Hell Heaven Home

Hell Heaven Home
Chapter 2


__ADS_3

Memasuki ruang kelas, ada sedikit rasa mencelos di hatinya. Namun Nadine mengabaikannya, terus berjalan menuju ke tempat duduknya yang terletak di bagian paling depan. Di beberapa bangku tampak beberapa siswi duduk bergerombol, mungkin perbincangan antar wanita, pikirnya.


Berbicara dengan Roni memang sedikit nyaman, tapi dengan mereka ... entahlah. Nadine merasa itu bukan tempatnya.


Beberapa murid memang ada yang meliriknya sekilas tadi, saat dia baru memasuki ruangan, tapi kemudian kembali berpaling tidak peduli dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Memang seharusnya begitu kan?


Apa hari ini gue harus ke sana lagi? Roti Farhan sudah habis, kalau pulang sekolah langsung ke sana, mungkin sempat.


"Nadine, Nad ... pinjam tugas fisika kamu ya, kita semalam nggak sempat bikin, paginya juga terlambat. Ya nad ya. Kamu kan ...." Dengan tergopoh-gopoh, tiga gadis yang berada di lapangan tadi memasuki kelas. Langsung menuju ke bangku Nadine, bahkan tas masih tersampir di punggung mereka. Memasang wajah memelas.


"Ini."


Cih, meminta tolonglah dengan benar. Kemampuan akting kalian masih jauh di bawah standar.


"Nanad baik deh, makasih ya nad." Langsung menyalin tanpa malu.


Cih, manis sekali mulutmu untuk yang satu ini ya. Diberi gula berapa kilo?


Mereka tetap sibuk mencatat di meja gadis itu setelah sebelumnya menjemput kursi dari tempat mereka masing-masing.


Roni yang baru saja masuk ke kelas lewat di samping mejanya melihat ke arahnya. Sepertinya dia ke toliet dulu tadi setelah berteriak mengejarnya.


Kayak gini yang lo bilang calbin gue Din? Nggak salah? tanyanya lewat sorot mata. Tampak jengah yang begitu kentara.


Haha, jodoh lo emang sejenis yang beginian Ron. Cocok kan? Balasnya. Senyum mengejek muncul di bibirnya.


Cih, Roni melengos. Menuju ke tempat duduknya sendiri, mencoba untuk tidak peduli.


 


Nadine hanya terkekeh.


Tak lama kemudian, Bu Jen masuk ke kelas tepat setelah ketiga gadis itu selesai menyalin. Kembali ke bangku mereka masing-masing dengan wajah puas karena tahu tidak akan kena marah.


Pelajaran diawali dengan doa, dilanjutkan dengan materi yang diiringi marah-marah, dan diakhiri dengan telinga merah.


Sudah biasa.


***


"Nadine ... sini-sini!"


Seorang gadis melambai-lambai ke arahnya saat Nadine kebingungan karena tempat duduk di kantin semuanya sudah hampir penuh. Terlambat keluar kelas tadi membuat kelasnya harus didahului kelas lain. Ceramah bu Jen yang panjang lebar membuat mereka lupa akan waktu.


Nadine berjalan mendekati meja yang diduduki Sesil, meletakkan mangkok siomay miliknya dan segelas es jeruk di atas meja, sebelum kemudian ikut duduk.


"Kok kelas lo telat keluar?" tanya Sesil setelah gadis yang dipanggilnya tadi telah duduk.


"Tadi belajar sama bu Jen."


"Ooh, trus si Roni mana?"


"Kagak tau, ngapa gue ngurus." Sesendok siomay masuk ke mulutnya.

__ADS_1


"Kok lo gitu si, gue cuma nanya juga. Lo kan sekelas."


"Tu anak disuruh bu Jen bawa tugas ke kantor tadi."


"Oo, gitu. Kirain."


"Apa?" Nadine menatap gadis di sampingnya dengan kening berkerut.


Sesil, sosok lain di sekolah ini selain Roni yang dia anggap manusia. Karena sejauh ini hanya mereka berdua lah yang memperlakukannya seperti manusia biasa. Paling tidak itu lah yang ada di pikirannya.


"Kirain ada yang lagi berantem. Soalnya kan biasanya lo bedua mulu. Ibaratnya ni ya, kalian tu lutung. Lo badannya, Roni ekornya. Kemana-mana dia ngikut mulu."


Plak.


"Sialan lo Sil, tapi walau dia ekor lutung lo tetap suka kan?"


Cih, jangan coba bilang nggak.


"Apa sih lo Nad. Gaje ih. Siapa juga yang suka." Mulut berkata tidak, tapi muka berpaling ke arah lain. Menyembunyikan semu merah yang muncul tiba-tiba.


Siapaa juga yang suka, orang cuma nanya doang.


"Oh yaa?" Nadine tersenyum menyeringai."Kalau gitu nggak apa-apa dong kalau gue godain dia ... Roni lumayan manis juga kok." Memasang wajah seolah menggoda. Membuat laki-laki berkacamata yang duduk di depannya sampai tersedak es teh.


"Ka-kalau itu ... jangan sih."


"Haha, masih bisa bilang nggak lo? Ngaku juga kan sekarang." Tawa Nadine semakin pecah melihat wajah Sesil yang memerah.


"Jangan diomongin keras-keras juga dong. Malu tau."


