Hell Heaven Home

Hell Heaven Home
Chapter 3


__ADS_3

Memasuki gedung toko, hawa sejuk langsung menerpa. Berasal dari AC toko yang sepertinya tidak hanya berjumlah satu. Tapi itu tidak sanggup mendinginkan hati Nadine yang panas. Jika bukan demi adiknya, maka tidak akan sudi dirinya menginjakkan kaki di tempat ini.


Tahan Din, toko yang jual roti kesukaan Farhan cuma ini. Lo nggak perlu banyak ulah. Ambil yang lo mau, bayar, pergi. Udah.


Nadine berjalan mengitari rak yang sekiranya berisi kumpulan roti. Rak yang memajang alat perawatan wanita tidak dihiraukannya. Pandangannya terhenti setelah menemukan benda yang dia cari. Roti tawar susu merek X. Setelah dimasukkannya beberapa bungkus ke dalam keranjang, gadis itu pun berjalan menuju kasir untuk pembayaran.


Sebenarnya Farhan tidak pernah mengatakan bahwa roti merek itu adalah kesukaannya. Tapi ketika Nadine mencoba beberapa kali menggantinya dengan merek lain, makan adiknya justru terlihat tidak selahap biasanya seperti ketika memakan roti merek ini. Jadi Nadine sudah bisa mengambil kesimpulannya sendiri.


Paling nggak meski cuma segini seenggaknya ada sedikit hal baik mengalir dalam pertumbuhan lo Far. Kakak nggak bisa buat banyak sekarang. Paling enggak ini roti kakak dapat dengan uang yang baik. Maafin gue Dek.


***


"Wah-wah ... Nadine Lasya-Lasya. Ngapain lo kesini? Nggak lagi nyolong kan?" Diana, sosok yang kata orang adalah sepupunya, berdiri di samping seorang wanita tua yang juga tampak menatapnya dengan tatapan aneh.


Sialan, udah gue duga.


Petugas kasir yang sedang menghitung belanjaannya tampak menunduk hormat sekilas, yang dibalas dengan tatapan angkuh.


"Kamu beli roti itu lagi? Itu roti mahal Nasya, kamu dapat uang dari mana buat membelinya. Kalau roti lain mungkin bakal kami beri cuma-cuma. Kami paham dengan tingkat ekonomi kamu yang ... yaah, begitulah. Tapi kalau yang itu orang sepantaran kamu tidak pantas memakannya." Bi Desi terlihat bertanya dengan nada menghina.


Bibi? dengan berat hati Nadine harus memanggilnya begitu, meski perut ini serasa diputar saat mengucapkannya.


Nadine hanya mengepal tangannya kuat. Sangat benci jika nama panggilan itu keluar dari mulut wanita berbisa yang dianggapnya setengah manusia.


Tahan Nadine, lo kesini buat beli roti, bukan buat bikin orang mati.


Tanpa menghiraukan dua wanita dan petugas kasir yang juga sesekali menatapnya, Nadine mengeluarkan beberapa lembar uang puluhan ribu dari saku tasnya.


"Kamu dapat uang itu dari mana?!" Ada nada kaget dan tidak percaya dari pertanyaannya. Diana juga terlihat begitu. "Kamu dan adik kamu yang seperti itu nggak dapat uang itu dari ...."


Brak.


"Oh maaf mbak." Petugas kasir yang ada di depannya juga tampak terkejut saat tangannya refleks memukul meja.


"Bibi dan sepupuku sayang, tenang saja. Ini uang aku, aku dapat dengan jalan yang biasa, bukan jalan 'luar biasa'. Kalau aku mau nyolong, bukannya seharusnya aku nyolong harta kalian? Kenapa harus susah-susah nyari target yang lain? Sasaran empuk di depan mata."


Nadine menerima belanjaan serta struknya dari petugas kasir yang sedari tadi diam hanya berani menjadi 'saksi mata'.


Beruntung tidak ada pembeli lain yang mengantri bersamanya.


"Kamu!"


"Dan lagi jangan khawatir, uang ini bukan dari wanita itu kok. Jadi percaya deh. Jangan terlalu dipikirin ya ... Bibi sudah terlalu tua. Ingat umur. Aku tahu kalian sangat peduli, jadi terima kasih sekali."


Nadine mulai berjalan meninggalkan kasir saat dua wanita itu terlihat sangat geram dan ingin kembali menghinanya. Seperti teringat sesuatu, Nadine kembali berbalik.

__ADS_1


"Ou! satu lagi. Nama gue Nadine Alasya, bukan Nadine Lasya-Lasya. Seharusnya yang katanya kuliah lulusan luar negeri tahu dong cara membacanya dengan baik dan benar. Atau ... Ijazahnya tidak asli ya?" Nadine tersenyum menyeringai saat melihat wajah dua wanita itu semakin merah padam.


Seharusnya kalian tahu apa yang pantang kalian sebut di sini. Jangan salahin gue kalau jadinya begini.


"Sepertinya mbak kasirnya jauh lebih baik dalam hal ini ya. Wah-wah ... kalau gitu permisi dulu ya, jangan lupa ... Ijazahnya dicek lagi," bisiknya tepat di telinga Diana.


Bagaimana bisa disebut bisikan jika orang di sekitar mereka bahkan bisa mendengar ucapan Nadine dengan jelas.


Diana dan ibunya tampak sangat geram dan malu, ingin membalas tapi gadis itu sudah berjalan menjauh.


Diam-diam beberapa orang tampak menyaksikan ketegangan itu dengan berbagai ekspresi di balik rak-rak barang dagangan toko itu.


