
Sesekali sudut bibir Dimas terangkat, saat melihat bagaimana gadis muda yang tampak di dalam video itu membalas perkataan kejam Diana dan Desi. Tapi tetap saja, ekspresi geram lebih kentara di raut wajahnya yang mulai tampak menua.
Tidak bisa dibayangkan jika nanti keluarganya benar-benar bersatu dengan keluarga Waluyo. Dari video ini saja sudah terlihat bagaimana tidak adanya kerendahan hati sedikitpun dalam diri mereka. Kepongahan seperti ini malah hanya akan ikut menghancurkan keluarganya jika berbesan dengan keluarga itu.
Apa ini tingkah asli keluarganya yang selama ini Andre bangga-banggakan padaku?
Dikembalikannya ponsel milik istrinya itu sebelum kemudian kembali menyesap kopi di atas meja yang sudah mulai dingin.
"Jadi gimana menurutmu Pa?" Berlian kembali menyimpan ponsel ke dalam kantong busananya.
Mama harap kita jangan sampai salah langkah Pa.
Anak kita terlalu baik untuk gadis seperti Diana.
"Hal ini harus segera kita bicarakan dengan mereka Ma. Dan juga anakmu yang bandel itu, kita juga harus memberi tahu nya ini. Memang dari awal dia tidak setuju, tapi kalau kita tiba-tiba mengatakan padanya tentang pembatalan jika tanpa alasan tentu juga akan membuatnya bingung. Kita bicarakan malam ini dengannya."
Dan akan kupaksa anak nakal itu membawa pacarinya ke rumah.
"Tapi kesepakatan bisnismu gimana Pa? Apa tidak akan berpengaruh?" Berlian tampak sedikit khawatir, "Pak Andre teman dekatmu juga kan?"
Dimas menghela napasnya, pandangannya begitu teduh.
"Aku tidak akan menikahkan anakku hanya karena bisnis Ma. Aku tidak ingin anakku hidup di tengah buaya betina hanya karena ingin menjalin hubungan baik dengan ayahnya. Masih banyak jalan lain untuk menjalin hubungan dengan mereka selain dengan pernikahan. Sikap gadis itu kurang pantas jika disandingkan dengan anak kita." jawab pria itu penuh wibawa.
"Tapi kenapa Papa dari awal tetap menyetujuinya? Divan bahkan sudah berulang kali menolak. Walau tidak terang-terangan."
"Papa melakukan itu karena anak itu tidak pernah terlihat serius Ma. Apa pernah Mama lihat dia dekat dengan seorang wanita? Papa takut dia malah ternyata mempermainkan wanita di luar sana tanpa sepengetahuan kita. Atau jangan-jangan ternyata anak itu-" Tepukan pelan di pahanya membuat Dimas menghentikan pikiran anehnya. Dia tergelak.
"Hush! anakku normal Pa."
Dimas terkekeh kecil melihat wajah cemberut istrinya. "Dan Papa tahu sendiri putra-putra kita bukanlah laki-laki yang tidak menghargai wanita. Papa sebagai ayahnya pasti menyadari itu kan."
Dimas mengangguk-angguk, setuju dengan perkataan istrinya. Memang karakter kedua putranya tidak berbeda jauh darinya. Mungkin terkadang terlihat sedikit dingin dan angkuh, tapi mereka adalah tipe pria yang tidak suka merendahkan perempuan.
Wanita bukan mainan. Prinsip mereka.
"Biar malam ini kita bicarakan dengan Divan Ma, besok Papa akan coba bicara dengan Andre. Papa yakin dia pasti mengerti. Dan untuk anak itu, siapapun nanti yang dia bawa ke rumah ini, terima saja. Tak peduli asal-usulnya, yang penting baik dan wujudnya perempuan. Itu sudah cukup untuk kita Ma."
"Haha, ia Pa. Papa pikir kalau yang dia bawa anak orang kaya tapi perempuan setengah jadi, bakal Mama terima?" Bergidik dengan bayangannya sendiri.
