Hell Heaven Home

Hell Heaven Home
Chapter 5


__ADS_3

Mobil mewah berwarna merah tampak telah terparkir di depan rumahnya saat Nadine baru saja memasuki perkarangan.


Mobil yang sama dengan mobil yang kemarin. Tumben.


But i don't care.


Gadis itu menghela napas pelan. Pemandangan biasa yang kali ini tampak sedikit tidak biasa. Tapi untuk apa gadis itu peduli, pemandangan seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari baginya.


"Farhaan ... kakak pulaang."


Dilepaskannya sepatu sekolahnya asal-asalan dan melemparkannya ke arah rak sepatu dengan sembarangan. Tidak peduli saat sepatunya itu baru saja menimpa sepasang sepatu pria yang tampaknya terbuat dari bahan kulit yang cukup mahal.


Hening.


"Far?"


Tidak ada jawaban.


"Farhaan?"


Kok dia nggak nyaut?


"Farhan! lo nggak denger kakak?! Kakak udah pulang!" Sudah terselip rasa panik dan gusar dari nada bicaranya.


Farhan, lo di mana dek?! Jangan bikin gue khawatir dong.


Masih hening. Dengan tergesa-gesa dimasukinya ruang keluarga tempat di mana malaikat kecilnya itu biasa bermain menghabiskan waktu. Kilatan cahaya air bening tampak mulai membayang di sudut matanya.


"FAR-"


"Kakaaak! kakak udah pulang!"


"Farhan?"


Sesosok bocah laki-laki tampak berlarian lincah muncul dari arah belakang. Memeluk sebuah mainan robot-robotan berbentuk karakter salah satu tokoh superhero yang tampak mulai usang. Terlihat dari salah satu bagian kaki robot itu yang copot. Dimakan masa membuat robot-robotan keren itu sedikit kehilangan pesonanya. Tapi bocah itu memeluknya dengan sayang. Dipeluknya kaki Nadine dengan tangannya yang satunya.


Nadine berdiri diam.


"Kakak ...."


"Ka-"


Plakk. Plakk.


"Aw. Aw! ampun kaak. Aduh. Aw."


"Anak nakal! anak nakal! Ngapain lo di belakang hah? anak nakal! Dipanggil nggak nyaut. Bikin orang khawatir aja. Gue serasa jantungan tau nggak! anak nakal!" gumam-gumam di sela tepukan bertubi-tubi yang didaratkannya ke bokong adiknya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat bocah itu meringis sambil tertawa pelan. Suara marah kakaknya terdengar seperti nenek galak tetangga sebelah rumahnya, yang memarahi setiap bocah nakal yang mencuri jambunya. Baginya kakaknya terlihat persis seperti itu.


Farhan tidak paham, kakaknya memang tampak marah, tapi ada kelegaan yang teramat sangat tersirat di wajahnya.


"Aw. Sakit kak. Ampun ka-"


Greb.


"Kakak?"

__ADS_1


Kenapa kakak berhenti memukul ya? kenapa malah memelukku? Tunggu dulu, kenapa leherku basah?


"Kakak?"


"Hiks. hiks. Lo jangan giniin gue dong Far. Kalau gue manggil tu nyaut. Jangan kayak tadi lagi. Lo nggak tau kayak apa rasanya jantung gue waktu nggak denger suara lo dari depan tadi. Gue hampir gila Farhan!" Air mata membasahi wajah gadis itu. Wajahnya yang awalnya pucat, kini tampak kembali dialiri darah.


Bocah dalam dekapannya hanya tertegun. Bingung dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba.


Padahal aku kan cuma ke belakang sebentar buat minum. Kenapa kakak semarah ini? Apa aku tidak boleh minum saat kakak pulang? Apa aku salah? Tapi kenapa kakak malah menangis?


"Kakak ... kenapa?"


"Ha?" Dilepaskannya pelukannya demi melihat wajah adik semata wayangnya itu. Dari nadanya bertanya saja, sudah jelas kalau bocah ini bingung. Sikapnya terlalu aneh dan tiba-tiba.


Benar juga. Farhan masih kecil, wajar kalo dia bingung sama sikap gue. Kayaknya gue yang terlalu berlebihan tadi kebawa suasana. Rasa panik nutupin akal sehat gue. Mana ngerti Farhan yang kayak begini. Nadine mengutuki kebodohannya sendiri.


Segera diusapnya air mata yang tadi sempat membasahi wajahnya. Tangan kecil bocah itu juga ikut-ikutan. Membuat Nadine tersenyum perlahan.


"Nggak apa-apa. Kakak cuma khawatir doang kalau lo kenapa-napa. Habis biasanya lo langsung nyamperin kalau kakak baru pulang. Ini malah nggak tahu kelayapan ntah kemana." Diusapnya pelan puncak kepala Farhan saat bocah itu tampak mulai gelisah. "Udah, kakak udah nggak marah. Emang tadi lo ngapain di belakang sampe nggak dengar kakak manggil?"


Astaga, mukanya cemberut begitu. Kayaknya gue terlalu nakutin tadi ya. Aaaa kebawa panik guee.


"Farhan pergi minum kak, salah ya?" Kepalanya tertunduk, merasa bersalah. Yang dia tahu kakaknya bukanlah gadis yang mudah menangis. Dan sekarang kakaknya malah menangis hanya karena dia pergi minum ke belakang saat kakaknya pulang. "Maaf ya kak."


Ya ampun, polos banget adek guee. Gemes. Jadi ngerasa bersalah juga jadinya. Gimana cara jelasinnya.