Termasuk seorang wanita cantik dengan wajah yang ditutupi scraf dan kacamata yang tengah berdiri di balik rak barang perawatan wajah. Wajahnya yang tadinya terlihat ikut merasakan geram, kini beralih tersenyum tipis mendengar balasan dari Nadine.


Sepertinya tidak rugi aku datang hari ini, gumamnya.


Ponsel keluaran terbaru yang tadi sempat digenggamnya erat, kini kembali dimasukkan ke kantong bajunya.


***


Udah gue bilang tahan, Din. Kenapa lo lepas kendali.


Kilatan air di sudut matanya segera dia tepis. Menangis bukanlah gayanya. Matanya menyapu pemandangan depan toko setelah keluar dari pintu kaca tempat terkutuk itu.


Beruntung tadi Nadine sudah meminta Roni yang tadinya memberikan tumpangan padanya sepulang sekolah supaya pergi duluan saja karena urusannya akan sedikit lama. Dan beruntungnya pemuda itu menurut. Kalau tidak, pasti dia akan melihat semuanya.


Setelah meyakinkan diri sendiri, Nadine memanggil salah seorang tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari tempatnya berdiri. Memintanya untuk mengantarkannya ke suatu tempat.


"Halo Kak Ve, gue udah jalan ke sana. Jadi kan hari ini?"


***


"Bibi Berlian ... udah pulang."


Wanita dengan tampilan modis dan elegan itu segera berpaling, melihat siapa yang baru saja memekik memanggilnya tepat setelah dia memasuki pintu utama rumah mewahnya.


"Eeh kamu, kapan sampainya nak? Bibi kangen." Disambutnya tubuh gadis itu dalam pelukan hangat.


"Tadi siang bi. Kak Divan yang jemput ke bandara. Kakak yang satu lagi mah ntah kemana." Bibir merah gadis itu mencebik cemberut.


"Haha, paling ketiduran nak. Udah kamu istirahat aja dulu. Om kamu mana?"


Gadis cantik itu menunjuk ke arah ruang keluarga. Menunjukkan tempat dimana orang yang ditanya itu berada.


"Om Dimas di sana Bi."

__ADS_1


"Ya udah, kamu udah makan?"


"Udah bi," balasnya dengan anggukan cepat.


"Bibi tempat Om kamu dulu ya ... ada yang mau diomongin. Kalau bosan, ajak aja kakak kamu main."


"Haha, oke bi ... love you!" Gadis itu berlarian dengan riang menuju kamar baru yang ditempatinya.


"Love you too sayang," jawab wanita yang dipanggil Berlian itu dengan setengah berteriak. Karena tahu gadis itu mungkin tidak bisa mendengarnya.


Sambil melepas scraf di lehernya, wanita cantik yang masih terlihat awet muda itu berjalan menuju ruang keluarga tempat suaminya berada.


"Pa ... lagi sibuk ya?" tanyanya setelah duduk di samping suaminya yang terlihat serius dengan koran di tangannya.


Pria itu menoleh." Nggak Ma, ada apa?" Dilipatnya kembali koran yang baru sempat dibacanya sore itu. Tepukan-tepukan halus di tangannya yang sedang digenggam istrinya itu menunjukkan kalau wanita itu ingin bicara.


Ditegakkannya punggung pertanda siap mendengarkan.


"Menurut Mama ... sebaiknya kita batalkan saja rencana perjodohan dengan keluarga Waluyo itu Pa. Menurut Mama putrinya kurang baik untuk putra kita." Dielusnya lembut tangan suaminya.


Air muka pria yang masih tampak gagah itu tidak berubah, tetap tenang. Padahal rencana ini sudah termasuk hal besar yang sudah direncanakan mereka sejak lama.


Dia paham, istrinya bicara seperti itu pasti ada alasannya.


Diseruputnya kopi hangat di atas meja yang telah berkurang setengahnya, sebelum kemudian kembali bicara.


"Ada apa Ma?" Dielusnya lembut kepala ibu dari dua anaknya itu.


"Papa tahu kan, Mama tadi pergi ke mana?"


"Tahu, ke rumah teman Mama kan?"


"Iya ... tapi setelah itu Mama mampir sebentar di toko mantan calon besannya Papa itu. Mau ngasih kejutan." Belum ada persetujuan pembatalan, tapi sudah menyebut calon besannya dengan sebutan mantan.


"Niatnya sebelum menyapa, Mama mau pilih skincare dulu buat wajah. Tapi Papa tahu apa yang mama dapat hari ini?" Dirogohnya kantong baju tempat tadi dia meletakkan hp nya.


Kening laki-laki yang sedari tadi diam mendengarkannya itu sedikit berkerut. Tapi tidak dipedulikannya. Disodorkannya ponsel mahal itu setelah membuka sebuah file video ke tangan pria itu.


"Coba papa lihat ini dulu sebelum memikirkan usulan dari mama, mama yakin papa pasti akan mengerti. Keluarga seperti apa mereka itu pa."


Video berputar, tampak adegan pertikaian kecil di sebuah mini market yang sepertinya diambil dari tempat tersembunyi. Mungkin rak barang dagangan, pikir Dimas. Bisa ditebak siapa yang jadi perekamnya.


Tampaklah 2 orang wanita yang dia kenali sebagai istri dan anak perempuan dari koleganya itu sedang menghina seorang gadis remaja.


Kening Dimas berkerut, mendengar kata-kata yang terucap bukanlah kata yang pantas yang seharusnya diucapkan seorang wanita yang bergaya seperti bangsawan. Bahkan gadis yang dia tahu sebagai lulusan universitas luar negeri itu pun tampak menggunakan kata yang tidak mencerminkan pendidikannya.

__ADS_1


Ini tidak seperti yang kuduga sebelumnya, batinnya


Bersambung.


__ADS_2