__ADS_1
Dimas tersenyum, mengusap pelan pipi istrinya.
"Bocah yang satu lagi mana Ma?"
"Paling di ruangan favoritnya Pa, Papa tahu seperti apa dia. Mana mau dia kumpul sama kita kayak gini."
Semoga mulut cerewet Amanda bisa mengganggu tapanya dan memaksanya keluar dari guanya. Berlian tergelak sendiri membayangkan anak bungsunya itu keluar dari ruang baca hanya karena tidak tahan dengan celotehan Amanda.
Suaminya hanya tersenyum. " Mungkin dia hanya kesepian Ma. Disekelilingnya hanya ada orang dewasa. Dia butuh teman seusianya. Bagaimana kalau kita buatkan teman untuknya? Pasti dia senang." Tersenyum penuh arti. Tangan sudah bergerak kemana-mana.
"Papaa!"
***
"Ini sesi yang terakhir Nad, menghadap ke arah jendela seolah lo sedang menanti seseorang, Yak. Kepala sedikit didongakkan. Sedikit ke kiri. Yak seperti itu. Bagus." Suara sang fotografer mengarahkan Nadine untuk bergaya untuk sesi pemotretan terakhirnya.
Cukup melelahkan juga kali ini. Gumam Nadine lirih.
Setelah mendengar fotografer mengatakan selesai, segera dilepaskannya topi dan masker yang sedari tadi menutupi wajahnya. Tisu yang sedari tadi diselipkannya di bagian ikat pinggang yang tidak terlihat diusapkannya ke jidatnya yang sedikit basah dibanjiri keringat. Tampak puas karena pekerjaan dadakan kali ini bisa dijalankannya tanpa banyak halangan. Walau suasana hatinya masih ditutupi kabut tebal.
Untung salep dari Roni tadi kerjanya cukup cepat. Efek bedak tadi juga lumayan ngebantu.
Makasih Ron. Biar gue bantu lo buat nyari calbin yang lebih baik besok. Hehe, Gue udah nemu kandidat kuat buat lo.
"Nggak nyangka gue, adik satu ini makin tampan aja." Veronika mendekati Nadine. Membantunya melepas jaket yang tampak agak kebesaran di tubuhnya. Kameranya tadi telah di letakkan kembali di tempat penyimpanannya.
"Makasih kak," jawabnya dengan mata tetap fokus ke ikat pinggang yang sepertinya agak sulit dilepas.
Dengan cekatan tangan Veronika bekerja membantu gadis itu melepasnya. Ini salah satu produk baru pakaian pria milik temannya, jadi sedikit banyaknya dia tahu cara kerjanya.
Nadine hanya menatap dalam punggung wanita muda yang saat ini sedang membungkuk di depannya itu, membiarkannya melakukan segala sesuatu sesukanya.
Pakaian kali ini memang sedikit lebih rumit dari produk terakhir yang dipakainya beberapa minggu yang lalu. Dilepasnya Wig pendek yang sedari tadi menutupi helaian rambut panjangnya yang sudah basah dibanjiri keringat.
Menjadi model cabut-cabutan untuk produk pakaian remaja pria dari toko online milik teman Veronika membuatnya harus menggunakan rambut palsu untuk menutupi rambut aslinya. Beruntung make up yang diaplikasikan ke wajahnya cukup untuk menyamarkan jati dirinya sebagai perempuan. Sejauh ini tidak ada yang mengenalinya dan tahu tentang pekerjaan sampingan nya ini. Termasuk Roni dan Sesilia. Hanya Veronika yang tahu soal ini.
"Makasi ya kak, udah sisihin job kali ini buat gue."
Veronika tersenyum. "Sama-sama Nad. Tapi sorry ya, buat bulan ini kayaknya cuma sekarang sama besok aja deh. Soalnya si Ana mau istirahat dulu katanya. Bulan depan baru mulai lagi," sesalnya sambil melipat asal setelan baju yang dikenakan Nadine tadi dan menggantung nya di lengannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kak. Ini aja gue udah capek banget rasanya." Tangannya bergerak merapikan rambutnya ala kadarnya dengan jemari. "Job sebelah juga padat banget. Haha."
