekeh, beranjak dari tempat duduknya menuju ke kelas. Meninggalkan Roni yang masih duduk di tempat tadi memikirkan maksud ucapannya.
Pisang makan pisang?
Wait ....
"What! Maksud lo?! Woy Din, tungguin gue! Awas lo ye. Gue normal!!" Setelah tersadar, Roni bangun dan berlari mengejar gadis itu. Berteriak mengatakan bahwa dia laki-laki normal. Namun itu hanya membuat gadis yang mengejeknya tadi semakin tergelak.
Paling tidak, bercanda dengan Roni pagi ini cukup membantu memperbaiki suasana hatinya.
"Nadine ... Tungguin guee!"
__ADS_1
Bersambung.