"Nadine! Ntar kalo orangnya denger gimana? Mati malu gue."


"Haha kalo ada yang dengar, lo bukannya mati malu Sil, tapi mati dihajar. Noh calon bini nya banyak." Memberi kode lewat mulut, ke arah pintu masuk. Dimana 3 gadis penghuni kelasnya baru saja memasuki kantin.


Sesil menyipitkan matanya, ikut memperhatikan tiga gadis yang sekarang sedang memesan makanan.


"Itukan Loli, Gea sama Nata? Lo yakin tipe Roni  yang kayak beginian?"


"Ho'oh."


"Lo serius?!"


"Ho'oh."


"Yang kayak gitu Din?" Pandangannya semakin menyipit ke arah orang yang mereka bicarakan. Rok abu-abu yang sudah pendek, dipangkas menjadi lebih pendek. Baju putih diperketat. 2 kancing di bagian atas dibiarkan terbuka. Bibir merah merona dilapisi pewarna yang cukup tebal.


Apa benar, Roni suka yang seperti ini?


"Iya Sesiliaa ... Lo bawel ih."


"Yaah, jangan dong Din. Masa gue harus bergaya kayak begituan. Bukan cuma mati malu sama mati dihajar, tapi juga mati di tangan bonyok gue. Lo bayangin deh gue. Gue make pakean kayak mereka." kepalanya mendongak ke atas membayangkan seperti apa dia jika berpakaian seperti itu. Nadine juga melakukan hal yang sama.


Rambut hitam bergelombang di cat setengah warna, baju yang diperketat semakin memperjelas kalau d*da pemiliknya rata. Rok yang diperpendek menyibak p*ha yang menurutnya tidak bisa dibilang putih mulus rata dan bibir yang sudah merah yang akan menyakitkan mata jika tambah diberi pewarna.

__ADS_1


Sesil menggeleng kuat. Bukannya tertarik, yang ada Roni kabur melihatnya. Malah ibunya yang akan mengejarnya dengan sapu. Nadine juga tergelak seusai membayangkannya.


"Permisi ... kalian udah pada selesai kan? Udah bisa pindah?"


****, kenapa juga mereka ke sini.


Sesil juga terlihat mengumpat. Padahal meja lain masih ada, kenapa menghadapnya kesini. Terlihat sekali mereka malas mencari meja.


Nadine melirik ke atas meja di depannya. Mangkuk siomaynya masih berisi setengah, piring mi goreng Sesil juga hampir sama. Mangkuk mi kuah Diego, pemuda berkacamata yang sedari tadi hanya diam makan di depan mereka yang terlihat hanya berkurang sedikit.


Ini yang kalian bilang selesai? Tu mata kemana?


"Emm, kamu! anak berkacamata. Sudah selesai kan? Kayaknya kalau dikurangin satu orang aja kita bertiga bisa muat kok."


Ini orang ya, malah ngadepnya ke si anak berkacamata. Kalian selalu mengarah ke orang yang kalian anggap lemah ya.


"Nat, lo bisa duduk di sini. Gue rasanya udahan kok. Gue juga kayaknya perlu buru-buru. Soalnya gue rasa isi perut gue malah pengen keluar lagi." Nadine segera berdiri, sebelum Sesil dan si anak berkacamata sempat menjawab mereka.


Untung kalian rada ogeb, pasti nggak paham maksud kalimat gue. Batinnya.


"Din, lo mau kemana? Lo belum selesai neng." Sesil menahan tangannya.


"Makasih ya Nadine, Kamu beneran pengertian deh."


Tuh kan.


"Gue dekat bu Kantin aja lanjut makannya Sil, perut gue makin nggak enak soalnya. Lo semangat ya. Pelajari dari atas sampe bawah." Menepuk pundak Sesil sambil mengerlingkan matanya. Kemudian berjalan menjauhi mereka.


"Nadine, tunggu! Gue rasanya juga sama. Gue ikut sama lo aja. Diego, gue duluan ya. Have fun bro." Sesil bergegas berlari mengejar Nadine dengan piring dan gelas es di tangannya. Sementara gadis yang dikejarnya sudah berbelok memasuki ruang bu Kantin.


"Hm." Pemuda yang dipanggil Diego itu hanya bergumam membalasnya.


***


Sementara Sesil melanjutkan makannya bersama Nadine di ruang lain, orang-orang yang mereka tinggalkan tadi ....


"Eh Ge ngomong-ngomong, maksud isi perut jadi pengen keluar lagi tu apa ya? Lo tau maksudnya Nat?" Loli bertanya dengan nada manja.


"Iya ya, perut rasanya nggak enak itu maksudnya juga apa?"


"Bego lo berdua. Kayak gue dong, nggak cuma cantik tapi juga pintar. Maksudnya itu ...."


Maksudnya apa ya. Duh nggak ngerti juga gue. Batin Nata panik sendiri.


"Eh anak berkacamata, maksudnya mereka tadi itu kenapa? Lo pasti ngerti kan? Secara tampang lo kutu buku." Tanpa malu, Nata malah balik bertanya pada pemuda di depannya.


Cih, yang begini tipenya Roni.


 


"Mual. Pengen muntah."


Aku jadi sama dengan mereka. Melihat kalian jadi mual dan pengen muntah.

__ADS_1


"What!"


Bersambung.


__ADS_2