"Yee sok sibuk lo Nad. Ya udah lo pulang sana gih. Hush-hush. Udah sore banget. Ntar Mak lo nyariin." Veronika mengibaskan tangannya seolah-olah mengusir Nadine agar segera pergi. Gadis itu hanya tergelak sebelum kemudian tertegun.
Siapa yang akan mencarinya, pikirnya.
"Sekarang ngusir, ntar kakak kangen. Nelponin gue lagi," ejek Nadine sembari mengambil tas sekolahnya yang tadi dititipkan ke salah satu pegawai toko online Ana. Pemuda itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saat Nadine mengucapkan terima kasih.
"Ini anak kebangetan ya. Gue nelponin lo karena lo yang minta di-info-in kan? Sekarang malah nuduh gue kangen lagi. Fitnah itu namanya."
Gadis yang biasa disapa Vero itu bersungut-sungut.
Emang iya sedikit kangen si. Sedikit ya, hehe. Soalnya lo udah gue anggap kayak adek gue sendiri Nad.
Nadine kembali terkekeh. Sampai suara ponsel Vero menghentikan obrolan mereka. Gadis itu pamit mengangkat telpon. Nadine hanya menjawab dengan anggukan dan memberitahu lewat sorot matanya kalau dia juga harus segera pulang. Vero mengangguk sebelum kemudian memeluk Nadine sebentar dan melanjutkan obrolannya di telpon dengan pandangan mata masih mengawasi gadis itu sampai benar-benar keluar dari pintu studio.
***
Pandangan kosong Nadine menyapu jalanan kota yang dipenuhi oleh kendaraan berbagai rupa. Lampu-lampu jalan sudah mulai tampak menyala terang. Tapi ... hati gadis ini redup. Ojek yang ditumpanginya berjalan cukup lambat. Perjalanan pulangnya kali ini terasa cukup membosankan.
Sesekali sorot matanya teralih setiap melihat objek yang sekiranya menarik perhatiannya. Wajah sumringah dan penuh senyum saat bersama Veronika tadi telah hilang. Berganti dengan seraut wajah dingin tanpa ekspresi apa-apa.
Ya, perjalanannya kembali ke 'neraka'nya tentu saja berhasil mengembalikan kembali 'wujud' aslinya. Bahkan pertanyaan basa basi dari driver di depannya hanya ditanggapinya dengan dingin. Sehingga driver pria yang tampaknya masih sangat muda itu memilih untuk berhenti bertanya.
Ini cewek apa kulkas si. Berasa bawa angin doang gue. Batinnya.
Niat hati ingin menggoda kini tinggal angan belaka. Gadis di belakangnya terlalu cuek.
Masih enakan juga ngeboncengin emak-emak pulang pasar. Seenggaknya masih ada juga yang nanggepin gombalan maut gue. Lah ini? Berasa kacang gue. Ratapnya dalam hati.
Nadine tersenyum tipis saat menyadari pria itu berhenti mengoceh. Dia tahu pemuda di depannya itu sedang mengumpat kesal sekarang karena reaksi dinginnya. Tapi mau bagaimana lagi. Tenaganya habis bahkan meski hanya sekedar untuk balas berbasa-basi.
Perang kecil di toko tadi dan pemotretan yang dijalaninya sore ini cukup hebat untuk menguras habis energi kehidupannya hingga nyaris tanpa sisa.
Sorry ya Bang, mood booster gue di rumah. Ntar kalau gue udah full-charge, gue samperin lagi deh lo buat ngebalas gombalan yang tadi. Ntar malam dah lo tungguin gue. Dalam mimpi.
Suasana kembali hening.
Motor terus melaju memecah keramaian jalan. Tatapan Nadine kembali menerawang. Senyum riang sesosok bocah kecil tampan membayang melukis senyum di wajahnya.
__ADS_1
Farhan, bentar lagi gue pulang.
Bersambung.