"Nggak salah sayang. Kakak tadi cuma kebawa panik doang. Kakak pikir lo kenapa-kenapa di rumah sampe nggak nyautin kakak manggil. Udah itu ajaa, bukan karena kakak benci atau marah kok. Udah ya. Lo jangan sedih." Diusapnya pelan pucuk kepala bocah itu dengan sayang. Wajah polos yang tadinya sendu mulai berangsur berubah menjadi lebih ceria.


"Bener kakak nggak marah?" Mata bulatnya berbinar berkaca-kaca meminta kepastian.


"Iyaa."


"Iya Farhan." Kedut kecil timbul di sudut bibir Nadine.


Sejak kapan ini bocah cerewet begini. Gemes, pengen cubit bibirnya.


"Janji nggak akan marah dan nangis lagi?" Masih sanksi.


Astagaa.


"Iya Farhan adikku tersayang. Kakak janji nggak akan marah lagi."


Senyum puas timbul di wajah bocah itu. Nadine mulai waspada.


Ada yang nggak beres nih. Senyumnya.


"Kalau gitu boleh dong, Farhan makan es krim yang di kulkas. Cokelat kemarin juga masih ada sisa satu bungkus. Kakak udah janji nggak marah yaa."


Perempatan siku-siku muncul di kening mulus Nadine. Wajahnya mulai berubah merah.


Ini anaak.


Plak. Plak.


"Aw. Kaak!"

__ADS_1


"Lo mau mati di tangan kakak hari ini? Bilang. Kakak turutin apa mau lo. Dikasih hati minta jantung ni anak." Tepukan bertubi-tubi kembali mendarat. Bocah nakal itu kembali tertawa karena berhasil menjahili kakaknya.


"Buahahaha. Ampun kaak ampuun. Haha, ampun kak. Kaak." Tawanya semakin kencang saat tepukan tadi berganti menjadi kelitikan. Tubuhnya menggelinjang kesana kemari menghindari serangan dari tangan kakaknya.


Nadine juga tampak tertawa puas. Lega. Karena adiknya kembali ceria. Tapi sekilas senyum getir membayang di wajahnya.


Seandainya bisa, gue mohon lo jangan makan makanan dari dapur itu lagi dek. Tapi gue bisa apa? Lo masih kecil. Gue juga belum punya daya apa-apa buat ngeganti asupan makanan lo sepenuhnya. Maafin gue Far.


Suara tawa membahana diselingi teriakan permohonan berhenti terus berlanjut memenuhi ruang keluarga.


***


"Nih."


Farhan langsung terduduk saat kakaknya menyodorkan sesuatu yang dia keluarkan dari tas sekolahnya. Matanya membulat.


"Roti tawar X? Wuahh, makasih banyak kak." Segera disambarnya bungkusan itu dari tangan kakaknya.


Nadine terkekeh.


"Biasa aja kali Far. Biasanya juga kakak beliin ini. Kemaren juga lo makan ini. Kayak nggak pernah makan ini setahun aja." Kembali direbahkannya tubuhnya di sofa tempatnya berbaring tadi.


Setelah tadi puas saling menggelitik dan meneriaki satu sama lain, mereka ambruk di sofa itu dengan nafas tersengal-sengal. Lelah karena terlalu banyak berlari dan tertawa.


Farhan hanya cengengesan.


"Hehe, maaf kak. Tapi kenapa kakak kasih ke Farhan sekarang? biasanya juga kakak yang nyimpan."


Nadine menghembuskan napasnya kasar.


"Sekarang simpan sama lo. Kalau lo mau, makan aja kapan pun lo pengen. Nggak perlu nunggu waktu sarapan doang. Sarapan juga biasanya udah ada nasi."


Mata Farhan semakin membulat dengan binar kekanakkan mendengarnya. Segera dipeluknya tubuh Nadine erat.


"Yeey. Makasi ya kak. Jadi nggak perlu nunggu waktu sarapan doang. Farhan bisa makan roti ini sepuasnya tanpa harus nunggu gitu. Farhan sayang kakak." Uyel-uyel gemas di perut gadis itu.


Nadine terenyuh.


Cuma segini doang lo udah kayak gini Far? Anak lain ribut minta beli ini itu, lo sama roti doang udah sesenang ini. Lo nyindir gue supaya kerja lebih keras lagi ya? terkekeh sendiri di dalam hati. Kalimat terakhir hanyalah guyonannya untuk menghibur dirinya sendiri.


Gue akan berusaha lebih keras lagi buat nyari duit yang bersih Far. Supaya lo bisa makan roti itu sepuas lo. Demi lo, demi kita.


Diusapnya pelan kepala bocah itu sebelum kemudian mendorongnya menjauhi tubuhnya. Si pemilik surai hitam pekat itu protes. Dia belum selesai memamerkan besarnya rasa sayangnya kepada kakak perempuannya itu.


"Udahlah ih. Lo lebai banget. Peluk-peluk, peluk bayar."


"Huh!" Bocah itu merengut.


Di tifi-tifi juga gitu, kalau nunjukkin sayang dipeluk. Nggak ada disuruh bayar. Dasar kakak mata duitan.


Kebanyakan menonton drama di tv membuat bocah polos itu merutuki kakaknya sendiri.


"Udah lah, kakak mau ke kamar dulu. Capek. Habis ini langsung ke kamar lo. Jangan kelayapan lagi." Sudah melangkah menuju kamarnya sendiri setelah sebelumnya meraih tas sekolahnya yang tadi dilemparnya asal ke atas sofa.


"Aye Aye Kapten!" seru bocah itu riang sebelum kemudian berlari memasuki kamarnya yang terletak di paling ujung.

__ADS_1


Nadine hanya tergelak, memasuki kamarnya sendiri setelah memastikan tubuh bocah itu benar-benar sudah menghilang di balik pintu.


Bersambung.


__ADS_2